FAZER LOGIN"tidak,lea. yang kamu lakukan itu hal yang benar" bu Alisa mulai membela anaknya sendiri. tak berpikir apa yang anaknya lakukan itu adalah sebuah aib.
"ibu juga peduli kok dengan nak Zaki. sebenarnya tuh sejak dulu kami ini kasihan kalau nak Zaki dapatnya Aurell" "Terima kasih atas perhatian nya bu" Zaki merasa percaya diri karena di bela oleh orang banyak dan tidak ada seorangpun yang menyalahkan perbuatan zinah mereka. pak Galang _ayahnya Zaki, akhirnya angkat bicara. "kami sepakat. biar bisa sah secepatnya, lebih cepat itu lebih baik agar tidak banyak yang bergosip. lebih bagus lagi langsung akad di KUA saja. nggak usah pakai resepsi dulu. yang terpenting itu sah secara agama dan negara" "loh apa ini, kok tidak langsung resepsi saja" celetuk bu Citra merasa curiga "masa iya anak dari bu Alisa hanya dapat akad di KUA saja? sedangkan si Aurell aja bisa sewah gedung". bu Arun tersenyum kaki mendengar Pertayaan itu " untuk saat ini memang kami belum memiliki uang untuk mengadakan acara resepsi. uang kami sudah terlanjur kami belikan tanah. tapi untuk resepsi insya Allah, dalam satu atau dua bulan bisa kok. Zaki kan sudah mulai kerja di rumah sakit. jadi untuk resepsi pasti akan di adakan kok. yang penting itu sah dulu kan". " iya, bu Citra semua itu bisa di atur yang penting sah dulu. takut gosip semakin memanas tentang berita kehamilan lea"sambung pak Galang. "kami itu bukanya nggak mau. tapi memang kami butuh waktu. apalagi uang kami juga itu turut adil di acara pernikahan yang seharusnya terjadi tadi. apalagi Zaki belum lama berkerja di rumah sakit. belum juga Terima gaji" pak Galang berusaha membelah diri untuk menyelamatkan nama baik keluarga nya. "tapi lea kamu tidak apa-apa kan nikah tanpa resepsi dulu" tanya bu Alisa dengan senyum bangga pada anaknya. "akhirnya kamu menikah dengan seorang dokter bukan seorang gembel seperti Aurell itu". terdengar tawa kecil di dalam ruangan itu. mereka puas menertawakan perbandingan yang mereka buat dengan pemikiran mereka sendiri. " iyah nggak apa-apa yang penting sah dulu. biar nanti Aurell tahu. kalau sebernarnya mas Zaki itu sejak dulu nggak benar-benar mencintai dirinya. mas Zaki hanya kasihan saja". suasana di dalam rumah semakin nyaring dengan gumaman dan kata-kata sindiran secara halus. tepat setelah kesepakatan itu di putuska, terdengar suara salam dari arah pintu. "Assalamu'alaikum.. " pak Gustian dan bu Kamala berdiri di depan pintu. di belakang mereka, Aksa menggandeng tangan Aurell. Aksa suaminya yang tetap tampil seadanya namun terlihat tenang. sedangkan wajah bu Kamala masih sembab, meski ia berusaha tetap tersenyum. tak ada seorang pun dari mereka yang menjawab salam itu. justru bu Marissa yang bersuara pertama kali dengan tawa sinisnya. "eeh.. yang di tunggu-tunggu si miskin akhirnya datang juga" "huu... masih berani muncul di sini rupanya. nggak malu apa? sudah bikin malu keluarga saja! " sahut bu Citra tajam. "iya, iya, yang nikah sama gembel. nggak tahu malu " tambah bu Alisa sembari menatap Aurell dari atas ke bawa"perhiasan untuk mas kawin itu asli nggak sih? masa sih seorang gembel bawa-bawa kalung emas 50gram.pasti cuma lapisan saja kan? " bu Asmita ikut menertawakan Aurell "kalau itu mas palsu pasti pernikahan nya juga nggak sah dong. gimana sih Gustian ini, malah restui anaknya buat apa sih! lelucon kah" pak Gustian menghela napas dalam-dalam. sembari menatap Aksa yang tenang, berdiri di belakangnya. suasa yang terasa panas. tak membuat Aksa menunjukkan tanda-tanda terganggu. Aurell yang awalnya ingin membalas ucapan mereka,kini di cegah oleh suaminya. jari-jari Aksa menggenggam tangan Aurell dengan tenang. lalu berbisik pelan ke pada Aurell. "tak perlu di ladenin. kita tidak bisa merubah jalan pikir mereka, tetapi kita tetap bisa jaga harga diri kita" bu Kamala yang berdiri di samping pak Gustian tak tahan lagi, akhirnya angkat suara. meskipun suaranya terdengar serak karena habis menangis tadi. "kepulangan kami ini bukan cari masalah, kami hanya menjaga silahturahmi. tapi apa pun keputusan yang di ambil kami tidak butuh persetujuan dari kalian. tapi kalian harus ingat hinaan yang kalian berikan hari ini, tidak bisa menghapus kenyataan bahwa anak saya sudah sah menikah, dengan saksi dan wali yang sah. dan untuk mencoreng nama keluarga yang seperti kalian tuduhkan itu kalian salah besar. apa kalian lupa siapa sebenarnya yang mencoreng di sini "ucapnya dengan tatapan tajam. " kalau ini tentang mahar itu, saya bisa pastikan, saya tidak akan memberikan mahar palsu untuk pernikahan ku dan Aurell "suara Aksa terdengar tenang, tapi tegas. pandangan nya lurus menatap mereka semua, tanpa gentar sedikit pun. sejenak suasana menjadi begitu hening. tak ada yang menyangka pria yang terlihat seperti gembel itu berani berbicara. namun belum sempat ada yang membalas ucapa Aksa, Aurell menepuk dan mengusap lengan Aksa pelan. " bu, pak, sudahlah tak usah di perpanjang ayo kita masuk saja"ucap Aurell merasa lelah terus menghadapi sikap saudara mereka, yang selalu merasa benar. mereka pun berjalan ke dalam rumah besar yang sudah lama di tempati mereka bersama. Rumah itu milik bu Dabbira(ibu kandung ibu Kamala bersama saudara nya). namun, sebelum langkah mereka sampai ke pintu ruang tengah, bu Marissa yang merasa paling berhak atas rumah itu pun berdiri menghadang langkah kaki mereka. "Kamala" suaranya terdengar rendah namun tajam "kejadian yang terjadi hari ini jangan coba sekali-kali kamu sampaikan ke ibu. kalau saja ibu sampai kenapa-napa kamu orang pertama yang harus di salahkan di sini" bu Kamala menunduk, matanya terpejam rapat. menahan amarah dan luka yang Menggunung selama bertahun-tahun. Lagi-lagi, dia orang yang selalu mengalah. dan dia orang yang harus bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak pernah di buatnya. "tenang saja, memangnya sejak kapan aku ini bisa menolak" jawabnya lirih. "bagus kalau kamu paham maksud ku".sahut bu Marissa lalu kembali ke tempat duduk nya. Aurell, yang saat ini menggenggam tangan ibunya, tak tahan lagi melihat itu, langsung menggamit tangan ibu Kamala, lalu membisikkan sesuatu yang lembut. " bu, ayo kita ke dalam saja yuk. di dalam ruangan kita saja, biar terasa tenang tak usa di pikirkan ucapan bibi tadi". bu Kamala mengangguk setuju. mereka melangkah menyusuri lorong rumah yang begitu panjang. menuju ruangan yang paling kecil di bagian belakang, yang dekat dengan kandang sapi. tempat biasanya mereka tidur selama ini.suasana kamar yang kecil dan mungil itu terasa sunyi. terdengar suara derit pelan dari kipas angin tua di sudut langit-langit. sedangkan di luar sana, suara jangkrik bersahut-sahutan. seolah-olah tahu kalau malam ini adalah malam pertama bagi dia orang yang baru saja resmi menjadi suami istri. Aurell duduk di pinggir ranjang, menunduk. sementara Aksa sudah berbaring menyandarkan diri ke dinding, sesekali ia melirik sang istri dengan senyuman yang di tahan tahan. "tempat tidur ini sempit yah. mas" ucap Aurell pelan. tanpa menoleh ke arah Aksa "pasti mas Aksa nggak merasa nyaman tidur di sini"Aksa menoleh pelan. nada suara nya ia buat senyaman mungkin. "justru itu bagus, kalau sempit begini kan nggak ada jarak di antara kita lagi, dan kita malah bisa berpelukan loh. "Aurell spontan merenggut, wajahnya memerah karna malu. "tadi mas Aksa katakan kita ini baru pacaran. mana bisa ada orang pacaran langsung tidur bersama.? "Aksa tertawa pelan mendengar ucapan sang istri yang terlihat
Aurell menelan ludah dengan kasar. 'bagaimana bisa mas Aksa begitu cepat berubah karakter nya dalam waktu sekejap? 'gumam Aurell di dalam hati. melihat sang istri yang terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah dingin. Aksa mengulurkan tangannya, dan mengusap kepala Aurell dengan kasih sayang. mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja. "total semuanya. 4.980.000rupia kak. "jawab sang kaisar dengan ramah. " saya bayar pakai kartu ini. "Lagi-lagi Aurell di buat tertegun, namun sedikit kemudian ia langsung panik. " Astaga mas! kita kurangin aja barangnya... ini mungkin tabungan mas kan? pasti sudah di kumpulin selama bertahun-tahun kan. aku tidak ingin mas menghabiskan tabungan mas hanya untukku dan keluarga ku. " Aksa hanya tersenyum dan menyodorkan kartu debit miliknya ke kasir. "tenang saja. tabungan ku masih aman kok. ini belum seberapa di banding kan apa yang pernah aku kasih ke orang yang salah selama ini. " Aurell tak bisa membalas ucapan Aksa. ia hanya t
"astaga.kok hari ini aku bisa jadi pelupa ya, sudah seperti nenek-nenek aja yang cepat pikun, masa iya kita keluar malam nggak bawa jaket" "nggak apa-apa kok. malahan lebih enakan begini, kita bisa peluk-peluk tanpa takut akan dosa " "iiih... mas Aksa ini " . . . Aurell tidak menyangka, ternyata Aksa membelokkan motornya ke sebuah toko swalayan yang cukup besar di kabupaten yang masih buka malam itu, Aurell sempat merasa bingung. "mas, ini kita mau ke mana" tanyanya curiga "kita jalan-jalan aja kan? apa kamu mau bertemu dengan seseorang? eeh atau.... kamu kerja di sini? maaf, aku jadi mengganggu pekerjaan mu" Aksa hanya tersenyum santai, lalu dengan tenang menuntun Aurell masuk kedalam swalayan itu. "masa lagi pengantin baru mau kerja sih? temani mas yah untuk belanja. kamu kan tahu, aku nggak bawa baju ganti! tadi aku lihat, sendalmu itu juga udah hampir putus" "mas, nggak apa-apa kalau mas mau beli untuk keperluan pribadi mas, tapi untuk aku nggak usah yah
Azalea pun menyipitkan matanya, tak Terima dengan ucapan Aurell. "tentu saja mas Zaki akan memilih ku!, kamu itu hanya bekas, bekas dari mainan banyak lelaki. mas Zaki pun tau semua rahasia tentang mu. kamu itu barang bergilir kan Aurell" Aurell yang mendengar ucapan itu pun akhirnya terperangah. matanya pun membesar tanda tak percaya. "astaghfirullah... mbak lea, bagaimana bisa kamu menuduh ku seperti itu... apakah kamu memiliki bukti atas tuduhan mu itu" Zaki akhirnya buka suara, nadanya terdengar dingin dan sinis, "udalah Aurell, aku itu udah tau semuanya. kamu itu hanya pura-pura suci kan. dulu aja kamu selalu nggak mau waktu ku ajak begitu kan, pasti karena kamu takut rahasiamu ketahuan, kan?. kamu pasti takut kalau aku tahu bahwa kamu itu udah nggak perawan lagi. udalah Aurell, berhenti sok jadi wanita polos. lea... makasih yah kalau tidak ada kamu mungkin aku akan terus tertipu, makasih udah menyadarkan aku" Aurell yang mendengar penuturan zaki hanya menggelengkan
Aurell menunduk, lalu berkata dengan lirih. "maaf yah.. tadi aku nangis karena... aku tersentuh saat mendengar bacaan sholat dari mas Aksa.. begitu merdu banget,dan begitu terasa tenang. aku malu karena aku pikir aku yang selama ini berpendidikan malah belum tentu bisa sebaik itu mas" Aksa menatap wajah sang istri tanpa banyak basa-basi ia bertanya "boleh aku minta peluk kamu" Aurell yang mendengar iu pun terkejut. ia pun menahan napas, melihat tatapan yang di berikan oleh Aksa begitu tulus, tak mengandung nafsu, hanya sebuah ketulusan. pelan tapi pasti, Aurell pun mengangguk. Aksa mulai mendekat, dan meraih bahu sang istri lalu memeluknya dengan tenang. dalam diam, mereka berdua mulai merasakan ketenangan yang belum perna di rasakan sebelumnya. seolah dua jiwa yang tersesat selama ini, akhirnya menemukan jalan pulang. beberapa saat kemudian, Tiba-tiba Aurell menyadari ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, ia pun memandang sang suami. "mas Aksa... kamu nggak b
"Aurell, jangan perna ngomong seperti begitu yah, aku tidak ingin kamu berbicara seperti itu" Ia menatap Aurell dengan tatapan tajam, bukan karena ia marah, tapi karena ia kecewa"pernikahan bukan sebuah permainan, aku tahu pernikahan ini mendadak. bahkan nyaris absurd, tapi itu bukan sebuah alasan bahwa aku tidak serius"Aurell yang mendengar itu merasa tercekat. dia tidak menyangka Aksa akan bereaksi sekeras itu. "kita coba jalani semampu kita yah, aku nggak bisa menjamin ini akan mudah. tapi aku akan berusaha menerima semua ini mungkin ini sudah jalan yang di takdirkan untuk kita" Aksa menghembuskan napas pelan. "tentang orang tua ku nanti.... aku mohon kasih aku waktu. aku belum bisa langsung membawa mu ke pada mereka. tapi aku berjanji akan mengurus semuanya, jangan di pikirin sendiri . kamu sudah tidak lagi sendiri sekarang ada aku di sini".air mata Aurell menggenang, tapi air mata kali ini bukan air mata karena sedih, melainkan air mata terharu karena senang. ia pung mengan







