MasukBu kamala menangis, menunduk sembari menggenggam tangan nya sendiri di atas pangkuannya. yah Allah berikanlah kebahagiaan untuk putri ku, siapa pun pria ini, tapi aku selalu memohon, jadikanlah dia imam dan sandaran yang baik untuk putri ku. yah Allah jadi kanlah laki-laki yang saat ini telah menjadi suami putri ku menjadi laki-laki yang bisa menghapus luka yang ada dalam hatinya. doa yang selalu di berikan bu kamala kepada sang putri.
"bagaimana para saksi? Sah" *sah"saksi berkata tegas "alhamdulillah.. " beberapa tamu mulai berbisik bisik kecil penuh keharuan. ada yang tak percaya, ada yang ikut terharu. ada pula yang mulai mengakui bahwa Aurell bukan wanita lemah seperti perkiraan dan penglihatan mereka selama ini. pak Gustian menatap Aksa dengan pandangan penuh pertanyaan dan juga harapan . . . suasana masih terlihat ramai di luar ruangan gedung tempat terjadinya pernikahan Aurell dan Aksa. namun dari sisi lain ruangan, keluarga besar bu kamala mulai berkemas. wajah-wajah yang mereka tunjukkan seakan-akan tidak tertarik dengan pernikahan dadakan yang baru saja terjadi. "sudah, ayo kita pulang" ujar bu marisa, kaka tertua bu kamala, dengan nada tegas. "aku sibuk, tidak punya waktu untuk menonton drama pengantin dadakan. kita lebih baik pulang dan siapkan acara untuk zaki dan Azalea. ayo kita bahas itu di rumah saja lebih cepat lebih baik". " benar apa yang di katakan mbak"timpal bu citra sembari menggandeng tas tangannya "buat apa sih kita stay di sini. sebenarnya aku tuh malu jadi saudara kamala. itu lihat pengantin nya saja tiba-tiba kaya main sulap aja". bu alisa _ibu kandung Azalea, ikut mengangguk sambil menatap sinis ke arah Aurell dan Aksa dari kejauhan. " kan dari awal aku udah bilang, lea itu lebih cocok buat si zaki. PNS, punya karier yang jelas. bukan seperti Aurell yang ngak jelas kerjaan nya, massa depanya juga belum tentu ada". "eh masa sih.. tapi kan itu gedung di sewa Aurell sendirian loh. bu" celetuk salah satu sepupu Aurell yang paling muda dari saudara nya pak Gustian sedikit gugup. Bu alisa mendengus kasar "memangnya kenapa? kan lea juga berhak, dari pada tuh tempat mubazir. lagian kan, kita ini juga keluarga? Aurell aja yang terlalu perhitungan. lagi pula aku tidak yakin tuh uang miliknya sendiri! ". Bu asmita, berusaha menenangkan situasi" sudah lah toh semuanya sudah terlanjur terjadi. tapi aku sih juga kurang setuju dengan pernikahan dadakan itu. kalau seandainya keluarga Aksa tak menerimanya mau jadi apa Aurell nanti? " "yah itu sih urusan dia" sahut Bu citra tajam. "dia sendiri kan yang ngotot mau menikah. biarkan saja agar tau rasa. aku sih nggak mau ikut campur kalau suatu hari dia minta tolong. aku udah muak dengan sikapnya yang sok bisa tapi nyusahin keluarga" ke empat perempuan itu menarik suaminya masing-masing, mereka melangkah pergi meninggalkan gedung, tanpa menoleh kebelakang. mereka tertawa, dan mulai membicarakan detail tentang acara pernikahan zaki dan Azalea, seolah tak perna terjadi penghianatan terhadap seorang gadis yang di sebut ponakan. . . . . setelah selesai resepsi. ruangan kini mulai sunyi para tamu mulai berpamitan. menyisakan Aurell, Aksa, pak Gustian dan Bu Kamala yang duduk di sisi pelaminan. Aurell dan Aksa masih terlihat canggung dan asing, namun Aksa mengulurkan tangan ia memberanikan diri mengusap tangan Aurell yang baru saja ia kenal beberapa jam yang lalu dan sekarang menjadi istrinya. pak Gustian menarik napas dalam-dalam, mukanya masih belum sepenuhnya tenang. "nak Aksa" ucapnya pelan, tapi jelas "boleh bapak bertanya tentang sesuatu. kami ingin tahu.. kenapa kamu bersedia untuk menikahi Aurell. kamu bahkan belum mengenal nya, dan kami tida ingin anak kami masuk kedalam pernikahan yang jauh menyakitkan dari hari ini" suara tangis bu kamala tidak berhenti dari tadi. bahunya terguncang pelan, dan tangannya mencengkram kuat baju sang suami. ia tidak sanggup berkata apa-apa, hanya menatap Aksa dengan mata penuh harap. Aksa menatap mereka berdua, dan beralih pandangan nya ke arah Aurell. ia menggenggam tangan istri nya lebih erat sebelum berkata. "bapak, ibu. entah keputusan apakah ini. keputusan gila atau berani, entah harus di sebut apa. tapi satu hal yang harus kalian tahu. saat saya melihat Aurell tadi, dia hanya seorang wanita yang berusaha kuat tapi bukan wanita lemah. dia hanya wanita yang di khianati oleh banyak orang yang semestinya selalu ada di saat terpuruk nya. dia menarik napas dalam-dalam, tenang namun penuh tekad untuk melindungi sang istri. "saya memang belum mengenal Aurell lama. tapi saya tau betul bagaimana di tinggalkan dan di hina. saya tau rasanya jadi orang yang di remehkan, kalau pun ini memang takdir. biarlah kami jalani secara bersama, dan untuk keluarga saya, itu akan jadi urusan saya. yang terpenting sekarang itu keselamatan Aurell " jawaban yang di berikan Aksa mampu menggentarkan hati Aurell. ia tidak menyangka seorang pria yang di ajaknya untuk menikah dadakan itu dapat berkata setenang dan sebijak itu. kini air matanya pun menetes. air mata kali ini bukan karena luka, melainkan air mata rasa terharu. pak Gustian pun mengangguk pelan, menepuk bahu Aksa memberi isyarat bahwa ia mengerti dengan keputusan laki-laki itu. "baiklah nak, kalau memang seperti itu niatmu, maka bapak dan ibu akan menerima keputusan ini. kami ini hanya ingin Aurell bahagia.. walau pun dengan jalan yang tidak biasa. tetapi jika nanti keluarga mu tidak menerima kehadiran Aurell, tolong kembali kan Aurell ke pada kami dengan cara yang baik dan tidak penuh penghinaan ". bu kamala yang sedari tadi diam akhirnya bersuara dengan lirih. " setidaknya jika kau tak mencintainya, tolong perlakukan dia seperti temanmu, dia sudah cukup banyak mengalami kesakitan. " Aksa pung mengangguk mantap mengiyakan permintaan kedua orang di depannya itu "insya Allah bu saja janji tidak akan menyakiti Aurell" . . . . Sementara suasana di rumah bu kamala tampak telah lebih ramai dari biasanya. di ruangan tamu penuh oleh keluarga besar dari pihak bu kamala. tapi, minusnya tidak ada keluarga inti bu kamala sendiri. mereka duduk ber bundar, membahas acara pernikahan zaki dan Azalea yang akan di langsung kan. berbeda dengan suami, bu Marissa dan suami, bu Citra. mereka memilih duduk di teras depan sembari menyeruput kopi, dan pura-pura sibuk dengan rokok dan ponsel mereka sendiri. "kita tidak bisa menunggu terlalu lama" ujar bu Alisa dengan nada tegas "Anak yang di kandung lea nanti akan membesar membuat perut lea juga membesar, aku tidak mau orang-orang kampung mengosip yang aneh-aneh" memang otak mereka sudah kosong. bukankah semua orang sudah tahu bahwa Azalea telah hamil. bukankah Azalea sendiri yang mengatakan di depan orang banyak di gedung pernikahan tadi. zaki menunduk dengan kepala Tertunduk di samping ibunya, mengangguk sesekali sembari melirik lea yang kelihatan gelisah. "bagaimana nak zaki, apakah kamu siap menikah Azalea kan" tanya pak Rizal, ayahnya Azalea. zaki langsung mengangguk dengan mantap. "tentu saja saya siap pak". jawaban dari zaki membuat Azalea tersenyum lebar "aku sangat senang sekali, sebenarnya aku berusaha mengikhlaskan kamu bersama Aurell. tapi dari pagi aku mengetahui aku sedang hamil. maaf karena aku telah merusak acara pernikahan mu" ucap lea dengan berpura-pura terlihat bahwa dia menyesal dengan kejadian iniBu kamala menangis, menunduk sembari menggenggam tangan nya sendiri di atas pangkuannya. yah Allah berikanlah kebahagiaan untuk putri ku, siapa pun pria ini, tapi aku selalu memohon, jadikanlah dia imam dan sandaran yang baik untuk putri ku. yah Allah jadi kanlah laki-laki yang saat ini telah menjadi suami putri ku menjadi laki-laki yang bisa menghapus luka yang ada dalam hatinya. doa yang selalu di berikan bu kamala kepada sang putri. "bagaimana para saksi? Sah" *sah"saksi berkata tegas "alhamdulillah.. " beberapa tamu mulai berbisik bisik kecil penuh keharuan. ada yang tak percaya, ada yang ikut terharu. ada pula yang mulai mengakui bahwa Aurell bukan wanita lemah seperti perkiraan dan penglihatan mereka selama ini. pak Gustian menatap Aksa dengan pandangan penuh pertanyaan dan juga harapan . . . suasana masih terlihat ramai di luar ruangan gedung tempat terjadinya pernikahan Aurell dan Aksa. namun dari sisi lain ruangan, keluarga besar bu kamala mulai berkemas
"ternyata Tuhan itu baik. dia kasih lihat aku siapa kalian sebenarnya, sebelum aku hancur begitu dalam. tapi Terima kasih atas tawarannya.. aku akan tetap menikah, jadi tidak ada yang mubazir". semua terdiam seketika. " kamu... emangnya mau nikah sama siapa"tanya bu alisa mencibir "emangnya ada yang mau sama kamu" salah satu saudara nya ibu Aurell bertanya dengan nada mengejek. "paling cuma orang miskin yang berani nekat... atau orang tidak waras" sambung bu asmita. mereka semua tertawa terbahak-bahak meremehkan nasib Aurell. namun,tawa mereka itu langsung terhenti saat Aurell menarik tangan seorang pria yang sejak tadi berdiri di belakangnya. ia menyaksikan drama yang mereka berikan dengan wajah santai. Aurell menarik Aksa agar berdiri di samping nya. "pak penghulu " suaranya lantang "nikah kan aku dengan pria ini. namanya Aksa" ucapnya penuh keyakinan. "tolong restui kami pak, bu" sambung nya menatap sang ayah dan ibu. "a_apa" pak Gustian terkejut mendengar penutur
"brengsek! jadi selama ini aku di bohongin, memberi uang padanya bersenang-senang dengan lelaki lain? sialan memang, aku janji tidak akan membiarkan hidupmu bahagia, dasar biadap! " Aksa berbicara dengan dada bergemuruh menahan amarah yang siap meledak. di pelantara gedung, seorang pria sedang duduk dengan pandangan penuh beban.tubuhnya tinggi, putih dan rapi. tapi hanya mengenakan kaos putih polos, celana jeans gelap, dan handuk kecil di lehernya nyaris sama dengan seorang perkerja buru pabrik. ia menatap kosong ke sebrang jalan, seperti tenggelam dalam pikiran nya. Aurell terhenti, matanya terlihat sembab, napasnya tidak teratur. dalam pikiran nya yang kacau balau, terlintas sebuah ide gila. ia berjalan ke arah pria itu dengan langkah pelan, gemetar, dan dada berdegup kencang. "mas... " pria itu menoleh, wajahnya tersentak melihat seorang wanita menggunakan gaun pengantin berdiri di depannya. "mas boleh tanya " ucap Aurell, pria itu pun mengangguk "menurut mu..
"aku bersumpah, kalian tidak akan pernah bahagia setelah ini " gumamnya lirih. Aksa bahkan bingun kenapa nasib nya bisa seburuk ini. . . . "aku benar-benar bingun dan tak habis pikir, siapa yang mengajari Aurell bergaya seperti orang kaya begini? " bu Marissa bersuara dengan tatapan tajam, kaka perempuan pertama dari ibunya Aurell. perempuan dengan tubuh besar itu melipat tangan di depan dada, matanya menelusuri dekorasi mewah di gedung pernikahan. "jangan bilang sewa gedung dari hasil ngutang, orang tuanya kan masih punya cicilan motor dan uang di koperasi" timpal bu asmita kaka perempuan keduanya ibu Aurell, dengan senyum mengejek. bu alisa, kaka ipar ibu Aurell. mendekati dengan suara tenang tapi menusuk ia berkata"ya, katanya perkerjaan yang di lakukan Aurell juga belum tetap, masih karyawan kontrak, tapi sok banget pake bikin acara kaya artis segala, bikin malu nama keluarga aja" Aurell yang berdiri tak jauh dari mereka, menggunakan gaun pengantin berwarna putih yang
"alin, kamu selalu membuat ku kecanduan di pagi ini... kamu itu selalu terasa nikmat.. aaahh" desahan suara berat seorang pria terdengar di balik pintu yang tidak tertutup rapat dengan sempurna. terdengar suara desahan pelan yang terdengar begitu dalam. Aksa yang baru saja ingin mengetuk pintu rumah, langsung terpaku di tempat. jantung nya berdegup kencang tak karuan. suara-suara itu menganggu pikiran nya,suara yang memuji sang kekasih. wanita yang ia perjuangkan, wanita yang ingin di lamarnya hari ini. "apa yang sedang mereka lakukan" gumamnya. pikiran nya berlari liar di otak nya. mencoba menepis kemungkinan buruk di dalam pikiran nya. apa mungkin mereka sedang bercanda? atau mungkin itu bukan alin? namun nama itu.. "sayang... pelan-pelan yah...! "kali ini suara alinea yang terdengar, suaranya parau. seperti menahan sesuatu, suara napas yang tersengal dalam irama yang tak pantas. tubuh Aksa pung menegang, tangannya pung gemetar. ia ingin menepis suara itu dari indra







