LOGINJemari Elena telah mencapai puncak pagar. Satu telapak mencengkeram jeruji paling atas. Kaki kirinya terangkat, mencari batang besi untuk pijakan. Suara rantai bergeser dari balik semak. Elena menoleh. Tiga ekor anjing menerobos keluar dari kegelapan. "Guk!" "Guk!" "Guk!" Tubuh mereka merendah sebelum melesat. Elena menarik tubuhnya lebih tinggi. Kaki kirinya berhasil menginjak besi. Kaki kanan menyusul. Jarak ke sisi luar pagar tinggal satu gerakan. Anjing pertama melompat. Rahangnya mengatup pada betis Elena. Tubuhnya tersentak. Kaki yang tadi mencari pijakan terlepas. Anjing kedua menerkam ujung mantelnya. Kain tertarik ke belakang. Elena mencengkeram puncak pagar dengan kedua tangan. Gigitan di kakinya semakin kuat. Mantel tertarik sampai jahitannya menegang. Sreeet. Kain robek. Pegangannya terlepas. Tubuh Elena jatuh. Bruk! Punggungnya menghantam tanah. Udara keluar dari paru-parunya. Belum sempat bangkit, bayangan hitam sudah mengelilinginya. Elena m
Waktu terus berjalan di mansion. Lampu-lampu koridor padam satu per satu. Suara langkah staf semakin jarang terdengar dari balik pintu. Di kamar, hanya lampu tidur yang masih menyala. Elena duduk di lantai dengan punggung bersandar pada pintu. Tatapannya tertuju pada tirai jendela. Air mata di pipinya telah mengering. Telapak tangannya terbuka di atas lutut. Sobekan kertas itu masih berada di sana. Deretan angka yang tadi memenuhi permukaannya telah melebur menjadi garis-garis tinta. Salah satu bagian bahkan nyaris tidak berbentuk lagi. Ibu jarinya mengusap permukaan kertas. Berhenti. Stella Maris telah hilang. Anak-anak telah pergi. Dan Julian masih diburu. Pistol yang dibawa Adriano keluar dari mansion terlintas di kepalanya. Jemarinya menutup kertas itu.
Adriano menyusuri koridor dengan pistol masih berada di tangannya. Langkahnya tidak berubah. Marmer memantulkan bunyi sol sepatunya hingga ke foyer. Valerius masih berada di sana. Sendirian. Pria tua itu mengangkat wajah ketika Adriano mendekat. Tatapannya turun pada pistol yang menggantung di sisi tangan putranya. "Mau ke mana?" Adriano terus berjalan. Valerius mengikuti geraknya dengan mata. "Masalah sebenarnya masih di rumah ini, Adriano." Langkah Adriano tidak berhenti. Pintu utama terbuka. Udara malam menyentuh wajahnya. Ia turun melewati tangga. Pintu mansion menutup di belakang tubuhnya. Sedan hitam meninggalkan halaman. Gerbang besi terbuka sebelum mobil mendekat, kemudian menutup kembali ketika lampu belakangnya menghilang di jalan. Toko-toko di sepanjang jalan telah mematikan sebagian besar lampu. Papan nama masih menyala di beberapa tempat. Sisanya gelap. Adriano menginjak pedal gas lebih dalam. Laut terbentang di sisi kanan. Permuk
Gerbang mansion terbuka. Sedan hitam memasuki halaman dan berhenti di depan tangga utama. Adriano turun lebih dahulu. Pintu pengemudi menutup keras. Ia berjalan ke sisi penumpang, membuka pintu Elena, lalu menatapnya. "Turun." Elena melepas sabuk pengaman. Begitu kedua kakinya menyentuh marmer, tangan Adriano sudah mencengkeram lengannya. Tarikannya membuat langkah Elena goyah. Telapak tangannya sempat menyentuh sisi mobil. Adriano tidak menunggu. Mereka masuk ke mansion. Langkah Elena terdengar pendek di atas marmer. Cengkeraman Adriano tidak mengendur sampai mereka melewati foyer. Di ruang tamu utama, Valerius telah berada di kursi rodanya. Seorang pria paruh baya duduk di sofa panjang di hadapannya. Setelan gelap membungkus tubuhnya. Sebuah map tipis terletak di atas lutut. Elias berdiri tak jauh dari rak buku. Percakapan terhenti ketika mereka melewati ruangan. Tatapan Valerius terangkat. Pria di sofa ikut menoleh. "Signore—" Adriano tidak berhenti. Tangannya
Ponsel masih menempel di telinga Julian. Pria di ambang pintu tidak bergerak. Jas hitamnya jatuh rapi sampai ke pinggang. Topi gelap menutupi sebagian wajah, menyisakan garis rahang dan sepasang mata yang tak menunjukkan apa-apa. "Halo." Suara dari ponsel akhirnya terdengar. Julian menegang. "Julian. Ini aku, El—" Ponsel turun dari telinganya. Pria itu masuk. Pintu menutup di belakangnya. Klik. "Julian Vane." Julian menatapnya. "Kau yang akan menjelaskan kenapa pasporku bermasalah?" "Tidak." Pria itu berhenti di tengah ruangan. "Aku datang untuk membawamu." Tatapan Julian bergeser ke pintu. "Hidup atau mati." Tangannya masuk ke balik jas. Kilatan logam muncul. Julian bergerak lebih cepat. Telapak tangannya menghantam pergelangan pria itu. Dor! Peluru menembus dinding di belakangnya. Letusan memantul di ruangan sempit. Pria itu langsung maju. Pukulan pertama menghantam rusuk Julian. Udara terlepas dari paru-parunya. Pukulan berikutnya mengenai rahang. Tubu
Papan keberangkatan berganti angka di atas kepala Julian. Genoa. Satu tujuan yang sudah ia putuskan untuk ditinggalkan. Perban putih membungkus telapak tangannya dengan simpul seadanya. Ujung kain telah berubah merah kecokelatan. Kemeja yang dipakainya sejak meninggalkan apartemen masih melekat di tubuh. Debu menempel di bahu. Garis tipis bekas pecahan kaca terlihat dekat kerah. Ia menyusuri antrean pemeriksaan dengan tas selempang melintang di dada. Pengumuman keberangkatan dan percakapan para penumpang bercampur menjadi dengung panjang di dalam terminal. Setidaknya satu hal berjalan seperti seharusnya. Penerbangannya masih tertera di papan. Julian mengeluarkan paspor. Tiket elektronik ditunjukkan. Petugas mengambil dokumen itu. Halaman identitas dibuka. Tatapannya berhenti. Jemari yang memegang paspor tetap diam beberapa saat. Julian memperhatikan wajahnya. "Ada masalah?" Petugas mengangkat mata. "Tunggu sebentar." Paspor dibalik. Satu halaman di
Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema
Pagi di Stella Maris tidak sempat menjadi pagi. Suara mesin datang lebih dulu, memotong udara sebelum matahari sepenuhnya naik. Getarannya merambat dari tanah, masuk ke dinding panti, mengguncang gelas-gelas plastik di rak dapur hingga beradu pelan. Elena terbangun sebelum anak-anak menangis.
Mansion Moretti berdiri jauh dari kebisingan pelabuhan, seolah dunia luar tak pernah menyentuhnya. Sinar matahari sore menembus jendela tinggi, menyorot debu yang menari di udara. Lantai marmer hitam mengilap, refleksi kaki menekankan kesunyian yang hampir mematikan. Langit-langit tinggi dan dindin
Debu pelabuhan Genoa selalu menemukan jalannya sendiri. Ia menyelinap lewat celah pagar besi panti Stella Maris, menempel di sepatu-sepatu kecil yang berjejer di rak kayu, lalu hinggap di meja dapur yang catnya mengelupas. Debu itu membuat segalanya tampak kusam—kecuali satu hal. Sebuah amplop







