Aku mengerjap beberapa kali, memastikan apakah mataku tidak salah lihat.
Pria ini—yang awalnya kukira adalah 'tamu spesial'—memang lumayan menarik.
Oke, lupakan kata lumayan, dia benar-benar sangat tampan.
Dia berjalan masuk dengan percaya diri, diikuti oleh beberapa pria lain di belakangnya—mereka kelihatan seperti bawahannya atau setidaknya orang-orang yang sangat segan kepadanya. Pria itu mengenakan setelan jas bisnis hitam, dengan kemeja putih di dalamnya serta dasi hitam yang serasi. Rambut gelapnya ditata agak berantakan, kontras dengan pakaiannya yang rapi, meski tetap terlihat kalau rambut itu ditata dengan niat. Tidak terlalu pendek, karena ada seuntai rambut tebalnya yang jatuh begitu saja di dahi, tepat di atas alisnya.
Pria itu menoleh ke samping untuk menyapa seseorang, memberikan jabat tangan yang mantap tanpa ekspresi wajah sedikit pun—dari sudut ini, dia masih terlihat sangat tampan walaupun jaraknya agak jauh.
Tingginya setidaknya 180-an, mungkin lebih—sekali lagi aku tidak bisa memastikan karena posisinya agak jauh dariku. Rahangnya sangat tegas, dan fakta bahwa dia punya bulu halus gelap yang tertata rapi mengikuti garis rahangnya membuat fitur itu makin menonjol. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.
"Wah," kudengar Nore berbisik di sampingku.
"Mhm," jawabku pelan, aku tidak heran Nore tahu apa yang sedang kupikirkan—pria itu memang sulit untuk diabaikan.
Kami jarang sekali kedatangan tamu yang tampannya luar biasa, tapi kalaupun ada, mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan pria yang baru saja melangkah masuk ke ruangan ini. Entah kenapa aku berharap dia bukan tamu penting yang dimaksud.
Aku memperhatikan saat beberapa pria lain masuk, ada yang sudah cukup tua dan ada yang masih cukup muda. Namun, aku tidak bisa menebak usia pria tampan berambut gelap itu. Dari sini, dia terlihat seperti berusia sekitar 20-an.
Aku tetap di posisiku, melirik ke sekeliling ruangan untuk memperhatikan semua orang yang ada di sana. Musik yang terdengar klasik mulai diputar, dan si bartender mulai menyajikan minuman.
Tiba-tiba aku merasa ada yang memperhatikanku dan aku berharap itu adalah si Tuan Tinggi, Gelap, dan Sangat Tampan—tapi ternyata bukan. Aku melirik cepat, dan melihat seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun—menatapku dengan mata gelap dan seringai di wajahnya.
Aku buru-buru membuang muka sambil menelan ludah, menoleh ke sana kemari supaya tidak terlalu kentara kalau aku balik memperhatikannya.
Pria itu tampan, setidaknya begitulah kenyataannya, tapi tidak mengesankan jika dibandingkan dengan pria berambut gelap yang masuk sebelumnya.
Dia berambut pirang abu-abu, dan mengenakan setelan abu-abu tua dengan dasi yang senada. Dia terlihat jauh lebih pendek dibandingkan pria yang satunya dan juga lebih tua, tapi tidak terlalu tua. Tidak bisa dimungkiri kalau pria ini tampan, tapi dia membuatku merinding dan dia sedikit mirip dengan seseorang—Pitter, dan itu langsung membuat perutku mual.
Aku mencoba mengabaikan tatapannya, sampai akhirnya aku melihat dia mulai berjalan ke arah panggung dan napas seakan tertahan di tenggorokanku.
Aku merasa wajahku memanas karena gugup, meski aku tetap berusaha mempertahankan posisiku.
Tiba-tiba, pria itu berhenti di depan panggungku dan menyeringai padaku.
"Bisa ambilkan aku minum, gadis cantik? Scotch pakai es," ucapnya sambil mengedipkan mata dan mengulurkan tangannya padaku.
Aku mendongak ragu, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan dan menyadari beberapa pasang mata tertuju padaku karena aku yang pertama diminta melakukan sesuatu. Tapi yang paling aku sadari adalah dia yang sedang menatap tajam ke arahku dan pria ini.
Dia menatapku tanpa ekspresi, dan aku merasa sulit untuk tidak balas menatapnya — jadi aku memutuskan untuk membagi pandanganku antara dia dan pria di depanku.
Aku merasa pipiku merona merah, dan aku merasa sangat cemas.
"Kamu bisu ya?" tanya pria di depanku sambil terkekeh, meski terdengar agak kesal.
"T-tidak," aku menelan ludah, "maaf. Saya ambilkan minumannya sekarang, Tuan." Aku bicara dengan sopan, mengangguk padanya sebelum menerima uluran tangannya dengan enggan.
"Namaku Nicholas. Tapi, kamu bisa panggil aku Tuan Daniels," seringainya, memperhatikanku dari atas sampai bawah saat aku mulai turun dari stan.
Aku tidak tahu kenapa, tapi pria ini memberiku perasaan aneh yang tidak kusukai—aku berharap dia tidak akan membeliku.
Dia melepaskan tanganku dan memberitahu di mana dia akan duduk, aku mengangguk patuh sebelum menuju ke bar dan memesan scotch pakai es pada pria di sana.
Aku tidak suka orang yang pemilih.
Aku menunggu dengan sabar di bar, melihat beberapa pelayan lain datang untuk memesan minuman juga dan aku merasa jauh lebih tenang.
"Ini pesananmu," kata si bartender sambil memberikan scotch-nya, tersenyum padaku dengan tatapan yang sepertinya penuh rasa simpati.
Aku membalasnya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Aku benci kalau orang-orang melihatku seperti itu—seolah mereka merasa kasihan padaku, seolah aku ini tidak berdaya.
Ya, memang hampir semua bentuk hak asasi manusiaku dirampas sejak hari aku bergabung dengan perusahaan ini, tapi aku tidak butuh tatapan kasihan dari beberapa pekerja di sini. Itu membuatku merasa bodoh.
Aku membelakangi bartender itu dan mulai berjalan ke arah tempat Tuan Daniels duduk. Saat aku mulai melangkah dengan sepatu hak tinggiku—yang sebenarnya terlalu tinggi untukku—aku bisa melihat pria yang tadi sedang memperhatikanku lagi, dan aku tidak sengaja melakukan kontak mata dengannya.
Begitu sadar dia melihatku, aku langsung membuang muka dan berjalan lebih cepat ke arah Tuan Daniels.
Saat aku mendekati meja, dia masih memasang seringai yang sama seperti sebelumnya dan aku pun membalas senyumnya dengan terpaksa.
"Ini minumannya, Tuan Daniels," ucapku pelan sambil meletakkan minuman itu di atas meja.
"Terima kasih..." jawabnya, seolah-olah sedang menungguku menyebutkan namaku.
"Ella," ucapku cepat.
"Ella..." gumamnya pelan seperti sedang berpikir keras sambil menunduk.
Aku berdiri mematung di sana sesaat sebelum dia mendongak lagi. "Nama yang cantik, untuk gadis yang cantik," kata Tuan Daniels dengan nada yang menyeramkan.
"Te-terima kasih," balasku, benar-benar tidak tahu harus merespons apa lagi.
Dia mengangguk sambil tersenyum saat mengambil minumannya dan menyesapnya, lalu mengecapkan bibirnya setelah selesai.
"Hmm," dia tiba-tiba berujar saat aku masih berdiri mematung di sana seperti orang bodoh, "kamu boleh pergi, gadis cantik." Tuan Daniels mengatakannya padaku, dan aku mengangguk hormat padanya sebelum berjalan kembali ke stanku.
Aku menyadari kalau Nore dan sebagian besar gadis lainnya sudah tidak ada di stand mereka, dan satu-satunya gadis yang tersisa di sana adalah seorang gadis berambut merah pendek yang terlihat bosan setengah mati.
Aku memberinya senyum tipis saat melihat dia sedang memperhatikanku, tapi dia tidak membalasnya dan malah membuang muka. Kasar sekali, pikirku.
Aku berdiri lagi di stand-ku dan kembali ke posisi semula, sambil terus menikmati suasana di sana.
Aku memutuskan untuk mencari tahu di mana pria tampan yang belum kuketahui namanya itu berada. Aku tahu aku terdengar seperti perempuan aneh yang suka menguntit pria tampan—tapi dia begitu mempesona dan menarik untuk dipandang sampai-sampai aku merasa berdosa kalau tidak melihatnya.
Yap, aku benar-benar sudah gila.
Akhirnya aku melihat dia, tapi aku langsung kecewa saat sadar dia sedang mengobrol dengan... Nore? Anehnya aku terkejut dia bersama Nore, tapi kalau dipikir-pikir lagi, dia emang cantik sekali dan pria mana pun pasti gila kalau tidak mau dengan dia.
Sejauh yang kulihat, dia masih belum tersenyum, dan dari gelagatnya dia kelihatan lumayan bosan saat Nore mengajaknya bicara. Dia bahkan sampai buang muka ke arah belakang Nore saat perempuan itu sedang berbicara dengan dia di bar.
Aku terus memperhatikan dia sampai butuh waktu agak lama untuk aku sadar kalau dia tahu aku sedang memperhatikannya. Oh Tuhan, jangan lagi, pikirku, ini canggung sejali... apa aku harus buang muka atau pura-pura sedang melamu? Pikirku, sambil memarahi diri sendiri karena terlalu teralihkan padanya.
Tiba-tiba, sudut kanan mulutnya terangkat membentuk seringai tipis—yang tidak akan kelihatan kalau tidak diperhatikan sekali, tapi jelas-jelas aku memang memperhatikan dia.
Aku mengerjap beberapa kali, mungkin aku kelihatan konyol sekali di matanya, tapi ekspresi di wajahnya memudar dan aku jadi tidak yakin apa itu cuma perasaanku saja.
Aku melihat Nore memberikan dia minuman, dan saat dia Melakukan itu, aku langsung buang muka dan menggelengkan kepala. Aku tidak boleh terdistraksi seperti itu. Aku di sini untuk "dibeli" dan cari uang—bukan untuk cuci mata demi kepuasan sendiri.
Nore kembali lagi ke stand-nya sekitar lima atau sepuluh menit kemudian dan tersenyum ke arahku, sebelum akhirnya berdiri di posisinya.
Aku berdiri di stang-ku selama dua puluh menit tanpa gangguan apa pun, kecuali ada bapak-bapak yang minta diambilkan minum, tapi aku langsung kembali lagi ke tempatku berdiri setelah dia bertanya-tanya beberapa hal.
Aku terus berdiri di sana, memperhatikan cahaya matahari terbenam yang masuk lewat jendela mulai memudar dan langit malam mulai muncul. Aku berusaha menahan menguap supaya tidak kena omel, tapi aku lelah sekali dan cuma ingin tidur.
Aku berdiri di sana sedikit lama sambil melamun, mulai berpikir kalau malam ini aku tidak akan dibeli dan harus menunggu sampai besok—yang mana aku tidak akan suka karena kasur di sini buruk sekali.
Aku sudah hilang harapan, sampai tiba-tiba salah satu anak buah Alexander mulai berjalan ke arah panggung kami, diikuti Tuan Daniels tepat di belakangnya, yang sempat melirik ke arahku sambil menyeringai tipis.
Oh Tuhan, jangan dia—siapa saja asal jangan dia. Dia mengeluarkan aura yang aneh sekali.
"Nona Bianchi," kata pekerja itu, yang kalau tidak salah namanya Toby, "Anda telah dibeli oleh Tuan Daniels di sini."
"Ya, aku tidak bisa melepaskan pandanganku darimu sejak aku melangkah masuk ke sini, Ella, dan aku ingin sekali kamu menjadi pelayanku," sela Tuan Daniels.
"A-aku..." Aku membuka dan menutup mulutku seperti ikan, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Toby menatapku dengan aneh, dan Tuan Daniels tampak bingung sekaligus kesal.
"Ayo, cepatlah, aku ingin membawamu pulang," kata Tuan Daniels dengan tidak sabar.
"Kamu dengar dia kan Ella, ayo pergi," sela Toby, sambil mencengkeram pergelangan tanganku. Aku langsung menegang dan menatapnya dengan penuh permohonan.
Toby bahkan tidak peduli dengan tatapan putus asaku yang memintanya untuk mengeluarkanku dari situasi ini, dan aku pun langsung menoleh ke arah Nore yang tampak sedih.
"Maaf." ucapnya tanpa suara sambil menatapku tak berdaya. Aku menatapnya balik untuk menenangkan, itu bukan salahnya. Hal seperti ini memang selalu terjadi, aku hanya berharap tidak hari ini. Aku ingin pergi dengan seseorang yang tidak membuatku merasa sangat takut.
"Ayo, Nona Bianchi." bentak Toby sambil menarikku turun dari panggung.
Aku menatap kedua pria di depanku dan menarik napas dalam-dalam. Sialan.
Aku menerima kenyataan bahwa aku akan dibeli oleh Tuan Daniels dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Toby, memberinya tatapan tajam seolah ingin mengatakan 'aku akan jalan sendiri'. Dengan enggan dia melepaskanku dengan kasar, sebelum menjadi yang pertama memimpin jalan kembali ke area utama.
Tuan Daniels memberiku seringai singkat, lalu berbalik dan aku mengikutinya tepat di belakang.
Kami berjalan melewati kerumunan kecil dan hampir sampai di pintu, sampai sebuah suara rendah dan serak dengan aksen Italia berbicara pelan namun penuh wibawa dari belakang kami.
"Aku ingin membeli gadis ini," ucapnya.
Kami bertiga hampir seketika berbalik, seolah kami semua sadar bahwa dialah yang sedang diajak bicara.
Tiba-tiba, aku berhadapan langsung dengan pria yang sudah kuperhatikan sepanjang malam. Dia berdiri tegak, menjulang tinggi di depanku. Tubuhnya jelas atletis, dengan bahu lebar dan otot-otot yang terlihat jelas di balik blazer tebalnya.
Mata cokelatnya menatap tajam ke mataku, dengan raut wajah penuh wibawa yang gelap—itu membuatku merinding ngeri, dan tiba-tiba aku tidak lagi hanya melihatnya sebagai pria tampan.
Aku melihatnya sebagai sosok yang sangat mengintimidasi.
Tuan Daniels adalah yang pertama angkat bicara. "Wah, sayang sekali ya, kawan, karena dia sudah dibeli. Olehku," katanya dengan nada sombong, melangkah ke sampingku meski tingginya tidak ada apa-apanya dibanding pria di depanku itu.
"Aku yakin kita bisa membuat semacam kesepakatan, kawan," sahut pria itu mengejek, dengan ekspresi wajah yang tetap tidak berubah.
Aku nggak tahu harus berbuat apa, aku cuma berdiri mematung menatap pria di depanku, mungkin mukaku sudah seperti orang yang telah melihat hantu.
"Sepertinya tidak, Tuan..." Tuan Daniels mulai bicara, melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan padaku tadi—menunggu sebuah nama diucapkan.
"Tuan Denaro. Arthur William Denaro," ucap pria itu dengan jelas, aksen Italia-nya terdengar lebih kental sekarang.
Suasana hening sejenak, bahkan orang-orang lain di ruangan itu ikut menyimak percakapan kami.
Pria itu, Arthur, memasang ekspresi geli sambil mengangkat sebelah alisnya saat menatap Tuan Daniels dan Toby.
Aku mengernyit bingung, lalu menoleh ke arah dua pria yang berdiri di sampingku sekarang. Keduanya tampak gugup, terutama Toby, dan kurasa aku tahu alasannya.
Tuan Denaro sudah pasti adalah 'tamu penting' itu.
***
"S-saya, maaf Tuan Denaro. Kalau saya t-tahu Anda menginginkan pelayan ini, saya tidak akan secepat itu membiarkannya dibeli." Toby bicara dengan gugup, jakunnya naik turun saat dia menelan ludah.
"Yah, kalau begitu kau akan senang mendengar bahwa aku tipe orang yang suka memberi kesempatan kedua." Ucap Arthur terdengar tidak meyakinkan. Dia tidak terlihat seperti tipe orang yang suka memberi peringatan.
"Ya tentu saja terima kasih Tuan Denaro, jadi Anda ingin membeli pelayan ini?" Toby menawarkan hampir seketika, dan rahangku jatuh karena terkejut.
Apa? Aku tidak menyangka mereka benar-benar akan melakukannya.
Sekarang aku berpikir, setelah pertemuan singkat dengan Tuan Denaro ini, aku lebih baik tetap bersama Tuan Daniels.
"Tapi aku mau—" Tuan Daniels memulai, sebelum Arthur memberinya tatapan menakutkan yang membuat Tuan Daniels langsung berhenti bicara.
Pria ini, pasti orang yang sangat, sangat penting.
Tuan. Daniels menatapku sejenak, lalu menatap Arthur dan Toby sebelum memutar bola matanya dan menggerutu.
"Baik. Bawa dia," katanya dengan marah, sebelum berbalik ke arahku.
Aku menatapnya saat dia membungkuk menyamai tinggiku dan mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Aku akan menemukanmu, gadis cantik, dan aku akan menjadikanmu pelayanku," bisiknya, dan aku seolah bisa mendengar seringai licik muncul di wajahnya.
Tiba-tiba, bibirnya mendarat di pipiku dan menciumnya dengan lembut, membuatku merinding karena merasa dilecehkan dan jijik. Aku sama sekali tidak menyukai pria ini.
Mr. Daniels tiba-tiba menatap Arthur dengan nada menantang, rasa takutnya yang sempat muncul tadi seolah sudah hilang.
Rahang Arthur tampak mengeras saat dia melotot ke arah Mr. Daniels. "Pergi," ucapnya singkat.
Mr. Daniels menyeringai padanya sebelum berjalan pergi sambil memberikan anggukan cepat kepada Toby.
Pria itu aneh, tapi aku merasa cukup lega dia sudah pergi.
Aku mengusap pipiku yang tadi dicium Tuan Daniels sambil terus menundukkan kepala.
"Nona Bianchi, maaf soal yang tadi, tapi sekarang Anda resmi dibeli oleh Tuan Denaro sebagai gantinya," kata Toby kepadaku saat aku mendongak dan menatapnya.
Aku menelan ludah dan menganggukkan kepala, terlalu takut untuk mengatakan apa pun karena ada Arthur di sana. Dia bahkan belum bicara padaku, tapi aku sudah merasa ngeri.
"Silakan Anda berdua ikuti saya untuk meresmikan pembelian ini," ucap Toby yang masih terdengar agak gugup sambil memberi isyarat ke arah yang harus kami tuju.
Aku baru saja hendak melangkah maju, tapi aku merasakan cengkeraman kuat di bahuku dan tubuhku ditarik sedikit ke belakang.
Aku tidak repot-repot menoleh karena aku tahu persis siapa yang menarikku, dan aku merasakan dia mencondongkan tubuhnya ke arahku dari belakang, mirip dengan yang dilakukan Tuan Daniels tadi, lalu berbisik di telingaku.
"Aku melihatmu memperhatikanku, dan aku memutuskan bahwa aku menginginkanmu, ragazza timida." (Gadis pemalu/penakut) Ucap Arthur dengan suara serak, menggumamkan sesuatu yang tidak kupahami di bagian akhir.
Napas seakan tertahan di tenggorokanku, dan aku mendengarnya terkekeh pelan, tahu bahwa dia belum selesai bicara.
"E quello che voglio è ciò che ottengo." (Dan apa yang saya inginkan, akan saya dapatkan)ucapnya dalam bahasa Italia dan aku mengernyitkan alis bingung meskipun dia tidak bisa melihatku.
Tiba-tiba aku merasa ada keberanian yang menyelimutiku "A-apa?" kataku dengan lembut dan pelan, tapi aku tahu dia mendengarnya.
"Kubilang, Nona Bianchi..." dia mulai mengembuskan napas yang terasa di leherku, membuat seluruh tubuhku memanas sebelum aku mempersiapkan diri untuk apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"...bahwa apa yang saya inginkan, akan saya dapatkan."
Arthur menyudahi kalimatnya, dan tiba-tiba aku merasakannya kembali berdiri tegak. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, tapi aku punya firasat dia sedang menyeringai karena nada bicaranya yang begitu percaya diri.
Kita berdua terdiam sejenak, sebelum akhirnya aku merasakan dia berjalan melewatiku. Aku melihatnya melangkah dengan penuh percaya diri ke depan dan keluar pintu tanpa menoleh sedikit pun.
Lewat kata-kata yang dia ucapkan tadi, aku tahu pria ini tidak sedang main-main dan apa yang dia katakan adalah kebenaran yang mutlak.
Dan aku sangat takut akan hal itu. Juga takut padanya.