LOGINMasa tanya nama aja gak boleh. Padahal cuma nanya nama, bukan tanya nomor ponsel, eh 🫣
Menuruni tangga lalu ke ruang makan, Riana segera duduk di samping Dante yang telah lebih dulu berada disana.“Mas … kemarin aku lihat Mbak Agatha,” kata Riana menggebu-gebu. Dante menoleh malas. “Oh. Di mana?”Dengan semangat ia menceritakan dimana dan kapan ia melihat Agatha, hingga tak sadar menyebutkan nama seseorang yang membuat Dante mengerutkan kening.Riana cepat menutup mulutnya.“Bima? Siapa?” ulang Dante membuat Riana semakin erat menutup mulutnya. Ia merutuki dirinya kenapa bisa sampai menyebutkan nama Bima saat bicara dengan Dante. Walau sebenarnya tidak masalah, tapi malas saja kalau nanti Dante malah bertanya yang macam-macam.Dante masih menatapnya, menunggu penjelasan.“Dokter Bima … yang di rumah sakit Mas Dante. Kemarin gak sengaja ketemu,” terang Riana hati-hati.“Iya, Mas. Gak sengaja ketemu,” ujar Riana meyakinkan lantas mengalihkan pembicaraan agar Dante berhenti bertanya soal Bima.Percakapan mereka terhenti saat Niken dan Evan tiba di ruang makan.“Evan gak
“Sudah semua?” tanya Dante sebelum perawat keluar dari ruangan prakteknya.Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat itu.“Sudah, Dok,” sahut perawat itu.Menguap lebar sambil memijat leher belakangnya, pria itu mematikan laptop lalu merapikan mejanya.Keluar dari dalam ruangan, ia berpapasan dengan Wira. Sebenarnya Dante tidak ingin terlibat percakapan dengannya, tapi Wira menyapa duluan dan mengiringi langkahnya.“Baru selesai?”Dante tersenyum tipis.“Oh iya. Aku beberapa kali ketemu sama Riana, dia jalan sama Evan dan siapa … pengasuh Evan ya, Niken,” kata Wira membuat telinga Dante tiba-tiba meninggi.“Memangnya kenapa?” Dante menghentikan langkahnya menatap Wira– rahangnya mengeras.“Aku mau kenalan sama dia … sama Niken,” kata Wira membuat wajah Dante tegang.“Dia sudah ada yang punya. Dan dia gak ada waktu buat kenalan sama orang lain, karena fokus sama hal yang lebih penting,” ucap Dante kemudian pergi meninggalkan Wira. Entah apa yang dikatakannya barusan, ia s
“Bagus ya kamu …” Anita yang duduk di ruang tamu langsung berdiri berkacak pinggang saat melihat Agatha masuk menarik kopernya. “Apa sih, Ma? Aku baru pulang, capek.” Agatha duduk di sofa tak jauh dari Anita. Penuh emosi ia menatap anaknya yang terlihat santai, seperti tidak melakukan kesalahan apapun. Anita lalu mengambil map putih yang sedari tadi ia pegang, lalu melemparkan ke arah Agatha. Agatha duduk bersandar– membuka dan membaca isi map putih itu. Senyum sinis tersungging di bibirnya. “Akta cerai,” gumam Agatha tak tertarik pada kertas itu. Ia menyimpannya kembali di dalam map dan meletakkannya di atas meja. “Kamu masih bisa sesantai itu? Mama heran sama kamu! Kamu melepaskan Dante sama anak kamu, demi pria yang gak jelas itu. Sekarang mana dia? Kenapa kamu pulang? Sudah habis uang dia!?” seru Anita emosi. Agatha tak merespon ucapan Anita, ia malah sibuk dengan ponselnya. Merasa diacuhkan oleh anaknya itu, Anita mendekat dan merampas ponsel yang sedang Agatha pegang. “Kam
Alhasil jam sepuluh ini mereka sudah berada di salah satu outlet perlengkapan bayi. Suasana masih sepi saat mereka datang, karena memang baru buka. “Sini Evan sama aku aja,” kata Dante membuka tangannya– siap menggendong anaknya itu. Niken mendekat dan menyerahkan Evan pada Dante. Berjalan beriringan, Niken mendorong troli sambil melihat-lihat pakaian yang terpajang di sana. Langkahnya kemudian terhenti di salah satu pajangan baju. “Ini kayaknya lucu. Ini boleh, Pak?” tanya Niken mengambil baju dari gantungan baju dan menunjukkannya pada Dante. Pria itu mengangguk setuju. Niken lalu semangat mencari baju yang pas dengan ukuran badan Evan. Troli yang ia dorong hampir penuh dengan berbagai jenis pakaian Evan. Tidak hanya Niken, tapi Dante juga ikut memilih dan memasukkan pakaian untuk anaknya itu. Kalau bukan Niken yang mengecek kembali apa yang diambil Dante, mungkin troli yang ia bawa tidak cukup menampung belanjaan mereka hari ini. “Masih ada yang mau dibeli?” tanya Dante begit
Riana baru saja selesai praktek pukul sembilan malam. Entah kenapa hari ini pasiennya cukup banyak. Dari yang cuma ngecek kehamilan sampai yang lahiran. Baru saja akan meninggalkan ruangannya, pintu ruangan tiba-tiba dibuka oleh salah satu perawat yang jaga. Dengan tergesa, ia memberi tahu kalau di ruang tindakan ada pasien yang mengeluh sakit pada perutnya. Mau tak mau, Riana mengurungkan niatnya untuk pulang. Meletakkan tasnya diatas meja, ia keluar dan menuju ruang tindakan. “Dokter Bima,” gumamnya dalam hati melihat Bima ada di ruang tindakan bersama seorang wanita hamil. Sambil berjalan mendekat, ia terus menerka-nerka dalam hati. Siapa kira-kira wanita itu. Istri? Tapi seingatnya Akbar bilang kalau Bima dokter baru. Masa iya sudah menikah. “Selamat malam,” sapa Riana membuat Bima menoleh. Wajahnya kaget melihat Riana berdiri di depannya. “Dokter Bima, istrinya kenapa?” tanya Riana menatap Bima dan wanita yang terbaring diatas tempat tidur bergantian. “Bukan … bukan istri ak
Membongkar tas yang dibawa Riana, Niken langsung merapikan Evan. Memandikan dan mengganti bajunya. Tak berapa lama, Azka masuk dan membawa bungkusan sarapan untuk mereka. Riana mengambil alih Evan dan meminta Niken untuk membersihkan diri.“Selamat pagi,” sapa Akbar yang datang bersama dokter jaga.“Pagi, Dokter.” Riana membalas sapaan dua dokter yang masuk dan berdiri di sisi ranjang.Dante tersenyum sembari menyandarkan punggungnya.Menurut hasil pemeriksaan Dante hanya kelelahan. Pagi ini ia sudah diperbolehkan pulang dan istirahat di rumah.“Dua hari sudah cukup,” kata dokter jaga sembari pamit, kecuali Akbar yang tetap tinggal di kamar itu.Netranya tak sengaja melihat map putih yang ada di meja. Tanpa basa basi ia langsung mengambil dan membaca isinya.“Cepat cari gantinya deh. Niken mungkin … sebelum di ambil Wira,” bisik Akbar yang langsung mendapat sikutan di perutnya.Jerit Akbar membuat Riana, Azka, dan Niken yang baru keluar dari kamar mandi menoleh ke arah mereka.“Dante m
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal
Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai







