Share

Malam yang Menelan

Author: Diane Mitda
last update Last Updated: 2025-09-26 14:46:27

Mobil hitam melaju tanpa suara di jalan tol. Lampu kota bergeser di kaca jendela, tapi Alya tidak memperhatikannya. Tangannya masih menggenggam koper, jari-jarinya gemetar.

Arkan duduk di kursi depan, menatap layar tablet sesekali. Diamnya membuat udara di dalam mobil terasa berat, hampir bisa dipotong. Alya ingin bicara, ingin melawan, ingin berteriak… tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya.

Setengah jam perjalanan.

Setengah jam untuk merenungkan hidupnya yang baru saja dijual.

“Ini… rumahmu?” suaranya akhirnya pecah.

Arkan menatap ke kaca spion, sekilas saja. “Ya. Kamu akan tinggal di sini mulai malam ini.” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang menekan, membuat Alya merasa semua pilihan telah hilang.

Mansion itu muncul di ujung jalan, besar dan megah, berdiri di atas bukit dengan gerbang besi tinggi. Lampu taman menyorot air mancur yang memercik di halaman, membentuk bayangan menari. Alya menelan ludah. Indah, tapi dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja kehilangan hidup lamanya.

Arkan membuka pintu mobil. Alya berdiri perlahan, menatap langkahnya yang mantap. Pintu dibukakan sopir. “Ayo,” kata Arkan singkat.

Setiap langkah Alya terasa berat. Lantai marmer dingin menembus kaki, lorong tinggi dan hening seakan menelan suara. Lukisan-lukisan besar menatapnya, lampu kristal berkilau, tapi tak ada satu pun yang memberinya rasa aman.

“Kamarmu di sayap timur,” ucap Arkan. Nada suaranya biasa, tapi terasa seperti perintah. “Semua sudah disiapkan.”

Alya mengangguk pelan, menelan ludah. Tangan gemetarnya menempel di koper.

Setelah lorong panjang dan tangga yang luas, Arkan berhenti di depan sebuah pintu besar. “Ini kamarmu,” katanya.

Pintu terbuka, memperlihatkan ruang luas dengan tempat tidur king-size, tirai berat, lampu lembut, dan jendela besar menghadap taman.

Alya menatap sekeliling. Indah, nyaman… tapi rasanya seperti penjara.

“Di sini… aku bebas?” bisiknya.

Arkan menatap lurus. “Sejauh kamu tidak mencoba lari.” Nada suaranya datar, tapi setiap kata menusuk, meninggalkan bekas dingin di tulang belakang Alya.

Ia menelan ludah. Ini bukan rumah. Ini penjara emas.

“Tidur cukup. Besok aku akan jelaskan tugasmu,” kata Arkan, lalu berbalik dan meninggalkannya.

Pintu menutup. Bunyi klik kecil terdengar seperti kunci penjara.

Alya duduk di tepi tempat tidur, tangan gemetar. Tirai berat bergoyang lembut oleh angin malam, bayangan lampu menari di lantai. Ia menatap jendela, taman luas, air mancur, cahaya hangat… tapi semuanya terasa asing.

“Harus bertahan… untuk ibu,” gumamnya pelan, menahan air mata.

Malam ini baru permulaan. Dan badai yang ia masuki… baru saja dimulai.

Siap! Aku akan tambahkan beberapa paragraf ke Bab 3 untuk memperdalam psikologis Alya dan suasana malam pertamanya di mansion Arkan, tetap konsisten dengan vibe gelap dan tegang.

Alya menatap sekeliling kamar, mencoba menenangkan diri.

Setiap furnitur tampak terlalu sempurna, setiap sudut ruangan terlalu rapi. Seolah rumah ini dibuat bukan untuk ditinggali manusia, tapi untuk menegaskan kekuasaan pemiliknya.

Ia menurunkan koper dengan perlahan. Bunyi roda koper bergesek ke lantai marmer terdengar terlalu keras di keheningan malam. Hatinya berdegup cepat. Ia ingin mandi, ingin membasuh wajah, tapi rasa takut membuatnya ragu untuk bergerak terlalu jauh dari pintu.

Menatap jendela besar, Alya bisa melihat cahaya lampu taman yang memantul di air mancur. Suasana damai di luar kontradiksi dengan hatinya yang gelisah. Malam ini terasa panjang. Terlalu panjang.

Ia menyandarkan diri ke dinding dan menarik napas dalam-dalam. Bayangan lampu di dinding menari seperti tangan yang ingin meraih. Alya menutup mata sejenak, mencoba mengingat rumah kosnya, suara ibu, keriuhan teman-teman di pesawat… tapi semua itu kini terasa jauh.

Rasa takut bercampur dengan rasa penasaran. Ia ingin tahu, bagaimana rasanya tinggal di rumah pria seperti Arkan. Tapi ketakutan akan ketergantungan membuatnya gemetar. Ia sadar satu hal: malam ini, ia benar-benar sendirian. Dan sendirian di mansion sebesar ini… bisa berarti sangat berbahaya.

Tangannya kembali menggenggam selimut tipis di tempat tidur. Sekecil apapun langkah yang salah, Alya tahu, dunia lamanya akan hilang. Dan entah kenapa, ketegangan itu membuatnya merasa… terjebak dalam sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Pertemuan Pertama

    Matahari belum sepenuhnya muncul ketika mobil hitam itu meluncur keluar dari gerbang mansion. Alya duduk di kursi belakang, tangan menggenggam tas kecil, tubuh kaku. Ia merasa seperti boneka, bergerak di antara manusia, tapi setiap gerakannya diawasi. Arkan duduk di kursi depan, mata menatap jalan, wajah tetap tanpa ekspresi. Diamnya menekan, membuat setiap detik perjalanan terasa panjang. Mobil berhenti di gedung mewah, lantai dasar dipenuhi mobil-mobil mahal dan orang-orang berpakaian rapi. Alya menelan ludah. Ia tidak tahu harus menatap ke mana, atau bagaimana bertindak. Setiap langkah harus sempurna. Setiap gerak harus tepat. Satu kesalahan—dan ia tahu Arkan tidak akan segan menegurnya di depan semua orang. “Masuk,” kata Arkan singkat saat membuka pintu mobil. Alya berdiri, melangkah keluar, sepatu hak tinggi membuatnya canggung. Langkahnya terasa berat, tapi aura Arkan di sampingnya membuat semua orang yang lewat sadar akan keberadaannya. Ia bukan lagi hanya Alya Prame

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Hari Pertama

    Pagi datang terlalu cepat. Alya membuka mata, tubuhnya terasa berat seperti batu. Setiap otot menjerit, tapi ia tahu: tidak ada pilihan untuk menunda. Arkan sudah menunggu. Setelah mandi cepat, ia mengenakan pakaian yang sudah dipilihkan Arkan: setelan formal abu-abu gelap, rok pensil, sepatu hak tinggi hitam. Ia menatap dirinya di cermin, mencoba mengenali sosok yang menatap balik. Tapi wajah itu tampak asing. Mata yang dulu lincah kini terlihat lelah. Bibir yang biasa tersenyum manis kini kaku, tegang. Ini bukan dirinya. Ini topeng yang harus ia pakai. Ponsel bergetar di meja. Pesan singkat dari Arkan: “Mobil menunggu. Tepat waktu. Jangan terlambat.” Alya menelan ludah. Tidak terlambat, tidak salah gerak. Itu perintah tidak tertulis yang ia pahami dengan jelas. Ia menggenggam tas kecil, menuruni tangga, dan berjalan ke ruang utama. Arkan duduk di meja sarapan, jas hitamnya rapi, tangan mengepal di atas meja. Tatapannya ke arah Alya tajam, menembus, menilai. Ia tidak menyapa

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrk yang Menentukan

    Mata Alya masih berat ketika alarm berbunyi. Lampu kamar yang lembut kini terasa menyiksa. Ia menatap jendela besar di depannya, taman yang tertata rapi terlihat tenang di bawah sinar pagi, tapi hatinya kacau. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut tidak pergi. Ia berada di rumah orang yang menguasai hidupnya—bukan sekadar harta, tapi seluruh keberadaannya. Setelah mandi cepat, Alya berdiri di depan lemari, mencoba memilih pakaian. Semua sudah disiapkan—rapi, mahal, dan terlalu sempurna untuk dirinya yang terbiasa dengan seragam pramugari dan celana jeans sederhana. Ia memilih setelan formal hitam yang sederhana, menyesuaikan dengan instruksi Arkan: “Tampil rapi. Tidak mencolok. Tapi harus cukup untuk terlihat profesional.” Tangannya gemetar saat memasang sepatu hak tinggi. Rasanya bukan dirinya yang mengenakan pakaian ini. Rasanya seperti topeng. Dan topeng itu harus ia pakai, atau semua yang ia cintai—utamanya ibunya—akan hancur. Ponsel bergeta

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Malam yang Menelan

    Mobil hitam melaju tanpa suara di jalan tol. Lampu kota bergeser di kaca jendela, tapi Alya tidak memperhatikannya. Tangannya masih menggenggam koper, jari-jarinya gemetar. Arkan duduk di kursi depan, menatap layar tablet sesekali. Diamnya membuat udara di dalam mobil terasa berat, hampir bisa dipotong. Alya ingin bicara, ingin melawan, ingin berteriak… tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Setengah jam perjalanan. Setengah jam untuk merenungkan hidupnya yang baru saja dijual. “Ini… rumahmu?” suaranya akhirnya pecah. Arkan menatap ke kaca spion, sekilas saja. “Ya. Kamu akan tinggal di sini mulai malam ini.” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang menekan, membuat Alya merasa semua pilihan telah hilang. Mansion itu muncul di ujung jalan, besar dan megah, berdiri di atas bukit dengan gerbang besi tinggi. Lampu taman menyorot air mancur yang memercik di halaman, membentuk bayangan menari. Alya menelan ludah. Indah, tapi dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrak Tanpa Jalan Pulang

    Siap. Aku lanjutkan Bab 2 dengan gaya novel, alur tegang, emosional, dan tetap konsisten dengan tone gelap–thriller–romance seperti Bab 1. Bab 2 — Kontrak Tanpa Jalan Pulang Sebagai milik saya. Tiga kata itu terdengar lebih dingin dari ruangan ber-AC ini. Lebih dingin dari borgol. Lebih dingin dari ancaman polisi. Alya menatap Arkan seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil dipahami manusia normal. “A-apa maksud Anda… milik?” suaranya pecah. Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru meraih map hitam dari meja supervisor. Membukanya perlahan. Gerakannya santai, seperti orang yang sedang membahas laporan bisnis, bukan hidup seseorang. “Kamu dituduh membawa uang ilegal, dokumen palsu, dan identitas ganda,” ucapnya datar. “Ancaman hukuman? Minimal lima tahun. Bisa sepuluh.” Setiap angka menghantam kepala Alya. Lima tahun. Sepuluh tahun. Ibunya sendirian. Tanpa biaya rumah sakit. Tanpa dia. “Bukan saya…” bisiknya. “Saya nggak pernah—” “Saya tahu.” Alya te

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Tiket Sekali Jalan

    Langit malam selalu terlihat indah dari ketinggian tiga puluh ribu kaki. Orang-orang menyebutnya pemandangan terbaik di dunia. Bintang lebih dekat. Awan seperti kapas. Kota-kota di bawah tampak seperti gugusan cahaya kecil yang tenang. Tapi bagi Alya, langit tidak pernah benar-benar terasa indah. Langit hanya tempatnya bekerja. Tempatnya tersenyum palsu selama berjam-jam. Tempatnya pura-pura baik-baik saja. Padahal hidupnya sedang runtuh pelan-pelan. “Makeup-mu luntur, Ly. Touch up dikit,” bisik Rina di ruang kru. Alya tersentak kecil. Ia menatap cermin. Benar. Maskaranya sedikit pudar di sudut mata. Entah karena lelah… atau kurang tidur. Semalam ia tidak tidur. Tagihan rumah sakit masuk lagi. Nominalnya bertambah. Selalu bertambah. Seakan-akan angka-angka itu sengaja mengejeknya. Rp 287.450.000 Ia bahkan hafal sampai digit terakhir. Uang sebanyak itu mustahil untuk pramugari kontrak seperti dirinya. Gajinya habis untuk cicilan kos, makan, dan obat ibunya. Tabung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status