LOGIN"Apa yang bisa kamu berikan padanya?"Pertanyaan itu membuat Xavier mendongak. Benteng terakhir untuk mendapatkan Rosalie ada di hadapannya. Kian Egan, wali Rosalie. Sosok yang gadis itu panggil om. Lelaki yang sejauh ini belum bisa Xavier kalahkan presensinya dalam hati Rosalie."Semua. Seperti aku telah mengambil miliknya yang paling berharga karena kebodohanku. Aku akan balik memberikan segala yang kupunya untuknya.""Bahkan nyawa sekalipun?" Pangkas Kian cepat.Sebagai orang yang pernah patah hati. Dia tahu rasanya. Sebagai lelaki yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia paham betul situasinya. Karena itu, jika Rosalie benar-benar ingin bersama Xavier. Dia akan mengizinkannya. Keputusan ini Kian ambil setelah bergulat lama dengan benaknya sendiri.Bagaimanapun juga, Kian tidak bisa menjaga Rosalie selamanya. Kian sadar akan hal itu. "Jika tuan Egan ingin nyawaku sekalipun. Aku tidak keberatan."Sudut bibir Egan tertarik. "Cinta memang gila," komennya sebelum meneguk wine di ge
"Aneh-aneh saja," gerutu Valin ketika si pelayan baru dipecat saat itu juga. Wanita tersebut menggelengkan kepala. Baru kali ini Valin menyadari kalau dia tidak mau ada perempuan lain menyentuh suaminya. Apalagi sampai Zen tergoda. Dia tak bisa membayangkan Zen tidur dengan sperempuan selain dirinya. Dia tidak sanggup.Saat Valin sibuk dengan kemelut di benaknya sendiri. Mendadak satu pelukan datang dari arah belakang. Valin terkejut sebelum kelegaan memenuhi dadanya."Kamu mengagetkanku.""Sama seperti orang gila tadi. Bisa-bisanya dia masuk ke kamar kita. Lalu coba menggodaku.""Serius kamu tidak tergoda. Dia seksi lo.""Lebih seksi kamu," bisik Zen dengan suara serak."Bohong," sangkal Valin."Aku serius, sayang. Diam saja kamu sudah membuatku tidak waras." Zen mulai menjelajah leher Valin. Dia hirup aroma sang istri kuat-kuat. Zen seolah ingin menghilangkan jejak wanita tadi di tubuhnya."Valin," bisik Zen. Pria itu mulai mencium sang istri. Ciuman yang intens juga lembut."Ka
"Apa kamu tahu kenapa Mark memutuskanmu dulu?"Michele menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan sang teman. Dia sedang bersama Audrey. Mencoba menghibur diri setelah rutinitas kerja yang lumayan berat.Atau alasan lain, adalah untuk menghindari Mark. Terutama setelah kejadian mabuk kemarin. Michele benar-benar kehilangan muka. Saat dia bangun dalam keadaan setengah telanjang di sisi Mark. Di kamar pria itu.Bagaimana dia sampai ke sana. Michele sama sekali tidak mengerti. Yang dia ingat adalah dia hampir menghabiskan semua koleksi minuman Mark yang super mahal."Dia merasa tidak pantas untukmu."Michele berdecih. "Tidak pantas lalu menggunakan alasan kalau dia gay untuk mencampakkanku. Keterlaluan." Michele meneguk habis cairan dari gelas kecil di depannya. Bersama Audrey, bisa dipastikan jika minuman yang mereka konsumsi mengandung alkohol."Lalu apa dia benar-benar gay?" Michele tersedak mendengar pertanyaan penuh godaan dari Audrey. Ingatannya kembali ke malam itu. Dia mungkin
Arthur dan Zen diusik. Maka bisa dibayangkan bagaimana kecepatan keduanya menangkap biang keroknya. Dua jam kemudian, seorang pria didorong dengan kasar oleh Mark. Di samping Mark ada asisten Arthur. Pria yang sama kompetennya dengan sang tuan."Serius adikmu sama asistennya Zack?" Bisik Zen setengah mengejek. Sedikit keluar dari topik. Entah kenapa pria itu mendadak kepo soal adik Arthur.Arthur mendengkus. Antara tidak rela dan tidak terima. "Regina mentok sama dia. Daripada dia berakhir seperti Audrey, mending aku turuti saja. Setidaknya, Sandro bukan pria brengsek."Circle pertemanan kalangan elit seringnya berputar di situ-situ saja. Meski tidak dekat, mereka akan tahu cerita atau kabar dari anggota lain.Termasuk kisah Audrey. Beritanya sudah menyebar ke semua keluarga konglomerat yang ada di kota ini. Cerita yang kadang masih menyeret nama Zen. "Dia yang memberi perintah?" Arthur bertanya sambil memandang sosok yang kini ketakutan.Fokus mereka kembali pada si tersangka. Fig
Jack Harold menggebrak meja. "Apa kamu bilang, Kiev ditangkap?""Benar, menurut laporan diringkus di kota Ishifan."Jack mengepalkan tangan. Bagaimana bisa Kiev tertangkap. Dia sudah memperingatkan pria itu untuk menjaga diri. Jangan sampai keberadaannya diendus musuh atau aparat keamanan.Aparat keamanan mungkin dia masih bisa melobi. Tapi musuh, dia tidak akan mampu menolong."Hubungkan aku dengan Alan Rickman."Jack harus bertindak. Lucio mustahil bisa diselamatkan. Dia tidak bisa mengandalkan orang lain kecuali dirinya sendiri. Jika tidak apa yang dia dan Lucio usahakan selama ini, akan hilang begitu saja."Tuan, Tuan Rickman bilang tidak bisa membantu kali ini. Departemen pertahanan ikut campur soal penangkapan Kiev."Asisten Lucio memejamkan mata. Jika demikian artinya keluarga Inzaghi ikut andil di dalamnya. Melawan mereka, sangat tidak mungkin."Cari terus celah untuk mengeluarkan Kiev. Jika dia berhasil dipaksa bicara, kita semua akan celaka."Tangan kanan Jack mengangguk pah
Satu tembakan melesat membuat lelaki yang nyaris menindih Michele tumbang. Darah menyembur dari kepala yang dilubangi Mark. Michele histeris. Namun sebelum dia menelaah apa yang tengah terjadi. Lesatan peluru lain menyusul. Dalam hitungan detik, Michele sudah berada di tengah kubangan cairan berwarna merah.Amis, bau karat dengan teror khas seketika merebak. Di antara itu semua, Mark berdiri tegak dengan mata biru menyala penuh amarah."Ada yang mau bicara?" Mark berjalan menuju Michele yang meringkuk di pojok ruang tamu. Tangan gadis itu berada di telinga. Wajahnya juga pucat, ketakutan level akut.Pria itu perlahan merengkuh Michele dalam pelukannya. Dia pakaikan jasnya, guna menutupi tubuh Michele yang bagian bahunya terekspose."Katakan!"Bentakan Mark membuat tiga lelaki yang masih hidup tapi terluka itu berjengit kaget. Aura Mark membuat mereka menggigil. "Dia punya hutang.""Pacarnya yang sudah mati yang punya hutang!"Potong Mark dengan sorot mata tajam. Dia dekap Michele y
"Semoga beruntung di tempat baru dokter Brown!"Teriakan Ivone disambut denting gelas yang beradu. Semua orang tampak menikmati pesta perpisahan dokter Brown. Dokter spesialis anak yang pernah bergabung di divisi UGD beberapa waktu lalu.Wanita berambut coklat itu terpaksa resign. Setelah memutuska
"Benar-benar melelahkan," keluh Valin sambil meletakkan kepala di meja.Alvin hanya tersenyum sambil meletakkan sekotak susu di hadapan Valin."Kopi," tanya Valin."Kamu perempuan, jangan kebanyakan kopi!" Alvin tegas memperingatkan.Valin manyun, tapi tangannya tak menolak pemberian Alvin. Dia min
"Antar aku!"Kian terkejut. Dia baru saja mengirim pesan pada Zen. Saat itu Zen sedang membantu Madison dan Mike naik ke taksol."Tapi Zen," kilah Kian panik. Dia bingung ketika Valin sudah masuk ke mobil Kian yang baru saja diantar oleh petugas valet."Dia lagi sibuk sama keluarganya!" Sambar Vali
Dorongan napas kasar terdengar. Zen hampir membanting ponselnya, jika Valin tidak menggeliat dalam pelukan. Pria itu mendengus seraya menjepit hidung Valin. Gemas sekaligus heran. "Aku bingung denganmu. Sebenarnya yang menarik darimu itu apa? Cantik, biasa saja. Seksi, lumayan. Yang lebih bohay ba







