Beranda / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Perempuan Itu Menyerahkan Dirinya

Share

Perempuan Itu Menyerahkan Dirinya

Penulis: Pilar Waisakha
last update Tanggal publikasi: 2026-02-09 09:11:03

Pagi di Stella Maris tidak sempat menjadi pagi.

Suara mesin datang lebih dulu, memotong udara sebelum matahari sepenuhnya naik. Getarannya merambat dari tanah, masuk ke dinding panti, mengguncang gelas-gelas plastik di rak dapur hingga beradu pelan.

Elena terbangun sebelum anak-anak menangis.

Ia berdiri di tengah lorong, masih dengan sweater tipis yang dipakainya semalam, rambut terikat seadanya. Lantai dingin menggigit telapak kakinya. Getaran itu bukan suara truk pengantar. Bukan pula kendaraan biasa.

Ini lebih berat. Lebih lambat.

Seperti sesuatu yang datang bukan untuk lewat—melainkan untuk menetap sebentar, lalu meratakan.

Pintu kamar terbuka satu per satu. Anak-anak keluar dengan wajah pucat, mata mereka membulat, tubuh-tubuh kecil itu mencari satu hal yang sama.

Elena.

“Masuk,” katanya cepat. “Tetap di dalam. Jangan ke jendela.”

Ia tidak menunggu mereka bertanya. Ia berjalan lurus ke pintu depan dan membukanya.

Halaman panti sudah tidak sama.

Dua alat berat berdiri di sana, diam seperti binatang baja yang sedang menunggu perintah. Cat kuningnya kusam, tapi lengannya bersih—belum bekerja. Beberapa mobil hitam terparkir rapi di pinggir jalan. Terlalu rapi. Terlalu tenang.

Dan di antara semuanya, seorang pria berdiri dengan mantel hitam panjang.

Adriano Moretti tidak membawa senjata.

Ia tidak perlu.

Tatapannya menyapu bangunan panti dari atap hingga pondasi, seperti seseorang yang menilai sesuatu yang sudah diputuskan nasibnya. Tidak ada ekspresi. Tidak ada ragu.

Elena melangkah maju sebelum siapa pun sempat menariknya.

“Ini panti,” katanya keras, memaksa suaranya menembus deru mesin. “Di dalam ada anak-anak.”

Adriano akhirnya menoleh.

Matanya gelap. Tidak marah. Tidak tertarik.

Seperti laut sebelum badai—tenang karena tahu ia akan menang.

“Waktu kalian habis,” katanya.

Hanya itu.

Elena mengepalkan tangan. “Aku tidak pernah menerima peringatan.”

Tatapan Adriano tertahan padanya beberapa detik. Seolah menimbang apakah kalimat itu layak dijawab.

“Pemilik sebelumnya sudah menerima,” katanya akhirnya. “Dan gagal.”

Ia mengangkat satu jari. Gerakannya kecil, nyaris malas.

Mesin alat berat menyala penuh.

Suara itu memecah udara. Tangisan anak-anak pecah dari dalam bangunan.

Elena berbalik setengah, lalu kembali menghadap Adriano.

“Kalau kau punya sedikit saja—” suaranya retak, tapi ia menegakkan bahunya “—sedikit saja nurani—”

Adriano melangkah satu langkah mendekat.

Jarak mereka kini hanya beberapa meter.

“Nuraniku tidak membangun kerajaan,” katanya pelan. “Kepatuhan yang melakukannya.”

Lengan besi alat berat bergerak.

Bukan ke bangunan utama.

Ke pagar.

Logam tua itu hancur dengan jeritan panjang. Besi terpelintir. Cat mengelupas. Batas yang selama puluhan tahun berdiri, runtuh dalam hitungan detik.

Elena tersentak mundur—lalu maju lagi.

Ia berdiri tepat di depan alat berat itu.

“Minggir!” teriak operator dari dalam kabin. “Atau kau yang akan mati!”

Elena tidak bergerak.

Debu beterbangan di sekelilingnya. Ia melirik ke arah Adriano, lalu menatap kembali ujung lengan besi itu.

“Kalau kalian ingin menghancurkan tempat ini,” katanya, suaranya bergetar tapi tidak surut, “langkahi dulu mayatku.”

Operator menoleh gelisah ke arah Adriano. Mesin masih berdengung, ragu.

Tangisan anak-anak semakin keras.

Untuk sesaat—hanya sesaat—sesuatu melintas di mata Adriano.

Bukan simpati.

Bukan amarah.

Penilaian.

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya akhirnya.

Elena menelan ludah. Kata-kata itu keluar sebelum sempat dipikirkan, sebelum rasa takut sempat menahannya.

“Beri aku waktu,” katanya. “Aku akan melunasi semuanya.”

Adriano menatapnya dingin. “Mereka semua berkata begitu.”

Elena meremas mantel di dadanya. Ia tahu itu bohong. Ia tahu ia tidak punya apa pun.

Ia mengangkat wajahnya lagi.

“Kalau begitu,” katanya pelan, hampir runtuh, “bawa aku sebagai jaminannya.”

Udara seakan berhenti.

“Aku akan lakukan apa pun yang kau perintahkan.”

Adriano menatapnya—benar-benar menatap. Dari rambutnya yang diikat seadanya, wajahnya yang pucat, hingga sepatu kerjanya yang penuh noda.

Bukan tatapan pria yang tertarik.

Bukan pula tatapan pria yang marah.

Itu tatapan seseorang yang sedang menghitung kerugian.

Operator menunggu, tangannya gemetar di tuas.

Adriano mengalihkan pandangannya ke bangunan panti. Ke bayangan-bayangan kecil di balik jendela kusam.

Ia tahu ayahnya tidak akan menyukai ini.

Ia juga tahu, jika ia memaksa hari ini, perempuan itu tidak akan mundur.

“Lima menit,” katanya akhirnya. “Bereskan yang perlu.”

Ia berbalik. “Aku tunggu di mobil.”

Elena terpaku.

“Jadi… batal, Tuan?” operator bertanya ragu.

Adriano tidak menjawab. Ia sudah berjalan pergi.

Elena tersadar. Ia berbalik dan berlari masuk ke dalam panti.

Waktu yang ia dapatkan bukanlah keringanan.

Itu hitungan mundur.

***

Elena menutup pintu kamar kecil yang selama ini ia pakai.

Ruangan itu nyaris kosong. Tidak ada lemari. Tidak ada barang pribadi yang benar-benar pantas disebut milik. Ia meraih ransel lusuh dari bawah ranjang, memasukkan dua kaus, satu celana, dan sweater tipis yang tadi ia pakai. Tangannya bergerak cepat, tapi tidak rapi. Beberapa kali ia berhenti, menarik napas, lalu melanjutkan lagi.

Tangannya gemetar.

Ia menekan ritsleting lebih keras dari yang perlu, seolah suara itu bisa menahan sesuatu di dadanya agar tidak runtuh. Setelahnya, ia menarik tali ransel, menyadari salah satunya sudah terlalu longgar. Elena mengencangkannya, sekali. Lalu sekali lagi, meski tidak perlu.

Di luar, anak-anak berkumpul di lorong. Tidak ada yang berisik. Mereka mengawasinya dengan mata besar yang terlalu dewasa untuk usia mereka.

“Bibi Elena,” suara kecil memanggil.

Elena berbalik. Ia berlutut agar sejajar dengan mereka. Senyumnya muncul—senyum yang sama seperti pagi tadi. Senyum pinjaman.

“Aku pergi sebentar,” katanya. “Kalian dengar ya. Tetap di dalam. Jangan keluar halaman.”

Tidak ada yang bertanya ke mana. Tidak ada yang bertanya kapan.

Mereka sudah tahu jawaban itu sering tidak ada.

Elena memanggil satu anak lelaki ke samping. Anak tertua di panti. Bahunya mulai melebar meski usianya belum cukup untuk disebut remaja. Ia selalu yang terakhir tidur, yang pertama bangun. Yang memastikan pintu terkunci kalau Elena pulang larut.

Elena membuka ranselnya lagi. Dari saku terdalam, ia mengeluarkan dua lembar uang lusuh. Terlipat berkali-kali, tepinya hampir sobek.

Ia menyerahkannya.

“Pegang ini,” katanya pelan. “Untuk beli roti. Susu. Jangan habiskan sekaligus.”

Anak itu menatap uang di tangannya. Jemarinya menutup lebih cepat dari yang perlu, menggenggamnya erat—terlalu erat—seolah takut uang itu bisa hilang jika dilepas sesaat. Lalu ia mengangkat wajah. Matanya merah, tapi ia tidak menangis.

“Kau mau pergi lama?” tanyanya.

Elena menelan ludah.

“Tidak,” jawabnya cepat. Terlalu cepat. “Aku akan kembali.”

Ia memegang bahu anak itu, sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

“Kau jaga mereka,” katanya. “Seperti biasa.”

Anak itu mengangguk. Gerakannya kecil, tapi tegas.

Elena berdiri. Ia menatap wajah-wajah kecil itu satu per satu, seolah mencetaknya dalam ingatan—tanpa berani terlalu lama.

Lalu ia berjalan keluar.

Dari dalam, anak-anak berdiri di balik jendela kusam. Tangan-tangan kecil menempel di kaca. Tidak ada yang melambaikan tangan. Seolah gerakan itu bisa membuatnya tidak kembali.

Elena tidak menoleh.

Ia melewati halaman yang kini terasa asing. Pagar yang runtuh. Tanah yang tergores roda besi. Udara masih berbau debu dan oli.

Mobil hitam itu menunggu di tepi jalan.

Pintunya terbuka.

Elena berhenti sejenak. Menarik napas. Menghembuskannya perlahan.

Lalu ia masuk.

Pintu tertutup dengan suara berat—suara yang memutus segalanya.

Di luar, Stella Maris berdiri diam.

Entah menunggu kepulangannya,

Atau menunggu giliran runtuh berikutnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Untuk Kedua Kalinya

    "Tidak." Satu kata itu berdiri di antara mereka. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Valerius menggerakkan kursi rodanya sedikit maju. "Lepaskan dia." Adriano tidak bergeser. "Aku sudah kehilangan dia sekali." Mata Valerius turun pada jemari yang saling menggenggam. "Elena…" Perempuan itu menatapnya. Adriano tidak menoleh. "Tetap di sini." Jemari Elena bergerak kecil di dalam genggamannya. Valerius mengangkat wajah. Tatapannya melewati Adriano dan berhenti pada Elias yang masih terbaring di halaman. Darah membasahi sisi jas pria itu. Elias mengangkat mata. Mereka bertemu pandang. "Terkadang pengkhianat tidak datang dari luar," kata Valerius. Elias diam. "Mereka tumbuh di dalam rumah sendiri." Angin menyentuh ujung tirai pintu. Valerius menatapnya. "Jika malam itu kau menjalankan perintahku…" Pandangan lelaki tua itu bergeser kepada Elena. "…semua ini tidak akan terjadi." Elias menutup mata sesaat. "Saya tahu." Valerius merogo

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Pilihan Menjadi Perlawanan

    “Aku tetap tidak akan membiarkannya menginjakkan kaki di rumah ini lagi.” Suara Valerius jatuh di ambang pintu. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Jemari mereka belum terlepas sejak keluar dari halaman belakang. “Kenapa?” Valerius mengangkat dagu sedikit. “Karena dia adikmu.” Tatapan Adriano mengeras. “Dia?” “Silvia sudah meracuni pikiranmu, Adriano.” “Apa yang dia racuni?” Valerius diam. Adriano maju satu langkah. “Dia tidak pernah mengajariku untuk melawanmu.” “Karena kau masih terlalu muda untuk melihatnya.” “Dia yang membesarkanku.” “Dan itulah yang selama ini kutakutkan.” Adriano menatap lelaki tua di kursi roda itu.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Rumah yang Tidak Menerimanya Kembali

    “Kenapa kau meninggalkanku di panti asuhan?” Jemari Elena masih mencengkeram lengan Julian. Elias terbaring di tanah. Satu tangannya menekan luka di sisi tubuh. Darah merembes di sela jemarinya dan jatuh ke batu yang basah. Tatapannya berhenti pada wajah Elena. Ia tidak segera menjawab. Adriano menurunkan pistol beberapa senti. “Jawab.” Elias menarik napas pendek. “Karena aku punya seorang anak perempuan.” Tatapan Adriano berubah. “Anak?” Elias mengangguk. “Usianya tidak jauh darimu malam itu.” Elena mengerutkan kening. “Kau tidak pernah menceritakannya.” “Aku memang tidak pernah.” Elias menatap tangannya sendiri yang mulai berlumur darah. “Aku menyembunyikannya dari semua orang.” “Kenapa?” “Pekerjaanku.” Hanya itu. Elena menunggu. Elias mengangkat wajah. “Dunia tempatku bekerja selalu mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menjatuhkan seseorang.” Tatapannya kembali kepada Elena. “Aku tidak akan memberikan mereka anakku.” Angin malam

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Anak yang Tidak Pernah Mati

    “Sekarang katakan padaku siapa sebenarnya Elena.” Pistol Adriano tetap terangkat. Elias duduk di tanah, satu tangan menekan sisi tubuhnya. Darah merembes di sela jarinya. Tidak ada penjaga yang bergerak. Julian masih memeluk Elena dari samping. Jemari perempuan itu mencengkeram kain kemejanya. Elias menatap Adriano. Tidak menjawab. “Jawab.” Suara Adriano tidak keras. Itu membuat laras pistol di tangannya terasa lebih berat. Elias menarik napas. “Perempuan itu…” Ia berhenti. “Adalah anak yang kau temukan di tempat asalnya.” Adriano menyipitkan mata. “Tempat asalnya.” Elias diam. “Jawabanmu selalu berlandaskan perintah.” Adriano melangkah turun dari anak tangga. “Dua puluh delapan tahun lalu kau bilang sudah membereskan Alessandra.” Tatapan Elias turun. “Kau bilang mayat Silvia dibuang ke laut.” Satu langkah lagi. “Kau juga bilang anak itu sudah dibereskan.” Adriano mengangkat pistol sedikit. “Bagaimana?” Elias tidak menjawab. “Menembaknya?” Hanya suara angin

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Laras Itu Berubah Arah

    Halaman belakang mansion membentang jauh di bawah cahaya lampu taman. Julian berjalan di depan. Tangannya tidak lepas dari tangan Elena. Mereka menerobos semak yang tumbuh di sepanjang dinding belakang. Ujung mantel Elena tersangkut ranting. Julian menariknya bebas tanpa berhenti. Kaki Elena menyentuh tanah tanpa sepatu. Setiap pijakan membuat luka di betisnya berdenyut. Ia menoleh. Dari arah mansion, gonggongan anjing masih terdengar dari balik kandang. Keras. Tidak putus. Julian mempererat genggamannya. “Jangan menoleh ke belakang.” Elena memandang punggungnya. “Kau yakin kita bisa keluar dari sini?” “Mobilku tidak jauh.” Ia menunjuk ke arah pepohonan di depan. “Sedikit lagi.” Elena memaksakan langkah. Tanah basah bergeser di bawah telapak kakinya. Sebuah akar mencuat dari permukaan. Ujung kakinya mengenainya. Bruk. Tubuh Elena jatuh ke samping. Julian langsung berbalik. “Elena.” Ia berjongkok. “Kau tidak

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jalan Keluar yang Tidak Seharusnya Ada

    “Siapa di luar?” Jemari pria itu meninggalkan gagang pintu. Satu langkah mundur. Pintu di sebelahnya tidak terkunci. Ia menyelinap masuk. Gelap. Daun pintu ditarik kembali hingga menyisakan celah tipis. Ia bergerak ke sisi lemari, merapatkan tubuh ke dinding yang berdekatan dengan jendela. Gagang pintu kamar Elena berputar. Klik. Pintu terbuka. Cahaya dari kamar tumpah ke koridor. Adriano keluar. Tatapannya langsung menyapu sepanjang lorong. Kosong. Matanya turun ke lantai. Naik lagi. Di ujung koridor, sebuah sosok melintas. Jas hitam. Sisi rambut yang memutih. Elias. Adriano menyipitkan mata. Sosok itu sudah menghilang di balik tikungan. Tatapannya masih tertahan di sana. Beberapa hari terakhir, terlalu banyak hal yang tidak dikatakan Elias. Dari dalam kamar terdengar suara Elena. “Ada apa?” Adriano menoleh. Ia masuk kembali. “Tidak ada.” Elena sudah mengangkat tubuh sedikit dari bantal. Tatapannya berpindah ke pintu. “Kau

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada Tempat Aman di Meja Moretti

    Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Seharusnya Ada

    Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Dia Titik Lemahmu

    Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tanpa Jalan Keluar

    Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status