Share

PESONA LELAKI PLUS-PLUS
PESONA LELAKI PLUS-PLUS
Author: IRSADE

BAB 1

Author: IRSADE
last update publish date: 2026-07-10 22:55:07

Jam 11 malam. Aku masih ngelap meja nomor 7 di Kafe Senja. Udah 3 kali muter di tempat yang sama. Pikiran entah kemana.

"Macho, tip malam ini 32 ribu," kata Mbak Dita sambil menaruh receh di tanganku.

Aku angguk. 32 ribu. 8 jam kerja. Cukup buat beli bensin 2 liter.

Di pojokan, ada 4 ibu-ibu kantor masih nongkrong. Salah satunya bisik-bisik sambil ngelirik aku.

"Itu loh kasirnya. Anak kuliahan kali ya. Kasihan."

"UMR juga kali. Pantas bajunya gitu-gitu aja."

Aku senyum. Pura-pura bodo amat. Buang sampah ke belakang.

Di toilet aku ngitung lagi. Gaji 1,3. Kost 600. Bensin 300. Sisa 400 buat 30 hari.

400 bagi 30. 13 ribu sehari.

Monologku:

Dua bulan lalu ayah ibu tabrakan. Sekarang aku sendirian. Ngekos. Kuliah semester 1. Semua biaya numpuk. TV sama kulkas udah kejual. Tinggal kasur sama kipas.

Harus kuat. Gak mau jadi beban siapa-siapa.

Keluar kafe aku jalan kaki. Motor mogok 3 hari. Dompet tipis. Aku berjalan dengan gontai walau pikiranku berkecamuk kayak nyamuk banyak berdengung di kepalaku.

Trotoar sepi. Cuma ada Pak Udin jualan cilok mau tutup.

Terus aku lihat dia.

Tante-tante. Dress merah darah. Belahan dada dalam. Heels tinggi. Rambut klimis. Duduk di kursi plastik sambil main HP dan ngerokok. Aku tertegun sejenak. Wanita, tengah malam dan gayanya yang seperti bukan wanita yang “benar.”

Cantiknya kelewatan. Auranya mahal. Bukan level aku. Dan aneh rasanya, jam segini masih berkeliaran. Apa nggak ada anak atau suami?, pikirku sambil tetap menengoknya.

Dia lihat aku. Mata kita ketemu.

Deg. Cepat-cepat aku menundukkan kepala takut dengan pikiranku sendiri yang berburuk sangka padanya.

Pesan cilok aja.

"Pak, 10 ribu."

Pak Udin racik. Wangi bawang gorengnya bikin perut keroncongan. 3 hari ini aku makan nasi kecap.

"Sepuluh ribu ya Mas," kata Pak Udin.

Tanganku masuk kantong. Ada 20 ribu. Uang terakhir.

Tiba-tiba lidahku kelu.

"Eh... jadi gak jadi Pak. Maaf."

"Apaan Mas! Udah aku racik ini!"

Orang di seberang pada nengok.

Aku melirik di sekitarku. Malu. Pengen nyungsep rasanya. Wajahku memerah. Dan dia datang, tepat disebelahku.

"Nih Pak, saya bayarin," tiba-tiba ada suara dari samping.

Tante itu. Udah berdiri di sebelahku. Ngeluarin 20 ribu dari dompet kecilnya.

"Kembalian gak usah."

Pak Udin diem. Ambil uangnya.

Tante itu nengok ke aku. "Kenapa? Lagi bokek?"

Aku melirik ke wajahnya. Bahkan sangat cantik dilihat dari dekat. Aroma parfum mahal nan lembut menyapa penciumanku. Aku geleng cepat. "Enggak Tante. Lagi diet."

Dia ketawa kecil. "Diet cilok? Baru denger aku."

Tanpa permisi, dia ambil 1 tusuk cilok dari bungkusan di tanganku. Nyicip. "Enak juga."

Aku hanya terpelongo dengan aksinya. Seakan tak percaya apa yang barusan terjadi.

Hening.

Terus dia ngomong pelan. "Kamu temenin Tante yuk."

Aku kaget. Aku memandangnya Lekat-lekat. Tengah malam, wanita cantik yang mengajak untuk menemani nya, aneh. Lalu aku cuma ngomong karena terkejut, "Hah? Temenin kemana Tante?"

"Aku kesepian. Bayarnya ya cilok tadi. Gimana?.”

Antara terkejut dan penasaran. Entah apa maksud tante ini sebenarnya. Tapi…baiklah, aku coba meladeni kemauan Tante ini.

"Tapi ngobrolnya dimana Tante? Warung kopi?"

Dia tersenyum dengan kepolosanku. Tante itu melirik dari atas sampai bawah. Seakan-akan berkata bahwa begitu polosnya aku berkata demikian.

"Warung kopi sudah tutup, Sayang. Ke hotel aja. Lebih tenang. Gak ada yang ganggu."

“Ke hotel??, berdua??... Ah.. Nggak mau… makasih Tan, aku pulang.”

Aku melangkah cepat ingin meninggalkannya. Tapi dia kemudian memanggilku.

“Tunggu!!.”

Aku berhenti sejenak. Langkah kaki menyusul setengah berlari dengan kakinya yang jenjang. Hembusan angin yang menerpa gaunnya, menyibakkan betisnya yang halus dan mulus.

Dan aku, melihat itu semua. Apalagi saat berlarian, gaun model “V” rendah membuat gundukan di balik blouse nya ikut berguncang. Aku menelan ludah.

“Dengar, Aku ngajak kamu nemani karena Aku butuh teman ngobrol. Aku lagi kesepian. Dan biar relax aku pengen kita ngobrol di hotel. Clear?.”

Aku menatap kembali wajahnya. Wajah kesepian. Di Balik bola mata nya tersimpan duka dan masalah. Dia kayaknya jujur dan tak ada salahnya aku menemani nya. Begitulah batin dan pikiranku saling membenarkan ucapan si tante itu.

“Tante nggak macem-macem kan.?”

“Suer la kewer-kewer. Aku nggak macem-macem sama kamu, cukup satu macam aja.”

Sejenak aku ragu. Tapi rasa penasaran membuatku ikut melangkah ke seberang jalan, menuju Civic merah yang terparkir, tempat dimana pandangan mata kami beradu tadi.

“Yuk, masuk.”

Aku manut kayak kerbau cucuk hidung. Aroma parfum mobil yang menyegarkan, membuat aku mencicipi sejenak kesegaran di dalamnya.

“Depan aja, biar enak ngobrolnya.”

Aku kembali menutup pintu belakang dan beralih disampingnya. Tentunya aku gugup, apalagi gaun lengan terbuka dan aroma tubuhnya yang menggoda membuat aku kikuk.

Untuk menormalkan suasana, kuberanikan diri bertanya.

“Tante dari mana dan mau kemana?.”

Dia menoleh sesaat, lalu kembali fokus melihat depan.

“Aku lagi sumpek nih. Bosen nggak ada kesibukan. Suami juga lagi dinas. Makanya cari suasana agar nggak sumpek.”

"Sibuk banget ya suami Tante?" tanyaku iseng.

Dia nengok. Tatapannya kosong. "Sibuk. Katanya keluar kota terus. Rapat. Bisnis."

"Terus Tante di rumah sendirian?"

"Iya." Dia ketawa getir. "Rumah gede. Dingin. Sepi."

Aku diem. Mulai ngerti. Ini bukan soal ngobrol.

Sampai Hotel Bintang lima. Dia memarkirkan mobil di parkiran hotel. Lalu bersama keluar menuju meja resepsionis. Mas resepsionis melirik dari atas sampai bawah.

"203. 1 bed," kata Tante Bianca.

"Lho Bu, 1 bed?"

"Iya. Dia keponakan saya." Dia langsung ngerangkul aku. Aku kaku kayak patung. Hanya tertegun dengan pengakuan tante tadi dan sikapnya yang santai merangkul aku.

Aneh

Kamar dingin. Sprei putih bersih. Bau pewangi.

Tante Bianca langsung lepas heels. Duduk di ranjang. Aku duduk di kursi pojokan.

"Kenalan dulu. Aku Bianca. Panggil Tante Bian aja."

Aku salim. M. Choki Tante. Panggil Macho."

"Nama bagus. Macho. Cocok sama badannya," katanya sambil ngelirik dari atas ke bawah.

Aku nunduk. Salah tingkah.

"Jadi Tante kesepian kenapa?" tanyaku memberanikan diri.

Sesaat dia menoleh aku dan memandang erat-erat. Lalu tertawa kecil. Bukan tertawa lucu, lebih mirip tertawa atas penderitaannya.

Aku bisa membedakan antara tertawa senang dan lucu atau tertawa menutupi getir dan gelisahnya perasaan si tante.

Dia tiduran, menatap langit-langit.

"Suami Tante sibuk. Seminggu pulang sekali. Katanya kerja. Tapi Tante tau... dia pasti ada perempuan lain."

Suaranya datar. Tapi ada perih di situ.

"Terus ngajak aku kesini..."

"Kamu beda, Macho. Dari mata kamu kelihatan capek. Capek jadi orang susah, ya? Tante juga capek. Capek tidur sendirian di ranjang dingin."

Aku diem. Karena bener.

"Iya Tante. Capek. Capek ditolak karena gak punya apa-apa. Capek kerja 8 jam cuma dapat 32 ribu."

Tante Bianca duduk di sebelahku. Wangi parfumnya nusuk.

"Mau minum? Biar rileks."

Aku mencium aroma alkohol dan minuman berkelas. Aku menolak. "Gak Tante. Aku gak bisa minum."

HP dia bunyi. Nama: SUAMI.

Dia liat. Terus reject. Buang HP ke meja.

"Lihat? Gak pernah nanya udah makan. Taunya transfer doang," bisiknya.

Terus dia deketin wajahnya. Jarak sejengkal. "Gimana kalau Tante bayar kamu 500 ribu? Temenin Tante semalaman. Ngobrol aja. Ngangenin."

500 ribu. Bisa buat bayar kos 1 bulan.

Tanganku gemetar.

"Gak Tante. Aku pulang aja."

Aku berdiri ke arah pintu.

"Macho," dia manggil.

Aku berhenti.

"Kalau kamu keluar sekarang, besok kamu tetap susah. Lusa juga. Tapi kalau kamu tetap di sini... Tante bisa bantu kamu. Beneran. Tante butuh ditemenin."

Pintu udah kebuka dikit. Angin masuk.

Dari belakang dia berbisik di kupingku. Nafasnya hangat. "Pilih, Macho. Jadi anak baik yang miskin... atau jadi anak pintar yang dibayar buat ngusir dingin di ranjang Tante?"

Aku nengok. Jarak kami mepet banget. Mata dia merah. Bukan karena nangis. Karena nahan.

"Tante... maksudnya apa?" tanyaku pelan.

Dia senyum. Cantik. Tapi rapuh.

"Kamu tau, Macho. Kamu cuma pura-pura gak tau aja."

Aku tercekat. Antara tawaran yang menggiurkan dan kenyataan hidup yang menggetirkan.

Aku yatim. Gak ada yang nolongin. Kalau nolak, besok makan apa. Kalau iya, aku jadi apa. Pelakor? Penghibur?

Tuhan... ini ujian apa jebakan sih?

HP Tante Bianca getar lagi di meja. Nama yang sama. SUAMI.

Dia gak angkat. Matanya tetap ke aku.

"Jadi gimana? Pintu... atau Tante?"

Handle pintu dingin di tangan kananku.

Di belakangku, Tante Bianca panas. Dan kesepian.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 90

    UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 89

    LAMARAN YANG DITOLAK WARGAPagi setelah makan nasi liwet itu, warung Ine tidak buka.Pintu bambu ditutup setengah. Di papan tulis kecil yang biasanya bertuliskan Ayam Goreng 12rb, Kopi Hitam 5rb, Ine menulis dengan kapur:TUTUP. ADA LAMARAN.Warga Cianjur yang lewat, berhenti. Membaca. Lalu berbisik."Lamaran siapa?""Si Macho itu katanya mau ngelamar si Devi.""Devi anaknya Pak Ustadz Rohman? Yang jilbabnya panjang itu?""Ya Allah. Jangan."Jam delapan pagi, sebuah angkot berhenti di depan warung. Turun tiga orang.Pak Rohman. Ibu Rohman. Dan Devi.Pak Rohman tidak memakai baju koko. Ia memakai kemeja batik yang rapi. Tapi wajahnya keras. Ibu Rohman menggandeng Devi erat, seperti takut Devi lari.Di dalam warung, semua sudah siap. Bukan siap pesta. Siap sidang.Arman duduk di bale tengah, memakai kemeja putih bersih yang baru dibeli Ine semalam di pasar. Tato naga di lehernya ia tutup dengan plester. Di sebelahnya, Macho. Macho memakai baju batik pinjaman Franz, kebesaran di bahu. Ra

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 88

    BENGKEL YANG DIBAKAR OLEH AIBMalam setelah Porsche putih Vania penyok itu pergi, warung Ine tidak langsung tenang.Justru malam itulah Arman tidak bisa tidur.Ia duduk di bale bambu sendirian, memegang foto lama yang diberikan Vania. Foto Mirna, adik angkarnya, yang meninggal tahun lalu. Di foto itu Mirna masih muda, masih memakai seragam pegawai negeri sipil Kementerian PUPR. Di samping Mirna, Arman yang masih gagah dengan kemeja putih dan dasi, belum ada tato naga di lehernya.Itu foto ahun sebelum semuanya hancur.Arman ingat betul tahun itu. Tahun di mana ia masih menjadi staf penting di Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Di siang hari ia rapat proyek jalan tol. Di malam hari ia menjadi Godfather Arman, yang menguasai lendir dan narkoba di Blok M, Senopati, dan jaringan pub kelas atas Jakarta.Dua kehidupan yang ia jalani dengan rapi. Sampai Bianca, germo kepercayaan Arman, melakukan kesalahan besar.Bianca adalah induk semang Macho dan Franz.Macho bukan anak pung

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 87

    Vania berdiri, masih senyum. Dia buka tas Hermes-nya, keluarkan tiga gepok uang, 100 ribuan masih diikat karet bank, lempar ke bale bambu. Uang itu jatuh, berhamburan."Ini 30 juta cash. Buat kamu. Ambil. Temenin aku siang ini aja."Semua diam melihat uang itu.Arman berdiri, kaki diplesternya sakit, tapi dia jalan ke depan. Dia pungut uang itu satu per satu, dengan tangan gemetar, lalu kembalikan ke tas Vania."Maaf, Mbak," kata Arman, sama seperti kemarin, jadi bapak yang mau menyatukan keluarga. "Anak saya tidak dijual."Vania kaget melihat Arman. "Bapak siapa?""Bapaknya," kata Arman.Vania mendengus, ambil tasnya, keluar. Tapi sebelum masuk Porsche, dia teriak dari depan."Kalian pikir cuma aku? Grup Rani isinya 80 orang! Semua sudah lihat foto kalian! Mereka semua OTW Cianjur hari ini! Kita lihat warung kampung ini tahan berapa lama!"Porsche putih itu pergi dengan suara knalpot keras.Belum lima menit, datang lagi. Kali ini Alphard putih lain. Turun dua perempuan, lebih muda, p

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 86

    Sore itu Cianjur seperti ditahan napasnya.Alphard hitam Rani sudah hilang di tikungan, tapi debu halusnya masih menggantung di depan warung Ine. Bau parfum mahal Rani masih tertinggal, bercampur bau gorengan dan kopi.Tidak ada yang bicara.Devi masih memegang tangan Macho. Kuku-kukunya menancap. Bukan manja. Menahan. Takut kalau dilepas, Macho akan ditarik kembali ke Jakarta yang dulu.Kirana masih memegang lengan Franz. Erat sekali sampai buku-buku jarinya putih. Wajahnya merah bukan karena malu lagi, tapi karena marah yang tidak tahu harus dilempar kemana.Ine yang di teras, napasnya pendek-pendek. Tangannya masih di dada. Arman berdiri di sampingnya, kaki diplester itu gemetar karena terlalu lama menahan berat badan, tapi tangannya menggenggam tangan Ine kuat.Yang pertama bersuara adalah Ine."Tutup warung setengah hari," katanya pelan.Arman mengangguk. "Tutup."Macho langsung mengerti. Dia balik badan, menurunkan setengah rolling door yang berderit keras. Bunyi itu memecah sep

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 85

    Jam dua siang. Xenia putih baru masih bau dealer parkir di depan warung Ine yang ramai. Warung makanan masih buka setengah, warung serba ada juga buka, pembeli keluar masuk beli rokok dan galon.Empat orang baru pulang dari Puncak. Macho nyetir, kepala masih diperban, tapi matanya lega habis liburan. Devi di sebelahnya, rambutnya masih agak berantakan kena angin Puncak, pipinya merah dingin, tangannya masih gandeng tangan Macho di bawah dashboard, tidak lepas sejak warung kopi tadi. Di belakang Kirana dan Franz, Kirana sandaran kepalanya ngantuk di bahu Franz, Franz diam, tidak bergerak, biarin Kirana tidur di bahunya, padahal bahunya pegal.Ine dan Arman di teras lihat Xenia putih datang, senyum ceria, bahagia. Cita-citanya menyatukan keluarga mulai terkabul, anak-anak pulang liburan bareng, dua pasang yang lagi kasmaran."Bagaimana liburan?" tanya Ine waktu mereka turun."Seru, Ma," kata Kirana, masih ngantuk, langsung peluk Ine. "Puncaknya dingin."Arman lihat Macho gandeng tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status