Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Tanpa Jalan Keluar

Share

Tanpa Jalan Keluar

last update Last Updated: 2026-02-09 09:15:07

Adriano sudah berjalan di depan.

Ia tidak menunggu.

Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah.

Elena ragu sepersekian detik.

Lalu ia menyusul.

Koridor memanjang, dindingnya tinggi dan polos. Lampu-lampu dinding menyala redup, menciptakan bayangan yang tidak pernah benar-benar jatuh ke lantai. Tidak ada jendela. Tidak ada arah selain ke depan.

Adriano tidak menoleh.

Tidak memastikan ia ada di belakangnya.

Tidak memperlambat langkah.

Dan Elena menyadari—ia tidak sedang diajak. Ia hanya tidak dicegah.

Ia menyesuaikan langkahnya tanpa sadar. Terlalu dekat terasa berbahaya. Terlalu jauh terasa lebih buruk. Ransel di pundaknya makin berat, seperti benda asing yang tidak seharusnya ikut masuk ke tempat ini.

Mereka melewati beberapa pintu tertutup.

Tidak satu pun terbuka.

Tidak ada suara dari baliknya.

Rumah itu terasa kosong, namun Elena tahu itu kebohongan yang disengaja—seperti ruang sidang sebelum hakim masuk. Sunyi yang dikurasi.

Akhirnya Adriano berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna gelap.

Ia membuka kuncinya.

Masuk.

Elena berhenti di ambang pintu, menunggu isyarat yang tidak pernah datang.

Beberapa detik berlalu sebelum ia melangkah masuk sendiri.

***

Kamar itu luas. Terlalu luas untuk disebut tempat beristirahat.

Tidak ada barang pribadi yang mencolok. Tidak ada foto. Tidak ada kekacauan. Tempat tidur rapi sempurna, seperti tidak pernah disentuh. Jendela tinggi tertutup tirai berat berwarna gelap, menahan cahaya sore di luar.

Udara di dalam dingin dan terkendali.

Adriano meletakkan mantel dan pistolnya di atas meja tanpa suara, lalu berjalan ke arah jendela. Ia berdiri membelakangi Elena.

Masih tanpa menoleh.

Elena tetap di dekat pintu. Ia tidak tahu apakah boleh duduk. Tidak tahu apakah harus menutup pintu. Tidak tahu apakah keberadaannya sedang dihitung—atau diabaikan.

Ketidakpastian itu lebih menakutkan daripada dimarahi.

Beberapa detik berlalu.

“Di rumah ini,” kata Adriano akhirnya, datar, “kau tidak bergerak tanpa tahu ke mana.”

Ia menoleh sedikit. Cukup untuk memastikan Elena mendengarnya.

“Dan kau tidak bertanya tanpa alasan.”

Elena menelan ludah. “Lalu… apa yang harus kulakukan?”

Adriano menatapnya sekarang. Tidak lama. Tidak lembut.

“Kau akan bertemu ayahku lagi.”

Kalimat itu tidak menjelaskan apa pun.

Tidak memberi waktu.

Tidak memberi syarat.

Perut Elena mengencang. “Dan jika dia—”

“Ia tidak perlu menyukaimu,” potong Adriano. “Ia hanya tidak boleh menyingkirkanmu.”

Keheningan jatuh kembali, lebih rapat dari sebelumnya.

“Bagaimana caranya?” tanya Elena pelan.

Adriano mendekat. Tidak sampai menyentuh. Jaraknya terukur, dingin.

“Itu urusanmu.”

Napas Elena memendek. “Kalau aku gagal?”

Adriano tidak langsung menjawab.

Waktu berlalu cukup lama hingga Elena berharap ia tidak pernah bertanya.

“Ulangi,” katanya akhirnya.

“Berapa lama?”

Tatapannya tidak berubah.

“Sampai berhasil.”

Tidak ada tenggat.

Tidak ada batas.

Tidak ada jalan keluar.

Elena mengerti saat itu—ini bukan ujian. Ini kondisi hidup.

Adriano berbalik menuju pintu.

“Kau tinggal di sini,” katanya singkat. “Jangan ubah apa pun.”

Pintu terbuka.

Ia keluar.

Pintu menutup kembali.

Elena berdiri sendirian di kamar itu, mendengar bunyi kunci berputar pelan dari luar—atau mungkin hanya imajinasinya.

Ia tidak tahu aturan rumah ini.

Tidak tahu siapa yang mengawasi.

Yang ia tahu hanya satu hal:

Ia baru saja masuk ke permainan yang tidak menyediakan kegagalan sebagai kemungkinan.

***

Pintu sudah tertutup.

Elena tidak langsung bergerak.

Kamar itu terlalu besar untuk seseorang yang baru saja ditinggal sendirian. Langkah Adriano masih terasa menggema, meski suaranya telah lenyap. Udara tetap dingin. Tidak berubah. Seolah kepergiannya tidak pernah mengganggu apa pun di ruangan ini.

Ia berdiri beberapa detik lagi, menunggu—entah apa.

Tidak ada yang datang.

Elena akhirnya melepaskan ranselnya. Tas itu jatuh ke lantai dengan bunyi kecil yang terdengar terlalu keras di tengah kesunyian. Ia tersentak, menoleh refleks ke arah pintu, lalu membeku saat menyadari tidak ada siapa pun yang memperhatikannya.

Atau mungkin ada.

Ia menarik napas perlahan.

Langkahnya ragu ketika bergerak lebih jauh ke dalam kamar. Lantai marmer terasa dingin menembus sol sepatunya. Setiap pijakan membuatnya sadar betapa asing keberadaannya di sini—seperti noda yang belum dibersihkan.

Ia berhenti di tengah ruangan.

Tempat tidur besar itu terlihat seperti benda pamer, bukan tempat tidur. Terlalu rapi. Terlalu sempurna. Tidak ada lipatan. Tidak ada tanda kehidupan. Elena tidak duduk.

Ia tidak yakin itu diizinkan.

Pandangan matanya menyapu sekeliling. Tidak ada jam. Tidak ada buku. Tidak ada apa pun yang bisa digunakan untuk menandai waktu. Jendela tertutup tirai berat. Dunia luar tidak diundang masuk.

Ini bukan kamar.

Ini ruang tunggu.

Elena meremas ujung mantelnya, lalu menyadari gerakan itu dan segera melepaskannya. Ia berdiri lebih tegak, seolah sikap tubuhnya sedang dinilai oleh sesuatu yang tidak terlihat.

“Tenang,” bisiknya pelan.

Kata itu terdengar kosong di udara.

Ia melangkah ke arah jendela, ragu, lalu berhenti sebelum menyentuh tirai. Ingatan akan suara Adriano kembali—dingin, datar, tanpa celah: jangan ubah apa pun.

Tangannya turun.

Ia mundur setengah langkah, lalu satu lagi, menjaga jarak dari benda-benda yang tidak ia pahami aturannya.

Waktu berjalan tanpa penanda.

Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara pintu. Tidak ada tanda bahwa sesuatu benar-benar bergerak maju. Keheningan terasa panjang, seperti napas rumah itu sendiri—ditarik perlahan, ditahan, lalu tidak dilepas.

Elena mulai menyadari hal yang lebih menakutkan dari ancaman.

Tidak ada yang mengatakan kapan ia boleh keluar.

Pikirannya kembali ke Stella Maris. Ke meja panjang. Ke mangkuk plastik. Ke tangan kecil yang mencengkeram bajunya sebelum ia pergi. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan cepat, seolah kenangan itu bisa terlihat jika ia membiarkannya terlalu lama.

Ia tidak boleh rapuh di sini.

Ia tidak tahu siapa yang mengawasi, tapi ia yakin—ada aturan tentang kelemahan.

Elena berjalan ke kursi di dekat dinding dan duduk di ujungnya. Punggung lurus. Tangan di pangkuan. Sikap seseorang yang menunggu dipanggil, bukan diterima.

Ia menatap pintu kamar itu lama.

Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran muncul dengan jelas—tanpa bisa ia singkirkan.

Ia mungkin bisa keluar dari ruangan ini.

Tapi tidak dari rumah ini.

Dan jika ia gagal…

Stella Maris akan runtuh bersamanya.

Elena menegakkan punggungnya sedikit lagi.

Lalu ia menunggu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Dia Titik Lemahmu

    Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada di tengah ruangan seperti pusat gravitasi yang tidak boleh diganggu. Tirai tebal menutup sebagian cahaya sore yang mencoba masuk dari jendela tinggi. Di balik meja itu, Valerius duduk tanpa ekspresi. Ketika Adriano masuk, pria tua itu bahkan tidak langsung menatapnya. Ia sedang membaca sesuatu. Sebuah laporan. Kertas itu dilipat rapi di tangannya. Adriano menutup pintu di belakangnya. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik. Hanya suara kertas yang dibalik. Akhirnya Valerius meletakkan laporan itu di meja. Baru kemudian ia menatap anaknya. Tatapan itu tenang. Terlalu tenang. “Kau membawa seorang perempuan ke rumah ini.” Bukan pertanyaan. Per

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tanpa Jalan Keluar

    Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul. Koridor memanjang, dindingnya tinggi dan polos. Lampu-lampu dinding menyala redup, menciptakan bayangan yang tidak pernah benar-benar jatuh ke lantai. Tidak ada jendela. Tidak ada arah selain ke depan. Adriano tidak menoleh. Tidak memastikan ia ada di belakangnya. Tidak memperlambat langkah. Dan Elena menyadari—ia tidak sedang diajak. Ia hanya tidak dicegah. Ia menyesuaikan langkahnya tanpa sadar. Terlalu dekat terasa berbahaya. Terlalu jauh terasa lebih buruk. Ransel di pundaknya makin berat, seperti benda asing yang tidak seharusnya ikut masuk ke tempat ini. Mereka melewati beberapa pintu tertutup. Tidak satu pun terbuka. Tidak ada suara dari baliknya. Rumah itu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Kalimat yang Mengikat Nyawa

    Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, sunyi, dan terlalu terawat—seperti tempat yang tidak memberi ruang untuk kesalahan. Udara di dalam berbeda. Bersih. Tajam. Seolah setiap tarikan napas diawasi. Elena menyadari tatapan itu sebelum melihat sumbernya. Di ujung ruangan, Valerius Moretti duduk di kursi roda berlapis kulit gelap. Tubuhnya tampak rapuh—tulang bahu menonjol di balik setelan rapi—namun kepala itu terangkat dengan sudut yang tidak meminta apa pun dari siapa pun. Matanya abu-abu, jernih, dan dingin. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Di belakangnya berdiri seorang pria lain.Rambutnya mulai memutih, tapi posturnya tetap tegak—terlalu siap untuk sekadar pendamping. Tangan kanannya bertumpu ringan di sandaran k

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Pengorbanan Berubah Menjadi Milik

    Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia tinggalkan. Aroma kulit dan logam bersih menggantikan bau sabun murah dan kayu tua. Mobil bergerak. Elena baru menyadari tangannya mencengkeram tali ransel di pangkuannya terlalu erat. Ia memaksa jarinya mengendur. Menarik napas. Menghembuskannya perlahan. Tidak menangis. Tidak sekarang. Di kursi depan, Adriano Moretti duduk dengan sikap yang terlalu presisi untuk disebut santai. Mantelnya rapi. Jam di pergelangan tangannya menangkap cahaya sesaat, lalu lenyap lagi. Ia tidak menoleh. Tidak berbicara. Seolah keputusan barusan hanyalah satu catatan kecil dalam daftar panjang urusan yang harus ia selesaikan hari ini. Mobil melewati gerbang Stella Maris yang runtuh. Elena m

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Perempuan Itu Menyerahkan Dirinya

    Pagi di Stella Maris tidak sempat menjadi pagi. Suara mesin datang lebih dulu, memotong udara sebelum matahari sepenuhnya naik. Getarannya merambat dari tanah, masuk ke dinding panti, mengguncang gelas-gelas plastik di rak dapur hingga beradu pelan. Elena terbangun sebelum anak-anak menangis. Ia berdiri di tengah lorong, masih dengan sweater tipis yang dipakainya semalam, rambut terikat seadanya. Lantai dingin menggigit telapak kakinya. Getaran itu bukan suara truk pengantar. Bukan pula kendaraan biasa. Ini lebih berat. Lebih lambat. Seperti sesuatu yang datang bukan untuk lewat—melainkan untuk menetap sebentar, lalu meratakan. Pintu kamar terbuka satu per satu. Anak-anak keluar dengan wajah pucat, mata mereka membulat, tubuh-tubuh kecil itu mencari satu hal yang sama. Elena. “Masuk,” katanya cepat. “Tetap di dalam. Jangan ke jendela.” Ia tidak menunggu mereka bertanya. Ia berjalan lurus ke pintu depan dan membukanya. Halaman panti sudah tidak sama. Du

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Nama Itu Mulai Mendekat

    Mansion Moretti berdiri jauh dari kebisingan pelabuhan, seolah dunia luar tak pernah menyentuhnya. Sinar matahari sore menembus jendela tinggi, menyorot debu yang menari di udara. Lantai marmer hitam mengilap, refleksi kaki menekankan kesunyian yang hampir mematikan. Langit-langit tinggi dan dinding tebal menyerap suara—langkah kaki terdengar seperti gema yang teredam, sementara bayangan patung di taman bergeser pelan di bawah cahaya yang redup. Adriano Moretti berdiri di dekat jendela besar, punggung tegak, satu tangan diselipkan di saku celana. Ia menatap taman yang sempurna, semak dipangkas rapi, jalur batu bersih dari daun. Semua tersusun dengan presisi… terlalu rapi, terlalu tenang, seperti mansion itu sendiri mengawasinya. Ia tidak duduk. Tidak pernah, selama ayahnya masih terjaga. “Gagal?” Suara Valerius Moretti datang dari kursi roda di sudut ruangan. Dingin, tanpa perlu menekan kata. Kaki tangan yang dikirim ke panti menunduk. “Ada perlawanan, Tuan.” “Perlawana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status