Share

BAB 4

Author: IRSADE
last update publish date: 2026-07-10 23:00:01

Bianca dan Lidya hanya diam. Seakan-akan tidak mendengar pertanyaanku tadi. Aku mengulangi kembali pertanyaan tadi. 

“Lha… Kok kita larinya ke taman?.”

Bianca matiin mesin. Suasana jadi sunyi. Cuma suara AC.

“Tau nggak, Macho. Parfum kamu itu membuat Lidya dari tadi mau mual. Aku juga dah nggak tahan nyium aroma parfummu. Itu merk apaan sih?.”

Aku tertunduk malu dan nyengir mendengar penjelasan Bianca. 

“Maklumlah, Bian. Aku kan anak kuliahan. Lagian, aku gak punya duit beli yang aneh-aneh. Berapa sih emangnya duit seorang pelayan kafe. Hadeh.. “

Aku hanya tepuk jidat menjawab pernyataan Bianca. Kami bertiga kemudian duduk di bangku taman dan memandang orang-orang yang jogging dan jalan-jalan sekitar taman. Kami saling diam memperhatikan sekelilingnya. Aku menoleh dan memandang Bian dan Lidya yang tampil ciamik. Walau kelihatan santai tapi casual yang dipakai sangat serasi dipadu dengan baju kaos yang super ketat menonjolkan kewanitaannya. 

“Oh ya, ngomong-ngomong tadi katanya mau bicara sesuatu. Apa ya kira-kira, buat penasaran aja.”

Bianca nengok ke belakang. Tatapannya beda. Nggak main-main.

“Macho,” katanya pelan. “Ide gila itu... bukan cuma nemenin dinner.”

Lidya nyambung: “Kami butuh orang yang bisa dipercaya. Yang pintar jaga rahasia. Yang... mau dibayar mahal buat jadi ‘teman’ kami.”

“Apa?”

“Kamu nggak boleh cerita ke siapa-siapa. Termasuk Mbak Dita. Termasuk guru kamu. Dan... kamu harus siap ninggalin sekolah dulu 3 bulan.”

Darahku dingin. 10 juta. Itu buat bayar sekolah 1 tahun dan kos.

Tanganku gemetar. Aku ngelirik Bianca. Bibirnya dekat. Wangi.  

Dia mendekat lagi. Jarak tinggal sejengkal.

“Macho...” bisiknya.

Aku bisa ngerasain napasnya. Bau parfum mahal dan kulit lembut menawan. Dia beringsut menjauh dan kembali menatapku. 

Aku balas menatapnya. Jantungku tidak tenang.  

"Aku punya empat orang teman. Semuanya perempuan. Usia 35 sampai 45 tahun. Mereka kaya. Suaminya sibuk. Pacarnya tidak setia. Mereka kesepian, Macho."

"Terus?" tanyaku hati-hati.

"Mereka butuh teman. Teman yang muda. Yang mau mendengarkan. Yang mau menemani makan malam, ke acara, atau sekadar jalan."  

Bianca berhenti sebentar. "Dan mereka bersedia membayar mahal untuk itu."

Darahku naik ke kepala. "Maksudmu..."

"Pendamping," potong Lidya cepat. "Kita sebut saja pendamping. Bukan yang kamu pikirkan. Setidaknya, tidak harus."

Aku berdiri. "Bianca. Aku bukan seperti itu."

"Duduk," suaranya tegas tapi pelan.  

Aku menurut. Lututku lemas.

"Tiga hari lalu aku ditipu. satu miliar hilang. Rekening dibekukan. Kartu kredit diputus. Aku panik," kata Bianca. Matanya kosong menatap langit. "Lalu aku kepikiran. Aku kenal banyak perempuan yang punya uang tapi tidak punya waktu. Kenapa tidak aku pertemukan dengan laki-laki yang butuh uang tapi punya waktu?"

"Kenapa aku?" suaraku bergetar.  

"Karena kamu menolak uang 500 ribu kemarin," jawab Bianca. "Itu artinya kamu masih punya harga diri. Dan itu yang mereka cari. Laki-laki yang tidak terlihat putus asa."

Aku mengepalkan tangan.  

Di kepalaku berisik. Kos nunggak dua bulan. Motor di bengkel.  

Tapi disisi lain, ini salah. Ini kotor.

"Bagaimana kalau ada yang menuntut lebih?" tanyaku.  

"Itu pilihanmu," kata Bianca. "Aku hanya perantara. Aku ambil 30 persen. Kamu 70 persen. Tidak ada paksaan. Tidak ada kontrak. Tidak ada hukum yang melarang laki-laki menemani perempuan makan malam."

Dia mengeluarkan ponselnya. Layar menunjukkan notifikasi transfer. 5 juta rupiah.  

"Anggap ini uang muka. Tidak ada tekanan. Kalau tidak mau, kembalikan besok."

Lima juta. Empat bulan gajiku di kafe.  

Aku menutup mata. Menarik napas.  

"Berapa lama?" tanyaku akhirnya.

"Selama kamu sanggup," jawab Bianca. "Capek, berhenti."

"Oke," kataku lirih. "Sekali. Aku coba sekali."

Bianca tersenyum. Senyum yang seperti kemenangan. "Bagus."

Keesokan paginya, mobil Alphard hitam sudah menunggu di depan kos.  

Seharian aku di salon. Potong rambut. Facial. Baju baru. Jam tangan. Sepatu.  

Ketika bercermin, aku hampir tidak mengenali diri sendiri.  

"Ini kamu," kata Bianca sambil merapikan kerah bajuku. Jarinya sempat menyentuh leherku. Hangat. "Hati-hati. Kamu terlalu tampan sekarang. Bisa bikin masalah."

Malam itu klien pertama. Seorang wanita bernama Bu Lita.  Lita datang jam 7 malam. Usia 42 tahun. Gaun navy selutut, anting mutiara, wajah lelah tapi tetap dipoles.Lita duduk. Menatap Macho dari atas ke bawah lalu tersenyum kecil.

" Kamu Macho ya? Anaknya Bianca? "  

" Iya. Selamat malam, " jawab Macho.  

" Panggil Lita saja. 'Bu' bikin saya merasa tua. "  

" Baik... Lita. "

Hening beberapa detik. Pelayan datang meletakkan air.

" Gugup? " tanya Lita.  

" Sedikit. Ini pertama kali saya makan malam seperti ini, " aku Macho jujur.  

" Sama. Saya juga pertama kali makan malam dengan orang yang tidak menuntut apa-apa. " Lita tertawa pelan. " Bianca bilang kamu pendengar yang baik. Benar? "  

" Saya akan berusaha. "

Lita mengaduk minumannya dan menatap keluar jendela.

" Kamu kerja apa, Macho? "  

" Dulu di kafe. Sekarang... membantu Bianca untuk beberapa urusan. "  

" Berapa umurmu? "  

" Dua puluh. "  

" Masih sangat muda. Seharusnya kamu sedang kuliah atau pacaran. "

Macho menunduk.  

" Orang tua saya sudah tidak ada. Jadi saya harus cepat dewasa, Lita. "

Lita terdiam. Tatapannya melunak.  

" Maaf. Saya tidak bermaksud... "  

" Tidak apa-apa. "

Makanan datang. Steak. Tapi belum ada yang menyentuh.

" Suami saya di Singapura. Tiga bulan sekali pulang. Anak saya kuliah di Malang. Rumah besar, isinya saya dan asisten rumah tangga, " kata Lita.  

" Pasti sepi, " jawab Macho.  

Lita tersenyum miris. " Sepi itu suara paling keras di dunia, Macho. Kamu tahu rasanya? "  

" Tahu. Kos saya juga begitu. Dulu rame. Sekarang hanya ada suara kipas angin. "

Lita menatapnya lama.  

" Bianca bilang kamu bisa membuat orang merasa didengarkan. Boleh saya coba? "  

" Silakan. "

" Aku capek, Macho. Capek jadi istri yang hanya diingat saat butuh tanda tangan. Capek jadi ibu yang anaknya hanya telepon kalau butuh uang. Kadang aku berpikir, kalau aku menghilang seminggu, ada yang sadar tidak? "

Macho tidak langsung menjawab. Dia menuangkan air untuk Lita dulu.  

" Saya sadar, Lita. "  

Lita terkejut kecil.  

" Maksud saya... saya ada di sini. Mendengarkan. Kalau Lita mau cerita sampai jam 12 malam pun, saya tidak akan melihat jam. "

Lita tertawa. Kali ini lepas.  

" Kamu bahaya, Macho. Ngomong seperti itu ke perempuan umur 42. "  

" Saya hanya jujur. "

Mereka mulai makan. Lita beberapa kali melirik Macho. Cara dia memotong steak, cara dia tidak memotong pembicaraan.

" Kamu pernah pacaran? "  

" Pernah. Tapi putus. Katanya saya terlalu sibuk kerja. "  

" Bodoh dia. "  

Macho kaget.  

" Iya. Melepaskan laki-laki yang mau mendengarkan itu bodoh. "

Pipi Macho memanas.  

" Terima kasih, Lita. 

Jam 10 malam. Di depan lobi hotel.  

Lita membuka tas dan menyelipkan amplop tipis ke tangan Macho.  

" Ini untuk waktumu malam ini. Terima kasih sudah tidak bertanya 'kapan pulang'. "  

" Saya... tidak enak menerima sebanyak ini. "  

" Terima. Dan satu lagi. "  

Lita maju selangkah dan menepuk bahu Macho pelan.  

" Kamu punya mata yang lelah, Macho. Tapi tetap lembut. Jaga itu. Jangan sampai dunia ini membuatmu keras. "

Tenggorokan Macho tercekat.  

" Saya akan ingat, Lita. "  

" Sampai jumpa minggu depan? "  

" Kalau Lita mau, saya ada. "

Lita masuk ke mobil. Menoleh dari jendela.  

" Hati-hati di jalan, ya. "

Mobil melaju. Macho masih berdiri, menggenggam amplop itu. Bukan karena uangnya. Tapi karena untuk pertama kalinya ada orang yang bilang "hati-hati" kepadanya tanpa pamrih.

Ponsel bergetar. Nomor Bianca.  

" Gimana? Lolos? "  

" Dia bilang... sampai jumpa minggu depan. "  

" Nah kan. Selamat datang di dunia hitam, Macho. "  

Macho menutup telepon dan menatap langit.  

Untuk pertama kalinya, dunia hitam terasa hangat.

Sebulan kemudian, hidupku berubah total.  

Aku berhenti dari Kafe Senja. Jadwal mulai padat. Senin dengan Bu Lita. Rabu dengan Tante Maya. Jumat dengan Neng Siska.  

Penghasilan masuk puluhan juta.  

Aku merekrut tiga teman. Dito, Yoga, dan Andi. Semuanya pengangguran. Aku latih mereka. "Tugas kalian hanya satu. Dengarkan. Jangan menghakimi. Jangan menuntut."

Mereka ikut. Omzet kami naik.  

Aku pindah ke apartemen 2 kamar. Ada kolam renang dan gym. Biaya 8 juta per bulan.  

Ketika teman-teman lama bertanya, jawabanku sudah siap.  

"Orang tua angkat," kataku. "Pengusaha. Tinggal di luar negeri."

Mereka percaya. Atau berpura-pura percaya.

Tapi ada harganya.

Jam dua pagi. Ponselku berdering. Nomor tidak dikenal.

"Halo. Dengan Macho?" Suara laki-laki di seberang. Dingin.  

"Benar."  

"Aku Arman. Suaminya Bianca."

Dunia berhenti berputar.

Telepon mati.

Benakku kacau penuh pertanyaan. 

—----

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 90

    UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 89

    LAMARAN YANG DITOLAK WARGAPagi setelah makan nasi liwet itu, warung Ine tidak buka.Pintu bambu ditutup setengah. Di papan tulis kecil yang biasanya bertuliskan Ayam Goreng 12rb, Kopi Hitam 5rb, Ine menulis dengan kapur:TUTUP. ADA LAMARAN.Warga Cianjur yang lewat, berhenti. Membaca. Lalu berbisik."Lamaran siapa?""Si Macho itu katanya mau ngelamar si Devi.""Devi anaknya Pak Ustadz Rohman? Yang jilbabnya panjang itu?""Ya Allah. Jangan."Jam delapan pagi, sebuah angkot berhenti di depan warung. Turun tiga orang.Pak Rohman. Ibu Rohman. Dan Devi.Pak Rohman tidak memakai baju koko. Ia memakai kemeja batik yang rapi. Tapi wajahnya keras. Ibu Rohman menggandeng Devi erat, seperti takut Devi lari.Di dalam warung, semua sudah siap. Bukan siap pesta. Siap sidang.Arman duduk di bale tengah, memakai kemeja putih bersih yang baru dibeli Ine semalam di pasar. Tato naga di lehernya ia tutup dengan plester. Di sebelahnya, Macho. Macho memakai baju batik pinjaman Franz, kebesaran di bahu. Ra

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 88

    BENGKEL YANG DIBAKAR OLEH AIBMalam setelah Porsche putih Vania penyok itu pergi, warung Ine tidak langsung tenang.Justru malam itulah Arman tidak bisa tidur.Ia duduk di bale bambu sendirian, memegang foto lama yang diberikan Vania. Foto Mirna, adik angkarnya, yang meninggal tahun lalu. Di foto itu Mirna masih muda, masih memakai seragam pegawai negeri sipil Kementerian PUPR. Di samping Mirna, Arman yang masih gagah dengan kemeja putih dan dasi, belum ada tato naga di lehernya.Itu foto ahun sebelum semuanya hancur.Arman ingat betul tahun itu. Tahun di mana ia masih menjadi staf penting di Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Di siang hari ia rapat proyek jalan tol. Di malam hari ia menjadi Godfather Arman, yang menguasai lendir dan narkoba di Blok M, Senopati, dan jaringan pub kelas atas Jakarta.Dua kehidupan yang ia jalani dengan rapi. Sampai Bianca, germo kepercayaan Arman, melakukan kesalahan besar.Bianca adalah induk semang Macho dan Franz.Macho bukan anak pung

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 87

    Vania berdiri, masih senyum. Dia buka tas Hermes-nya, keluarkan tiga gepok uang, 100 ribuan masih diikat karet bank, lempar ke bale bambu. Uang itu jatuh, berhamburan."Ini 30 juta cash. Buat kamu. Ambil. Temenin aku siang ini aja."Semua diam melihat uang itu.Arman berdiri, kaki diplesternya sakit, tapi dia jalan ke depan. Dia pungut uang itu satu per satu, dengan tangan gemetar, lalu kembalikan ke tas Vania."Maaf, Mbak," kata Arman, sama seperti kemarin, jadi bapak yang mau menyatukan keluarga. "Anak saya tidak dijual."Vania kaget melihat Arman. "Bapak siapa?""Bapaknya," kata Arman.Vania mendengus, ambil tasnya, keluar. Tapi sebelum masuk Porsche, dia teriak dari depan."Kalian pikir cuma aku? Grup Rani isinya 80 orang! Semua sudah lihat foto kalian! Mereka semua OTW Cianjur hari ini! Kita lihat warung kampung ini tahan berapa lama!"Porsche putih itu pergi dengan suara knalpot keras.Belum lima menit, datang lagi. Kali ini Alphard putih lain. Turun dua perempuan, lebih muda, p

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 86

    Sore itu Cianjur seperti ditahan napasnya.Alphard hitam Rani sudah hilang di tikungan, tapi debu halusnya masih menggantung di depan warung Ine. Bau parfum mahal Rani masih tertinggal, bercampur bau gorengan dan kopi.Tidak ada yang bicara.Devi masih memegang tangan Macho. Kuku-kukunya menancap. Bukan manja. Menahan. Takut kalau dilepas, Macho akan ditarik kembali ke Jakarta yang dulu.Kirana masih memegang lengan Franz. Erat sekali sampai buku-buku jarinya putih. Wajahnya merah bukan karena malu lagi, tapi karena marah yang tidak tahu harus dilempar kemana.Ine yang di teras, napasnya pendek-pendek. Tangannya masih di dada. Arman berdiri di sampingnya, kaki diplester itu gemetar karena terlalu lama menahan berat badan, tapi tangannya menggenggam tangan Ine kuat.Yang pertama bersuara adalah Ine."Tutup warung setengah hari," katanya pelan.Arman mengangguk. "Tutup."Macho langsung mengerti. Dia balik badan, menurunkan setengah rolling door yang berderit keras. Bunyi itu memecah sep

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 85

    Jam dua siang. Xenia putih baru masih bau dealer parkir di depan warung Ine yang ramai. Warung makanan masih buka setengah, warung serba ada juga buka, pembeli keluar masuk beli rokok dan galon.Empat orang baru pulang dari Puncak. Macho nyetir, kepala masih diperban, tapi matanya lega habis liburan. Devi di sebelahnya, rambutnya masih agak berantakan kena angin Puncak, pipinya merah dingin, tangannya masih gandeng tangan Macho di bawah dashboard, tidak lepas sejak warung kopi tadi. Di belakang Kirana dan Franz, Kirana sandaran kepalanya ngantuk di bahu Franz, Franz diam, tidak bergerak, biarin Kirana tidur di bahunya, padahal bahunya pegal.Ine dan Arman di teras lihat Xenia putih datang, senyum ceria, bahagia. Cita-citanya menyatukan keluarga mulai terkabul, anak-anak pulang liburan bareng, dua pasang yang lagi kasmaran."Bagaimana liburan?" tanya Ine waktu mereka turun."Seru, Ma," kata Kirana, masih ngantuk, langsung peluk Ine. "Puncaknya dingin."Arman lihat Macho gandeng tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status