Masukjangan lupa ulasannya teman-teman. terima kasih ❤️❤️🫶🫶
"Mark, jangan ngadi-ngadi ya kamu."Michele mendadak jadi orang buta dan tuli. Ketika Mark menjejalkan ear buds ke kupingnya. Juga memaksanya memakai penutup mata. Alibi Mark, sedang ada orang indehoy di sekitar tempat itu.Michele yang memang tidak suka melihat adegan dua satu plus live, pilih manut."Yang ngadi-ngadi siapa. Ini demi kesehatan kejiwaan dan mata kamu. Atau mau lihat mereka maju mundur sambil desah. Nanti kamu kepengin, aku yang susah. Tulangku belum pulih. Aduh!"Mark nyaris berteriak ketika Michele mencubit pinggangnya ekstra keras. Padahal mata tertutup tapi tangannya akurat mencari sasaran."Sembarangan kalau ngomong.""Aku serius, Michele," kata Mark seraya membuka pintu, lalu membimbing perempuan itu keluar mobil.Michele tak pernah tahu jika sejak tadi, dua senjata api stand by dalam genggaman Mark. Netra pria itu juga berkilat penuh kewaspadaan. Pandangannya menyapu area basement yang relatif sepi.Tempat tersebut memang seperti itu sejak beberapa waktu terakhi
"Dokter Valin, selamat pagi."Sapaan petugas bagian informasi membuat gadis tadi menoleh."Valin? Diakah yang kemarin dibahas Mark waktu meeting virtual. Dia dokter juga. Perempuan yang katanya harus tetap dijaga ekstra ketat. Kebetulan sekali," batin sang gadis yang tak lain adalah Michele."Nona melamar kerja di sini?"Michele terperangah melihat betapa sopan dan cantiknya seorang Valin. Mungkinkah dia sosok yang disukai Mark. Makanya harus dikawal dengan baik."Benar, Nona. Tapi ...."Michele melihat pada si staf, sepertinya tidak enak hati untuk bercerita. Meski hati rasanya dongkol setengah mati. Jelas-jelas dia diterima kenapa keputusan berubah di menit terakhir. Bukankah itu3q hal aneh.Atau, jangan-jangan. Satu nama terlintas di kepala Michele. Satu nama yang sejak kemarin coba mengontrolnya."Ceritakan saja. Siapa tahu aku bisa membantu.""Tapi Dokter." Si staf tampak memberi kode pada Valin. Dia tahu Valin dekat dengan sosok wakil direktur utama. Dia pikir tidak apa bercerit
Bola mata Kian memicing melihat Xavier mengantar Rosalie pulang. Bak seorang ayah yang tidak rela putrinya punya pacar. Ekspresi wajah Kian tak jauh beda."Maaf, Om. Tadi aku pergi sama Ivone. Kemudian dia datang."Kian mengangguk, sebelum memberi kode pada Rosalie untuk masuk. Tinggal dua pria seumuran saling berhadapan."Apa maksudmu mendekati Rosalie? Apa karena kejadian hari itu?" Paras Kian seperti menahan emosi, tangannya berada di pinggang. "Kejadian itu hanya awalnya. Aku pun berpikir setelah malam itu semua akan berlalu. Tapi ternyata tidak. Aku sepertinya menyukai Rosalie."Kian mendengus. "Setelah sekian tahun mengejar Valin, kamu pikir aku akan percaya. Jangan jadikan Rosalie pelarian."Xavier menarik sudut bibirnya. "Lalu bagaimana denganmu? Aku masih mending, bisa berpaling. Kau? Apa selamanya kau akan jadi orang yang mencintainya dalam diam? Kian, sadarlah.""Dia sudah menikah. Aku tidak tahu perasaan mereka berdua. Tapi yang aku tahu, Valin tidak akan mengkhianati p
Manik abu itu berkilat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Benci dan amarah terlihat mendominasi. Namun ada juga secercah kecewa di sana. Valin, perempuan itu bagaimana bisa lebih memilih Zen. Bahkan ketika nyawa Zen nyaris Lucio renggut. Bahkan saat kemungkinan hidup itu hampir tidak ada.Valin, lagi-lagi dengan tangannya sendiri, mengembalikannya. Wanita cantik tersebut dengan sadar membuat sosok yang paling Lucio benci kembali berdiri tegak di hadapannya.Dia benci pada keberuntungan Zen. Dia ingin merebutnya, tapi yang terjadi malah lebih menyakitkan. Sesuatu yang paling dia inginkan, justru balik melawannya.Habis-habisan tanpa pikir panjang. Valin tanpa ragu menyerang Lucio. Tidak peduli jika yang dia hajar adalah seseorang yang sangat mencintainya.Lucio menyadarinya di saat yang krusial. Aneh tapi nyata. Dia jatuh cinta hanya dengan satu tatapan. Seolah dia telah lama mengenal Valin."Menyiksaku? Ini jauh lebih baik dari siksaan manapun yang pernah kuterima."Lucio ters
"Lin, kamu kenapa?" Wajah Alvin berubah panik. Apalagi setelah itu Valin muntah darah. Semua orang histeris melihatnya. Alvin buru-buru menggendong Valin yang tidak sadarkan diri ke sofa. Tidak ada brankar kosong tersisa. Pasien bahkan memenuhi lorong IGD. Menunggu kondisi lebih stabil untuk dipindahkan ke bangsal atau dipulangkan."Lin, ada apa denganmu?" Tanya Alvin kebingungan.Dia baru akan memeriksa ketika dua orang mendekat. "Hei, kalian siapa? Itu apa?" Alvin coba mencegah keduanya saat ingin menyuntik Valin.Tidak ada jawaban, hanya tatapan tajam penuh peringatan yang membuat Alvin mundur teratur. Dia bergidik ngeri waktu melihat senjata api terselip di pinggang keduanya."Ini Effronde. Laporkan pada tuan Lestrange."Sosok yang tak lain adalah Teddy memberi perintah. Pria satu lagi langsung merespon.Di ujung sana, Sylus seketika menggebrak meja. Dia kecolongan lagi. "Suruh Vante dan Bryan mencari tahu pelakunya. Aku akan siksa mereka dengan olivander terbaruku."Bunga olea
"Kau sudah bisa pakai celana sendiri. Jangan memaksaku!""Siapa bilang? Lihat, aku masih kesulitan menunduk. Sakit, Michele. Ayo, aku gak mau rugi bayar kamu!"Michele melirik judes pada Mark. Sosok yang membuatnya stres seminggu ini. Ada saja ulah Mark untuk membuatnya blingsatan, marah juga memaki tanpa henti.Hal paling menyebalkan adalah ketika dia harus membantu Mark memakai celana. Bisa dibayangkan seperti apa salah tingkahnya Michele."Kenapa kamu aneh begitu. Bukannya kamu sudah biasa melihat punya pacarmu."No komen! Michele pilih fokus pada tugasnya yang sungguh menyiksa. Dia diam saja sampai Mark komplit memakai pakaiannya.Percayalah, butuh usaha ekstra kuat bagi Michele untuk menyelesaikannya. Dan itu terjadi berkali-kali. Michele mungkin sebentar lagi akan meledak.Gadis itu membuka laptop dengan kasar, memeriksa lamaran kerja yang dia kirim ke banyak perusahaan.Sudah seminggu, tapi tak satupun merespon. Michele menghela napas. Dia tidak kekurangan uang, Mark membayar g
Valin dan Vier sempat cemas melihat mobil lain berhenti tepat di hadapan mereka. Namun kepanikan itu berakhir begitu melihat siapa pengemudi kendaraan hitam pekat itu. "Valin! Keluar kamu! Jangan pikir buat selingkuh dari aku!" Yang dipanggil namanya menganga. "Hebat juga aktingnya," kekeh Valin d
"Ah elah, baru mau juga hidup damai. Sudah disuruh balik lagi ke rumah lama. Zen, aku berhak menentukan jalanku sendiri!""Kau mau jalan sendiri, mau lari, mau tinggal di mana, itu bukan urusanku! Tapi Valin, dia istriku. Dia harus patuh padaku.""Patriarki!" Maki Vante tanpa ragu."Apa kamu bilan
Zen baru saja keluar dari sebuah sebuah ruangan meeting ketika satu pukulan menghantamnya. Mark langsung menahan sang pelaku yang tidak lain adalah Adrian.Zen sendiri hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sakit? Hanya pukulan Adrian tidak akan membuatnya tumbang."Kau pembunuh! Audrey menin
"Percaya? Kau berusaha menghabisi Vante, apa hakmu minta aku percaya padamu!"Valin kian mengeratkan genggaman pada senjata di tangannya. Tubuh Valin gemetar begitu menyadari apa yang dia pegang. Benda itu, benda itu yang telah membuat ayah dan ibunya meninggal dengan tragis. Sylus menyadari reaks