Share

Pertemuan Pertama

Author: Diane Mitda
last update publish date: 2025-10-01 20:53:23

Matahari belum sepenuhnya muncul ketika mobil hitam itu meluncur keluar dari gerbang mansion.

Alya duduk di kursi belakang, tangan menggenggam tas kecil, tubuh kaku.

Ia merasa seperti boneka, bergerak di antara manusia, tapi setiap gerakannya diawasi.

Arkan duduk di kursi depan, mata menatap jalan, wajah tetap tanpa ekspresi.

Diamnya menekan, membuat setiap detik perjalanan terasa panjang.

Mobil berhenti di gedung mewah, lantai dasar dipenuhi mobil-mobil mahal dan orang-orang berpakaian rapi.

Alya menelan ludah.

Ia tidak tahu harus menatap ke mana, atau bagaimana bertindak. Setiap langkah harus sempurna. Setiap gerak harus tepat.

Satu kesalahan—dan ia tahu Arkan tidak akan segan menegurnya di depan semua orang.

“Masuk,” kata Arkan singkat saat membuka pintu mobil.

Alya berdiri, melangkah keluar, sepatu hak tinggi membuatnya canggung.

Langkahnya terasa berat, tapi aura Arkan di sampingnya membuat semua orang yang lewat sadar akan keberadaannya.

Ia bukan lagi hanya Alya Pramesti, pramugari biasa. Ia milik Arkan Mahendra.

Di lobi gedung, asisten Arkan menunggu.

“Selamat pagi, Pak. Tamu sudah menunggu di lantai 15.”

Arkan mengangguk. Alya mengikuti langkahnya, mencoba menyesuaikan kecepatan.

Setiap langkahnya diperhatikan. Setiap napasnya terasa seperti diukur.

Di lift, Alya menahan napas. Lift kecil, kaca reflektif. Ia menatap bayangannya sendiri, tapi bayangan itu terasa asing.

Ia bukan lagi diri yang bebas. Ia milik seseorang yang mengatur setiap geraknya.

Tangannya menggenggam tas lebih erat. Ia mencoba menenangkan diri.

“Aku bisa lakukan ini,” bisiknya pelan, meski hatinya berdegup kencang.

Lift terbuka di lantai 15. Ruang rapat mewah menunggu: meja panjang, kursi kulit hitam, pemandangan kota dari jendela besar.

Tamu-tamu Arkan sudah menunggu, beberapa mengenakan setelan bisnis, beberapa terlihat penasaran dengan “pendamping” yang hadir di sampingnya.

Alya merasakan tatapan mereka, beberapa tersenyum tipis, beberapa menilai, beberapa hanya diam.

Ia menunduk sopan, berusaha tetap profesional, tapi rasanya seluruh tubuhnya menegangkan.

Arkan memimpin pertemuan dengan tenang, suara rendah, kata-kata tegas.

Alya duduk di sampingnya, diam, menyalin beberapa catatan, menyesuaikan ekspresi wajah, menunggu isyarat sekecil apa pun.

Sekali saja ia menoleh terlalu lama, Arkan menatapnya, membuatnya menelan ludah, memperbaiki posisi.

Ia sadar satu hal: setiap gerakannya sekarang bukan untuk dirinya sendiri.

Setiap langkahnya adalah bagian dari pertunjukan.

Pertemuan berlangsung hampir dua jam.

Alya mencoba menyesuaikan diri, menatap para klien, tersenyum sopan, menjawab salam ketika diminta.

Rasanya seperti berada di panggung teater besar, tapi setiap kesalahan berpotensi menjadi bencana pribadi.

Ia merasa lelah, tapi harus bertahan. Harus menyenangkan Arkan. Harus terlihat sempurna.

Saat istirahat, Arkan berdiri, memanggil Alya.

“Minum air,” katanya singkat. Nada suaranya datar, tapi setiap kata seperti perintah yang tidak bisa ditawar.

Alya menuruti, tangan gemetar saat mengambil botol air.

Arkan menatapnya sekilas, menilai, sebelum kembali ke pertemuan.

Alya berdiri di samping, menunggu, mencoba menyesuaikan napasnya yang tersendat.

Setelah pertemuan selesai, perjalanan pulang terasa lebih sunyi.

Mobil hitam melaju di jalan tol, kota mulai ramai.

Alya duduk di kursi belakang, menatap jendela, memikirkan hari yang baru saja ia lalui.

Ia merasa tubuhnya lelah, tapi hatinya lebih berat.

Hari pertama ini bukan sekadar hari biasa. Ini adalah pelajaran: kontrol Arkan sempurna, ketegasan Arkan menekan, dan Alya… hanyalah boneka di sisi pria itu.

Di mansion, malam mulai menelan cahaya.

Alya menutup pintu kamar, duduk di tepi tempat tidur.

Tangannya menggenggam selimut tipis.

Ia mencoba mengingat siapa dirinya sebelum kontrak ini, sebelum Arkan memasuki hidupnya.

Tetapi bayangan pria itu terasa menempel di setiap sudut rumah, di setiap bayangan lampu, di setiap suara langkah yang bergema.

Ponselnya bergetar. Pesan singkat muncul:

“Besok, acara publik. Jangan sampai salah gerak.”

Alya menelan ludah. Ia tahu satu hal: kesalahan bukan sekadar hinaan, tapi ancaman nyata.

Ia menutup mata, mencoba tidur, tapi ketegangan tidak pergi.

Malam ini, ia belajar satu hal lagi: menjadi milik seseorang tidak hanya soal kontrak di atas kertas.

Ini soal bagaimana seseorang bisa menguasai setiap gerak, setiap pikiran, dan bahkan setiap detik kehidupanmu.

Dan Alya, untuk pertama kalinya, merasakan ketakutan yang bukan hanya soal tubuh atau keselamatan.

Ini ketakutan tentang kehilangan diri sendiri.

Tentang kehilangan kebebasan yang dulu ia anggap biasa.

Dan ia sadar, esok… badai baru akan datang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Pertemuan Pertama

    Matahari belum sepenuhnya muncul ketika mobil hitam itu meluncur keluar dari gerbang mansion. Alya duduk di kursi belakang, tangan menggenggam tas kecil, tubuh kaku. Ia merasa seperti boneka, bergerak di antara manusia, tapi setiap gerakannya diawasi. Arkan duduk di kursi depan, mata menatap jalan, wajah tetap tanpa ekspresi. Diamnya menekan, membuat setiap detik perjalanan terasa panjang. Mobil berhenti di gedung mewah, lantai dasar dipenuhi mobil-mobil mahal dan orang-orang berpakaian rapi. Alya menelan ludah. Ia tidak tahu harus menatap ke mana, atau bagaimana bertindak. Setiap langkah harus sempurna. Setiap gerak harus tepat. Satu kesalahan—dan ia tahu Arkan tidak akan segan menegurnya di depan semua orang. “Masuk,” kata Arkan singkat saat membuka pintu mobil. Alya berdiri, melangkah keluar, sepatu hak tinggi membuatnya canggung. Langkahnya terasa berat, tapi aura Arkan di sampingnya membuat semua orang yang lewat sadar akan keberadaannya. Ia bukan lagi hanya Alya Prame

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Hari Pertama

    Pagi datang terlalu cepat. Alya membuka mata, tubuhnya terasa berat seperti batu. Setiap otot menjerit, tapi ia tahu: tidak ada pilihan untuk menunda. Arkan sudah menunggu. Setelah mandi cepat, ia mengenakan pakaian yang sudah dipilihkan Arkan: setelan formal abu-abu gelap, rok pensil, sepatu hak tinggi hitam. Ia menatap dirinya di cermin, mencoba mengenali sosok yang menatap balik. Tapi wajah itu tampak asing. Mata yang dulu lincah kini terlihat lelah. Bibir yang biasa tersenyum manis kini kaku, tegang. Ini bukan dirinya. Ini topeng yang harus ia pakai. Ponsel bergetar di meja. Pesan singkat dari Arkan: “Mobil menunggu. Tepat waktu. Jangan terlambat.” Alya menelan ludah. Tidak terlambat, tidak salah gerak. Itu perintah tidak tertulis yang ia pahami dengan jelas. Ia menggenggam tas kecil, menuruni tangga, dan berjalan ke ruang utama. Arkan duduk di meja sarapan, jas hitamnya rapi, tangan mengepal di atas meja. Tatapannya ke arah Alya tajam, menembus, menilai. Ia tidak menyapa

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrk yang Menentukan

    Mata Alya masih berat ketika alarm berbunyi. Lampu kamar yang lembut kini terasa menyiksa. Ia menatap jendela besar di depannya, taman yang tertata rapi terlihat tenang di bawah sinar pagi, tapi hatinya kacau. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut tidak pergi. Ia berada di rumah orang yang menguasai hidupnya—bukan sekadar harta, tapi seluruh keberadaannya. Setelah mandi cepat, Alya berdiri di depan lemari, mencoba memilih pakaian. Semua sudah disiapkan—rapi, mahal, dan terlalu sempurna untuk dirinya yang terbiasa dengan seragam pramugari dan celana jeans sederhana. Ia memilih setelan formal hitam yang sederhana, menyesuaikan dengan instruksi Arkan: “Tampil rapi. Tidak mencolok. Tapi harus cukup untuk terlihat profesional.” Tangannya gemetar saat memasang sepatu hak tinggi. Rasanya bukan dirinya yang mengenakan pakaian ini. Rasanya seperti topeng. Dan topeng itu harus ia pakai, atau semua yang ia cintai—utamanya ibunya—akan hancur. Ponsel bergeta

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Malam yang Menelan

    Mobil hitam melaju tanpa suara di jalan tol. Lampu kota bergeser di kaca jendela, tapi Alya tidak memperhatikannya. Tangannya masih menggenggam koper, jari-jarinya gemetar. Arkan duduk di kursi depan, menatap layar tablet sesekali. Diamnya membuat udara di dalam mobil terasa berat, hampir bisa dipotong. Alya ingin bicara, ingin melawan, ingin berteriak… tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Setengah jam perjalanan. Setengah jam untuk merenungkan hidupnya yang baru saja dijual. “Ini… rumahmu?” suaranya akhirnya pecah. Arkan menatap ke kaca spion, sekilas saja. “Ya. Kamu akan tinggal di sini mulai malam ini.” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang menekan, membuat Alya merasa semua pilihan telah hilang. Mansion itu muncul di ujung jalan, besar dan megah, berdiri di atas bukit dengan gerbang besi tinggi. Lampu taman menyorot air mancur yang memercik di halaman, membentuk bayangan menari. Alya menelan ludah. Indah, tapi dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrak Tanpa Jalan Pulang

    Siap. Aku lanjutkan Bab 2 dengan gaya novel, alur tegang, emosional, dan tetap konsisten dengan tone gelap–thriller–romance seperti Bab 1. Bab 2 — Kontrak Tanpa Jalan Pulang Sebagai milik saya. Tiga kata itu terdengar lebih dingin dari ruangan ber-AC ini. Lebih dingin dari borgol. Lebih dingin dari ancaman polisi. Alya menatap Arkan seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil dipahami manusia normal. “A-apa maksud Anda… milik?” suaranya pecah. Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru meraih map hitam dari meja supervisor. Membukanya perlahan. Gerakannya santai, seperti orang yang sedang membahas laporan bisnis, bukan hidup seseorang. “Kamu dituduh membawa uang ilegal, dokumen palsu, dan identitas ganda,” ucapnya datar. “Ancaman hukuman? Minimal lima tahun. Bisa sepuluh.” Setiap angka menghantam kepala Alya. Lima tahun. Sepuluh tahun. Ibunya sendirian. Tanpa biaya rumah sakit. Tanpa dia. “Bukan saya…” bisiknya. “Saya nggak pernah—” “Saya tahu.” Alya te

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Tiket Sekali Jalan

    Langit malam selalu terlihat indah dari ketinggian tiga puluh ribu kaki. Orang-orang menyebutnya pemandangan terbaik di dunia. Bintang lebih dekat. Awan seperti kapas. Kota-kota di bawah tampak seperti gugusan cahaya kecil yang tenang. Tapi bagi Alya, langit tidak pernah benar-benar terasa indah. Langit hanya tempatnya bekerja. Tempatnya tersenyum palsu selama berjam-jam. Tempatnya pura-pura baik-baik saja. Padahal hidupnya sedang runtuh pelan-pelan. “Makeup-mu luntur, Ly. Touch up dikit,” bisik Rina di ruang kru. Alya tersentak kecil. Ia menatap cermin. Benar. Maskaranya sedikit pudar di sudut mata. Entah karena lelah… atau kurang tidur. Semalam ia tidak tidur. Tagihan rumah sakit masuk lagi. Nominalnya bertambah. Selalu bertambah. Seakan-akan angka-angka itu sengaja mengejeknya. Rp 287.450.000 Ia bahkan hafal sampai digit terakhir. Uang sebanyak itu mustahil untuk pramugari kontrak seperti dirinya. Gajinya habis untuk cicilan kos, makan, dan obat ibunya. Tabung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status