Mag-log inPecahan kaca berderak pelan di bawah telapak sepatunya. Julian tak menoleh. Ruang tamu apartemen di lantai bawah gelap. Cahaya lampu pelabuhan menyusup melalui jendela, memantulkan bayangan panjang di lantai. Tangannya meraba sisi pinggang. Perih. Saat ditarik kembali, jemarinya berlumur darah. Serpihan kaca. Bukan luka tembak. Napas pendek keluar dari sela bibirnya. Daun pintu dibuka sedikit. Koridor di luar lengang. Tak terdengar langkah. Tak ada pintu yang terbuka. Julian keluar. Punggungnya menempel sesaat pada dinding. Tatapannya menyapu lorong. Kosong. Ia bergerak menuju tangga darurat. Pintu besi didorong. Engselnya berdecit lirih. Anak-anak tangga dituruni dua, tiga sekaligus. Napasnya memantul di ruang sempit yang dipenuhi aroma semen dan cat tua. Di setiap belokan kepalanya terangkat. Tak ada siapa pun. Tangannya meraih pagar besi. Turun lagi. Lantai demi lantai terlewati. Begitu pintu terakhir terbuka, udara dingin parkira
Asap tipis masih menggantung di depan moncong pistol. Laras itu tetap mengarah ke balik sofa. "Keluar." Sunyi. "Aku tahu kau di sini." Tak ada jawaban. Di balik sandaran yang berlubang oleh peluru, Julian menahan napas. Pandangannya menyapu ruangan. Pintu kamar telah dipotong oleh tubuh pria itu. Balkon terlalu jauh. Kamar mandi sudah kehilangan separuh pintunya akibat benturan. Tak ada tempat yang benar-benar aman. Jarinya menyentuh lantai. Dingin. Pelatuk kembali ditekan. Dor. Busa sofa pecah. Serpihannya beterbangan ke wajah Julian. Tubuhnya langsung berguling ke sisi ranjang. Bahunya menghantam kaki tempat tidur sebelum menyelinap ke kolong. Gelap menyambut. Dari sela rendah itu hanya sepasang sepatu hitam yang terlihat. Langkah itu mendekat. Berhenti. Sofa tiba-tiba terangkat. Brak! Rangka kayunya menghantam dinding hingga retak. Tempat persembunyian yang tadi kosong berubah menjadi puing. Sepatu hitam kembali bergerak. Pelan. Mencari. Angin malam mene
Klik. Gagang pintu berputar. Jemari Elena langsung membeku di atas layar. Tulisan yang baru berhenti di tengah kalimat lenyap ketika ibu jarinya menekan tombol pengunci. Cahaya ponsel padam. Benda itu kembali ke sudut meja, tepat di tempat semula. Kertas kecil di dalam saku mantelnya menempel tipis di sisi pinggang. Pena telah kembali berada di jemarinya saat pintu terbuka. Adriano masuk lebih dulu. Seorang pria menyusul di belakangnya. Jas abu-abu tua membungkus tubuhnya dengan rapi. Sepatu kulitnya memantulkan cahaya lampu. Sebuah map kulit tipis berada di bawah lengannya. "Silakan duduk." Pria itu mengangguk. Ia memilih sofa di dekat jendela. Satu kaki menyilang di atas lutut. Elena tetap menatap berkas. Ujung penanya bergerak dari satu angka ke angka berikutnya. "Maaf kalau kedatangan saya mengganggu, Signora." Baru kali itu Elena mengangkat wajah. "Tidak apa." Tatapannya kembali jatuh ke lembar laporan. Adriano membuka lemari kayu di belakang meja. Deretan katal
Koridor lantai atas terbentang sunyi. Langkah Adriano bergema pelan di atas marmer. Elena mengikutinya tanpa berusaha menyamai langkah itu. Cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi, memanjang di sepanjang dinding hingga berhenti di depan pintu ruang kerja. Adriano memutar gagang pintu. Daun pintu terbuka. Ia masuk lebih dulu. Tas kulit berpindah ke atas meja. Disusul map-map proyek yang sejak tadi dibawa dari foyer. Jemarinya membuka pengunci tas, mengeluarkan beberapa berkas, lalu menyusunnya menjadi dua tumpukan. Elena masih berdiri di dekat pintu. "Maaf." Adriano tidak mengangkat kepala. "Untuk apa." "Soal alarm tadi." Suara Elena pelan. "Aku tidak bermaksud membuat rumah ini gaduh." Satu lembar laporan berpindah ke atas meja. "Kau belum pernah menggunakan kunci mobil." Elena menunduk sesaat. "Tidak ada yang mengajariku." Adriano merapikan sudut map yang tidak sejajar. "Kalau begitu belajar." Tak ada lagi yang diucapkan. Tatapan Elena
Tin. Tin. Tin. Suara alarm memantul di halaman depan mansion. Anjing-anjing penjaga di sisi belakang rumah ikut menggonggong. Burung-burung beterbangan dari pucuk cemara. Dua penjaga yang tengah berjaga di dekat gerbang serempak menoleh. Elena menarik kunci menjauh dari pintu sedan. Napasnya belum kembali teratur. Anak kunci itu dipandang beberapa saat sebelum kembali diarahkan ke lubang kunci. Meleset. Ia mengembuskannya pelan. "Signora." Suara itu datang dari samping. Dua penjaga telah berdiri beberapa langkah darinya. Elena mengangkat wajah. "Aku ingin mengambil map milik Signore." Tangannya mengangkat kunci yang masih digenggam. "Tapi mobilnya tiba-tiba berbunyi." Kedua penjaga saling bertukar pandang. Tak satu pun segera bergerak. "Signore akan bekerja dari rumah." Baru setelah nama itu disebut, salah seorang mengulurkan tangan. "Biarkan saya." Elena menyerahkan kunci tersebut. Pria itu menekan sebuah tombol. Alarm langsung terdiam. Keheningan kembali mem
Pagi menyelinap masuk melalui celah tirai. Garis-garis cahaya jatuh di atas lantai marmer, merambat hingga kaki ranjang. Elena membuka mata. Kepalanya belum bergerak ketika tatapannya bergeser ke sisi lain ranjang. Adriano masih tertidur. Satu lengannya terlipat di bawah kepala. Napasnya teratur. Memar di rahang kiri tampak semakin jelas diterpa cahaya pagi. Garis kebiruan itu memanjang hingga sudut bibir yang masih menyisakan luka tipis. Tatapannya tak segera beralih. Ujung jarinya sempat terangkat, lalu berhenti di tengah jalan. Perlahan tangannya kembali turun ke atas selimut. Elena bangkit. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Selimut yang menutupi kakinya diremas tanpa sadar. Suara itu kembali memenuhi kepalanya. Kalau memang itu hidup yang kau pilih... Matanya terpejam. Jangan menyesalinya. Jemarinya mengencang. Aku tidak akan kembali untuk menyelamatkanmu. Kasur bergoyang pelan. Adriano membuka mata. Tatapannya langsung menemukan Elena yang masih duduk
Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema
Pagi di Stella Maris tidak sempat menjadi pagi. Suara mesin datang lebih dulu, memotong udara sebelum matahari sepenuhnya naik. Getarannya merambat dari tanah, masuk ke dinding panti, mengguncang gelas-gelas plastik di rak dapur hingga beradu pelan. Elena terbangun sebelum anak-anak menangis.
Mansion Moretti berdiri jauh dari kebisingan pelabuhan, seolah dunia luar tak pernah menyentuhnya. Sinar matahari sore menembus jendela tinggi, menyorot debu yang menari di udara. Lantai marmer hitam mengilap, refleksi kaki menekankan kesunyian yang hampir mematikan. Langit-langit tinggi dan dindin
Debu pelabuhan Genoa selalu menemukan jalannya sendiri. Ia menyelinap lewat celah pagar besi panti Stella Maris, menempel di sepatu-sepatu kecil yang berjejer di rak kayu, lalu hinggap di meja dapur yang catnya mengelupas. Debu itu membuat segalanya tampak kusam—kecuali satu hal. Sebuah amplop







