INICIAR SESIÓNsudah sampai nih guys ayoo mau request apa sama yang lagi di bali
Restoran sudah mulai sepi saat Evan baru selesai makan. Entah kenapa pagi ini bayi mungil itu begitu lahap makan. Setelah membersihkan mulutnya dengan tisu basah, dengan sigap Dante mengangkat Evan dari kursi tinggi. “Sudah jam segini, Bapak gak telat?” tanya Niken khawatir ayahnya Evan itu terlambat ke acaranya. “Sudah saya bilang, saya antar kalian dulu. Telat itu urusan saya,” ucap Dante melangkah lebih dulu. Niken buru-buru mengejar mereka sebelum jauh. Masuk ke dalam lift, mereka lalu menuju lantai tempat kamar mereka berada. “Acara saya selesai jam empat sore. Nanti saya mau ajak Evan jalan jam lima, jadi tolong kamu siapkan Evan,” kata Dante memberikan Evan pada Niken. Tangan bayi mungil itu terus menggapai Niken yang berdiri di samping Dante. “Iya, Pak.” Begitu keluar dari lift, dari arah berlawanan tampak Riana dan Dea berjalan bersama-sama. Pria itu menatap tajam ke arah Riana lalu berhenti saat jarak mereka sudah hampir dekat. “Baru aja kita mau nyusul,” kata Riana me
Kamar yang ada di hadapannya ini, benar kamar yang Dante pesankan, tapi kenapa ada Dante di dalamnya. “Ini kamar aku, Niken, sama Evan … kenapa Malah Mas Dante ada di sini? Mereka mana?” tanya Riana menelisik ayahnya Evan itu. Dari dalam, Niken menggendong Evan– berdiri tak jauh dari Dante. Dari celah pintu, Riana bisa melihat mereka. Ekspresi wajah adiknya itu berubah seraya berdecak. Ia mengibas tangannya, meminta Dante untuk mundur agar ia bisa masuk. “Kenapa kamu malah pergi sama temen kamu dan ninggalin mereka?” Dante melipat tangan didepan dada– menatap Riana. Dari intonasi suaranya, terdengar jelas nada menyalahkan. Mendengar hal itu Niken jadi merasa tak enak. Sebenarnya ia tidak masalah, kalau Riana mau pergi sama temannya, tanpa mengajak dirinya. Lagi pula ia tidak kenal dengan teman Riana, takut kalau nanti ia malah mengganggu mereka. “Aku cuma ke cafe aja sama Dea, Mas. Niken juga gapapa,” sahut Riana tak terima, menatap Dante dan Niken bergantian. Niken cepat mengang
“Ngapain sih masuk kamar orang sembarangan? Kenapa Mas Dante gak ke kamar Mas sendiri aja?” cecar Riana masih bingung dengan sikap ayahnya Evan itu. “Aku mau ketemu Evan,” sahut Dante datar. “Kan sudah tahu … Niken kan sudah bilang kalau aku sama Evan ada di bawah.” “Aku mau ngecek perlengkapan Evan.” Dante masih santai beralasan. Ucapan yang sama seperti yang Niken katakan tadi. “Kalau gitu, sekarang Mas Dante balik ke kamar aja. Kalau kangen sama Evan. Bawa aja Evan, biar aku sama Niken jalan dulu. Berdua doang.” Riana melipat tangannya di depan dada. Dante tak membantah. Beranjak dari sofa, ia berjalan– mendekap Evan keluar dari kamar itu, tepat saat Niken keluar dari kamar mandi. Ia hanya bisa menatap Evan yang pergi bersama Dante. Ada rasa tak rela, tapi Evan kan anaknya. “Ayuk kita jalan,” ajak Riana. Niken merapikan rambutnya– mengambil dompet dan ponselnya. “Evan biar sama Dante dulu aja,” kata Riana menjawab kala Niken bertanya keberadaan anak susunya itu. Keluar d
Setelah perjalanan hampir satu jam, mereka akhirnya tiba juga di hotel. Jalanan cukup padat, hingga mereka perlu lebih banyak waktu untuk sampai di hotel. Dibantu salah satu petugas hotel, mereka di antarkan ke meja resepsionis. “Atas nama Ibu Riana … silahkan kuncinya,” kata seorang wanita berpakaian warna hitam ramah. Lantas mereka bertiga di antar hingga depan kamar oleh petugas hotel yang tadi menyambut mereka saat datang. “Makasih ya,” kata Riana memberikan tip pada petugas hotel itu. Sebelum masuk ke dalam kamar, Niken mengamati keadaan sekitar. Ia dibuat terpukau begitu netranya melihat isi kamar yang akan mereka tempati beberapa hari ke depan. Luas dengan ranjang besar, serta ada balkon. Tak lupa ada mini kitchen di sana. “Aku capek banget,” kata Riana melepas sweater yang sedari tadi ia kenakan, lantas membaringkan diri di atas kasur. Ia tersenyum memandang Niken yang jelas terlihat kagum. “Turunin aja Evan. Kamu juga pasti capek kan.” Niken mengulum senyum. Melirik k
Setelah Evan tertidur pulas, Riana membantu Niken untuk berkemas. Karena mereka membawa bayi, sudah jelas barang-barangnya lebih banyak dari pada barang Niken dan Riana. Untuk pakaian ganti, popok sekali pakai, tisu basah, mainan, dan yang lain, satu koper ukuran sedang sudah terisi penuh. Sebenernya Niken cukup bersemangat tapi kadang terlintas bagaimana nanti repotnya di sana. “Tenang aja, kan disana ada aku, ada Mas Dante. Kita bakal jaga Evan sama-sama, biar bisa nikmati Bali,” kata Riana menenangkan Niken. Terlihat jelas dari wajahnya. “Iya, Mbak.” Niken tersenyum kecil. Setelah punya Evan beres, Riana mengambil satu koper kecil lain yang ada di atas lemari Dante, dan memberikannya pada Riana. “Gak usah, Mbak. Saya beresin sendiri aja,” sahut Niken melirik ke arah Evan yang telah tertidur di dalam box, saat Riana menawan diri untuk membantu Niken packing. “Oke. Aku tinggal ke atas ya … kalau mau, kamu packing aja sekarang, mumpung Evan tidur. Gak usah bawa baju banyak, nanti
Menggunakan mobil yang berbeda, mereka meninggalkan rumah. Dante dengan diantar Azka, sementara Niken bersama Riana dan Evan akan ke rumah sakit. Sebelum pergi tadi, Niken dan Dante sempat beradu pandangan beberapa detik. Bagi Niken tatapan itu tatapan yang sama— dingin dan tajam. “Memangnya Pak Dante mau kemana, Mbak?” tanya Riana mulai mengemudikan mobil. “Dia mau ke Bali. Ada acara seminar,” kata Riana, “oh iya, KTP kamu mana?” Niken mengerutkan kening. “Buat apa, Mbak?” “Buat pesenin tiket … nanti kita ke Bali nyusul Mas Dante. Besok kita berangkat,” sahut Riana bersemangat. Ia membeku mendengar ucapan Riana barusan. Perasaannya seketika tidak karuan. Bingung bagaimana bersikap. “Nanti aja. Tunggu kita sampai di rumah sakit,” ujar Riana membuat Niken berhenti merogoh tasnya– mencari KTPnya. Memarkirkan mobil di halaman depan, mereka langsung masuk ke dalam. Beberapa perawat dan dokter yang mengenal Riana, melempar senyum dan menyapa. “Hai, Na,” sapa salah satu p
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal
Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai







