MasukBaru beberapa langkah Adriano melewati ambang pintu, suara Valerius terdengar dari belakang. “Dia tidak pernah mencintaimu, Adriano.” Langkah Adriano berhenti. Elena ikut terhenti di sampingnya. Berat tubuhnya hampir seluruhnya bertumpu pada lengan pria itu. Valerius masih berada di kursi rodanya. “Berapa lama lagi kau akan sadar?” Adriano menatap lurus ke depan. “Aku tidak sedang mencari hal seperti itu.” “Kalau bukan itu yang kau cari, apa?” Tidak ada jawaban. Tatapan Valerius turun pada darah yang menetes dari kaki Elena. “Dia hanya memanfaatkan kebaikanmu.” Jemari Adriano mengencang di lengan Elena. “Dan kau masih membawanya masuk ke rumah ini.” Adriano menoleh. “Bukan urusanmu.” Valerius mengangkat dagu sedikit. “Semua yang masuk ke rumah ini adalah urusanku.” Rahang Adriano mengeras. Ia tidak menjawab. Tangannya menarik Elena kembali berjalan. Jejak merah tertinggal di atas marmer. Elias masih berdiri di dekat rak buku. Tatapannya turun pada noda pertama.
Kaki Adriano turun ke marmer halaman. Pintu sedan tertutup di belakangnya. Gonggongan terdengar dari arah pagar. Adriano menoleh. Suara itu datang lagi. Tiga ekor anjing bergerak di antara semak dan pagar. Salah satunya menarik sesuatu di tanah. Adriano berjalan mendekat. Cahaya lampu sedan menyapu rerumputan. Tubuh Elena terlihat di bawah mereka. Mantelnya koyak. Blusnya robek pada bahu dan lengan. Darah merembes dari kulit yang penuh bekas gigitan. Satu tangannya melindungi kepala, sementara tangan lainnya mencengkeram rumput. "Berhenti." Gonggongan terputus. Dua anjing mengangkat kepala. Satu mundur. Yang paling dekat dengan Elena masih menggigit lengannya. Adriano maju. Tinju kanannya menghantam sisi kepala anjing itu. Buk. Hewan tersebut mengerang dan melepaskan gigitan sesaat. Rahangnya kembali mengatup. Adriano mencengkeram moncongnya. "Lepaskan." Jemarinya menekan kedua sisi rahang. Anjing itu meronta. Adriano membuka mulutnya dengan paksa. Gigitan akh
Jemari Elena telah mencapai puncak pagar. Satu telapak mencengkeram jeruji paling atas. Kaki kirinya terangkat, mencari batang besi untuk pijakan. Suara rantai bergeser dari balik semak. Elena menoleh. Tiga ekor anjing menerobos keluar dari kegelapan. "Guk!" "Guk!" "Guk!" Tubuh mereka merendah sebelum melesat. Elena menarik tubuhnya lebih tinggi. Kaki kirinya berhasil menginjak besi. Kaki kanan menyusul. Jarak ke sisi luar pagar tinggal satu gerakan. Anjing pertama melompat. Rahangnya mengatup pada betis Elena. Tubuhnya tersentak. Kaki yang tadi mencari pijakan terlepas. Anjing kedua menerkam ujung mantelnya. Kain tertarik ke belakang. Elena mencengkeram puncak pagar dengan kedua tangan. Gigitan di kakinya semakin kuat. Mantel tertarik sampai jahitannya menegang. Sreeet. Kain robek. Pegangannya terlepas. Tubuh Elena jatuh. Bruk! Punggungnya menghantam tanah. Udara keluar dari paru-parunya. Belum sempat bangkit, bayangan hitam sudah mengelilinginya. Elena m
Waktu terus berjalan di mansion. Lampu-lampu koridor padam satu per satu. Suara langkah staf semakin jarang terdengar dari balik pintu. Di kamar, hanya lampu tidur yang masih menyala. Elena duduk di lantai dengan punggung bersandar pada pintu. Tatapannya tertuju pada tirai jendela. Air mata di pipinya telah mengering. Telapak tangannya terbuka di atas lutut. Sobekan kertas itu masih berada di sana. Deretan angka yang tadi memenuhi permukaannya telah melebur menjadi garis-garis tinta. Salah satu bagian bahkan nyaris tidak berbentuk lagi. Ibu jarinya mengusap permukaan kertas. Berhenti. Stella Maris telah hilang. Anak-anak telah pergi. Dan Julian masih diburu. Pistol yang dibawa Adriano keluar dari mansion terlintas di kepalanya. Jemarinya menutup kertas itu.
Adriano menyusuri koridor dengan pistol masih berada di tangannya. Langkahnya tidak berubah. Marmer memantulkan bunyi sol sepatunya hingga ke foyer. Valerius masih berada di sana. Sendirian. Pria tua itu mengangkat wajah ketika Adriano mendekat. Tatapannya turun pada pistol yang menggantung di sisi tangan putranya. "Mau ke mana?" Adriano terus berjalan. Valerius mengikuti geraknya dengan mata. "Masalah sebenarnya masih di rumah ini, Adriano." Langkah Adriano tidak berhenti. Pintu utama terbuka. Udara malam menyentuh wajahnya. Ia turun melewati tangga. Pintu mansion menutup di belakang tubuhnya. Sedan hitam meninggalkan halaman. Gerbang besi terbuka sebelum mobil mendekat, kemudian menutup kembali ketika lampu belakangnya menghilang di jalan. Toko-toko di sepanjang jalan telah mematikan sebagian besar lampu. Papan nama masih menyala di beberapa tempat. Sisanya gelap. Adriano menginjak pedal gas lebih dalam. Laut terbentang di sisi kanan. Permuk
Gerbang mansion terbuka. Sedan hitam memasuki halaman dan berhenti di depan tangga utama. Adriano turun lebih dahulu. Pintu pengemudi menutup keras. Ia berjalan ke sisi penumpang, membuka pintu Elena, lalu menatapnya. "Turun." Elena melepas sabuk pengaman. Begitu kedua kakinya menyentuh marmer, tangan Adriano sudah mencengkeram lengannya. Tarikannya membuat langkah Elena goyah. Telapak tangannya sempat menyentuh sisi mobil. Adriano tidak menunggu. Mereka masuk ke mansion. Langkah Elena terdengar pendek di atas marmer. Cengkeraman Adriano tidak mengendur sampai mereka melewati foyer. Di ruang tamu utama, Valerius telah berada di kursi rodanya. Seorang pria paruh baya duduk di sofa panjang di hadapannya. Setelan gelap membungkus tubuhnya. Sebuah map tipis terletak di atas lutut. Elias berdiri tak jauh dari rak buku. Percakapan terhenti ketika mereka melewati ruangan. Tatapan Valerius terangkat. Pria di sofa ikut menoleh. "Signore—" Adriano tidak berhenti. Tangannya
Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny
Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m
Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d
Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.







