หน้าหลัก / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Ketika Nama Itu Mulai Mendekat

แชร์

Ketika Nama Itu Mulai Mendekat

ผู้เขียน: Pilar Waisakha
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-09 09:08:47

Mansion Moretti berdiri jauh dari kebisingan pelabuhan, seolah dunia luar tak pernah menyentuhnya. Sinar matahari sore menembus jendela tinggi, menyorot debu yang menari di udara. Lantai marmer hitam mengilap, refleksi kaki menekankan kesunyian yang hampir mematikan. Langit-langit tinggi dan dinding tebal menyerap suara—langkah kaki terdengar seperti gema yang teredam, sementara bayangan patung di taman bergeser pelan di bawah cahaya yang redup.

Adriano Moretti berdiri di dekat jendela besar, punggung tegak, satu tangan diselipkan di saku celana. Ia menatap taman yang sempurna, semak dipangkas rapi, jalur batu bersih dari daun. Semua tersusun dengan presisi… terlalu rapi, terlalu tenang, seperti mansion itu sendiri mengawasinya. Ia tidak duduk. Tidak pernah, selama ayahnya masih terjaga.

“Gagal?”

Suara Valerius Moretti datang dari kursi roda di sudut ruangan. Dingin, tanpa perlu menekan kata.

Kaki tangan yang dikirim ke panti menunduk. “Ada perlawanan, Tuan.”

“Perlawanan,” Valerius mengulang, seperti mencoba meraba arti kata itu. “Dari siapa?”

“Seorang wanita.”

Adriano tetap menatap luar jendela, ke arah patung batu yang kehilangan satu tangan tapi tak pernah diperbaiki. Kerusakan itu seperti mansion ini—mengajarkan pelajaran dengan cara sendiri, diam tapi keras.

“Dia keras kepala,” lanjut kaki tangan, cepat, mengisi keheningan. “Menghalangi proses. Membawa anak-anak—”

“Cukup.”

Valerius mengangkat satu jari. Tangannya gemetar halus, tapi cukup untuk menenangkan semua suara di ruangan. “Jika satu perempuan bisa menghentikanmu, masalahnya bukan perempuan itu.”

Tatapan Valerius menancap ke Adriano. Mata tua itu tajam, penuh kecurigaan yang tak pernah benar-benar pudar.

“Apa kau yang mengatur ini?” tanyanya.

Adriano menoleh, wajah tenang, rahangnya mengeras. “Aku memberi perintah jelas.”

“Dan itu tidak dijalankan.”

“Sudah dijalankan,” jawab Adriano. “Hanya saja—”

“Hanya saja kau memberi ruang untuk negosiasi.” Valerius tersenyum tipis dan dingin. “Itu kelemahan.”

Adriano menatap kaki tangan itu sekali, tanpa berkata apa pun. “Keluar.”

Pintu tertutup pelan. Ruangan itu terasa hidup sendiri—terlalu besar untuk dua orang, terlalu sunyi untuk sebuah mansion. Dua generasi Moretti duduk dalam diam—ketenangan yang sama mematikannya dengan kemarahan terbuka.

Valerius memutar kursi rodanya sedikit, menatap ke taman. “Tanah itu bukan soal uang.”

“Aku tahu.”

“Itu soal kepatuhan,” Valerius menghela napas pendek. “Orang-orang lupa siapa yang memberi mereka ruang untuk berdiri.”

Adriano melangkah maju. “Aku akan menanganinya.”

Valerius menoleh. “Kau sendiri?”

“Ya.”

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Valerius tertawa pendek. “Baik. Tunjukkan padaku bagaimana caramu memimpin.”

Adriano menunduk sebentar. Cahaya sore memantul di marmer, bayangan patung bergerak seiring angin yang menembus jendela terbuka. Udara terasa tebal, penuh ancaman yang belum berbentuk. Mansion ini hidup, menunggu. Setiap sudut, setiap bayangan, seolah siap menelan siapa pun yang salah langkah. Kekuasaan dan kekejaman berbaur menjadi satu, diam tapi tak terelakkan.

***

Malam turun tanpa suara.

Lampu pelabuhan menyala di kejauhan, cahayanya menembus kisi jendela Stella Maris seperti garis tipis yang jatuh di lantai kayu. Bangunan tua itu bernapas pelan—kayu berderak sesekali, pipa air mengeluh singkat, lalu sunyi kembali. Sunyi yang terlalu dalam untuk disebut damai.

Anak-anak sudah tertidur.

Wajah-wajah kecil itu tenang, polos, tidak tahu apa yang siang tadi hampir merenggut tempat tidur mereka. Tidak tahu apakah besok mereka masih akan bangun di ruangan yang sama. Tidak tahu apakah besok masih ada roti di meja dapur.

Elena berdiri di ambang pintu asrama, memastikan selimut menutup bahu-bahu kurus itu dengan rapi. Ia tidak menyalakan lampu. Cahaya redup dari lorong sudah cukup. Ia hafal setiap langkah, setiap papan lantai yang bisa berderit.

Surat peringatan itu masih di tangannya.

Kertasnya kusut. Sudutnya terlipat berkali-kali. Bekas jari Elena membayang di permukaannya.

Moretti Holdings.

Nama itu tidak berubah.

Elena berjalan ke dapur dan duduk di kursi kayu. Kursi itu berderit pelan—suara yang terlalu akrab.

Ia membuka amplop gajinya.

Kosong.

Tidak ada yang bisa dihitung. Tidak ada yang bisa disisihkan.

Ia memegang amplop itu beberapa detik terlalu lama, seolah beratnya bisa berubah jika ditunggu. Lalu ia melipatnya sekali. Dan sekali lagi.

Gerakan yang tidak perlu. Tapi terasa wajib.

Laci ditutup pelan.

Di dinding dapur, jadwal-jadwal tertempel rapi—jam makan, jadwal sekolah, nama sukarelawan yang datang dan pergi. Hidup mereka bertahan dari keteraturan kecil seperti itu. Dari janji-janji yang terus ditunda.

Elena berjalan ke lorong.

Foto-foto lama menempel di papan kayu: senyum dengan gigi yang belum lengkap, seragam sekolah kebesaran, kue ulang tahun sederhana dengan lilin yang selalu kurang satu. Elena berhenti sejenak, menekan paku yang mulai longgar.

Gerakan kecil. Tidak penting.

Tapi malam ini terasa perlu.

Seolah ia sedang merapikan sesuatu sebelum kehilangan semuanya.

Ia kembali ke pintu depan. Menatap gagang pintu lebih lama dari seharusnya. Besinya dingin di telapak tangannya.

Angin laut membawa bau oli dan garam. Bau dunia yang tidak mengenal kompromi.

Elena menempelkan dahinya ke pintu—hanya sesaat.

Tidak ada doa yang diucapkan. Ia sudah terlalu lama belajar bahwa doa membutuhkan waktu, dan waktu adalah satu-satunya hal yang tidak ia miliki.

Mesin-mesin pelabuhan di kejauhan tidak pernah benar-benar tidur.

Elena mematikan lampu lorong terakhir. Stella Maris tenggelam dalam gelap yang terjaga.

Ia duduk di kursi dekat pintu.

Surat peringatan berada di pangkuannya. Tangannya terlipat di atasnya—seperti seseorang yang menunggu tamu yang tidak diundang.

Ia tidak tahu siapa yang akan datang besok pagi.

Ia hanya tahu satu hal—

ia akan tetap berdiri di sini ketika pintu itu diketuk.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Untuk Kedua Kalinya

    "Tidak." Satu kata itu berdiri di antara mereka. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Valerius menggerakkan kursi rodanya sedikit maju. "Lepaskan dia." Adriano tidak bergeser. "Aku sudah kehilangan dia sekali." Mata Valerius turun pada jemari yang saling menggenggam. "Elena…" Perempuan itu menatapnya. Adriano tidak menoleh. "Tetap di sini." Jemari Elena bergerak kecil di dalam genggamannya. Valerius mengangkat wajah. Tatapannya melewati Adriano dan berhenti pada Elias yang masih terbaring di halaman. Darah membasahi sisi jas pria itu. Elias mengangkat mata. Mereka bertemu pandang. "Terkadang pengkhianat tidak datang dari luar," kata Valerius. Elias diam. "Mereka tumbuh di dalam rumah sendiri." Angin menyentuh ujung tirai pintu. Valerius menatapnya. "Jika malam itu kau menjalankan perintahku…" Pandangan lelaki tua itu bergeser kepada Elena. "…semua ini tidak akan terjadi." Elias menutup mata sesaat. "Saya tahu." Valerius merogo

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Pilihan Menjadi Perlawanan

    “Aku tetap tidak akan membiarkannya menginjakkan kaki di rumah ini lagi.” Suara Valerius jatuh di ambang pintu. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Jemari mereka belum terlepas sejak keluar dari halaman belakang. “Kenapa?” Valerius mengangkat dagu sedikit. “Karena dia adikmu.” Tatapan Adriano mengeras. “Dia?” “Silvia sudah meracuni pikiranmu, Adriano.” “Apa yang dia racuni?” Valerius diam. Adriano maju satu langkah. “Dia tidak pernah mengajariku untuk melawanmu.” “Karena kau masih terlalu muda untuk melihatnya.” “Dia yang membesarkanku.” “Dan itulah yang selama ini kutakutkan.” Adriano menatap lelaki tua di kursi roda itu.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Rumah yang Tidak Menerimanya Kembali

    “Kenapa kau meninggalkanku di panti asuhan?” Jemari Elena masih mencengkeram lengan Julian. Elias terbaring di tanah. Satu tangannya menekan luka di sisi tubuh. Darah merembes di sela jemarinya dan jatuh ke batu yang basah. Tatapannya berhenti pada wajah Elena. Ia tidak segera menjawab. Adriano menurunkan pistol beberapa senti. “Jawab.” Elias menarik napas pendek. “Karena aku punya seorang anak perempuan.” Tatapan Adriano berubah. “Anak?” Elias mengangguk. “Usianya tidak jauh darimu malam itu.” Elena mengerutkan kening. “Kau tidak pernah menceritakannya.” “Aku memang tidak pernah.” Elias menatap tangannya sendiri yang mulai berlumur darah. “Aku menyembunyikannya dari semua orang.” “Kenapa?” “Pekerjaanku.” Hanya itu. Elena menunggu. Elias mengangkat wajah. “Dunia tempatku bekerja selalu mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menjatuhkan seseorang.” Tatapannya kembali kepada Elena. “Aku tidak akan memberikan mereka anakku.” Angin malam

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Anak yang Tidak Pernah Mati

    “Sekarang katakan padaku siapa sebenarnya Elena.” Pistol Adriano tetap terangkat. Elias duduk di tanah, satu tangan menekan sisi tubuhnya. Darah merembes di sela jarinya. Tidak ada penjaga yang bergerak. Julian masih memeluk Elena dari samping. Jemari perempuan itu mencengkeram kain kemejanya. Elias menatap Adriano. Tidak menjawab. “Jawab.” Suara Adriano tidak keras. Itu membuat laras pistol di tangannya terasa lebih berat. Elias menarik napas. “Perempuan itu…” Ia berhenti. “Adalah anak yang kau temukan di tempat asalnya.” Adriano menyipitkan mata. “Tempat asalnya.” Elias diam. “Jawabanmu selalu berlandaskan perintah.” Adriano melangkah turun dari anak tangga. “Dua puluh delapan tahun lalu kau bilang sudah membereskan Alessandra.” Tatapan Elias turun. “Kau bilang mayat Silvia dibuang ke laut.” Satu langkah lagi. “Kau juga bilang anak itu sudah dibereskan.” Adriano mengangkat pistol sedikit. “Bagaimana?” Elias tidak menjawab. “Menembaknya?” Hanya suara angin

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Laras Itu Berubah Arah

    Halaman belakang mansion membentang jauh di bawah cahaya lampu taman. Julian berjalan di depan. Tangannya tidak lepas dari tangan Elena. Mereka menerobos semak yang tumbuh di sepanjang dinding belakang. Ujung mantel Elena tersangkut ranting. Julian menariknya bebas tanpa berhenti. Kaki Elena menyentuh tanah tanpa sepatu. Setiap pijakan membuat luka di betisnya berdenyut. Ia menoleh. Dari arah mansion, gonggongan anjing masih terdengar dari balik kandang. Keras. Tidak putus. Julian mempererat genggamannya. “Jangan menoleh ke belakang.” Elena memandang punggungnya. “Kau yakin kita bisa keluar dari sini?” “Mobilku tidak jauh.” Ia menunjuk ke arah pepohonan di depan. “Sedikit lagi.” Elena memaksakan langkah. Tanah basah bergeser di bawah telapak kakinya. Sebuah akar mencuat dari permukaan. Ujung kakinya mengenainya. Bruk. Tubuh Elena jatuh ke samping. Julian langsung berbalik. “Elena.” Ia berjongkok. “Kau tidak

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jalan Keluar yang Tidak Seharusnya Ada

    “Siapa di luar?” Jemari pria itu meninggalkan gagang pintu. Satu langkah mundur. Pintu di sebelahnya tidak terkunci. Ia menyelinap masuk. Gelap. Daun pintu ditarik kembali hingga menyisakan celah tipis. Ia bergerak ke sisi lemari, merapatkan tubuh ke dinding yang berdekatan dengan jendela. Gagang pintu kamar Elena berputar. Klik. Pintu terbuka. Cahaya dari kamar tumpah ke koridor. Adriano keluar. Tatapannya langsung menyapu sepanjang lorong. Kosong. Matanya turun ke lantai. Naik lagi. Di ujung koridor, sebuah sosok melintas. Jas hitam. Sisi rambut yang memutih. Elias. Adriano menyipitkan mata. Sosok itu sudah menghilang di balik tikungan. Tatapannya masih tertahan di sana. Beberapa hari terakhir, terlalu banyak hal yang tidak dikatakan Elias. Dari dalam kamar terdengar suara Elena. “Ada apa?” Adriano menoleh. Ia masuk kembali. “Tidak ada.” Elena sudah mengangkat tubuh sedikit dari bantal. Tatapannya berpindah ke pintu. “Kau

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Kalimat yang Mengikat Nyawa

    Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Pengorbanan Berubah Menjadi Milik

    Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia ti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Perempuan Itu Menyerahkan Dirinya

    Pagi di Stella Maris tidak sempat menjadi pagi. Suara mesin datang lebih dulu, memotong udara sebelum matahari sepenuhnya naik. Getarannya merambat dari tanah, masuk ke dinding panti, mengguncang gelas-gelas plastik di rak dapur hingga beradu pelan. Elena terbangun sebelum anak-anak menangis.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Rumah Menjual Penghuninya

    Debu pelabuhan Genoa selalu menemukan jalannya sendiri. Ia menyelinap lewat celah pagar besi panti Stella Maris, menempel di sepatu-sepatu kecil yang berjejer di rak kayu, lalu hinggap di meja dapur yang catnya mengelupas. Debu itu membuat segalanya tampak kusam—kecuali satu hal. Sebuah amplop

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status