Beranda / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 491. PURA-PURA MATI?

Share

491. PURA-PURA MATI?

last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 20:54:15

“Bisa nggak… istri Pak Rain bekerja sama—pura-pura mati?” ucap Ega gugup. Kedua tangannya saling menggenggam erat, telapakannya basah oleh keringat.

“Hahaha…” Rain tertawa singkat, namun sorot matanya tetap tenang, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar.

“Maaf, Pak, kalau kedengarannya nggak enak,” lanjut Ega tergesa. Suaranya bergetar. “Kami benar-benar bingung harus gimana. Ari malah pengin cepat balik ke penjara… katanya, di sana dia justru lebih tenang. Nggak ada tekanan, meskipun nama dia hancur.”

Ega menunduk dalam-dalam. “Tolong, Pak… kami ini orang kecil.”

Rain terdiam sejenak. Ia meneguk minumannya perlahan, lalu menatap Ega dengan senyum tipis yang sulit ditebak.

“Saya bantu,” ucap Rain akhirnya, suaranya rendah tapi tegas. “Saya bantu semuanya—termasuk membersihkan nama Ari dari segala tuntutan dan tuduhan.”

Ia kembali meneguk min “Maksudnya apa, Pak? Pak Rain jangan bercanda, Pak. Ini serius, kan?” tanya Ega. Suaranya bergetar, matanya menatap Rain penuh har
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PELAN PELAN SAYANG   520. PAGI PAGI, IBU RAIN SUDAH MEMBUAT ULAH

    “Kurang ajar! Nggak ada yang mau buka pintu ini?! Yuni! Yuni, buka pintunya! Kurang ajar kamu, pembantu sialan!” teriak Ibu Rain sambil menggedor pintu kamar Bima dengan brutal. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang asisten rumah tangga.Setelah lelah berteriak, ia kembali mencoba menghubungi Wanda. "Kalau sampai dia nggak menjawab juga, aku anggap dia sudah mati," geramnya ketus. Ia masih menyimpan dendam karena panggilannya semalam diabaikan begitu saja.Di tempat lain, suasana tampak jauh lebih tenang namun menyimpan kesan berbahaya.“Sayang... mama kamu telepon, nih...” ucap Cipta santai. Pagi itu, ia sedang sibuk menyiapkan sarapan di ruang makan. Handuk putih masih melilit pinggulnya, sementara sebuah earphone terpasang di salah satu telinganya.Di atas meja makan, sebuah walkie-talkie tergeletak dan terus mengeluarkan suara statis serta potongan percakapan beberapa anggota kepolisian. Saat ia bergerak, sebuah tato berinisi

  • PELAN PELAN SAYANG   519. IBU RAIN MENGAMUK. RAIN TIDAK PEDULI.

    Menjelang pagi, keheningan kamar utama pecah oleh suara tawa mungil Bima. Bocah itu sudah terbangun lebih dulu dan kini sibuk memanggil-manggil ayahnya.“Papa… bangun… Papa…” ucap Bima sembari menggoyang-goyangkan bahu Rain. Suaranya terdengar jernih, menunjukkan kemampuan berbicaranya yang fasih, jauh melampaui balita seusianya.Rain yang masih terlelap perlahan membuka mata, disambut oleh wajah ceria putranya yang menggemaskan. Belum sempat Rain menjawab, perhatian Bima tiba-tiba teralih.“Mama…!” seru Bima sambil tertawa girang. Ia melihat ke arah Gendis yang masih terlelap di sisi lain ranjang. Tanpa sengaja, pakaian tidur Gendis tersingkap sedikit karena posisi tidurnya yang miring, menampakkan sebagian dadanya. Dengan kepolosan khas balita, Bima tahu bahwa di sana tersedia stok ASI yang selalu siap untuknya.Melihat tingkah spontan putranya, Rain segera menarik selimut untuk merapikan pakaian istrinya, sembari tersenyum kecil menahan tawa melihat binar mata Bima yang mendadak pe

  • PELAN PELAN SAYANG   518. MENYAKITI DIRI SENDIRI DAN BERENCANA UNTUK...

    “Kamu istirahatlah dulu, Sayang. Bawa Bima ke kamar kita,” ucap Rain dengan nada rendah, jemarinya masih mengusap punggung Gendis dengan lembut, mencoba menyalurkan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki.“Kamu mau ke mana?” tanya Gendis cemas. Ia menatap suaminya dengan mata sembap, seolah tak ingin ditinggal sendiri setelah badai yang baru saja mereka lalui.“Saya mau ke ruang monitor sebentar. Saya harus periksa rekaman CCTV mau lihat ke mana aja Mama pergi sebelum dia berhasil masuk ke kamar Bima,” sahut Rain. Sorot matanya kini berubah menjadi dingin dan tajam, sebuah tanda bahwa ia sedang dalam mode melindungi keluarganya dengan cara yang sangat serius.Rain kemudian bergerak hati-hati menggendong Bima yang masih terlelap, memastikan putranya tidak terusik. Dengan sebelah tangan lainnya, ia merangkul Gendis, membimbing istrinya menuju kamar utama. Setelah memastikan mereka aman di dalam, barulah ia akan mencari kebenaran di balik layar monitor—kebenaran yang mungkin akan membuatnya

  • PELAN PELAN SAYANG   517. PUNCAKNYA AMARAH RAIN DAN GENDIS. IBU RAIN TETAP MERASA BENAR!

    “Aduh… gimana ini? Bisa-bisa aku kena marah Bapak sama ibu kalau beliau tahu aku yang kasih kode kunci kamar Bima,” bisik Yuni dengan suara gemetar. Ia berdiri mematung di lorong, wajahnya pucat pasi mendengar suara keributan yang meledak dari dalam kamar Bima. Jantungnya berdegup kencang, dihantam rasa bersalah karena telah membiarkan ibu Rain masuk dengan mudah. Yuni mulai melangkah mengendap-endap, tubuhnya menempel pada dinding saat ia berusaha mendekat ke arah sumber suara. Ia ingin memberikan penjelasan—atau mungkin pembelaan diri—tentang bagaimana ibu mertua majikannya itu bisa menyelinap masuk. Namun, setiap teriakan Rain yang terdengar dari dalam membuatnya nyaris kehilangan tenaga untuk sekadar berdiri tegak. Ia terjepit di antara rasa takut pada atasannya dan tekanan dari ibu Rain yang tak mungkin ia tolak sebelumnya. “Mama kayaknya nggak butuh psikolog, psikiater, atau apa pun itu. Langsung ke penjara aja, ya!” geram Rain dengan napas yang memburu penuh amarah. Tanga

  • PELAN PELAN SAYANG   516. BIMA JADI SASARAN AMARAH TENGAH MALAM?

    “Kira-kira, Mama tidurnya nyenyak nggak k, ya?” gumam Gendis dengan nada cemas yang halus saat mereka berdua baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, masih berbalut sisa kehangatan sisa penyatuan tadi. “Kayaknya sih nyenyak…,” sahut Rain menenangkan. Ia tersenyum lembut sembari mengecup puncak kepala Gendis, lalu melangkah menuju pakaian mereka yang masih tergeletak berserakan di atas lantai, tidak jauh dari ranjang mewah mereka. Gendis menerima pakaian tidurnya yang diulurkan oleh Rain, namun sorot matanya tidak bisa berbohong—ada kegelisahan yang tiba-tiba merayap di hatinya. Keheningan rumah malam itu terasa sedikit berbeda bagi instingnya sebagai seorang ibu dan menantu. “Aku cek Mama dulu aja ya, Mas?” tanya Gendis pelan seraya mengenakan pakaiannya. Ia menatap Rain, seolah meminta izin untuk memastikan bahwa segalanya baik-baik saja di luar kamar mereka yang kedap suara itu. Rain hanya mengangguk pelan, membiarkan istrinya mengikuti firasat tersebut, tanpa menyadari bahw

  • PELAN PELAN SAYANG   515. NEKAT MASUK KAMAR BIMA

    Ibu Rain mengambil langkah seribu menuju kamar cucunya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai menekan beberapa angka pada panel kode kunci pintu, berharap pintu itu segera terbuka. “Duh… berapa kodenya?” gumamnya pelan. Wajahnya menegang saat panel tersebut mengeluarkan bunyi peringatan tanda akses ditolak. Ia mencoba lagi dengan kombinasi berbeda, namun hasilnya tetap sama. “Apa kodenya sudah diganti? Kenapa salah terus?” bisiknya dengan nada putus asa. Napasnya mulai memburu, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya saat menyadari bahwa ia seolah menjadi orang asing di rumah putranya sendiri. Gagal membuka kunci itu membuatnya merasa semakin terbuang dan tak berdaya. Ia terdiam sejenak, menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat aksinya. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah pintu di ujung koridor—kamar Yuni, pengasuh Bima. “Apa aku harus tanya sama Yuni?” ucap ibu Rain bimbang. Tanpa membuang waktu lebih lama, ia melangkah cepat me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status