LOGINPapan keberangkatan berganti angka di atas kepala Julian. Genoa. Satu tujuan yang sudah ia putuskan untuk ditinggalkan. Perban putih membungkus telapak tangannya dengan simpul seadanya. Ujung kain telah berubah merah kecokelatan. Kemeja yang dipakainya sejak meninggalkan apartemen masih melekat di tubuh. Debu menempel di bahu. Garis tipis bekas pecahan kaca terlihat dekat kerah. Ia menarik koper melewati antrean pemeriksaan. Suara roda koper, pengumuman keberangkatan, dan percakapan para penumpang bercampur menjadi dengung panjang di dalam terminal. Setidaknya satu hal berjalan seperti seharusnya. Penerbangannya masih tertera di papan. Julian mengeluarkan paspor. Tiket elektronik ditunjukkan. Petugas mengambil dokumen itu. Halaman identitas dibuka. Tatapannya berhenti. Jemari yang memegang paspor tetap diam beberapa saat. Julian memperhatikan wajahnya. "Ada masalah?" Petugas mengangkat mata. "Tunggu sebentar." Paspor dibalik. Satu halaman diperiks
Sedan hitam itu menghilang di balik tikungan. Elena masih memandang jalan yang kosong ketika Bianca mengambil gembor dari atas batu. "Kalau terus melihat ke sana, bunga-bungaku akan cemburu." Senyum kecil muncul di wajah Elena. "Maaf." Bianca tertawa pendek. "Ikut aku." Mereka meninggalkan gazebo, melewati rumpun lavender yang bergerak diterpa angin laut. Beberapa bunga telah mekar penuh, sementara kuncup-kuncup kecil masih bersembunyi di antara daun. "Kau suka bunga?" "Iya." "Ada yang pernah kau tanam?" Elena mengangguk. "Dulu aku menemukan bunga liar di pinggir pantai." "Di pantai?" "Di antara batu." Senyumnya tipis. "Aku membawanya pulang." "Berhasil hidup?" "Sebentar." Bianca tersenyum. "Itu sudah cukup." Langkah mereka berhenti di depan petak bunga yang lebih rimbun. Kelopak-kelopak putih dan merah muda memenuhi batang-batang yang tumbuh rapat. "Yang ini sedang banyak dicari." Elena mendekat. "Untuk apa?" "Hiasan rumah. Istri-istri
Langkah Elena berhenti di sisi mobil. Adriano turun menyusul. Pintu sedan menutup pelan di belakangnya. "Ayo." Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan bunga. Perempuan yang tadi memegang gembor telah meletakkannya di atas batu pipih. Celemek berkebunnya diseka singkat dengan telapak tangan sebelum ia menghampiri mereka. "Akhirnya." Senyumnya mengembang hangat. "Kau datang juga." Elena membalas dengan senyum kecil. "Baru sempat." "Aku sudah menunggu cukup lama." Nada itu terdengar lebih seperti candaan daripada keluhan. Bianca berbalik. "Ikut denganku." Jalan setapak berbelok ke sisi rumah. Semak lavender bergoyang pelan diterpa angin laut. Di balik lengkungan bunga rambat berdiri sebuah gazebo kayu yang menghadap tebing. Meja bundar telah tertata rapi. Cangkir-cangkir porselen berukiran bunga diletakkan berdampingan dengan sebuah toples kaca berisi daun teh kering dan sepiring kecil kue mentega yang baru matang. Bianca menoleh ke arah
Setelan abu-abu gelap membungkus tubuh Adriano dengan rapi. Jam tangannya telah kembali melingkar di pergelangan kiri. Kancing manset terpasang sempurna. Tak ada lagi jejak malam yang tersisa selain memar tipis di rahangnya. Elena keluar dari ruang ganti. Mantel yang sama kembali menutupi tubuhnya. Jemarinya sempat singgah di saku bagian dalam sebelum mengikuti Adriano keluar dari kamar. Mereka menuruni tangga menuju foyer. Pagi memenuhi mansion dengan cahaya pucat yang masuk melalui jendela-jendela tinggi. Di anak tangga terakhir, langkah lain terdengar dari sisi koridor. Elias berhenti. "Selamat pagi, Signore." Adriano mengangguk singkat. "Buyer semalam." "Ya." "Artefaknya dijemput hari ini." "Akan kuurus." Percakapan berakhir begitu saja. Seorang staf muncul dari arah ruang administrasi. Kedua lengannya memeluk setumpuk map dan laporan hingga menutupi sebagian wajahnya. "Laporan penjualan untuk Signore Valerius." Elias mengulurkan tangan. Tumpu
Pintu kamar menutup. Klik. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Adriano melepaskan jasnya. Kain itu berpindah ke sandaran kursi. Jemarinya membuka kancing pertama kemeja, disusul yang kedua. "Elena." Perempuan itu masih berdiri membelakangi pintu. "Ya." "Isi bak mandi." Elena menoleh. "Air hangat?" "Air dingin." Tatapannya singgah sesaat pada wajah Adriano. "Baik." Ia menuju kamar mandi. Sumbat pembuangan ditekan hingga rapat. Kran diputar. Air jatuh menghantam dasar bak, memenuhi ruangan dengan gemericik yang pelan namun terus-menerus. Elena berdiri di sisinya. Permukaan air sedikit demi sedikit naik, menelan dinding porselen. Langkah terdengar di belakangnya. Adriano masuk. Kemejanya telah terlepas. Memar di rahang kiri tampak lebih jelas di bawah cahaya lampu. Garis kemerahan di rusuk kirinya belum sepenuhnya memudar. "Sudah?" "Hampir." Air baru melewati separuh bak. Tanpa menunggu lebih penuh, Adriano melangkah masuk. Air dingin beriak mengelilingi tubuh
Pecahan kaca berderak pelan di bawah telapak sepatunya. Julian tak menoleh. Ruang tamu apartemen di lantai bawah gelap. Cahaya lampu pelabuhan menyusup melalui jendela, memantulkan bayangan panjang di lantai. Tangannya meraba sisi pinggang. Perih. Saat ditarik kembali, jemarinya berlumur darah. Serpihan kaca. Bukan luka tembak. Napas pendek keluar dari sela bibirnya. Daun pintu dibuka sedikit. Koridor di luar lengang. Tak terdengar langkah. Tak ada pintu yang terbuka. Julian keluar. Punggungnya menempel sesaat pada dinding. Tatapannya menyapu lorong. Kosong. Ia bergerak menuju tangga darurat. Pintu besi didorong. Engselnya berdecit lirih. Anak-anak tangga dituruni dua, tiga sekaligus. Napasnya memantul di ruang sempit yang dipenuhi aroma semen dan cat tua. Di setiap belokan kepalanya terangkat. Tak ada siapa pun. Tangannya meraih pagar besi. Turun lagi. Lantai demi lantai terlewati. Begitu pintu terakhir terbuka, udara dingin parkira
Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema
Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti
Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.
Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m







