LOGINjangan lupa ulasannya teman-teman. terima kasih ❤️❤️🫶🫶
Sofia terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.Bahkan Shane pun syok dengan lidahnya sendiri. Bagaimana bisa dia mengucapkan kalimat tadi."Jangan bercanda tuan Finland. Aku bukan wanita yang mudah dibodohi seperti waktu itu.""Aku tidak bohong, Fia. Kali ini aku serius."Tawa Sofia terdengar. Renyah tapi penuh luka. "Sayangnya, aku sudah kebal dengan rayuan model apapun.""Aku tidak merayu. Kita baru bertemu lagi setelah lima tahun saling menghindar. Ini sungguhan."Shane membuka pintu mobil Sofia lebih lebar. Wanita itu baru saja ingin menjepit Shane. Tapi tenaga dokter cantik tersebut tentu saja kalah besar dibanding Shane yang tubuhnya maskulin habis."Siapa yang menghindar. Halo, aku selalu berada di sana. Hidup biasa tanpa terganggu oleh kehadiranmu. Sekarang aku tanya, siapa yang menghindari siapa."Shane menelan ludah. Yang dikatakan Sofia benar. Tiap kali mereka nyaris berpapasan, Shane akan mencari seribu satu cara untuk melarikan diri dari hadapan Sof
"Cinta."Pengakuan Zen membuat Vante ternganga. Sang adik tentu saja tak percaya."Bohong!" Bantah Vante segera."Terserah kalau kau tidak percaya. Yang jelas aku mencintainya.""Sejak kapan?" Desak Vante dengan mata memicing tajam."Tak tahu mulainya kapan. Yang jelas saat aku tidak sadarkan diri waktu itu, aku merasa sangat takut. Aku takut tidak bisa melihatnya lagi. Aku takut akan kehilangan dia."Zen menunduk guna mencium kening Valin yang terlelap. "Aku kemudian menyadarinya, kalau aku mungkin jatuh cinta padanya, atau bahkan lebih lama dari itu."Sejak Zen mengenal Valin kecil. Pria itu tak tertarik pada perempuan lain. Hidupnya berputar di sekitar Valin. Seolah gadis itu pusatnya.Bisa dibayangkan bagaimana hancurnya Zen, saat Valin menghilang enam belas tahun lalu. Pria itu hidup seperti mayat hidup.Zen perlahan "hidup" lagi waktu mengenal Audrey. Tapi sialnya, Audrey brengsek. Dia khianati Zen yang sudah coba membuka hati. Menerima gadis itu apa adanya.Dan kini, Zen kian
"Mark, jangan ngadi-ngadi ya kamu."Michele mendadak jadi orang buta dan tuli. Ketika Mark menjejalkan ear buds ke kupingnya. Juga memaksanya memakai penutup mata. Alibi Mark, sedang ada orang indehoy di sekitar tempat itu.Michele yang memang tidak suka melihat adegan dua satu plus live, pilih manut."Yang ngadi-ngadi siapa. Ini demi kesehatan kejiwaan dan mata kamu. Atau mau lihat mereka maju mundur sambil desah. Nanti kamu kepengin, aku yang susah. Tulangku belum pulih. Aduh!"Mark nyaris berteriak ketika Michele mencubit pinggangnya ekstra keras. Padahal mata tertutup tapi tangannya akurat mencari sasaran."Sembarangan kalau ngomong.""Aku serius, Michele," kata Mark seraya membuka pintu, lalu membimbing perempuan itu keluar mobil.Michele tak pernah tahu jika sejak tadi, dua senjata api stand by dalam genggaman Mark. Netra pria itu juga berkilat penuh kewaspadaan. Pandangannya menyapu area basement yang relatif sepi.Tempat tersebut memang seperti itu sejak beberapa waktu terakhi
"Dokter Valin, selamat pagi."Sapaan petugas bagian informasi membuat gadis tadi menoleh."Valin? Diakah yang kemarin dibahas Mark waktu meeting virtual. Dia dokter juga. Perempuan yang katanya harus tetap dijaga ekstra ketat. Kebetulan sekali," batin sang gadis yang tak lain adalah Michele."Nona melamar kerja di sini?"Michele terperangah melihat betapa sopan dan cantiknya seorang Valin. Mungkinkah dia sosok yang disukai Mark. Makanya harus dikawal dengan baik."Benar, Nona. Tapi ...."Michele melihat pada si staf, sepertinya tidak enak hati untuk bercerita. Meski hati rasanya dongkol setengah mati. Jelas-jelas dia diterima kenapa keputusan berubah di menit terakhir. Bukankah itu3q hal aneh.Atau, jangan-jangan. Satu nama terlintas di kepala Michele. Satu nama yang sejak kemarin coba mengontrolnya."Ceritakan saja. Siapa tahu aku bisa membantu.""Tapi Dokter." Si staf tampak memberi kode pada Valin. Dia tahu Valin dekat dengan sosok wakil direktur utama. Dia pikir tidak apa bercerit
Bola mata Kian memicing melihat Xavier mengantar Rosalie pulang. Bak seorang ayah yang tidak rela putrinya punya pacar. Ekspresi wajah Kian tak jauh beda."Maaf, Om. Tadi aku pergi sama Ivone. Kemudian dia datang."Kian mengangguk, sebelum memberi kode pada Rosalie untuk masuk. Tinggal dua pria seumuran saling berhadapan."Apa maksudmu mendekati Rosalie? Apa karena kejadian hari itu?" Paras Kian seperti menahan emosi, tangannya berada di pinggang. "Kejadian itu hanya awalnya. Aku pun berpikir setelah malam itu semua akan berlalu. Tapi ternyata tidak. Aku sepertinya menyukai Rosalie."Kian mendengus. "Setelah sekian tahun mengejar Valin, kamu pikir aku akan percaya. Jangan jadikan Rosalie pelarian."Xavier menarik sudut bibirnya. "Lalu bagaimana denganmu? Aku masih mending, bisa berpaling. Kau? Apa selamanya kau akan jadi orang yang mencintainya dalam diam? Kian, sadarlah.""Dia sudah menikah. Aku tidak tahu perasaan mereka berdua. Tapi yang aku tahu, Valin tidak akan mengkhianati p
Manik abu itu berkilat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Benci dan amarah terlihat mendominasi. Namun ada juga secercah kecewa di sana. Valin, perempuan itu bagaimana bisa lebih memilih Zen. Bahkan ketika nyawa Zen nyaris Lucio renggut. Bahkan saat kemungkinan hidup itu hampir tidak ada.Valin, lagi-lagi dengan tangannya sendiri, mengembalikannya. Wanita cantik tersebut dengan sadar membuat sosok yang paling Lucio benci kembali berdiri tegak di hadapannya.Dia benci pada keberuntungan Zen. Dia ingin merebutnya, tapi yang terjadi malah lebih menyakitkan. Sesuatu yang paling dia inginkan, justru balik melawannya.Habis-habisan tanpa pikir panjang. Valin tanpa ragu menyerang Lucio. Tidak peduli jika yang dia hajar adalah seseorang yang sangat mencintainya.Lucio menyadarinya di saat yang krusial. Aneh tapi nyata. Dia jatuh cinta hanya dengan satu tatapan. Seolah dia telah lama mengenal Valin."Menyiksaku? Ini jauh lebih baik dari siksaan manapun yang pernah kuterima."Lucio ters
"Dia tidak apa-apa?"Mark bertanya pada dokter yang baru saja menangani Nicky."Lambungnya robek, luka sepanjang lima senti."Dorongan napas kasar terdengar. "Siapa yang berani melukainya?""Tunggu dulu, Nick tidak selemah itu. Kalau cuma orang biasa, pengunjung klub, mereka tidak akan bisa meluka
Suara ringisan terdengar ketika Mark mengayunkan tinjunya. Torres terhuyung tapi tidak sampai tersungkur.Pria itu akhirnya bertekuk lutut. Ketika Mark dan Shane menemukannya di antara kerumunan orang yang mengunjungi pasar malam."Kau ingin mengacau?" Shane bertanya sambil memiringkan kepala."Tid
"Dia tidak apa-apa?" Zen berjalan sambil mengelap lumuran darah di tangan dan wajahnya. Sepertinya pria itu baru saja melakukan operasi sendiri.Aslinya Zen punya basic dokter. Walau dia tidak kuliah kedokteran. Ayahnya saja dokter. Dia tahulah sedikit banyak soal dunia kedokteran. Jadi dia suruh
"Halo, perkenalkan. Saya Katie Sinclair. Perawat baru yang akan bergabung dengan divisi ini. Mohon bimbingannya."Valin menoleh ke arah gadis berambut pirang yang yang baru saja memperkenalkan diri. Valin tersenyum ketika pandangan mereka bertemu. Tapi itu hanya sebentar sebab dokter Andrew menepuk