LOGINMaya POV Sejak keluar dari rumah Bu Halimah, suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi. Aku duduk memandangi jalanan di luar jendela, sementara Fajar fokus menyetir tanpa banyak bicara. Awalnya aku mengira kami benar-benar sedang menuju kontrakanku. Namun setelah beberapa puluh menit berlalu, aku mulai menyadari ada yang tidak beres. "Jar." "Hm?" Aku menoleh ke arahnya. "Ini bukan jalan ke kontrakanku." Fajar tidak langsung menjawab. Tangannya tetap menggenggam kemudi dengan erat. "Jar?" "Aku tahu." Aku langsung mengernyit. "Kamu mau bawa aku ke mana?" "Ke tempat yang lebih baik daripada kontrakan kamu," tegas Fajar dingin. Aku menatapnya tidak percaya. "Jar, cepat putar balik, antar aku ke kontrakan saja." Aku mulai mendesaknya dengan mengunggah nada jengkel. Fajar mengembuskan napas panjang. "Sudah aku bilang aku nggak akan mengantarkan kamu ke kontrakan itu." Seketika emosiku tersulut. "Fajar!" "Aku serius." "Aku juga serius." Aku l
Maya POV"Fajar!"Suara Bu Halimah terdengar tegas hingga membuat kami berdua menoleh secara bersamaan.Aku langsung menundukkan kepala mulai merasa tak enak mendapati tatapan kecewa Bu Halimah pada putranya sesuatu yang sangat jarang terjadi."Kamu kok malah ngobrol sama Maya di sini? Katanya tadi cuma mau ambil minum sebentar?""Aku cuma cari angin di sini, Bu," jawab Fajar sekenanya.Sungguh aku tak pernah melihat Fajar membantah ibunya sendiri, sosok yang setahuku selalu dia hormati dan dia sayangi."Ayo temuin Anisa lagi," desak Bu Halimah sedikit memaksa."Anisa mau pulang sebentar lagi. Masa kamu malah ngobrol di belakang terus?" tegur Bu Halimah.Fajar mengusap tengkuknya pelan."Iya Bu, nanti aku ke depan," ucap Fajar dengan enggan."Bukan nanti. Sekarang."Nada suara Bu Halimah terdengar tak bisa dibantah.Aku bisa melihat rahang Fajar mengeras sesaat sebelum akhirnya ia berdiri."Oke, aku ke depan dulu."Sebelum pergi, Fajar sempat menatapku."Nanti kita ngobrol lagi."Aku
Maya POV"Maukah kamu menikah denganku May?"Lamaran Fajar sontak mengagetkan aku. Keseriusannya malah menambah perih di hatiku.Aku sudah terlalu pesimis dengan kisah kami. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan kembali terutama tentang perasaan Bu Halimah.Aku menatapnya lama yang kini justru juga diiringi dengan air mata.Fajar langsung mendekat tangannya segera terulur ia ingin menghapus jejak basah di mataku.Namun aku langsung berpaling dan menghapus air mataku sendiri."May ....?"Aku menggeleng dengan air mata yang kembali berderai."Aku masih berduka Jar, bahkan kuburan Dita masih basah, aku tak sanggup untuk ...."Aku tak melanjutkan kalimatku.Saat mengingat putriku aku kian tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Nyatanya rasa dukaku bisa aku jadikan alasan untuk mengabaikan lamaran Fajar tanpa harus merasa bersalah karena menolaknya."Maafkan aku May, aku tak bermaksud untuk tak peduli dengan rasa duka kamu, aku terlalu emosional karena mendengar kehidupan kamu yang m
Maya POVAku menatap Fajar cukup lama.Permintaannya menggantung di antara kami, membuat dadaku terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bahkan sulit kujelaskan.Jujur saja, aku tidak ingin kembali bergantung pada siapa pun.Tapi dalam kondisi seperti sekarang, aku juga tidak memiliki tenaga untuk memulai semuanya dari awal.Aku terlalu lelah.Terlalu hancur.Pada akhirnya aku mengangguk pelan."Iya, Jar."Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Dita, kulihat senyum tulus mengembang di wajah Fajar.Pria itu terlihat begitu lega."Sungguh?"Aku kembali mengangguk."Asal cuma sementara."Tatapan Fajar langsung melembut."Tidak masalah. Yang penting kamu tidak sendirian."Aku menundukkan kepala.Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat hatiku semakin perih.Karena orang yang paling ingin menemaniku saat ini sudah tidak ada lagi.Dita."Aku janji aku akan selalu menjagamu, May, dengan sepenuh hatiku."Aku termangu kelu mendengar janji Fajar yang terdengar terucap dengan begitu sun
Maya POVAku bahkan tidak ingat bagaimana caranya aku bisa kembali berdiri setelah mendengar vonis dokter malam itu.Semuanya terasa kosong.Suara-suara di sekitarku terdengar samar.Tangisku sudah tak lagi sekeras sebelumnya, tetapi rasa sakit yang menggerogoti dada justru semakin dalam.Seolah ada bagian dari diriku yang ikut mati bersama Dita.Aku hanya duduk di kursi rumah sakit sambil memandangi pintu ruangan tempat tubuh kecil putriku berada.Putriku.Anak yang selama ini kuperjuangkan. Hingga aku sanggup mengorbankan apapun demi kebahagiaannya.Tapi kini aku harus mengikhlaskan kepergiannya, padahal aku baru saja berhasil menemukan setelah sekian lama kami dipisahkan oleh keadaan yang sulit."Maya."Suara Fajar terdengar pelan.Aku tidak menjawab, masih termangu, hanyut dalam kesedihan.Aku bisa merasakan Fajar mulai mendekat, dia kemudian duduk di dekatku."May, ada beberapa hal yang harus segera diurus."Aku menoleh perlahan.Mataku terasa bengkak dan perih."Kuatkan dirimu M
Maya POV"Sudahlah sekarang cepat tunjukkan saja di mana kamu sembunyikan Dita?"Suara Fajar terdengar keras menggema di lorong apartemen mewah itu.Mama Asha mendengkus sinis."Kalian ini benar-benar merepotkan."Perempuan itu berjalan menuju lift tanpa menunggu kami. Aku segera mengikuti di belakangnya bersama Fajar dan Pak Dimas.Jantungku berdegup begitu cepat.Sebentar lagi aku akan bertemu Dita.Anakku.Putri kecil yang selama ini selalu kurindukan.Lift berhenti di salah satu lantai atas. Mama Asha keluar lebih dulu lalu berjalan menuju sebuah unit yang berada di ujung koridor.Tangannya memasukkan kode akses.Pintu terbuka perlahan."Masuklah kalau memang kalian tidak sabar sekali."Aku tak menunggu lebih lama.Begitu masuk, mataku langsung menyapu seluruh ruangan.Apartemen itu sangat luas dan mewah.Namun suasananya terasa dingin.Sepi.Tidak seperti rumah yang dihuni seorang anak kecil."Di mana Dita?" tanyaku tidak sabar.Mama Asha melipat kedua tangan di dada."Kamu meman
Maya POV"Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu tentang diriku?"Pertanyaanku membuat Hans terdiam beberapa saat.Pria itu masih menatapku lekat seolah sedang menimbang sesuatu."Aku akan memastikan kamu baik-baik saja."Aku tersenyum tipis."Kenapa?"Hans mengernyit."Apa maksudmu?""Ken
"Maya?!"Aku spontan menoleh.Nafasku seketika tertahan saat melihat sosok pria tinggi berambut coklat yang berdiri beberapa meter di depanku."Hans?"Pria itu menatapku dengan ekspresi tak percaya.Aku sendiri hampir tidak yakin dengan apa yang kulihat.Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganny
Maya POV"Jar, anakku masih belum aku temukan."Suaraku terdengar pecah.Meski Salman dan Angga sudah tertangkap, kenyataannya Dita masih belum ada di hadapanku.Itulah yang membuat dadaku tetap terasa sesak.Fajar mengusap puncak kepalaku perlahan."Polisi sudah menangkap mereka, May. Sekarang mer
Maya POVDemi mengurangi sedikit gelisahku aku terpaksa menghubungi Fajar, meski saat ini aku tahu dia masih sibuk di rumah sakit.Aku merasa bersalah telah mengganggunya. Tapi aku tak bisa terlalu lama menyimpan berita tentang Dita ini sendirian.Jantungku terus berdebar setiap kali membayangkan s







