Share

Hari Pertama

Penulis: Diane Mitda
last update Tanggal publikasi: 2025-10-01 20:42:50

Pagi datang terlalu cepat.

Alya membuka mata, tubuhnya terasa berat seperti batu. Setiap otot menjerit, tapi ia tahu: tidak ada pilihan untuk menunda. Arkan sudah menunggu.

Setelah mandi cepat, ia mengenakan pakaian yang sudah dipilihkan Arkan: setelan formal abu-abu gelap, rok pensil, sepatu hak tinggi hitam.

Ia menatap dirinya di cermin, mencoba mengenali sosok yang menatap balik. Tapi wajah itu tampak asing. Mata yang dulu lincah kini terlihat lelah. Bibir yang biasa tersenyum manis kini kaku, tegang.

Ini bukan dirinya. Ini topeng yang harus ia pakai.

Ponsel bergetar di meja. Pesan singkat dari Arkan:

“Mobil menunggu. Tepat waktu. Jangan terlambat.”

Alya menelan ludah. Tidak terlambat, tidak salah gerak. Itu perintah tidak tertulis yang ia pahami dengan jelas.

Ia menggenggam tas kecil, menuruni tangga, dan berjalan ke ruang utama.

Arkan duduk di meja sarapan, jas hitamnya rapi, tangan mengepal di atas meja. Tatapannya ke arah Alya tajam, menembus, menilai.

Ia tidak menyapa. Tidak tersenyum.

Hanya ada aturan dan ketegangan di udara.

“Pagi,” ucap Alya pelan.

Arkan mengangguk singkat.

Hening lagi. Sunyi yang sama, menekan.

Setelah sarapan cepat—sarapan yang rasanya lebih simbolis daripada untuk dinikmati—mobil hitam menunggu di luar.

Perjalanan menuju kantor klien Arkan berlangsung tanpa suara.

Alya duduk di kursi belakang, tangan menggenggam tas, kaki rapat. Mata menatap lurus ke luar jendela, tapi otaknya kacau.

Setiap detik yang berlalu adalah pengingat: ia bukan lagi Alya yang bebas. Ia milik Arkan.

Mobil berhenti di gedung tinggi, kaca hitam mengkilap, nama perusahaan terpampang besar.

Arkan membuka pintu mobil untuk Alya. Gerakannya cepat, rapi, penuh kontrol.

“Masuk. Ikuti aku.”

Nada suaranya sederhana, tapi setiap kata adalah perintah.

Alya menelan ludah. Setiap langkah di lobi gedung terasa berat. Orang-orang menatapnya.

Bukan hanya karena ia cantik atau berpakaian rapi.

Karena aura Arkan menempel padanya. Kehadirannya membuat semua orang sadar ada sesuatu yang berbeda—bahwa wanita ini bukan siapa-siapa tanpa pria di sampingnya.

Di ruang rapat, Arkan memimpin pertemuan dengan tegas.

Suara rendah, kata-kata tepat sasaran. Alya duduk di sampingnya, diam, menyalin beberapa catatan, menyesuaikan ekspresi wajah.

Setiap kali Arkan menoleh, ia menegur secara halus: “Angkat dagu, jangan menunduk.”

Atau ketika ia tersenyum terlalu cepat, Arkan menatapnya, membuatnya menelan air liur, menyesuaikan diri lagi.

Sore menjelang, pertemuan selesai. Arkan kembali membawa Alya ke mobil.

Ia duduk di sampingnya, untuk pertama kalinya, tapi tetap tidak berbicara.

Alya menahan napas. Rasanya dekat, tapi ada jurang di antara mereka—jarak yang dibuat oleh kendali, oleh ketegangan.

Mobil melaju pulang. Alya mencoba menatap Arkan diam-diam.

“Kenapa… kenapa Anda membuat semuanya begitu… sulit?” bisiknya pelan.

Arkan menoleh sebentar, tatapannya tetap datar, tapi mata itu… penuh intensitas.

“Karena kamu milikku,” jawabnya singkat.

Nada itu bukan sekadar pernyataan, tapi hukum.

Alya menelan ludah, merasa jantungnya hampir berhenti.

Di mansion, malam mulai turun. Lampu taman menyala, bayangan menari di lantai kamar Alya.

Ia mencoba mandi, membersihkan diri, tapi air hangat tidak mampu menghilangkan rasa dingin yang menempel di kulitnya.

Ia menatap cermin, melihat mata yang lelah, wajah yang pucat.

Dan sadar satu hal: ia sudah berubah.

Ia bukan lagi hanya Alya. Ia milik Arkan.

Langkah terdengar di lorong. Alya menahan napas.

Pintu diketuk pelan.

“Masuk,” ucapnya pelan, tapi suaranya terasa menunggu kesalahan sekecil apa pun.

Arkan masuk. Jas hitamnya rapi, rambut tersisir, aroma maskulin memenuhi kamar.

Ia berdiri di samping jendela, menatap taman.

“Besok, kita akan menghadiri acara resmi. Kamu harus siap. Tidak boleh salah gerak.”

Alya mengangguk, menelan ludah. Ia tahu perintah itu bukan pilihan.

Setiap malam, setiap langkah, setiap gerakannya kini adalah pengawasan.

Arkan menatapnya sekilas sebelum keluar.

Bunyi pintu menutup seperti kunci yang mengunci malam. Alya duduk di tepi tempat tidur, tangan menggenggam selimut.

Rasa takut bercampur dengan ketegangan, bahkan dengan sedikit rasa penasaran.

Ia tahu satu hal: hari pertama ini bukan sekadar hari.

Ini adalah permulaan dari kontrak yang akan menentukan hidupnya, dari malam-malam yang akan menuntutnya patuh, dan dari hubungan yang akan menantang batasnya—batas kesabarannya, keberaniannya, bahkan hatinya.

Dan saat lampu padam, bayangan Arkan terasa menempel di kamar.

Tidak secara fisik, tapi melalui kontrak, melalui aturan, melalui tekanan yang membuat setiap napas Alya terasa terkendali.

Ia menutup mata, mencoba tidur, tapi malam ini mengajarkan satu hal penting: menjadi milik seseorang bukan hanya soal kesepakatan di kertas.

Ini soal siapa yang memegang kendali atas keberadaanmu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Pertemuan Pertama

    Matahari belum sepenuhnya muncul ketika mobil hitam itu meluncur keluar dari gerbang mansion. Alya duduk di kursi belakang, tangan menggenggam tas kecil, tubuh kaku. Ia merasa seperti boneka, bergerak di antara manusia, tapi setiap gerakannya diawasi. Arkan duduk di kursi depan, mata menatap jalan, wajah tetap tanpa ekspresi. Diamnya menekan, membuat setiap detik perjalanan terasa panjang. Mobil berhenti di gedung mewah, lantai dasar dipenuhi mobil-mobil mahal dan orang-orang berpakaian rapi. Alya menelan ludah. Ia tidak tahu harus menatap ke mana, atau bagaimana bertindak. Setiap langkah harus sempurna. Setiap gerak harus tepat. Satu kesalahan—dan ia tahu Arkan tidak akan segan menegurnya di depan semua orang. “Masuk,” kata Arkan singkat saat membuka pintu mobil. Alya berdiri, melangkah keluar, sepatu hak tinggi membuatnya canggung. Langkahnya terasa berat, tapi aura Arkan di sampingnya membuat semua orang yang lewat sadar akan keberadaannya. Ia bukan lagi hanya Alya Prame

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Hari Pertama

    Pagi datang terlalu cepat. Alya membuka mata, tubuhnya terasa berat seperti batu. Setiap otot menjerit, tapi ia tahu: tidak ada pilihan untuk menunda. Arkan sudah menunggu. Setelah mandi cepat, ia mengenakan pakaian yang sudah dipilihkan Arkan: setelan formal abu-abu gelap, rok pensil, sepatu hak tinggi hitam. Ia menatap dirinya di cermin, mencoba mengenali sosok yang menatap balik. Tapi wajah itu tampak asing. Mata yang dulu lincah kini terlihat lelah. Bibir yang biasa tersenyum manis kini kaku, tegang. Ini bukan dirinya. Ini topeng yang harus ia pakai. Ponsel bergetar di meja. Pesan singkat dari Arkan: “Mobil menunggu. Tepat waktu. Jangan terlambat.” Alya menelan ludah. Tidak terlambat, tidak salah gerak. Itu perintah tidak tertulis yang ia pahami dengan jelas. Ia menggenggam tas kecil, menuruni tangga, dan berjalan ke ruang utama. Arkan duduk di meja sarapan, jas hitamnya rapi, tangan mengepal di atas meja. Tatapannya ke arah Alya tajam, menembus, menilai. Ia tidak menyapa

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrk yang Menentukan

    Mata Alya masih berat ketika alarm berbunyi. Lampu kamar yang lembut kini terasa menyiksa. Ia menatap jendela besar di depannya, taman yang tertata rapi terlihat tenang di bawah sinar pagi, tapi hatinya kacau. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut tidak pergi. Ia berada di rumah orang yang menguasai hidupnya—bukan sekadar harta, tapi seluruh keberadaannya. Setelah mandi cepat, Alya berdiri di depan lemari, mencoba memilih pakaian. Semua sudah disiapkan—rapi, mahal, dan terlalu sempurna untuk dirinya yang terbiasa dengan seragam pramugari dan celana jeans sederhana. Ia memilih setelan formal hitam yang sederhana, menyesuaikan dengan instruksi Arkan: “Tampil rapi. Tidak mencolok. Tapi harus cukup untuk terlihat profesional.” Tangannya gemetar saat memasang sepatu hak tinggi. Rasanya bukan dirinya yang mengenakan pakaian ini. Rasanya seperti topeng. Dan topeng itu harus ia pakai, atau semua yang ia cintai—utamanya ibunya—akan hancur. Ponsel bergeta

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Malam yang Menelan

    Mobil hitam melaju tanpa suara di jalan tol. Lampu kota bergeser di kaca jendela, tapi Alya tidak memperhatikannya. Tangannya masih menggenggam koper, jari-jarinya gemetar. Arkan duduk di kursi depan, menatap layar tablet sesekali. Diamnya membuat udara di dalam mobil terasa berat, hampir bisa dipotong. Alya ingin bicara, ingin melawan, ingin berteriak… tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Setengah jam perjalanan. Setengah jam untuk merenungkan hidupnya yang baru saja dijual. “Ini… rumahmu?” suaranya akhirnya pecah. Arkan menatap ke kaca spion, sekilas saja. “Ya. Kamu akan tinggal di sini mulai malam ini.” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang menekan, membuat Alya merasa semua pilihan telah hilang. Mansion itu muncul di ujung jalan, besar dan megah, berdiri di atas bukit dengan gerbang besi tinggi. Lampu taman menyorot air mancur yang memercik di halaman, membentuk bayangan menari. Alya menelan ludah. Indah, tapi dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrak Tanpa Jalan Pulang

    Siap. Aku lanjutkan Bab 2 dengan gaya novel, alur tegang, emosional, dan tetap konsisten dengan tone gelap–thriller–romance seperti Bab 1. Bab 2 — Kontrak Tanpa Jalan Pulang Sebagai milik saya. Tiga kata itu terdengar lebih dingin dari ruangan ber-AC ini. Lebih dingin dari borgol. Lebih dingin dari ancaman polisi. Alya menatap Arkan seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil dipahami manusia normal. “A-apa maksud Anda… milik?” suaranya pecah. Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru meraih map hitam dari meja supervisor. Membukanya perlahan. Gerakannya santai, seperti orang yang sedang membahas laporan bisnis, bukan hidup seseorang. “Kamu dituduh membawa uang ilegal, dokumen palsu, dan identitas ganda,” ucapnya datar. “Ancaman hukuman? Minimal lima tahun. Bisa sepuluh.” Setiap angka menghantam kepala Alya. Lima tahun. Sepuluh tahun. Ibunya sendirian. Tanpa biaya rumah sakit. Tanpa dia. “Bukan saya…” bisiknya. “Saya nggak pernah—” “Saya tahu.” Alya te

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Tiket Sekali Jalan

    Langit malam selalu terlihat indah dari ketinggian tiga puluh ribu kaki. Orang-orang menyebutnya pemandangan terbaik di dunia. Bintang lebih dekat. Awan seperti kapas. Kota-kota di bawah tampak seperti gugusan cahaya kecil yang tenang. Tapi bagi Alya, langit tidak pernah benar-benar terasa indah. Langit hanya tempatnya bekerja. Tempatnya tersenyum palsu selama berjam-jam. Tempatnya pura-pura baik-baik saja. Padahal hidupnya sedang runtuh pelan-pelan. “Makeup-mu luntur, Ly. Touch up dikit,” bisik Rina di ruang kru. Alya tersentak kecil. Ia menatap cermin. Benar. Maskaranya sedikit pudar di sudut mata. Entah karena lelah… atau kurang tidur. Semalam ia tidak tidur. Tagihan rumah sakit masuk lagi. Nominalnya bertambah. Selalu bertambah. Seakan-akan angka-angka itu sengaja mengejeknya. Rp 287.450.000 Ia bahkan hafal sampai digit terakhir. Uang sebanyak itu mustahil untuk pramugari kontrak seperti dirinya. Gajinya habis untuk cicilan kos, makan, dan obat ibunya. Tabung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status