LOGINTanpa ragu Bianca menarik pergelangan tanganku. Tarikannya lembut tapi pasti, sampai tubuhku terdorong dan duduk di tepi ranjang bersamanya.
Terlalu dekat. Aroma parfumnya bukan parfum murah. Mahal. Lembut. Tapi begitu masuk ke hidung, kepalaku langsung pusing. Wajahnya hanya sejengkal dari wajahku. Kulitnya bersih, bibirnya merah muda, matanya menatapku tanpa berkedip. Seolah sedang menimbang. Tangannya turun. Mendarat di pahaku. Hangat. Jari-jarinya bergerak pelan, seperti menguji. Lengan kami bersentuhan dan ruangan itu mendadak kehilangan suara. “Maksud Tante apa?” Suara aku keluar pelan, mencoba menahan gugup. Aku berusaha terdengar tenang, tapi gagal. Bianca tersenyum tipis. “Aku tahu kamu anak kos. Masih baru kuliah, ya?” Aku terkejut. "Kok Tante tahu?" "Karena aku memperhatikan." Ia menunduk, memainkan ujung jarinya di pahaku. "Kamu tiap pulang kuliah selalu lewat depan butikku. Beli indomie, duduk di depan kos, baca buku sambil nunggu jemuran kering." Darahku berdesir. Aku bergeser sedikit, memberi jarak. Polos. Bodoh. Tenggorokanku kering. "Terus... ngajak kesini buat apa?" Ia mengangkat wajah. Tatapannya lurus ke mataku. "Menurut kamu, Macho, kalau seorang wanita umur tiga puluh lima mengajak cowok umur dua puluh tahun ke hotel, tujuannya buat ngobrol soal skripsi?" "Aku... kesepian," katanya pelan. Hampir seperti bisikan. "Rumahku besar. Dingin. Suamiku sibuk. Aku butuh hangat." Kata itu menghantamku. Aku bergeser. Jarak dua jengkal. Tubuhku bergetar bukan karena takut. Karena bingung. Bianca berdiri. Dengan tenang ia menarik ujung kaosnya ke atas. Satu tarikan. Kaos itu lepas, memperlihatkan perut rata dan BH pink yang menahan dua bukit montok. Lalu tangannya ke pinggang, membuka kancing jeans. Resletingnya turun pelan, menimbulkan suara ssst yang membuat nafasku tercekat. "Apa yang tante lakukan?" tanyaku. Suaraku serak. Ia tidak menjawab. Hanya senyum. Dalam hitungan detik yang terasa lambat, yang tersisa hanya pakaian dalam berwarna pink. Kulitnya putih, tubuhnya mengundang. Aku menelan ludah. Di kepalaku dua suara bertarung. Satu menyuruh lari. Satu lagi menyuruh tetap duduk dan melihat. Logika dan nafsu bertarung di kepalaku. Nafsu menang. “Kenapa diam saja?” bisiknya manja. Ia mendekat lalu duduk di pangkuanku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya. Nafasku kacau. Berat tubuhnya menekan. Panas. Aku bisa merasakan setiap lekuk tubuhnya melalui kulitku. Nafasnya hangat di leherku. Tangannya naik ke rambutku, mengacak pelan. Dadanya menempel di daguku. Lembut. Kenyal. Jari-jarinya menyusup ke rambutku. Nafasnya hangat di telingaku. Dadanya menempel di daguku. Dan di bawah sana, aku sudah tidak bisa menyangkal lagi. "Buka," perintahnya. Pelan. Tapi membuatku tidak bisa menolak. Aku berdiri. Tangan gemetar melepas kaos. Lalu jeans. Saking buru-burunya, kaki kiriku menginjak ujung celana. Tak. Bugh. Aku jatuh ke ranjang, terlentang dengan posisi konyol. Bianca tertawa. Tawa lepas yang menggema di kamar. Ia memegang perutnya. "Ya ampun Macho..." Wajahku merah. Malu, marah, dan nafsu bercampur jadi satu. Aku bangkit dan kali ini melepas semuanya dengan benar. Saat akhirnya aku benar-benar telanjang, ia tidak tertawa lagi. Matanya menatapku. Bukan ke wajahku. Ke bawah. Matanya turun. Menatap. Nafasnya tertahan. "Macho..." gumamnya. "Kamu... besar. Dan muda." Ada bangga aneh yang muncul di dadaku. Pujian dari wanita secantik dia. Tubuhnya sempurna. Lengkung pinggul, dada yang penuh, dan lekuk di antara pahanya membuat kepalaku kosong. Bianca mendekat. Tangannya menyentuh dadaku, turun ke perut, berhenti di bawah. Genggamannya lembut tapi kuat. Tangannya yang lain melingkar ke pinggang, menarikku lebih dekat. Ia menatapku. Lama. Seakan bertanya dengan mata. Lalu ia berlutut di depanku. Dunia di kepalaku kosong. Aku memejamkan mata. Menikmati. Ini yang selama ini hanya ada di khayalan. Yang ada hanya sensasi. Hangat. Basah. Dalam. Ritme yang awalnya lambat, lalu semakin cepat. Nafas terputus-putus. Tanganku tanpa sadar meremas rambutnya. Setiap kali ia mendongak, matanya bertemu dengan mataku. Ada nakal di sana. Ada menang. Tubuhku mengejang. Nafasku tertahan. Dan akhirnya aku menyerah pada gelombang yang menghantam. Bianca menerima semuanya. Tanpa protes. Ia berdiri, mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu berjalan ke kamar mandi. Pintu tertutup. Aku terduduk. Lutut lemas. Perjakaku hilang. Di tangan wanita yang aku tidak tahu statusnya. Tapi anehnya, di dada tidak ada sesal. Hanya ada kosong... dan ingin lagi. Dari kamar mandi terdengar suara air. Beberapa menit kemudian Bianca keluar. Handuk melilit di tubuhnya, masih basah, masih wangi. Bianca keluar dengan handuk putih melilit di tubuhnya. Basah. Wangi. Rambutnya menetes. Ia menatapku dari atas sampai bawah. "Tongkat sakti sudah berdiri lagi. Hebat kamu." Ia terkekeh. "Mandi dulu. Biar segar. Kita belum selesai." Aku masuk kamar mandi. Air dingin mengguyur tubuhku tapi tidak memadamkan apa-apa. Saat keluar, Bianca sudah duduk di depan cermin, memakai lipstik. Aku berdiri di belakangnya. Tiba-tiba ia memelukku dari belakang. Hangat. Lembut. “Kamu hebat dan luar biasa, Macho. Untuk pertama kali, kamu tahu cara membuat wanita merasa dibutuhkan.” Jantungku berdegup. Aku berbalik menghadapnya. Sangat dekat. Tanpa kata, bibir kami bertemu. Awalnya lembut. Lalu semakin dalam. Tangan kami saling mencari. Tiba-tiba ia meraih tanganku dan menarikku. Pelukannya dari belakang. Erat. "Kamu luar biasa, Macho. Untuk pertama kali, kamu tahu cara membuat wanita merasa hidup." Bisiknya di telingaku membuat bulu kuduk berdiri. Aku berbalik. Menghadapinya. Jarak kami hanya napas. Tanpa aba-aba bibir kami bertemu. Awalnya lembut. Mencari. Lalu menjadi lapar. Lidah kami bertaut. Tangannya naik ke tengkukku, tanganku turun ke pinggangnya, ke punggungnya, ke bawah handuk itu. Hingga akhirnya ia mendorongku pelan. Aku jatuh ke ranjang. Ia naik ke atasku. Menunggangi. Rambutnya terurai menutupi wajah kami berdua. Ia menuntun. Pelan. Mengatur napas. Menatapku dengan mata yang berkaca. Lalu pelan-pelan, ia menurunkannya. Sakit dan nikmat datang bersamaan. Ia mendesah pelan di awal, lalu semakin dalam semakin cepat. "Gede ya..." desahnya. "Isi aku, Macho." Kami tenggelam. Dalam pelukan, dalam desah, dalam kesalahan yang sama-sama kami inginkan. Kamar itu penuh dengan suara. Napas, desah, gesekan kulit. Aku menggenggam pinggangnya, membantunya. Ia melempar kepala ke belakang, punggungnya melengkung. Kami bergerak bersama. Saling menuntut. Saling memberi. Sampai akhirnya tubuhku kembali menegang dan ia ikut menjerit pelan, mencakar punggungku. Sampai akhirnya semua berakhir. Kami terkapar, berdampingan, kehabisan tenaga. Dada naik turun. Keringat membasahi sprei. Monologku: Ini salah. Ini dosa. Ini gila. Tapi kenapa rasanya seperti pulang? Bianca bangkit. Mengambil ponselnya. Jarinya mengetik cepat. Wajahnya serius. Lalu ia ke kamar mandi lagi. Di ambang pintu ia berhenti. "Aku harus pergi." Aku menoleh. "Sudah selesai?" Ia diam tiga detik. "Kamu mau lagi?" Pintu tertutup. Pintu kamar mandi tertutup. Monolog Bianca dalam hati: “Dia masih polos. Kaku. Tapi jujur. Cairannya kental, hangat... dan dia gemetar saat pertama kali. Laki-laki. Selalu begitu. Tapi... kenapa dadaku terasa aneh setelah ini?” —---UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya
LAMARAN YANG DITOLAK WARGAPagi setelah makan nasi liwet itu, warung Ine tidak buka.Pintu bambu ditutup setengah. Di papan tulis kecil yang biasanya bertuliskan Ayam Goreng 12rb, Kopi Hitam 5rb, Ine menulis dengan kapur:TUTUP. ADA LAMARAN.Warga Cianjur yang lewat, berhenti. Membaca. Lalu berbisik."Lamaran siapa?""Si Macho itu katanya mau ngelamar si Devi.""Devi anaknya Pak Ustadz Rohman? Yang jilbabnya panjang itu?""Ya Allah. Jangan."Jam delapan pagi, sebuah angkot berhenti di depan warung. Turun tiga orang.Pak Rohman. Ibu Rohman. Dan Devi.Pak Rohman tidak memakai baju koko. Ia memakai kemeja batik yang rapi. Tapi wajahnya keras. Ibu Rohman menggandeng Devi erat, seperti takut Devi lari.Di dalam warung, semua sudah siap. Bukan siap pesta. Siap sidang.Arman duduk di bale tengah, memakai kemeja putih bersih yang baru dibeli Ine semalam di pasar. Tato naga di lehernya ia tutup dengan plester. Di sebelahnya, Macho. Macho memakai baju batik pinjaman Franz, kebesaran di bahu. Ra
BENGKEL YANG DIBAKAR OLEH AIBMalam setelah Porsche putih Vania penyok itu pergi, warung Ine tidak langsung tenang.Justru malam itulah Arman tidak bisa tidur.Ia duduk di bale bambu sendirian, memegang foto lama yang diberikan Vania. Foto Mirna, adik angkarnya, yang meninggal tahun lalu. Di foto itu Mirna masih muda, masih memakai seragam pegawai negeri sipil Kementerian PUPR. Di samping Mirna, Arman yang masih gagah dengan kemeja putih dan dasi, belum ada tato naga di lehernya.Itu foto ahun sebelum semuanya hancur.Arman ingat betul tahun itu. Tahun di mana ia masih menjadi staf penting di Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Di siang hari ia rapat proyek jalan tol. Di malam hari ia menjadi Godfather Arman, yang menguasai lendir dan narkoba di Blok M, Senopati, dan jaringan pub kelas atas Jakarta.Dua kehidupan yang ia jalani dengan rapi. Sampai Bianca, germo kepercayaan Arman, melakukan kesalahan besar.Bianca adalah induk semang Macho dan Franz.Macho bukan anak pung
Vania berdiri, masih senyum. Dia buka tas Hermes-nya, keluarkan tiga gepok uang, 100 ribuan masih diikat karet bank, lempar ke bale bambu. Uang itu jatuh, berhamburan."Ini 30 juta cash. Buat kamu. Ambil. Temenin aku siang ini aja."Semua diam melihat uang itu.Arman berdiri, kaki diplesternya sakit, tapi dia jalan ke depan. Dia pungut uang itu satu per satu, dengan tangan gemetar, lalu kembalikan ke tas Vania."Maaf, Mbak," kata Arman, sama seperti kemarin, jadi bapak yang mau menyatukan keluarga. "Anak saya tidak dijual."Vania kaget melihat Arman. "Bapak siapa?""Bapaknya," kata Arman.Vania mendengus, ambil tasnya, keluar. Tapi sebelum masuk Porsche, dia teriak dari depan."Kalian pikir cuma aku? Grup Rani isinya 80 orang! Semua sudah lihat foto kalian! Mereka semua OTW Cianjur hari ini! Kita lihat warung kampung ini tahan berapa lama!"Porsche putih itu pergi dengan suara knalpot keras.Belum lima menit, datang lagi. Kali ini Alphard putih lain. Turun dua perempuan, lebih muda, p
Sore itu Cianjur seperti ditahan napasnya.Alphard hitam Rani sudah hilang di tikungan, tapi debu halusnya masih menggantung di depan warung Ine. Bau parfum mahal Rani masih tertinggal, bercampur bau gorengan dan kopi.Tidak ada yang bicara.Devi masih memegang tangan Macho. Kuku-kukunya menancap. Bukan manja. Menahan. Takut kalau dilepas, Macho akan ditarik kembali ke Jakarta yang dulu.Kirana masih memegang lengan Franz. Erat sekali sampai buku-buku jarinya putih. Wajahnya merah bukan karena malu lagi, tapi karena marah yang tidak tahu harus dilempar kemana.Ine yang di teras, napasnya pendek-pendek. Tangannya masih di dada. Arman berdiri di sampingnya, kaki diplester itu gemetar karena terlalu lama menahan berat badan, tapi tangannya menggenggam tangan Ine kuat.Yang pertama bersuara adalah Ine."Tutup warung setengah hari," katanya pelan.Arman mengangguk. "Tutup."Macho langsung mengerti. Dia balik badan, menurunkan setengah rolling door yang berderit keras. Bunyi itu memecah sep
Jam dua siang. Xenia putih baru masih bau dealer parkir di depan warung Ine yang ramai. Warung makanan masih buka setengah, warung serba ada juga buka, pembeli keluar masuk beli rokok dan galon.Empat orang baru pulang dari Puncak. Macho nyetir, kepala masih diperban, tapi matanya lega habis liburan. Devi di sebelahnya, rambutnya masih agak berantakan kena angin Puncak, pipinya merah dingin, tangannya masih gandeng tangan Macho di bawah dashboard, tidak lepas sejak warung kopi tadi. Di belakang Kirana dan Franz, Kirana sandaran kepalanya ngantuk di bahu Franz, Franz diam, tidak bergerak, biarin Kirana tidur di bahunya, padahal bahunya pegal.Ine dan Arman di teras lihat Xenia putih datang, senyum ceria, bahagia. Cita-citanya menyatukan keluarga mulai terkabul, anak-anak pulang liburan bareng, dua pasang yang lagi kasmaran."Bagaimana liburan?" tanya Ine waktu mereka turun."Seru, Ma," kata Kirana, masih ngantuk, langsung peluk Ine. "Puncaknya dingin."Arman lihat Macho gandeng tangan







