ANMELDENTin. Tin. Tin. Suara alarm memantul di halaman depan mansion. Anjing-anjing penjaga di sisi belakang rumah ikut menggonggong. Burung-burung beterbangan dari pucuk cemara. Dua penjaga yang tengah berjaga di dekat gerbang serempak menoleh. Elena menarik kunci menjauh dari pintu sedan. Napasnya belum kembali teratur. Anak kunci itu dipandang beberapa saat sebelum kembali diarahkan ke lubang kunci. Meleset. Ia mengembuskannya pelan. "Signora." Suara itu datang dari samping. Dua penjaga telah berdiri beberapa langkah darinya. Elena mengangkat wajah. "Aku ingin mengambil map milik Signore." Tangannya mengangkat kunci yang masih digenggam. "Tapi mobilnya tiba-tiba berbunyi." Kedua penjaga saling bertukar pandang. Tak satu pun segera bergerak. "Signore akan bekerja dari rumah." Baru setelah nama itu disebut, salah seorang mengulurkan tangan. "Biarkan saya." Elena menyerahkan kunci tersebut. Pria itu menekan sebuah tombol. Alarm langsung terdiam. Keheningan kembali mem
Pagi menyelinap masuk melalui celah tirai. Garis-garis cahaya jatuh di atas lantai marmer, merambat hingga kaki ranjang. Elena membuka mata. Kepalanya belum bergerak ketika tatapannya bergeser ke sisi lain ranjang. Adriano masih tertidur. Satu lengannya terlipat di bawah kepala. Napasnya teratur. Memar di rahang kiri tampak semakin jelas diterpa cahaya pagi. Garis kebiruan itu memanjang hingga sudut bibir yang masih menyisakan luka tipis. Tatapannya tak segera beralih. Ujung jarinya sempat terangkat, lalu berhenti di tengah jalan. Perlahan tangannya kembali turun ke atas selimut. Elena bangkit. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Selimut yang menutupi kakinya diremas tanpa sadar. Suara itu kembali memenuhi kepalanya. Kalau memang itu hidup yang kau pilih... Matanya terpejam. Jangan menyesalinya. Jemarinya mengencang. Aku tidak akan kembali untuk menyelamatkanmu. Kasur bergoyang pelan. Adriano membuka mata. Tatapannya langsung menemukan Elena yang masih duduk
Sedan hitam berhenti di bawah beranda mansion. Mesin mati. Keheningan segera mengambil alih. Adriano turun lebih dulu. Elena menyusul dari sisi lain. Pintu utama telah terbuka. Seorang pelayan membungkukkan kepala ketika mereka melintas, lalu menutup kembali daun pintu tanpa suara. Foyer hanya diterangi lampu-lampu dinding yang menyisakan cahaya keemasan di sudut ruangan. Rumah sebesar itu terasa nyaris kosong. Tak terdengar langkah. Tak terdengar suara pelayan. Mereka baru beberapa langkah melewati ruang utama ketika Adriano berhenti. Elena mengikuti arah pandangnya. Valerius duduk di kursi rodanya. Menghadap ke arah mereka. Kedua tangannya bertumpu di atas sandaran. Tak ada map. Tak ada gelas kopi. Tak ada buku. Seolah ia memang tak melakukan apa pun selain menunggu. "Belum tidur." Valerius tidak menjawab. Tatapannya singgah pada memar di rahang Adriano. Naik ke pelipis yang masih menyisakan bekas benturan. Lalu beralih kepada Elena. "Jadi benar." Adriano tak
Lampu-lampu proyek telah menyala. Cahaya putih menggantung di antara rangka baja yang belum selesai berdiri. Di kejauhan, sebuah derek berputar pelan sebelum akhirnya berhenti. Forklift terakhir melintas menuju gerbang keluar, disusul bunyi rantai yang bergesekan dengan kontainer. Pelabuhan mulai kehilangan suaranya. Di dalam kantor sementara, ruangan itu perlahan kembali menyerupai tempat bekerja. Elena memasukkan buku laporan terakhir ke dalam lemari arsip. Pintu lemari ditutup pelan. Di sudut ruangan, Adriano mendorong meja yang sempat bergeser akibat benturan. Kaki meja bergesek dengan lantai baja sebelum kembali tepat pada bekas posisinya. Kursi yang masih utuh disandarkan ke bawah meja. Blueprint diratakan. Map-map proyek ditumpuk menurut tanggal. Ikatan-ikatan uang masih berserakan di lantai. Tak ada yang menyentuhnya. Tak satu pun dari mereka membicarakan apa yang terjadi sore tadi. Yang terdengar hanya gesekan kayu, bunyi map yang saling bertumpuk, dan napas yang
Bau mesiu masih menggantung di udara. Pintu kontainer telah kembali tertutup. Di luar, peluit pengawas terdengar panjang. Disusul deru forklift yang kembali bergerak, rantai besi beradu, dan suara kontainer yang diturunkan ke atas trailer. Pelabuhan melanjutkan harinya. Di dalam ruangan, tak ada yang berpindah. Elena masih menghadap pintu. Tatapannya tertahan pada ambang tempat Julian menghilang. Adriano berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pistol masih berada di tangannya. Moncongnya telah mengarah ke lantai. "Dia sudah pergi." Suara itu rendah. Elena tak menoleh. Tatapannya tetap berada di depan. "Masih ingin melihat ke sana?" Baru kali ini Elena menarik napas. "Aku memastikan dia benar-benar keluar." "Supaya selamat." Elena menutup mata sesaat. "Supaya kau tidak berubah pikiran." Sunyi memenuhi ruangan. Adriano menggeser pengaman pistol dengan ibu jarinya. Bunyi logam terdengar pendek. Magasin terlepas ke telapak tangannya. Ia memeriksa ruang peluru sekil
Moncong pistol itu tetap terarah. Tak bergeser. Elena masih berdiri di depan Julian. Tubuhnya menjadi satu-satunya jarak di antara laras pistol dan pria yang berada di belakangnya. Di ambang pintu, para pengawas dan staf membeku. Tak seorang pun berani melangkah masuk. "Jangan, Adriano." Suara Elena terdengar pelan. Cukup untuk memecah sunyi. Adriano tak menurunkan tangannya. Tatapannya hanya tertuju kepada perempuan di depannya. "Menyingkir." Elena menggeleng. "Turunkan pistolmu." Tak ada perubahan. "Kenapa?" Satu kata itu jatuh datar. Elena menatapnya. "Apa?" "Kenapa kau melindunginya?" Sunyi kembali memenuhi ruangan. Adriano masih memegang pistol itu dengan mantap. "Siapa dia bagimu?" Elena menarik napas. "Teman." Tak lebih. Napas Julian tertahan. Jemarinya yang bertumpu di lantai mengepal. Darah dari pelipisnya menetes pelan ke permukaan baja. Tak ada satu kata pun yang menyusul. Di ambang pintu, seorang pengawas tanpa sadar mundur setapak. Tak ada y
Mansion Moretti berdiri jauh dari kebisingan pelabuhan, seolah dunia luar tak pernah menyentuhnya. Sinar matahari sore menembus jendela tinggi, menyorot debu yang menari di udara. Lantai marmer hitam mengilap, refleksi kaki menekankan kesunyian yang hampir mematikan. Langit-langit tinggi dan dindin
Debu pelabuhan Genoa selalu menemukan jalannya sendiri. Ia menyelinap lewat celah pagar besi panti Stella Maris, menempel di sepatu-sepatu kecil yang berjejer di rak kayu, lalu hinggap di meja dapur yang catnya mengelupas. Debu itu membuat segalanya tampak kusam—kecuali satu hal. Sebuah amplop
Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema
Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti







