Share

bab 22

Author: SingoRanu
last update publish date: 2026-07-14 10:53:32

Perjalanan pulang berlangsung sangat sunyi. Langit bahkan sudah mulai mendekati dini hari. Pani duduk memandang keluar jendela mobil tanpa bicara sedikit pun. Sementara Ranu beberapa kali melirik diam-diam ke arahnya. Akhirnya pria itu membuka suara lebih dulu.

"Kalau nanti beneran hamil..."

Pani tetap diam.

"Aku bakal tanggung jawab."

Pani langsung melirik tajam.

"Hanya kalau saya hamil ya Pak? Kalau enggak, enggak ad
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 24

    "Pani?" Perempuan itu langsung menoleh cepat. Napasnya terlihat memburu di balik helm yang miring. Matanya merah. Entah karena marah atau habis menangis. Namun yang paling membuat Ranu heran adalah... Pani sama sekali tidak terkejut melihat dirinya. "Oh... Bapak." Jawabannya datar sekali. Ranu langsung mengernyit. "Kamu nabrak mobil orang terus reaksinya cuma 'oh bapak'?" Pani bahkan tidak menanggapi. Ia buru-buru membetulkan motornya yang miring lalu mencoba menyalakan mesin. "Cepetan... ayo nyala..." gumamnya panik. Motor itu menyala sebentar lalu mati lagi. "Ck!" Pani mencoba membelokkan stang. Namun... "Kok belok sih?!" serunya frustrasi. Stang motornya bengkok. Wajah Pani langsung pucat. "Ya Allah..." suaranya mulai bergetar. Ranu yang tadi kesal perlahan mengamati perempuan itu lebih serius. Biasanya Pani past

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 23

    Esok paginya, suasana rumah besar milik Ranu terasa sedikit... aneh.Jam lima pagi, Bi Inah yang baru keluar dari dapur langsung berhenti melangkah sambil memicingkan mata.Di halaman belakang, Ranu sedang jogging.Itu bukan hal aneh.Yang aneh adalah...Pria itu senyum-senyum sendiri.Bahkan sesekali tertawa kecil tanpa sebab."Hih..." Bi Inah merinding sendiri. "Jangan-jangan kesambet."Ranu masih terus lari kecil sambil mendengarkan musik dari headset. Wajahnya segar sekali. Rambut sedikit basah karena keringat. Kaos hitam yang dipakainya menempel di tubuh tegapnya.Dan senyum itu belum hilang juga.Bi Inah makin curiga.Biasanya pagi-pagi Ranu wajahnya seperti bos debt collector gagal nagih.Ini malah seperti pengantin baru.Saat Ranu berhenti untuk minum, pria itu bahkan memandangi langit sambil tersenyum tipis sendiri.Bi Inah langsung lari ke dapur mengambil ponsel.Ia menelepon seseorang dengan panik."Bu Anggun

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 22

    Perjalanan pulang berlangsung sangat sunyi. Langit bahkan sudah mulai mendekati dini hari. Pani duduk memandang keluar jendela mobil tanpa bicara sedikit pun. Sementara Ranu beberapa kali melirik diam-diam ke arahnya. Akhirnya pria itu membuka suara lebih dulu. "Kalau nanti beneran hamil..." Pani tetap diam. "Aku bakal tanggung jawab." Pani langsung melirik tajam. "Hanya kalau saya hamil ya Pak? Kalau enggak, enggak ada tanggung jawabnya?" Ranu mengernyit. "Maksudnya?" "Kalau enggak hamil, berarti selesai?" Ranu sampai kehilangan kata beberapa detik. Lalu tiba-tiba ia berkata santai, "Kamu mau gimana? Nikah sekarang?" Pani menoleh bingung. "Apa?" "Nikah! Malam ini juga." Pani langsung melotot. "Bapak stres ya?" "Aku serius." "Jam dua pagi ngajak nikah orang." "I

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 21

    "Dari tadi... Dia enggak nglepasin tanganku..." Pani bergumam dalam pikirannya sendiri. Ia kini berada di dalam mobil Ranu yang melaju. Pandangan matanya melirik tangannya dan milik Ranu yang saling bertautan di atas konsol. Pani duduk di kursi penumpang sambil memandangi jalanan malam dari balik kaca. Lampu kota terlihat samar memanjang di kejauhan. Ranu mengemudi tanpa banyak bicara. Tapi, ada kalanya genggaman itu sedikit erat. "Pak..." Ranu menoleh sekilas, lalu kendaraan itu tiba-tiba menepi dan berhenti. Tidak ada kata yang keluar, tapi tubuh Ranu sudah condong ke arah Pani. kedua bibir itu saling bertemu lagi... Lembut dengan gerakan perlahan. Lidah mereka saling membelai. Tangan yang saling menggenggam itu kini jadi lebih erat. Tak ada yang bicara, tak ada yang bersuara. Hanya napas mereka yang saling bersahutan. Mobil itu mulai bergerak lagi. Namun, beberapa menit kemudi

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 20

    Ranu menoleh cepat dengan napas masih memburu. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, seorang wanita berdiri beberapa meter darinya memakai dress panjang putih selutut. Rambut panjangnya berantakan tertiup angin malam. Kedua tangannya masih membentuk corong di depan mulut seolah baru selesai berteriak. Dan wanita itu... "Pani?!" Pani sama terkejutnya. Matanya membesar. "Pak Ranu?!" Ranu langsung memegangi dada sambil mengembuskan napas kasar. "Astagfirullah... aku kira kuntilanak!" Pani langsung melotot tersinggung. "Pak! Saya secantik ini dibilang kuntilanak?!" "Jam segini, baju putih, rambut acak-acakan, teriak di bukit begini. Mau aku pikir apa?!" Pani spontan merapikan rambutnya dengan kesal. "Bapak juga ngapain teriak kayak orang kesurupan?! Saya sampai kaget!" Ranu menunjuk dirinya sendiri tidak percaya. "Kamu yang bikin kaget!" "Lah, bapak duluan yang teria

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 19

    "A-apa? Aku kecolongan lagi?"Batin Pani menjerit. "Kenapa dia selalu gini sih!?"Matanya membesar sempurna. Tapi, bibir Ranu yang menyentuh bibirnya terasa sangat lembut. Terasa sangat berbeda. Yang dulu hanya kecupan singkat yang hanya sekilas. Tapi sekarang...Lidahnya bahkan sampai menyentuh lidah Pani. Tangannya kokoh menahan dagu bahkan bergeser ke belakang kepala."Ummmmppp... Ini... Kapan berakhir? Lama banget..." batin Pani lagi.Bibir dan lidah itu terus bergerak, terasa lembut dan... Ah, Pani tak ingin lebih tenggelam... Ia mencoba lepas, mencoba menolak. Tapi nyatanya...Saat bibir itu berjarak... Kenapa ada sudut kecil yang tak rela? Apa dia mulai menikmati? Oh, tidak!Ranu sudah kembali duduk santai di kursinya seolah tidak terjadi apa-apa. Tangannya bahkan kembali membuka dokumen laporan proyek dengan tenang.Sementara Pani masih membeku."Wha... apa barusan..." gumamnya pelan.R

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 5 - serasa liburan keluarga

    Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 4 - angkut semua

    “Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...” Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan. Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya. Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bi

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 3 - Dinas yang mendebarkan

    Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 2 - anaknya tiga?

    Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status