LOGIN"Sekarang semua jelas. Kenapa Sebastian Kiehl Moretti mengincar Elang Hitam sekaligus mengincar orang-orangmu."Suara Arthur terdengar di ponsel milik Zen yang disetel mode loudspeaker. Lelaki itu sedang mengendara mobil menuju kediaman Archlight. Hatinya tidak tenang sejak tadi."Dia ingin membalas dendam pada keluargamu. Merusak reputasi Elang Hitam demi memuaskan ayahnya," sahut Zen."Padahal papaku bilang Draco Moretti tidak terlalu dirugikan oleh Black Diamond. Klan Drago D'Oro pimpinan Draco Moretti justru terindikasi mencuri uang milik Black Diamond. Kenapa jadi anaknya mengusik klan kakekku. Kan aneh.""Namanya juga tidak waras. Mungkin saja dia dipengaruhi oleh orang lain," sahut Zen sambil menginjak rem ketika lampu merah menghadang jalannya.Dia coba hubungi nomor Valin menggunakan nomornya yang lain. Tidak diangkat."Bisa jadi. Apa karena kamu menghabisi Carson Moretti.""Orang mati mana bisa ngadu," sergah Zen asal."Mayatnya memang tidak mengadu. Tapi ikatan keluarga di
Tawa menggema di lorong sempit itu setelah Kian menyelesaikan kalimatnya."Kau dengar, dia saja menyebutmu pengkhianat."Jody yang menjadi obyek pembicaraan hanya panik sesaat. Dia kemudian melengkungkan senyum tipis. Hingga membuat mereka semua saling pandang."Aku memang pengkhianat tapi untuk organisasi bukan untuk orang lain."Jawabannya memicu amarah mantan rekan Jody. Mereka yang tadinya ingin mengadu domba antara Kian dan Jody justru berbuah sebaliknya."Kalau begitu lebih baik kalian mati bersama! Siapa suruh kau mengantarkan nyawamu sendiri ke sini!""Akan lebih bagus jika kalian bisa membunuhku. Jangan lupa siapa aku."Jawaban manis dari Jody membuat Kian mengerutkan dahi. Rasa ingin tahu akan siapa sosok Jody sebenarnya menyeruak. Dan dia mendapatkan penawar dari rasa penasarannya lima menit setelahnya.Di depan Kian, Jody tunjukkan kemampuannya bertarung. Untuk versi perempuan, Jody sangat luar biasa. Gerakannya cepat. Gadis itu juga lincah dan gesit. Dalam sekejap, bebera
"Yuan, hentikan. Ada orang lain di rumah kita. Maksudku jangan di sini."Audrey mendorong jauh tubuh Yuan yang sudah menghimpitnya ke dinding. Siap menyerang sang istri. Keduanya menikah sebelum Adrian dan Ivone.Mereka sepakat tidak ingin mengadakan pesta. Sama seperti Adrian dan Ivone. Dan kini, keduanya sangat menikmati kehidupan pernikahan mereka.Terikat oleh janji dan rasa takut kehilangan. Sejauh ini pernikahan Yuan dan Audrey baik-baik saja.Audrey sang ratu party secara mengejutkan bisa menghentikan kebiasaan pergi ke klub. Sebagai gantinya, Yuan selalu stand by di rumah begitu selesai bekerja. Pria itu minta pada Adrian agar dia bisa pulang sebelum jam delapan. Kalaupun masih ada pekerjaan, Yuan akan mengerjakannya di rumah.Yuan sadar, Audrey punya keinginan berhubungan intim lumayan tinggi. Untuk mengantisipasi itu, dia harus siap sedia jika Audrey mendadak menyerangnya.Tapi makin ke sini, dua orang itu malah saling melengkapi. Jika Audrey sedang tidak ingin, justru Yuan
"Bagaimana?""Dia mengirim pesan. Tapi bahasanya aneh.""Aneh bagaimana?"Kian menerima ponsel Rosalie. Dia membaca pesan terbaru dari Xavier. Lalu membandingkannya dengan pesan sebelumnya.Benar, bahasa dan feel-nya berbeda. Seperti bukan Xavier yang mereka kenal. Yang mengirim pesan pada Rosalie seolah orang lain."Cek lokasi.""Lokasi ponsel bisa dipalsukan."Penjelasan Bryan membuat Kian menggaruk kepalanya. Meski setengah tak merestui hubungan Xavier dan Rosalie. Nyatanya Kian kelabakan juga saat Rosalie mengadu kalau Xavier tak jua memberinyaa kabar.Waktu itu Kian pikir Xavier punya perempuan lain. Jika demikian, Kian berniat menghajarnya sampai babak belur.Tapi ketika Rosalie mengungkapkan kecemasannya akan keselamatan Xavier. Lelaki itu mendadak berubah haluan.Ditambah keterangan Zen jika Xavier dan Torres mengetahui rupa Sebastian Kiehl. Bisa saja hal itu jadi ancaman untuk keduanya.Seorang psikopat, tidak akan biarkan mereka yang tahu rahasianya, lolos apalagi selamat. M
Bryan tahu, adalah sebuah kesalahan menyeret Vio dalam dunianya. Namun ketika sang putri menuruni kecerdasan dan bakatnya. Takdir Vio sudah jelas. Langkahnya akan mengikuti jejak Bryan."Aku coba cari tahu.""Vio bisa bantu. Kemampuannya hanya dua level di bawah kita."Bryan menoleh mendapati Vio menatap kagum pada ruang kerja ayahnya. Monitor terpajang di sejumlah titik. Menampilkan kesan futuristik sekaligus misteri. "Secerdas itu?""Kamu memonopoli genetiknya.""Siapa bilang. Dia kalau ngomel sepedas emaknya.""Fifty fifty kalau begitu. Ayo mulai.""Vi, tolong cari orang ini. Om Vante berhasil menempelkan pelacak di tubuhnya."Viona mengangguk penuh antusias. Dia menghadap dua monitor sekaligus. Jari kecilnya bergerak cepat di atas keyboard. Menerobos deretan dinding tak kasat mata di luar sana. Tujuannya satu, sebuah kode yang baru saja dikirim Vante."Dia terus berpindah," infonya."Rekam datanya.""Siap," sambut Vio antusias."Pa, aku mau es krim," lanjut sang bocah setelah tak
"Aku tidak apa-apa."Carry menjauhi Bryan yang baru saja mendudukkannya di sofa. Perempuan itu menolak diperiksa ke dokter. Alhasil dia diangkut pulang ke rumah Bryan yang sesaat buat Carry melongo.Mewah dan jelas mahal. Terletak di salah satu kawasan hunian eksklusif di ibukota. Bukan di pusat kota. Lingkungan tempat tinggal Bryan lebih ke back to nature.Pantas saja Vio sangat betah di sana. Beda dengan apartemen sang mama yang kelas menengah. Sempit dengan AC sering mati. Bisa dibayangkan seperti apa kehidupan Viona sehari-hari."Aku percaya. Lihat, kau bisa besarkan anakku tanpa bantuanku. Sekedar pukulan pasti easy untukmu. Vio, tehnya mama mana?" Bryan melirik sang putri yang rupanya sudah lebih dulu meluncur ke dapur estetik pria itu."Sebentar, Pa. Vio boleh minta es krimnya gak?""Satu cup aja. Kamu dari kemarin ngemilin es krim mulu."Carry terbelalak melihat interaksi Bryan dan Vio. "Kalian saling kenal?""Tentu saja. Dia cari aku. Dia tahu aku bapaknya."Bryan sungguh keh
Zen baru saja keluar dari sebuah sebuah ruangan meeting ketika satu pukulan menghantamnya. Mark langsung menahan sang pelaku yang tidak lain adalah Adrian.Zen sendiri hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sakit? Hanya pukulan Adrian tidak akan membuatnya tumbang."Kau pembunuh! Audrey menin
"Percaya? Kau berusaha menghabisi Vante, apa hakmu minta aku percaya padamu!"Valin kian mengeratkan genggaman pada senjata di tangannya. Tubuh Valin gemetar begitu menyadari apa yang dia pegang. Benda itu, benda itu yang telah membuat ayah dan ibunya meninggal dengan tragis. Sylus menyadari reaks
"Ah elah, baru mau juga hidup damai. Sudah disuruh balik lagi ke rumah lama. Zen, aku berhak menentukan jalanku sendiri!""Kau mau jalan sendiri, mau lari, mau tinggal di mana, itu bukan urusanku! Tapi Valin, dia istriku. Dia harus patuh padaku.""Patriarki!" Maki Vante tanpa ragu."Apa kamu bilan
Valin dan Vier sempat cemas melihat mobil lain berhenti tepat di hadapan mereka. Namun kepanikan itu berakhir begitu melihat siapa pengemudi kendaraan hitam pekat itu. "Valin! Keluar kamu! Jangan pikir buat selingkuh dari aku!" Yang dipanggil namanya menganga. "Hebat juga aktingnya," kekeh Valin d







