/ Romansa / PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER / Kontrak Tanpa Jalan Pulang

공유

Kontrak Tanpa Jalan Pulang

작가: Diane Mitda
last update 게시일: 2025-09-26 14:45:56

Siap. Aku lanjutkan Bab 2 dengan gaya novel, alur tegang, emosional, dan tetap konsisten dengan tone gelap–thriller–romance seperti Bab 1.

Bab 2 — Kontrak Tanpa Jalan Pulang

Sebagai milik saya.

Tiga kata itu terdengar lebih dingin dari ruangan ber-AC ini.

Lebih dingin dari borgol.

Lebih dingin dari ancaman polisi.

Alya menatap Arkan seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil dipahami manusia normal.

“A-apa maksud Anda… milik?” suaranya pecah.

Arkan tidak langsung menjawab.

Ia justru meraih map hitam dari meja supervisor. Membukanya perlahan. Gerakannya santai, seperti orang yang sedang membahas laporan bisnis, bukan hidup seseorang.

“Kamu dituduh membawa uang ilegal, dokumen palsu, dan identitas ganda,” ucapnya datar.

“Ancaman hukuman? Minimal lima tahun. Bisa sepuluh.”

Setiap angka menghantam kepala Alya.

Lima tahun.

Sepuluh tahun.

Ibunya sendirian.

Tanpa biaya rumah sakit.

Tanpa dia.

“Bukan saya…” bisiknya. “Saya nggak pernah—”

“Saya tahu.”

Alya terdiam.

Arkan mengangkat mata.

Tatapannya tajam. Terlalu tajam.

“Saya yang taruh itu di kopermu.”

Dunia berhenti.

Suara denging memenuhi telinganya.

“K-kamu… apa?”

“Kamu dengar.”

Napas Alya tersendak.

Tangannya mengepal, gemetar.

“Kenapa…?” suaranya nyaris tak terdengar. “Kenapa lakukan ini ke saya…?”

Arkan menutup map itu pelan.

“Karena saya butuh kamu.”

Butuh.

Bukan suka.

Bukan tolong.

Butuh.

Seperti barang.

Seperti benda.

“Banyak orang di luar sana yang rela dibayar mahal untuk kerja sama saya,” lanjutnya. “Tapi saya nggak butuh yang rela.”

Langkahnya mendekat lagi.

“Aku butuh yang nggak punya pilihan.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari hinaan.

Alya merasa harga dirinya diremas.

“Apa saya kelihatan semurah itu?” bisiknya.

“Tidak,” jawab Arkan cepat.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu berbeda di suaranya.

Lebih pelan.

Lebih… serius.

“Itu sebabnya saya pilih kamu.”

Hening.

Petugas keamanan dan supervisor pura-pura sibuk. Seolah ini bukan urusan mereka.

Seolah semua sudah diatur.

Seolah mereka takut padanya.

Alya baru sadar.

Ini bukan kebetulan.

Ini jebakan.

Dan pria ini… pengendalinya.

“Apa yang Anda mau dari saya?” tanyanya lirih.

Arkan menatap lurus.

“Kontrak satu tahun.”

“Kontrak apa?”

“Kamu tinggal sama saya.”

Darahnya berdesir dingin.

“Jadi pendamping saya di acara publik. Ikut perjalanan bisnis. Tersedia kapan pun saya panggil.”

“Itu… itu kayak—”

“Istri kontrak.”

Jantungnya jatuh.

Alya tertawa kecil.

Tawa putus asa.

“Gila…”

“Saya lunasi semua utang ibumu. Rumah sakit terbaik. Dokter terbaik. Dan kamu bebas dari kasus malam ini.”

Map itu didorong ke arahnya.

Di dalamnya ada dokumen.

Kontrak.

Sudah disiapkan.

Namanya sudah tercetak.

Seolah hidupnya memang sudah dijadwalkan masuk ke tangan pria ini.

“Tapi kalau nolak?” bisiknya.

Arkan menatap jam tangannya.

“Petugas bisa langsung proses barang bukti.”

Seolah memberi isyarat.

Salah satu petugas menggeser koper Alya ke meja.

Koper yang bahkan belum ia buka sejak landing.

Koper yang sekarang terasa seperti peti mati.

“Penjara,” lanjut Arkan datar.

“Ibumu kehilangan biaya pengobatan.”

“Dan kamu tetap nggak bisa bayar utang.”

Setiap kemungkinan berakhir sama.

Hancur.

Air mata Alya akhirnya jatuh.

Diam-diam.

Ia benci menangis di depan orang asing.

Tapi malam ini terlalu berat.

“Kenapa saya…?” bisiknya lagi.

Pertanyaan yang sama.

Arkan terdiam cukup lama.

Lalu pelan berkata,

“Karena kamu nggak punya siapa-siapa.”

Jawaban paling kejam.

Karena itu benar.

Tak ada ayah.

Tak ada saudara.

Tak ada orang yang akan mencarinya kalau ia hilang.

Ia sendirian.

Dan orang seperti Arkan tahu cara memanfaatkan kesendirian.

Tangannya gemetar saat memegang pulpen.

Kontrak itu seperti hukuman mati versi elegan.

Bukan penjara besi.

Tapi penjara emas.

“Cuma satu tahun…?” tanyanya.

“Satu tahun.”

“Setelah itu… saya bebas?”

Arkan menatapnya lama.

“Kalau kamu patuh, iya.”

Kalau.

Selalu ada kalau.

Tapi ia tidak punya waktu berpikir.

Ibunya.

Rumah sakit.

Tagihan.

Semua berputar di kepalanya.

Alya menutup mata.

Maaf, Bu…

Tangannya menandatangani.

Tinta hitam menyerap kertas.

Seperti takdir yang tak bisa dihapus.

Selesai.

Arkan langsung mengambil kontrak itu.

Cepat.

Seolah takut ia berubah pikiran.

“Bagus,” ucapnya.

Nada suaranya hampir… puas.

Petugas keamanan langsung pergi.

Supervisor menghindari tatapannya.

Semua selesai dalam hitungan detik.

Seperti hidupnya baru saja dijual secara legal.

Arkan melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Alya.

Alya refleks menegang.

“Dingin,” katanya singkat.

Perhatian kecil yang terasa aneh dari orang sekejam itu.

“Mulai malam ini,” lanjutnya, “kamu ikut saya.”

“Malam ini juga…?”

“Saya nggak suka menunda.”

Tentu saja.

Dia tipe orang yang selalu menang.

Arkan berjalan keluar ruangan.

Tanpa menoleh.

Tanpa memastikan Alya ikut.

Seolah dia yakin.

Seolah Alya memang tak punya tempat lain untuk pergi.

Dan dia benar.

Alya menggenggam koper pelan.

Bandara yang biasanya terasa seperti rumah kedua kini terasa asing.

Setiap langkah menjauh dari terminal terasa seperti menjauh dari hidup lamanya.

Dari Alya yang dulu.

Di luar, mobil hitam panjang sudah menunggu.

Mengilap.

Mewah.

Seperti kandang emas.

Pintu belakang dibukakan sopir.

Arkan sudah duduk di dalam.

Menatap tablet.

Bekerja.

Seolah barusan tidak menghancurkan hidup seseorang.

Alya berdiri beberapa detik.

Angin malam menyapu wajahnya.

Terakhir kali ia bebas.

Ia menarik napas.

Lalu masuk.

Pintu tertutup.

Klik.

Bunyinya kecil.

Tapi terdengar seperti kunci penjara.

Mobil melaju meninggalkan bandara.

Dan Alya sadar satu hal.

Pria di sampingnya bukan penyelamat.

Bukan juga penolong.

Dia adalah badai.

Dan tanpa sadar…

Alya baru saja menyerahkan dirinya tepat ke tengahnya.

Kalau mau, aku bisa lanjut Bab 3 dengan opsi:

masuk ke mansion Arkan (vibes dark billionaire)

first night tension satu rumah

atau konflik psikologis Alya mencoba kabur

Tinggal bilang mau fokus yang mana ✨

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Pertemuan Pertama

    Matahari belum sepenuhnya muncul ketika mobil hitam itu meluncur keluar dari gerbang mansion. Alya duduk di kursi belakang, tangan menggenggam tas kecil, tubuh kaku. Ia merasa seperti boneka, bergerak di antara manusia, tapi setiap gerakannya diawasi. Arkan duduk di kursi depan, mata menatap jalan, wajah tetap tanpa ekspresi. Diamnya menekan, membuat setiap detik perjalanan terasa panjang. Mobil berhenti di gedung mewah, lantai dasar dipenuhi mobil-mobil mahal dan orang-orang berpakaian rapi. Alya menelan ludah. Ia tidak tahu harus menatap ke mana, atau bagaimana bertindak. Setiap langkah harus sempurna. Setiap gerak harus tepat. Satu kesalahan—dan ia tahu Arkan tidak akan segan menegurnya di depan semua orang. “Masuk,” kata Arkan singkat saat membuka pintu mobil. Alya berdiri, melangkah keluar, sepatu hak tinggi membuatnya canggung. Langkahnya terasa berat, tapi aura Arkan di sampingnya membuat semua orang yang lewat sadar akan keberadaannya. Ia bukan lagi hanya Alya Prame

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Hari Pertama

    Pagi datang terlalu cepat. Alya membuka mata, tubuhnya terasa berat seperti batu. Setiap otot menjerit, tapi ia tahu: tidak ada pilihan untuk menunda. Arkan sudah menunggu. Setelah mandi cepat, ia mengenakan pakaian yang sudah dipilihkan Arkan: setelan formal abu-abu gelap, rok pensil, sepatu hak tinggi hitam. Ia menatap dirinya di cermin, mencoba mengenali sosok yang menatap balik. Tapi wajah itu tampak asing. Mata yang dulu lincah kini terlihat lelah. Bibir yang biasa tersenyum manis kini kaku, tegang. Ini bukan dirinya. Ini topeng yang harus ia pakai. Ponsel bergetar di meja. Pesan singkat dari Arkan: “Mobil menunggu. Tepat waktu. Jangan terlambat.” Alya menelan ludah. Tidak terlambat, tidak salah gerak. Itu perintah tidak tertulis yang ia pahami dengan jelas. Ia menggenggam tas kecil, menuruni tangga, dan berjalan ke ruang utama. Arkan duduk di meja sarapan, jas hitamnya rapi, tangan mengepal di atas meja. Tatapannya ke arah Alya tajam, menembus, menilai. Ia tidak menyapa

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrk yang Menentukan

    Mata Alya masih berat ketika alarm berbunyi. Lampu kamar yang lembut kini terasa menyiksa. Ia menatap jendela besar di depannya, taman yang tertata rapi terlihat tenang di bawah sinar pagi, tapi hatinya kacau. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut tidak pergi. Ia berada di rumah orang yang menguasai hidupnya—bukan sekadar harta, tapi seluruh keberadaannya. Setelah mandi cepat, Alya berdiri di depan lemari, mencoba memilih pakaian. Semua sudah disiapkan—rapi, mahal, dan terlalu sempurna untuk dirinya yang terbiasa dengan seragam pramugari dan celana jeans sederhana. Ia memilih setelan formal hitam yang sederhana, menyesuaikan dengan instruksi Arkan: “Tampil rapi. Tidak mencolok. Tapi harus cukup untuk terlihat profesional.” Tangannya gemetar saat memasang sepatu hak tinggi. Rasanya bukan dirinya yang mengenakan pakaian ini. Rasanya seperti topeng. Dan topeng itu harus ia pakai, atau semua yang ia cintai—utamanya ibunya—akan hancur. Ponsel bergeta

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Malam yang Menelan

    Mobil hitam melaju tanpa suara di jalan tol. Lampu kota bergeser di kaca jendela, tapi Alya tidak memperhatikannya. Tangannya masih menggenggam koper, jari-jarinya gemetar. Arkan duduk di kursi depan, menatap layar tablet sesekali. Diamnya membuat udara di dalam mobil terasa berat, hampir bisa dipotong. Alya ingin bicara, ingin melawan, ingin berteriak… tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Setengah jam perjalanan. Setengah jam untuk merenungkan hidupnya yang baru saja dijual. “Ini… rumahmu?” suaranya akhirnya pecah. Arkan menatap ke kaca spion, sekilas saja. “Ya. Kamu akan tinggal di sini mulai malam ini.” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang menekan, membuat Alya merasa semua pilihan telah hilang. Mansion itu muncul di ujung jalan, besar dan megah, berdiri di atas bukit dengan gerbang besi tinggi. Lampu taman menyorot air mancur yang memercik di halaman, membentuk bayangan menari. Alya menelan ludah. Indah, tapi dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Kontrak Tanpa Jalan Pulang

    Siap. Aku lanjutkan Bab 2 dengan gaya novel, alur tegang, emosional, dan tetap konsisten dengan tone gelap–thriller–romance seperti Bab 1. Bab 2 — Kontrak Tanpa Jalan Pulang Sebagai milik saya. Tiga kata itu terdengar lebih dingin dari ruangan ber-AC ini. Lebih dingin dari borgol. Lebih dingin dari ancaman polisi. Alya menatap Arkan seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil dipahami manusia normal. “A-apa maksud Anda… milik?” suaranya pecah. Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru meraih map hitam dari meja supervisor. Membukanya perlahan. Gerakannya santai, seperti orang yang sedang membahas laporan bisnis, bukan hidup seseorang. “Kamu dituduh membawa uang ilegal, dokumen palsu, dan identitas ganda,” ucapnya datar. “Ancaman hukuman? Minimal lima tahun. Bisa sepuluh.” Setiap angka menghantam kepala Alya. Lima tahun. Sepuluh tahun. Ibunya sendirian. Tanpa biaya rumah sakit. Tanpa dia. “Bukan saya…” bisiknya. “Saya nggak pernah—” “Saya tahu.” Alya te

  • PRAMUGARI TAHANAN MILIARDER   Tiket Sekali Jalan

    Langit malam selalu terlihat indah dari ketinggian tiga puluh ribu kaki. Orang-orang menyebutnya pemandangan terbaik di dunia. Bintang lebih dekat. Awan seperti kapas. Kota-kota di bawah tampak seperti gugusan cahaya kecil yang tenang. Tapi bagi Alya, langit tidak pernah benar-benar terasa indah. Langit hanya tempatnya bekerja. Tempatnya tersenyum palsu selama berjam-jam. Tempatnya pura-pura baik-baik saja. Padahal hidupnya sedang runtuh pelan-pelan. “Makeup-mu luntur, Ly. Touch up dikit,” bisik Rina di ruang kru. Alya tersentak kecil. Ia menatap cermin. Benar. Maskaranya sedikit pudar di sudut mata. Entah karena lelah… atau kurang tidur. Semalam ia tidak tidur. Tagihan rumah sakit masuk lagi. Nominalnya bertambah. Selalu bertambah. Seakan-akan angka-angka itu sengaja mengejeknya. Rp 287.450.000 Ia bahkan hafal sampai digit terakhir. Uang sebanyak itu mustahil untuk pramugari kontrak seperti dirinya. Gajinya habis untuk cicilan kos, makan, dan obat ibunya. Tabung

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status