共有

Kontrk yang Menentukan

作者: Diane Mitda
last update 公開日: 2025-09-26 14:47:04

Mata Alya masih berat ketika alarm berbunyi.

Lampu kamar yang lembut kini terasa menyiksa.

Ia menatap jendela besar di depannya, taman yang tertata rapi terlihat tenang di bawah sinar pagi, tapi hatinya kacau.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut tidak pergi. Ia berada di rumah orang yang menguasai hidupnya—bukan sekadar harta, tapi seluruh keberadaannya.

Setelah mandi cepat, Alya berdiri di depan lemari, mencoba memilih pakaian. Semua sudah disiapkan—rapi, mahal, dan terlalu sempurna untuk dirinya yang terbiasa dengan seragam pramugari dan celana jeans sederhana.

Ia memilih setelan formal hitam yang sederhana, menyesuaikan dengan instruksi Arkan: “Tampil rapi. Tidak mencolok. Tapi harus cukup untuk terlihat profesional.”

Tangannya gemetar saat memasang sepatu hak tinggi. Rasanya bukan dirinya yang mengenakan pakaian ini. Rasanya seperti topeng. Dan topeng itu harus ia pakai, atau semua yang ia cintai—utamanya ibunya—akan hancur.

Ponsel bergetar di meja. Pesan singkat muncul:

“Sarapan di ruang utama. Aku menunggu. Tepat waktu.”

Nada perintah itu terasa dingin, tapi Alya tahu satu hal: terlambat bukan opsi.

Ia menelan ludah, menutup pintu kamar, dan melangkah ke lorong.

Setiap langkahnya di lantai marmer terasa berat, bergema di mansion yang sunyi.

Di ruang utama, Arkan sudah duduk di meja panjang. Jas hitamnya rapi, rambut tersisir sempurna, wajah tanpa ekspresi.

Di depannya, laptop terbuka, secangkir kopi mengepul.

Ia menatap Alya saat masuk, seakan menilai, seakan menimbang kesalahan sekecil apa pun.

“Pagi,” ucap Alya singkat, menunduk sopan.

“Pagi,” jawab Arkan datar, tak menatap layar laptopnya.

Sunyi. Tegang. Seperti rumah itu sendiri menahan napas menunggu gerakannya berikutnya.

Arkan menunjuk kursi di seberangnya.

“Duduk. Sarapan sudah disiapkan.”

Alya berjalan perlahan, menempatkan diri di kursi.

Di depannya ada piring sederhana: telur rebus, roti panggang, dan segelas jus jeruk.

Sederhana tapi terlihat mewah.

Tapi Alya tidak tertarik. Perutnya mual, pikirannya kacau.

Ia mencoba makan pelan, menahan pandangan dari Arkan. Tapi Arkan tidak memecah kesunyian, hanya sesekali menatapnya dengan tajam, membuatnya merasa diawasi.

Setiap kunyahan terasa berat, setiap tegukan air terasa seperti diukur.

“Besok, kita akan menghadiri pertemuan dengan klien,” kata Arkan akhirnya, suara rendah.

Alya menelan ludah.

“Pertemuan…?” suaranya bergetar.

“Ya. Aku akan berada di sana. Kamu ikut. Menjadi pendamping.”

Nada suara itu datar, tapi setiap kata terasa seperti perintah hukum.

Alya tahu: menolak bukan pilihan.

Setelah sarapan, Arkan berdiri dan berjalan ke jendela besar, menatap taman.

“Siapkan diri. Jangan bicara kecuali perlu. Jangan lakukan kesalahan.”

Suaranya tenang, tapi matanya… matanya seperti jarum yang menembus kulit, menembus pikiran.

Alya menelan ludah, merasa kecil. Sangat kecil di hadapan pria ini.

Perjalanan ke gedung bisnis Arkan menggunakan mobil hitam panjang.

Di kursi belakang, Alya duduk kaku. Pemandangan kota lewat jendela terasa asing.

Ia ingin bicara, ingin menanyakan apa pun, tapi Arkan tetap diam. Hanya sesekali menatap layar tablet di pangkuannya, mengetik cepat, tanpa memperhatikan Alya.

Rasa takut bercampur dengan rasa ingin tahu.

Ia memperhatikan Arkan dari sudut mata. Cara ia bergerak, cara ia duduk, cara ia memerintah sopir… Semua sempurna.

Semua mengintimidasi.

Dan Alya sadar satu hal: dia sedang belajar satu hal penting tentang pria ini—tidak ada ruang untuk kelemahan.

Saat tiba di gedung, Arkan membuka pintu mobil untuknya, gerakan cepat dan tepat.

“Masuk. Ikuti aku.”

Alya menelan ludah. Ia mencoba berjalan seperti biasa, tapi sepatu hak tinggi membuat langkahnya terasa canggung.

Setiap orang di lobi gedung menatapnya. Alya tahu—tidak hanya karena ia baru, tapi karena aura Arkan menempel padanya.

Pertemuan itu sendiri berlangsung seperti mimpi buruk.

Arkan berbicara dengan tegas, menguasai ruang rapat.

Alya duduk di sampingnya, diam. Sesekali Arkan menoleh padanya, mengisyaratkan posisi duduk, gerakan tangan, ekspresi wajah.

Ia tidak perlu bicara. Ia hanya perlu ada. Ada, tapi tidak salah langkah.

Di perjalanan pulang, Alya merasa kelelahan.

Tangan gemetar, kaki pegal, kepala berat.

Ia menatap Arkan, tapi ia tidak berani menatap lama.

Arkan tetap tenang, tetap menguasai, tetap… tak tersentuh.

Malam itu, di mansion, Alya menutup diri di kamar.

Tangannya menggenggam selimut, napasnya berat.

Ia merasa seperti burung yang baru pertama kali terbang, tapi sayapnya dipatahkan sebelum bisa lepas dari sangkar.

Dan ketika lampu padam, bayangan Arkan terasa hadir di sudut kamarnya.

Bukan fisik, tapi cara kontraknya memerintah, cara hidupnya diatur…

Alya tahu satu hal: malam pertama ini bukan sekadar malam.

Ini adalah pengingat: dia milik Arkan, secara legal, secara total, dan setiap langkahnya sekarang berada di bawah kendali pria itu.

Ia menutup mata, mencoba tidur, tapi ketegangan tidak pergi.

Ia mendengar suara langkah yang bukan langkah manusia biasa—di pikirannya sendiri.

Setiap napas, setiap detik, terasa seperti pengukuhan.

Dan Alya sadar: kontrak satu tahun ini tidak hanya tentang uang atau utang.

Ini tentang kontrol.

Tentang bagaimana seseorang bisa memiliki seluruh keberadaan orang lain.

Ia menelan air liur.

Ia menahan air mata.

Malam ini, ia baru mulai belajar menjadi milik seseorang.

Dan besok, badai akan bertambah.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Pertemuan Pertama

    Matahari belum sepenuhnya muncul ketika mobil hitam itu meluncur keluar dari gerbang mansion. Alya duduk di kursi belakang, tangan menggenggam tas kecil, tubuh kaku. Ia merasa seperti boneka, bergerak di antara manusia, tapi setiap gerakannya diawasi. Arkan duduk di kursi depan, mata menatap jalan, wajah tetap tanpa ekspresi. Diamnya menekan, membuat setiap detik perjalanan terasa panjang. Mobil berhenti di gedung mewah, lantai dasar dipenuhi mobil-mobil mahal dan orang-orang berpakaian rapi. Alya menelan ludah. Ia tidak tahu harus menatap ke mana, atau bagaimana bertindak. Setiap langkah harus sempurna. Setiap gerak harus tepat. Satu kesalahan—dan ia tahu Arkan tidak akan segan menegurnya di depan semua orang. “Masuk,” kata Arkan singkat saat membuka pintu mobil. Alya berdiri, melangkah keluar, sepatu hak tinggi membuatnya canggung. Langkahnya terasa berat, tapi aura Arkan di sampingnya membuat semua orang yang lewat sadar akan keberadaannya. Ia bukan lagi hanya Alya Prame

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Hari Pertama

    Pagi datang terlalu cepat. Alya membuka mata, tubuhnya terasa berat seperti batu. Setiap otot menjerit, tapi ia tahu: tidak ada pilihan untuk menunda. Arkan sudah menunggu. Setelah mandi cepat, ia mengenakan pakaian yang sudah dipilihkan Arkan: setelan formal abu-abu gelap, rok pensil, sepatu hak tinggi hitam. Ia menatap dirinya di cermin, mencoba mengenali sosok yang menatap balik. Tapi wajah itu tampak asing. Mata yang dulu lincah kini terlihat lelah. Bibir yang biasa tersenyum manis kini kaku, tegang. Ini bukan dirinya. Ini topeng yang harus ia pakai. Ponsel bergetar di meja. Pesan singkat dari Arkan: “Mobil menunggu. Tepat waktu. Jangan terlambat.” Alya menelan ludah. Tidak terlambat, tidak salah gerak. Itu perintah tidak tertulis yang ia pahami dengan jelas. Ia menggenggam tas kecil, menuruni tangga, dan berjalan ke ruang utama. Arkan duduk di meja sarapan, jas hitamnya rapi, tangan mengepal di atas meja. Tatapannya ke arah Alya tajam, menembus, menilai. Ia tidak menyapa

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrk yang Menentukan

    Mata Alya masih berat ketika alarm berbunyi. Lampu kamar yang lembut kini terasa menyiksa. Ia menatap jendela besar di depannya, taman yang tertata rapi terlihat tenang di bawah sinar pagi, tapi hatinya kacau. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut tidak pergi. Ia berada di rumah orang yang menguasai hidupnya—bukan sekadar harta, tapi seluruh keberadaannya. Setelah mandi cepat, Alya berdiri di depan lemari, mencoba memilih pakaian. Semua sudah disiapkan—rapi, mahal, dan terlalu sempurna untuk dirinya yang terbiasa dengan seragam pramugari dan celana jeans sederhana. Ia memilih setelan formal hitam yang sederhana, menyesuaikan dengan instruksi Arkan: “Tampil rapi. Tidak mencolok. Tapi harus cukup untuk terlihat profesional.” Tangannya gemetar saat memasang sepatu hak tinggi. Rasanya bukan dirinya yang mengenakan pakaian ini. Rasanya seperti topeng. Dan topeng itu harus ia pakai, atau semua yang ia cintai—utamanya ibunya—akan hancur. Ponsel bergeta

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Malam yang Menelan

    Mobil hitam melaju tanpa suara di jalan tol. Lampu kota bergeser di kaca jendela, tapi Alya tidak memperhatikannya. Tangannya masih menggenggam koper, jari-jarinya gemetar. Arkan duduk di kursi depan, menatap layar tablet sesekali. Diamnya membuat udara di dalam mobil terasa berat, hampir bisa dipotong. Alya ingin bicara, ingin melawan, ingin berteriak… tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Setengah jam perjalanan. Setengah jam untuk merenungkan hidupnya yang baru saja dijual. “Ini… rumahmu?” suaranya akhirnya pecah. Arkan menatap ke kaca spion, sekilas saja. “Ya. Kamu akan tinggal di sini mulai malam ini.” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang menekan, membuat Alya merasa semua pilihan telah hilang. Mansion itu muncul di ujung jalan, besar dan megah, berdiri di atas bukit dengan gerbang besi tinggi. Lampu taman menyorot air mancur yang memercik di halaman, membentuk bayangan menari. Alya menelan ludah. Indah, tapi dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrak Tanpa Jalan Pulang

    Siap. Aku lanjutkan Bab 2 dengan gaya novel, alur tegang, emosional, dan tetap konsisten dengan tone gelap–thriller–romance seperti Bab 1. Bab 2 — Kontrak Tanpa Jalan Pulang Sebagai milik saya. Tiga kata itu terdengar lebih dingin dari ruangan ber-AC ini. Lebih dingin dari borgol. Lebih dingin dari ancaman polisi. Alya menatap Arkan seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil dipahami manusia normal. “A-apa maksud Anda… milik?” suaranya pecah. Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru meraih map hitam dari meja supervisor. Membukanya perlahan. Gerakannya santai, seperti orang yang sedang membahas laporan bisnis, bukan hidup seseorang. “Kamu dituduh membawa uang ilegal, dokumen palsu, dan identitas ganda,” ucapnya datar. “Ancaman hukuman? Minimal lima tahun. Bisa sepuluh.” Setiap angka menghantam kepala Alya. Lima tahun. Sepuluh tahun. Ibunya sendirian. Tanpa biaya rumah sakit. Tanpa dia. “Bukan saya…” bisiknya. “Saya nggak pernah—” “Saya tahu.” Alya te

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Tiket Sekali Jalan

    Langit malam selalu terlihat indah dari ketinggian tiga puluh ribu kaki. Orang-orang menyebutnya pemandangan terbaik di dunia. Bintang lebih dekat. Awan seperti kapas. Kota-kota di bawah tampak seperti gugusan cahaya kecil yang tenang. Tapi bagi Alya, langit tidak pernah benar-benar terasa indah. Langit hanya tempatnya bekerja. Tempatnya tersenyum palsu selama berjam-jam. Tempatnya pura-pura baik-baik saja. Padahal hidupnya sedang runtuh pelan-pelan. “Makeup-mu luntur, Ly. Touch up dikit,” bisik Rina di ruang kru. Alya tersentak kecil. Ia menatap cermin. Benar. Maskaranya sedikit pudar di sudut mata. Entah karena lelah… atau kurang tidur. Semalam ia tidak tidur. Tagihan rumah sakit masuk lagi. Nominalnya bertambah. Selalu bertambah. Seakan-akan angka-angka itu sengaja mengejeknya. Rp 287.450.000 Ia bahkan hafal sampai digit terakhir. Uang sebanyak itu mustahil untuk pramugari kontrak seperti dirinya. Gajinya habis untuk cicilan kos, makan, dan obat ibunya. Tabung

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status