LOGINDua bulan kemudian. "Kamu ikut papamu dulu ya. Lihat bunga." Yang diajak bicara mengedip sambil tersenyum. Menampilkan gusinya yang masih belum bergigi. Ompong tapi justru sangat manis untuk bayi. "Kamu nanti bikin dia insecure," seloroh Zen yang kemampuan berjalannya sudah pulih. Tidak seperti ingatannya yang masih stuck, tak bertambah. "Niatku kan baik. Aku tidak bermaksud mengintimidasinya." Valin merapikan tampilannya. Dia baru saja menyusui sang putri. "Terserahlah. Ayo, Re, kita jalan-jalan dulu. Aku hubungi kalau dia nangis." "Paling pol dia bakal tidur lagi," kata Valin sambil membuka pintu mobil. Zen menggendong Rea menjauh dari Valin. Pria yang mengenakan kemeja putih itu benar-benar menjelma jadi hot daddy. Matang, tampan dan mempesona. Dalam gendongan lengan kekar Zen, Rea tertawa-tawa sambil melihat keadaan sekitarnya. Sementara Valin, perempuan bergaun hitam itu berbalik setelah melihat Zen menghilang di balik pintu. Tubuh Valin tampak ramping. Tapi aset kembar d
"Sudah sembuh?"Yang ditanya hanya menunjuk bekas luka seperti selulit tapi versi lebih parah di lehernya."Dijadwalkan untuk bedah estetik, biar mulus lagi." Balas Kian lelaki yang beberapa kali melirik ke arah Rea. Bayi cantik yang masih lelap dalam tidurnya."Dapat kloningannya?""Nope! She's is mine," sambar Zen tegas. Dia tahu ke arah mana pembicaraan Kian.Dulu Zen mungkin tak terlalu peduli pada eksistensi Kian. Tapi kini dia sadar kalau lelaki di depannya masih punya sesuatu yang disembunyikan dengan apik.Perasaan Kian belum sepenuhnya lepas dari Valin. Dengan ingatan lama, Zen tidak bisa melihatnya. Namun ketika dia amnesia. Saat dia menilai sikap Kian dari sudut yang berbeda. Dia menemukannya. Dia bisa menyadarinya."Aku akan menikah."Itu bukan pemberitahuan itu klaim. Kian seolah ingin membuktikan kalau dia sudah move on dari Valin. Padahal yang sebenarnya tidak ada yang tahu."Jangan menyakiti perasaan orang.""Kali ini tidak. Dia setuju menikah denganku."Zen menarik su
Kian. Nama itu memunculkan sensasi aneh di dada Zen. Dia diberitahu kalau pria itu tangan kanannya. Orang kepercayaannya. Namun sekarang ada alarm yang berbunyi kencang di kepalanya.Seolah dia bisa meraba kalau ada sesuatu yang tidak beres soal nama itu. Atau dia cemburu pada Kian."Apa dia salah satu dari mereka yang menyukaimu. Mereka bilang kamu punya banyak penggemar rahasia."Zen mengajukan pertanyaan setelah semua orang pergi. Di sana tinggal dia dan Valin."Kayak dia enggak saja. Yang mengejarmu juga tidak sedikit. Cuma yang agak gila satu. Untungnya sudah diikat sama Yuan."Valin membalas sambil menggendong putrinya setelah selesai menyusu. Perempuan sudah bisa duduk, sudah bisa berjalan meski pelan. Hanya saja Valin masih merasa lemas. Jadinya dia belum banyak bergerak. Kecuali ke kamar mandi.Lagi-lagi Zen dibuat menganga. Apa Valin sejak dulu seseksi itu. Kalau iya, pantas dirinya cinta mati pada sang istri. Siapa juga yang rela berbagi jika Valin memenarik itu.Bersamaan
"Untung semua aman."Perkataan Sylus nyaris seperti gerutuan. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Zen. Nekad sekali orang itu. Nasib baik tak ada saraf atau otot yang robek saat pria itu memaksakan diri berjalan tanpa bantuan.Yang dimarahi hanya nyengir lebar. Tanpa dosa, tanpa merasa bersalah telah membuat semua orang cemas juga takut.Ditambah dia mengamuk saat Valin dioperasi. Siapa yang tidak makin ngeri waktu melihat atau bertemu Zen."Kan sudah kubilang. Aku bisa.""Buktikan kalau begitu. Tapi memang kamu seharusnya bisa jalan. Orang habis caesar itu pulihnya lama. Gak kayak orang lahiran normal. Dia perlu bantuan buat ngurus anak kalian.""Kata siapa?" Zen menyanggupi tantangan Sylus. Dia perlahan berdiri. Perlu beberapa kali percobaan sampai dia akhirnya bisa melakukannya. Dua staf tampak berjaga di sisi kiri dan kanan Zen. "Kata mereka. Aku tidak tahu, aku belum pernah mengalaminya.""Otewe kalau begitu." Zen meringis ketika merasakan seluruh ototnya meregang karena tin
"Jangan lihat mereka. Pandang saja aku," bisik Zen ketika sayatan pertama Paula lakukan.Tidak ada perih yang terasa. Dokter anastesi melakukan tugasnya dengan baik. Satu-satunya lelaki selain Sylus yang akhirnya diizinkan masuk. Mereka kehabisan waktu, hingga Zen tak punya pilihan selain mengizinkan dokter anastesi pria membantu persalinan Valin.Ruangan itu kemudian hanya diisi oleh suara alat bedah yang bekerja. Bisturi atau pisau bedah/scalpel. Lalu gunting metzenbaum, gunting mayo, pinset, retraktor berurutan digunakan.Hingga ketika bisturi atau scalpel alias pisau bedah kembali digunakan. Banjir langsung terjadi di bawah sana.Ketuban Valin berhasil dirobek. Beberapa klem arteri digunakan untuk mengontrol aliran darah selama fase operasi. Paula dan Sissy sesaat bertatapan. Sebelum dengan perlahan mereka mendapatkannya.Semua orang menahan napas. Ketika tangis kencang memenuhi ruangan itu. Sissy bahkan sampai berkaca-kaca ketika dia menangani bayi cantik bermata biru tersebut.
Detik berlalu berubah jadi menit. Menit menjelma jadi jam. Selama itu Zen terus mendampingi Valin yang sedang berusaha menahan kesakitan guna melahirkan anak mereka.Hampir enam jam proses itu berlangsung. Dengan pembukaan tujuh sebagai hasilnya. "Tidak ada masalah bukan?" Sylus kembali bertanya."Tidak ada. Tiap proses melahirkan memang berbeda. Tak semua sama. Sissy bilang, tidak ada masalah waktu pemeriksaan terakhir. Dia sudah mengirimkan hasilnya padaku.""Bahkan USG-nya sampai paling detail. Valin ingat Tristan terlilit tali pusat meski cuma satu lilitan.""Lalu apa masalahnya?" Sylus tampak bingung."Tidak ada. Hanya belum waktunya. Lagi pula kondisi Valin dan bayinya terpantau masih aman. Air ketubannya masih cukup. Masih bagus untuk melindungi bayinya.""Sudah bagus dia lahir sekarang. HPL-nya sudah lewat empat hari. Sissy bilang kasih waktu seminggu. Kalau bayinya belum juga lahir. Terpaksa harus di-SC."Sylus menghela napas. "Sayang sekali Sissy sedang menangani kasus ibu
"Dia papanya Claire?"Vante menganga melihat Daniel Heather menggendong Claire. Suatu pagi, dua hari setelah Vante menginap di rumah Valin.Warga desa tidak ada yang protes dengan kehadiran Vante di rumah Valin. Lantaran rupa keduanya yang memang sangat mirip. Beberapa orang bahkan menyebut Vante d
"Bagaimana keadaannya?""Dia gila!"Semua orang menghela napas mendengar jawaban Adrian atas pertanyaan Kian."Serius Valin sudah meninggal?" Nick bertanya dengan ekspresi tidak percaya."Dia ditemukan terjepit di bawah badan mobil. Raganya tidak hancur saja sudah bagus." Bryan yang menjawab."Tapi
Langkah Zen lebar dan cepat. Dia seolah ingin kakinya membawa dirinya secepat mungkin ke tempat tujuan. Informasi yang baru saja dia terima dari Shane membuat waktu berhenti sesaat.Langit di atas kepalanya serasa runtuh menimpanya. Dunia Zen diselimuti kegelapan total. Pria itu sempat terhuyung. S
Semua orang menoleh ke arah tangga. Di mana Zen berdiri di sana dengan setelan serba hitam dari ujung ke ujung. Seperti orang mau ke pemakaman. Walau selama ini, outfit Zen memang didominasi warna gelap. Tapi setidaknya masih ada warna cerah di antaranya. Tapi kali ini lain, pakaian Zen benar-bena







