Se connecter"Sudah kubilang aku tidak mencuri!" Carry Katona, perempuan itu mengenakan kemeja longgar hitam dan celana jeans. Rambut pirangnya digulung asal. Menyisakan helaian di sisi kiri dan kanan wajahnya. Menciptakan efek dramatis di parasnya yang dipenuhi amarah.Cantik. Jantung Bryan seketika berdebar kencang di dalam sana. Tatapannya tak beralih dari sosok Carry yang tak gentar menghadapi keroyokan empat wanita di depannya."Jangan ngeles kamu. Hanya kamu yang ada ruang make up. Gelang itu ada di atas meja. Kamu pasti mencurinya."Sudut bibir Carry tertarik. "Aku saja tidak tahu ada gelang di atas meja. Kamu sengaja menaruhnya. Lalu mengambilnya, lantas menuduhku? Basi! Banyakin baca novel biar dapat ide buli orang yang lebih fresh."Astaga! Bryan nyaris tersedak mendengar balasan pedas Carry. Pria itu seketika melirik Vio dengan ekor matanya. "Pantas saja, mulut ini anak tajam sekali. Emaknya saja begitu," batin Bryan.Keempat wanita tadi terbelalak. Ekspresi mereka seolah mengkonfirmas
"Biarkan dia hanyut dalam spekulasinya sendiri. Biarkan dia menganggap kita tidak tahu apa-apa." Suara Zen terdengar penuh kemarahan. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuh."Semua anggota akan punya akses ke kamera pengawas kediaman keluarga Archlight. Kecuali, kalian tahu sendiri," info Vante selanjutnya.Semua yang hadir berdehem. Ya, kediaman Archlight sekarang terbuka untuk umum. Alias semua anggota inti Sixty Nine bisa memantau rumah itu. Kecuali kamar utama. Tentu saja, Zen tidak mau tubuh molek sang istri terpantau oleh rekan-rekannya. Apalagi kebiasaan Valin yang suka setengah telanjang di kamar sangat meresahkan. Terutama bagi Zen."Selain itu. Aku akan usahakan untuk menanamkan ini padanya." Vante menunjukkan benda kecil di tangannya. Alat pelacak."Kita akan tahu ke mana dia pergi. Apa yang dia lakukan. Dan dengan siapa dia berinteraksi," lanjut Vante."Soal orang yang mencelakai Edison. Fix, dia salah satu anak buah orang itu," lapor Sylus."Sekarang dia di mana?" Shane d
"Jangan asal bicara kamu!" Bryan langsung menampik tuduhan Vante.Sedang yang lain langsung penasaran dengan wajah Viona yang bergerak perlahan. Maria dan Valin seketika terbelalak begitu sang bocah menunjukkan paras manisnya."Astaga, Bry. Dia benar-benar dirimu versi sachet," seru Valin tidak percaya.Bryan serta merta memeriksa fitur wajah Viona. "Mirip dari mananya?" Tampik Bryan walau sekarang ragu. Benarkah Viona anaknya?"Sebab kamu tidak bisa membandingkan," celetuk Maria."Lihat." Secara mengejutkan Vante mampu menemukan profile Viona Anna."Ba-bagaimana bisa? Aku berulang kali mencoba tapi tidak ketemu." Bryan gemetar menerima ponsel Vante.Hanya dengan ponsel Vante berhasil menguak identitas Viona. Sedang dirinya. Dengan bantuan monitor tiga biji, selalu gagal."Mau lebih yakin. Lakukan tes DNA, mumpung kita di rumah sakit," usul Vante.Bola mata Bryan berbinar penuh antusiasme. Anak? Dia tak pernah berpikir apalagi membayangkan kalau dia akan memilikinya. Tapi kini, kemun
"Bagaimana keadaannya?"Zen bertanya sambil memapah Valin yang tampak lemas. Perempuan itu syok berat begitu mendengar kabar Andreas mengalami kecelakaan."Tuan Besar Archlight masih ditangani, tapi supirnya ...."Dokter di hadapan Zen menunduk. Saat itu juga tangis Valin pecah. Beck sangat baik. Bahkan lelaki itu begitu sabar menghadapi kerandoman Andreas yang mulai kembali seperti anak kecil.Banyak tingkah, banyak kerenah, banyak maunya. Dan sederet tingkah absurd yang kerap membuat penghuni kediaman Archlight mengelus dada."Tidak bisa diselamatkan?" Zen memastikan. Dua tangannya memeluk erat tubuh Valin. Wanita itu terisak di dadanya."Tidak. Maafkan kami, kami sudah berusaha semampu kami. Namun Tuan Beck sudah meninggal saat perjalanan menuju ke sini."Zen tahu, urusan hidup adalah milik yang kuasa. Tapi selama masih ada denyut jantung meski lemah. Dia bisa minta Sylus mengupayakannya. Jika Sylus masih tidak cukup, dia akan minta tolong pada Max.Apapun akan dia lakukan untuk or
"Apa Zen sudah pulang?"Valin bertanya seraya melepas blusnya. Menyisakan kaos tanpa lengan yang ketat membalut tubuhnya. Hari ini dia diharuskan ikut meeting di lantai empat.Membahas para pelaku tindak kejahatan yang kemarin bersekongkol dengan Alvos. Jadi dia berpakaian agak formal hari ini. "Belum, Nyonya.""Kalau Papa?""Tuan juga belum pulang. Tapi adik Anda tadi mampir. Dia menitipkan ini."Valin menerima paper bag dari kepala pelayan. Senyumnya mengembang melihat kotak strawberry kesukaannya."Terima kasih," ucapnya via pesan."Ongkir," balas Vante."Mau berapa?" Tantang Valin balik.Lengkung bibir Valin makin naik membaca balasan dari sang adik. Dia rindu pada Vante sejujurnya. Sebab kesibukannya, Valin belum berkunjung lagi ke rumah sang adik.Dengan Maria, mereka kadang mencuri waktu bertemu jika berada di kantin. Untuk sesaat Valin berada di ruang tengah. Sampai ia mendadak mendongak. Waktu itulah dia menjumpai ekspresi tak biasa dari Tian. Lelaki yang duduk di lantai du
"Dia tahu!"Jody berlari secepat kakinya bisa membawanya pergi. Meninggalkan Sebastian Kiehl yang menyeringai menatap kepergiannya.Sampai di ruangannya, Jody langsung luruh di balik pintu. Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin menyusul membanjiri tubuhnya.Bayangan bagaimana Kiehl menghabisi seorang pengkhianat di organisasi kembali membayang. Orang itu ditembak dengan ratusan peluru. Hingga tubuhnya seperti kantong air yang bocor. Bukan air yang merembes keluar. Tapi darah. Tubuh Jody gemetar. Kiehl sangat mengerikan, kejam juga tanpa belas kasih.Sekarang dia ada di sini. Jody lemas seketika. Apalagi ketika Kiehl sempat berbisik di telinganya. "Apa aku kurang membayarmu, hingga kau pilih lari ke sini?""Tidak! Dia tidak mungkin mencariku!"Jody mememeluk tubuhnya sendiri. Dia sangat takut waktu melihat Kiehl. Pria tersebut seperti ingin melahapnya saat itu juga. Padahal Jody terkadang bisa menjadi sosok tanpa belas kasih juga saat menjalankan misi.Kini dia harus apa? Apa y
Suara pintu yang dibuka membuat Kian memalingkan wajah."Bagaimana?"Kian menunjuk Valin dengan dagunya. Sementara ponsel wanita itu berada di tangan Kian."Dia menjatuhkannya," ucapnya seraya memberikan benda pipih tadi pada Zen.Sikap Kian sangat tenang. Seolah tidak ada yang terjadi. Padahal jau
"Jadi, jadi kemarin liburan ke mana? Honeymoonkah?"Pertanyaan itu meluncur di sela tindakan Valin memasang infus seorang pasien. Dia langsung bekerja begitu ada pasien.Valin melotot penuh peringatan pada Ivone. Si perawat yang sejak dia datang langsung menempel padanya."Aku kepo, Dokter," seru I
Jantung Valin serasa berhenti. Napasnya tercekat di tenggorokan. Keringat mendadak muncul di dahi. Dia syok, panik juga takut di waktu bersamaan. Bisa dilihat jika paras Valin perlahan kehilangan ronanya.Di hadapannya berdiri Razen Archlight, suaminya. Lelaki yang coba dia hindari dua bulan ini. P
Jari Zen langsung terarah pada Lucio. Pria itu sedang mendekati Valin yang tengah memilih buah."Zen, dia Lucio Costra!" Pekik Adrian saat menyadari siapa pria itu.Netra biru Adrian memicing tajam. Sejak kapan istri baru Daniel menarik perhatian pemimpin sayap kiri."Bagaimana?" Adrian yang sejak







