LOGINAdriano sudah berjalan di depan.
Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul. Koridor memanjang, dindingnya tinggi dan polos. Lampu-lampu dinding menyala redup, menciptakan bayangan yang tidak pernah benar-benar jatuh ke lantai. Tidak ada jendela. Tidak ada arah selain ke depan. Adriano tidak menoleh. Tidak memastikan ia ada di belakangnya. Tidak memperlambat langkah. Dan Elena menyadari—ia tidak sedang diajak. Ia hanya tidak dicegah. Ia menyesuaikan langkahnya tanpa sadar. Terlalu dekat terasa berbahaya. Terlalu jauh terasa lebih buruk. Ransel di pundaknya makin berat, seperti benda asing yang tidak seharusnya ikut masuk ke tempat ini. Mereka melewati beberapa pintu tertutup. Tidak satu pun terbuka. Tidak ada suara dari baliknya. Rumah itu terasa kosong, namun Elena tahu itu kebohongan yang disengaja—seperti ruang sidang sebelum hakim masuk. Sunyi yang dikurasi. Akhirnya Adriano berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna gelap. Ia membuka kuncinya. Masuk. Elena berhenti di ambang pintu, menunggu isyarat yang tidak pernah datang. Beberapa detik berlalu sebelum ia melangkah masuk sendiri. Kamar itu luas. Terlalu luas untuk disebut tempat beristirahat. Tidak ada barang pribadi yang mencolok. Tidak ada foto. Tidak ada kekacauan. Tempat tidur rapi sempurna, seperti tidak pernah disentuh. Jendela tinggi tertutup tirai berat berwarna gelap, menahan cahaya sore di luar. Udara di dalam dingin dan terkendali. Adriano meletakkan mantel dan pistolnya di atas meja tanpa suara, lalu berjalan ke arah jendela. Ia berdiri membelakangi Elena. Masih tanpa menoleh. Elena tetap di dekat pintu. Ia tidak tahu apakah boleh duduk. Tidak tahu apakah harus menutup pintu. Tidak tahu apakah keberadaannya sedang dihitung—atau diabaikan. Ketidakpastian itu lebih menakutkan daripada dimarahi. Beberapa detik berlalu. “Di rumah ini,” kata Adriano akhirnya, datar, “kau tidak bergerak tanpa tahu ke mana.” Ia menoleh sedikit. Cukup untuk memastikan Elena mendengarnya. “Dan kau tidak bertanya tanpa alasan.” Elena menelan ludah. “Lalu… apa yang harus kulakukan?” Adriano menatapnya sekarang. Tidak lama. Tidak lembut. “Kau akan bertemu ayahku lagi.” Kalimat itu tidak menjelaskan apa pun. Tidak memberi waktu. Tidak memberi syarat. Perut Elena mengencang. “Dan jika dia—” “Ia tidak perlu menyukaimu,” potong Adriano. “Ia hanya tidak boleh menyingkirkanmu.” Keheningan jatuh kembali, lebih rapat dari sebelumnya. “Bagaimana caranya?” tanya Elena pelan. Adriano mendekat. Tidak sampai menyentuh. Jaraknya terukur, dingin. “Itu urusanmu.” Napas Elena memendek. “Kalau aku gagal?” Adriano tidak langsung menjawab. Waktu berlalu cukup lama hingga Elena berharap ia tidak pernah bertanya. “Ulangi,” katanya akhirnya. “Berapa lama?” Tatapannya tidak berubah. “Sampai berhasil.” Tidak ada tenggat. Tidak ada batas. Tidak ada jalan keluar. Elena mengerti saat itu—ini bukan ujian. Ini kondisi hidup. Adriano berbalik menuju pintu. “Kau tinggal di sini,” katanya singkat. “Jangan ubah apa pun.” Pintu terbuka. Ia keluar. Pintu menutup kembali. Elena berdiri sendirian di kamar itu, mendengar bunyi kunci berputar pelan dari luar—atau mungkin hanya imajinasinya. Ia tidak tahu aturan rumah ini. Tidak tahu siapa yang mengawasi. Yang ia tahu hanya satu hal: Ia baru saja masuk ke permainan yang tidak menyediakan kegagalan sebagai kemungkinan. Pintu sudah tertutup. Elena tidak langsung bergerak. Kamar itu terlalu besar untuk seseorang yang baru saja ditinggal sendirian. Langkah Adriano masih terasa menggema, meski suaranya telah lenyap. Udara tetap dingin. Tidak berubah. Seolah kepergiannya tidak pernah mengganggu apa pun di ruangan ini. Ia berdiri beberapa detik lagi, menunggu—entah apa. Tidak ada yang datang. Elena akhirnya melepaskan ranselnya. Tas itu jatuh ke lantai dengan bunyi kecil yang terdengar terlalu keras di tengah kesunyian. Ia tersentak, menoleh refleks ke arah pintu, lalu membeku saat menyadari tidak ada siapa pun yang memperhatikannya. Atau mungkin ada. Ia menarik napas perlahan. Langkahnya ragu ketika bergerak lebih jauh ke dalam kamar. Lantai marmer terasa dingin menembus sol sepatunya. Setiap pijakan membuatnya sadar betapa asing keberadaannya di sini—seperti noda yang belum dibersihkan. Ia berhenti di tengah ruangan. Tempat tidur besar itu terlihat seperti benda pamer, bukan tempat tidur. Terlalu rapi. Terlalu sempurna. Tidak ada lipatan. Tidak ada tanda kehidupan. Elena tidak duduk. Ia tidak yakin itu diizinkan. Pandangan matanya menyapu sekeliling. Tidak ada jam. Tidak ada buku. Tidak ada apa pun yang bisa digunakan untuk menandai waktu. Jendela tertutup tirai berat. Dunia luar tidak diundang masuk. Ini bukan kamar. Ini ruang tunggu. Elena meremas ujung mantelnya, lalu menyadari gerakan itu dan segera melepaskannya. Ia berdiri lebih tegak, seolah sikap tubuhnya sedang dinilai oleh sesuatu yang tidak terlihat. “Tenang,” bisiknya pelan. Kata itu terdengar kosong di udara. Ia melangkah ke arah jendela, ragu, lalu berhenti sebelum menyentuh tirai. Ingatan akan suara Adriano kembali—dingin, datar, tanpa celah: jangan ubah apa pun. Tangannya turun. Ia mundur setengah langkah, lalu satu lagi, menjaga jarak dari benda-benda yang tidak ia pahami aturannya. Waktu berjalan tanpa penanda. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara pintu. Tidak ada tanda bahwa sesuatu benar-benar bergerak maju. Keheningan terasa panjang, seperti napas rumah itu sendiri—ditarik perlahan, ditahan, lalu tidak dilepas. Elena mulai menyadari hal yang lebih menakutkan dari ancaman. Tidak ada yang mengatakan kapan ia boleh keluar. Pikirannya kembali ke Stella Maris. Ke meja panjang. Ke mangkuk plastik. Ke tangan kecil yang mencengkeram bajunya sebelum ia pergi. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan cepat, seolah kenangan itu bisa terlihat jika ia membiarkannya terlalu lama. Ia tidak boleh rapuh di sini. Ia tidak tahu siapa yang mengawasi, tapi ia yakin—ada aturan tentang kelemahan. Elena berjalan ke kursi di dekat dinding dan duduk di ujungnya. Punggung lurus. Tangan di pangkuan. Sikap seseorang yang menunggu dipanggil, bukan diterima. Ia menatap pintu kamar itu lama. Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran muncul dengan jelas—tanpa bisa ia singkirkan. Ia mungkin bisa keluar dari ruangan ini. Tapi tidak dari rumah ini. Dan jika ia gagal… Stella Maris akan runtuh bersamanya. Elena menegakkan punggungnya sedikit lagi. Lalu ia menunggu.Jemari Elena telah mencapai puncak pagar. Satu telapak mencengkeram jeruji paling atas. Kaki kirinya terangkat, mencari batang besi untuk pijakan. Suara rantai bergeser dari balik semak. Elena menoleh. Tiga ekor anjing menerobos keluar dari kegelapan. "Guk!" "Guk!" "Guk!" Tubuh mereka merendah sebelum melesat. Elena menarik tubuhnya lebih tinggi. Kaki kirinya berhasil menginjak besi. Kaki kanan menyusul. Jarak ke sisi luar pagar tinggal satu gerakan. Anjing pertama melompat. Rahangnya mengatup pada betis Elena. Tubuhnya tersentak. Kaki yang tadi mencari pijakan terlepas. Anjing kedua menerkam ujung mantelnya. Kain tertarik ke belakang. Elena mencengkeram puncak pagar dengan kedua tangan. Gigitan di kakinya semakin kuat. Mantel tertarik sampai jahitannya menegang. Sreeet. Kain robek. Pegangannya terlepas. Tubuh Elena jatuh. Bruk! Punggungnya menghantam tanah. Udara keluar dari paru-parunya. Belum sempat bangkit, bayangan hitam sudah mengelilinginya. Elena m
Waktu terus berjalan di mansion. Lampu-lampu koridor padam satu per satu. Suara langkah staf semakin jarang terdengar dari balik pintu. Di kamar, hanya lampu tidur yang masih menyala. Elena duduk di lantai dengan punggung bersandar pada pintu. Tatapannya tertuju pada tirai jendela. Air mata di pipinya telah mengering. Telapak tangannya terbuka di atas lutut. Sobekan kertas itu masih berada di sana. Deretan angka yang tadi memenuhi permukaannya telah melebur menjadi garis-garis tinta. Salah satu bagian bahkan nyaris tidak berbentuk lagi. Ibu jarinya mengusap permukaan kertas. Berhenti. Stella Maris telah hilang. Anak-anak telah pergi. Dan Julian masih diburu. Pistol yang dibawa Adriano keluar dari mansion terlintas di kepalanya. Jemarinya menutup kertas itu.
Adriano menyusuri koridor dengan pistol masih berada di tangannya. Langkahnya tidak berubah. Marmer memantulkan bunyi sol sepatunya hingga ke foyer. Valerius masih berada di sana. Sendirian. Pria tua itu mengangkat wajah ketika Adriano mendekat. Tatapannya turun pada pistol yang menggantung di sisi tangan putranya. "Mau ke mana?" Adriano terus berjalan. Valerius mengikuti geraknya dengan mata. "Masalah sebenarnya masih di rumah ini, Adriano." Langkah Adriano tidak berhenti. Pintu utama terbuka. Udara malam menyentuh wajahnya. Ia turun melewati tangga. Pintu mansion menutup di belakang tubuhnya. Sedan hitam meninggalkan halaman. Gerbang besi terbuka sebelum mobil mendekat, kemudian menutup kembali ketika lampu belakangnya menghilang di jalan. Toko-toko di sepanjang jalan telah mematikan sebagian besar lampu. Papan nama masih menyala di beberapa tempat. Sisanya gelap. Adriano menginjak pedal gas lebih dalam. Laut terbentang di sisi kanan. Permuk
Gerbang mansion terbuka. Sedan hitam memasuki halaman dan berhenti di depan tangga utama. Adriano turun lebih dahulu. Pintu pengemudi menutup keras. Ia berjalan ke sisi penumpang, membuka pintu Elena, lalu menatapnya. "Turun." Elena melepas sabuk pengaman. Begitu kedua kakinya menyentuh marmer, tangan Adriano sudah mencengkeram lengannya. Tarikannya membuat langkah Elena goyah. Telapak tangannya sempat menyentuh sisi mobil. Adriano tidak menunggu. Mereka masuk ke mansion. Langkah Elena terdengar pendek di atas marmer. Cengkeraman Adriano tidak mengendur sampai mereka melewati foyer. Di ruang tamu utama, Valerius telah berada di kursi rodanya. Seorang pria paruh baya duduk di sofa panjang di hadapannya. Setelan gelap membungkus tubuhnya. Sebuah map tipis terletak di atas lutut. Elias berdiri tak jauh dari rak buku. Percakapan terhenti ketika mereka melewati ruangan. Tatapan Valerius terangkat. Pria di sofa ikut menoleh. "Signore—" Adriano tidak berhenti. Tangannya
Ponsel masih menempel di telinga Julian. Pria di ambang pintu tidak bergerak. Jas hitamnya jatuh rapi sampai ke pinggang. Topi gelap menutupi sebagian wajah, menyisakan garis rahang dan sepasang mata yang tak menunjukkan apa-apa. "Halo." Suara dari ponsel akhirnya terdengar. Julian menegang. "Julian. Ini aku, El—" Ponsel turun dari telinganya. Pria itu masuk. Pintu menutup di belakangnya. Klik. "Julian Vane." Julian menatapnya. "Kau yang akan menjelaskan kenapa pasporku bermasalah?" "Tidak." Pria itu berhenti di tengah ruangan. "Aku datang untuk membawamu." Tatapan Julian bergeser ke pintu. "Hidup atau mati." Tangannya masuk ke balik jas. Kilatan logam muncul. Julian bergerak lebih cepat. Telapak tangannya menghantam pergelangan pria itu. Dor! Peluru menembus dinding di belakangnya. Letusan memantul di ruangan sempit. Pria itu langsung maju. Pukulan pertama menghantam rusuk Julian. Udara terlepas dari paru-parunya. Pukulan berikutnya mengenai rahang. Tubu
Papan keberangkatan berganti angka di atas kepala Julian. Genoa. Satu tujuan yang sudah ia putuskan untuk ditinggalkan. Perban putih membungkus telapak tangannya dengan simpul seadanya. Ujung kain telah berubah merah kecokelatan. Kemeja yang dipakainya sejak meninggalkan apartemen masih melekat di tubuh. Debu menempel di bahu. Garis tipis bekas pecahan kaca terlihat dekat kerah. Ia menyusuri antrean pemeriksaan dengan tas selempang melintang di dada. Pengumuman keberangkatan dan percakapan para penumpang bercampur menjadi dengung panjang di dalam terminal. Setidaknya satu hal berjalan seperti seharusnya. Penerbangannya masih tertera di papan. Julian mengeluarkan paspor. Tiket elektronik ditunjukkan. Petugas mengambil dokumen itu. Halaman identitas dibuka. Tatapannya berhenti. Jemari yang memegang paspor tetap diam beberapa saat. Julian memperhatikan wajahnya. "Ada masalah?" Petugas mengangkat mata. "Tunggu sebentar." Paspor dibalik. Satu halaman di
Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema
Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti
Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.
Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m







