ANMELDENJing Huan mengambil setengah langkah ke belakang. Dalam kecepatan yang tak sanggup ditangkap oleh mata telanjang, jarinya menyentuh gagang pedang besi murni di punggungnya.BZZZZZZT!Pendaran cahaya keemasan dari Meridian Dewa bersatu dengan aura biru dingin Qi Es Murni, melilit rapat di sepanjang bilah pedang besi miliknya.Pedang Dewa Tebasan Pertama: Pemotong Angin!CSSTTTT!Sebuah kilatan cahaya keemasan bercampur embun es menyambar lurus dalam garis melingkar! Jing Huan memutar tubuhnya satu putaran penuh, mengayunkan pedang besinya dengan kelembutan dan kecepatan tingkat tinggi!CRACK! CRACK! CRACK! CRACK!Empat parang tebal berzirah milik para pengawal itu mendadak terpotong rapi menjadi dua bagian! Cahaya pedang Jing Huan tak berhenti di situ, melainkan menembus zirah besi mereka dan menebas urat leher keempat pengawal tersebut secara presisi!SPLATTTT!Darah segar menyembur ke udara! Empat pengawal Bintang 7 itu bahkan tidak sempat menjerit sebelum tubuh mereka roboh menghant
Kabut tebal membungkus pepohonan purba Hutan Bintang Jatuh. Dedaunan raksasa membendung sinar matahari sore, menciptakan atmosfer temaram yang dipenuhi aroma tanah basah dan bau darah binatang buas yang mengendap di balik rimba. Suara jangkrik malam dan lolongan monster spiritual samar-samar terdengar dari kejauhan.Jing Huan dan Mu Qing melangkah perlahan melintasi jalur berbatu di area luar perbatasan. Setiap langkah kaki mereka menimbulkan bunyi gesekan halus pada ranting kering. Mu Qing memegang erat gagang pedang teratai es miliknya, matanya yang tajam tak berhenti menyapu semak-semak yang gelap."Tuan Muda Jing, suasana di sini terlalu tenang," bisik Mu Qing dengan nada waspada. "Kelompok pendaftar lain mengambil jalur timur, tetapi kelompok Zhao Yan mendadak menghilang sejak menembus gerbang. Ini tidak wajar."Jing Huan menghentikan langkahnya tepat di sebuah kliring kecil yang dikelilingi pohon-pohon pinus hitam raksasa. Matanya yang dingin memancar lembut dalam kegelapan."Me
Sorak-sorai rombongan peserta memadati Lapangan Perkemahan Utama Akademi Kerajaan. Bendera-bendera bersimbolkan naga emas dan pedang silang berkibar kencang ditiup angin pegunungan. Ratusan murid pilihan telah berkumpul lengkap dengan senjata, zirah, dan perbekalan untuk menghadapai Ekspedisi Hutan Bintang Jatuh.Di atas panggung pelepasan, Tetua Utama Feng Tian berdiri anggun bersama jajaran instruktur senior."Para murid sekalian!" suara bariton Tetua Utama menggema melintasi ribuan prajurit dan pendaftar. "Ekspedisi Hutan Bintang Jatuh adalah ajang pembuktian keberanian, ketahanan, dan kekuatan kalian! Di dalam hutan purba tersebut, kalian tidak hanya akan berburu inti monster spiritual, tetapi juga mengasah jiwa kultivasi kalian!"Tetua Utama menyapu pandangannya ke seluruh lapangan sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih tegas. "Ingat! Hutan Bintang Jatuh penuh dengan binatang buas tingkat tinggi dan area terlarang. Bekerja samalah, jaga nyawa kalian, dan kembali sebagai kesat
Suara gemercik air kolam teratai di luar Paviliun Anggrek mendadak terasa begitu asing. Keheningan yang menekan jatuh di antara mereka bertiga usai Mu Zhen menyampaikan ancaman Keluarga Zhao di Hutan Bintang Jatuh.Jing Huan masih berdiri tegak. Jarinya menelusuri lekukan garis pada peta kulit naga kuno peninggalan ayahnya. Namun, matanya menyipit saat menyadari ada beberapa simbol aneh berukir benang emas di sudut peta tersebut—simbol yang sangat ia kenali dari arsitektur tua keluarganya sendiri."Tuan Mu," panggil Jing Huan, suaranya tenang namun menyimpan getaran yang tak biasa. "Simbol naga melingkar di ujung peta ini... ini adalah segel rahasia milik Kakek Utama Kediaman Jing. Kenapa segel pimpinan keluarga kami bisa terukir di peta harta karun yang diincar Keluarga Zhao?"Mu Zhen memejamkan mata sejenak, menghela napas berat yang sarat akan rasa bersalah dan kekecewaan mendalam."Jing Huan..." tutur Mu Zhen lirih seraya menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan iba. "Ada fakta
Mu Zhen menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh seolah teringat kenangan belasan tahun silam. "Mengenalinya?" Mu Zhen tersenyum getir. "Ayahmu, Jing Tian, adalah pahlawan tiada tanding di Kota Kerajaan ini! Dulu, di Ranah Raja Abadi, nama Jing Tian dihormati oleh seluruh sekte dan keluarga bangsawan. Kami berdua adalah saudara angkat yang pernah mengarungi ribuan medan pertempuran bersama." Mu Qing terperanjat, matanya membelalak kaget. "Ayah... Ayah Jing Huan dulu adalah seorang Pahlawan di Ranah Raja Abadi?!" "Benar," jawab Mu Zhen lirih. Pandangannya kemudian tertuju lurus pada mata Jing Huan. "Jing Huan, aku mendengar rumor tentang racun yang mengendap di meridian dalammu. Apakah itu benar Racun Dingin Tujuh Bintang?" Jing Huan menyipitkan mata, pendaran cahaya keemasan dari Meridian Dewa bergetar halus di pupil matanya. "Benar, Tuan Mu. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"Mu Zhen mengepalkan tangannya di atas meja hingga pembuluh darahnya menonjol, raut wajahnya be
Jing Huan kemudian merogoh kantong spasial yang menggantung di pinggang Guan Feng dan tiga rekannya, memetiknya secara santai. SREK! SREK! "I-Itu kantong batu spiritual kami! Kembalikan!" jerit salah satu antek Zhao Yan dengan mata membelalak. Jing Huan membuka kantong-kantong tersebut, mengamati ratusan batu spiritual tingkat menengah bercahaya murni di dalamnya dengan senyum tipis. "Sebagai ganti rugi atas gangguan bising yang kalian buat dan kompensasi karena telah menahan bahan obatku... aku mengambil tiga ratus batu spiritual tingkat menengah ini," ujar Jing Huan datar. "Kau memeras kami?!" teriak Guan Feng dengan air mata ketakutan dan kemarahan yang bercampur aduk. "Memeras?" Jing Huan memiringkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah hadiah sukarela dari kalian karena telah dengan ramah menyerahkan obat ini padaku. Bukankah begitu?" Jing Huan memperketat sedikit tekanan Qi di pundak Guan Feng, membuat pemuda itu langsung meringis kesakitan luar biasa. "I-Iya! Iya! Hadia







