LOGIN"Jangan asal bicara kamu!" Bryan langsung menampik tuduhan Vante.Sedang yang lain langsung penasaran dengan wajah Viona yang bergerak perlahan. Maria dan Valin seketika terbelalak begitu sang bocah menunjukkan paras manisnya."Astaga, Bry. Dia benar-benar dirimu versi sachet," seru Valin tidak percaya.Bryan serta merta memeriksa fitur wajah Viona. "Mirip dari mananya?" Tampik Bryan walau sekarang ragu. Benarkah Viona anaknya?"Sebab kamu tidak bisa membandingkan," celetuk Maria."Lihat." Secara mengejutkan Vante mampu menemukan profile Viona Anna."Ba-bagaimana bisa? Aku berulang kali mencoba tapi tidak ketemu." Bryan gemetar menerima ponsel Vante.Hanya dengan ponsel Vante berhasil menguak identitas Viona. Sedang dirinya. Dengan bantuan monitor tiga biji, selalu gagal."Mau lebih yakin. Lakukan tes DNA, mumpung kita di rumah sakit," usul Vante.Bola mata Bryan berbinar penuh antusiasme. Anak? Dia tak pernah berpikir apalagi membayangkan kalau dia akan memilikinya. Tapi kini, kemun
"Bagaimana keadaannya?"Zen bertanya sambil memapah Valin yang tampak lemas. Perempuan itu syok berat begitu mendengar kabar Andreas mengalami kecelakaan."Tuan Besar Archlight masih ditangani, tapi supirnya ...."Dokter di hadapan Zen menunduk. Saat itu juga tangis Valin pecah. Beck sangat baik. Bahkan lelaki itu begitu sabar menghadapi kerandoman Andreas yang mulai kembali seperti anak kecil.Banyak tingkah, banyak kerenah, banyak maunya. Dan sederet tingkah absurd yang kerap membuat penghuni kediaman Archlight mengelus dada."Tidak bisa diselamatkan?" Zen memastikan. Dua tangannya memeluk erat tubuh Valin. Wanita itu terisak di dadanya."Tidak. Maafkan kami, kami sudah berusaha semampu kami. Namun Tuan Beck sudah meninggal saat perjalanan menuju ke sini."Zen tahu, urusan hidup adalah milik yang kuasa. Tapi selama masih ada denyut jantung meski lemah. Dia bisa minta Sylus mengupayakannya. Jika Sylus masih tidak cukup, dia akan minta tolong pada Max.Apapun akan dia lakukan untuk or
"Apa Zen sudah pulang?"Valin bertanya seraya melepas blusnya. Menyisakan kaos tanpa lengan yang ketat membalut tubuhnya. Hari ini dia diharuskan ikut meeting di lantai empat.Membahas para pelaku tindak kejahatan yang kemarin bersekongkol dengan Alvos. Jadi dia berpakaian agak formal hari ini. "Belum, Nyonya.""Kalau Papa?""Tuan juga belum pulang. Tapi adik Anda tadi mampir. Dia menitipkan ini."Valin menerima paper bag dari kepala pelayan. Senyumnya mengembang melihat kotak strawberry kesukaannya."Terima kasih," ucapnya via pesan."Ongkir," balas Vante."Mau berapa?" Tantang Valin balik.Lengkung bibir Valin makin naik membaca balasan dari sang adik. Dia rindu pada Vante sejujurnya. Sebab kesibukannya, Valin belum berkunjung lagi ke rumah sang adik.Dengan Maria, mereka kadang mencuri waktu bertemu jika berada di kantin. Untuk sesaat Valin berada di ruang tengah. Sampai ia mendadak mendongak. Waktu itulah dia menjumpai ekspresi tak biasa dari Tian. Lelaki yang duduk di lantai du
"Dia tahu!"Jody berlari secepat kakinya bisa membawanya pergi. Meninggalkan Sebastian Kiehl yang menyeringai menatap kepergiannya.Sampai di ruangannya, Jody langsung luruh di balik pintu. Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin menyusul membanjiri tubuhnya.Bayangan bagaimana Kiehl menghabisi seorang pengkhianat di organisasi kembali membayang. Orang itu ditembak dengan ratusan peluru. Hingga tubuhnya seperti kantong air yang bocor. Bukan air yang merembes keluar. Tapi darah. Tubuh Jody gemetar. Kiehl sangat mengerikan, kejam juga tanpa belas kasih.Sekarang dia ada di sini. Jody lemas seketika. Apalagi ketika Kiehl sempat berbisik di telinganya. "Apa aku kurang membayarmu, hingga kau pilih lari ke sini?""Tidak! Dia tidak mungkin mencariku!"Jody mememeluk tubuhnya sendiri. Dia sangat takut waktu melihat Kiehl. Pria tersebut seperti ingin melahapnya saat itu juga. Padahal Jody terkadang bisa menjadi sosok tanpa belas kasih juga saat menjalankan misi.Kini dia harus apa? Apa y
"Apa kau yakin?""Aku yakin dengan wajahnya. Tapi tidak dengan kelakuannya. Apapun itu, tidak ada salahnya kita untuk waspada. Jika dugaanku benar, maka dia akan sama manipulatif-nya dengan Lucio Costra."Di ujung sana Zen menipiskan bibir. Kalau orang itu sama dengan Lucio Costra. Artinya mereka juga mengincar hal yang tidak jauh beda. Valin.Jemari Zen segera berlari ke pelipis. Lalu memijatnya. Dia harus bagaimana menghadapi istrinya. Sudah diklaim, sudah go publik. Semua rivalnya satu persatu telah dia singkirkan.Namun bak pepatah mati satu tumbuh seribu. Atau patah tumbuh hilang berganti. Pesona sang istri bukannya surut. Malah sebaliknya. Daya pikatnya makin tak terkendali.Haruskah Zen mengurung Valin di menara tinggi seperti Rapunzel. Supaya dunia tak lagi mengetahui keberadaan Valin.Dorongan napas kasar terdengar. Setelah Xavier berhasil dia jauhkan. Meski masih ada Kian yang menghantui. Kini muncul nama Sebastian Kiehl. Zen pikir lelaki itu tidak pernah nyata.Zen kira Seb
"Lin, apa kamu tahu kalau pasienmu kemarin malam hampir log out?"Valin memutar badannya cepat. Dia langsung menghadap Ivone yang sedang memeriksa rekam medis pasien. Pergantian shift baru saja terjadi. Maka Ivone dan yang lainnya harus mengecek ulang kondisi pasien yang ditinggalkan oleh shift sebelumnya."Kapan?""Gak lama setelah kamu pergi. Makanya mereka heran. Pas kamu cek tidak apa-apa. Eh, kamu pergi dia langsung sesak napas. Untung Andrew cepat mengatasinya. Kalau enggak, bakal ada pemakaman hari ini."Kalimat terakhir diucapkan Ivone sambil berbisik. Begitu mendengar info dari Ivone. Valin gegas menuju ruangan Miro. Di sana dia melihat Tian duduk di kursi tunggu ditemani seorang perawat.Tatapan pria itu tampak kosong. Waktu melihat Valin dia langsung menunduk. Entah malu, entah takut. Hanya saja, ketika Valin menyapa, dia merasa Tian tersenyum meski samar."Sebenarnya apa yang terjadi?" Wanita itu bertanya begitu berada di kamar Miro.Dua orang yang ada di sana saling panda
"Itu bukan kontrak namanya.""Kamu pilih jadi janda.""Yang tahu kita sudah menikah siapa?"Zen ingin menjawab, tapi tatapan menantang dari Valin membungkamnya. Selain anak buahnya dan Vante memang tidak ada yang tahu kalau dia dan Valin telah menikah."Kamu ingin go publik?""Dengan seorang pembun
Zen lumayan terkejut mendengar jawaban Valin. Tapi itu tidak lama, sebab setelahnya Zen tersenyum tipis."Sudah kamu pertimbangkan akibatnya?"Valin menggigit bibir. Tangannya terkepal. "Kami akan pergi dari The Dream. Kita tidak akan bertemu lagi. Untuk hutang operasi Vante, aku akan membayarnya t
Valin berlari ke arah parkiran. Meninggalkan Vante dan yang lainnya. Dia kesampingkan rasa penasaran semua orang yang duduk di meja. Termasuk Tessa dan Devan.Dua orang yang langsung memicing curiga melihat kelakuan Valin. Tanda tanya besar muncul di benak keduanya. Menyeret mereka sampai di sini.
Valin memandang Zen yang duduk santai sambil menyesap anggurnya. Pria itu tampak tenang. Bahkan ketika Valin dipenuhi dengan bara penasaran.Namun perempuan itu berusaha tidak menunjukkannya. Rasa ingin tahu itu berpadu dengan pertanyaan, kenapa Zen melakukan ini. Apa pria itu sedang menjelaskan pa







