Compartir

Tujuan Baru

Autor: IfaZuzu
last update Fecha de publicación: 2026-09-12 23:46:25

Cukup sehari semalam aku terpuruk karena patah hati. Pulang kerja kemarin lusa aku diceramahi habis- habisan sama mbak Siska karena melihatku yang terus murung.

"Sudah Mbak bilang kan kemarin, Yu, kalau mau ikut Mbak kamu harus mengubah tujuanmu supaya kamu gak terpuruk seperti ini kalau Angga mengecewakanmu."

"Apalagi Angga yang ibunya aja kayak gitu. Kalaupun Angga mau menikah sama kamu, seumur hidup kamu akan makan hati tahu! Bisa- bisanya kamu jatuh cinta sama lelaki model kayak gitu, untungnya Angga memperlihatkan kebusukannya jadi kamu bisa buka mata sekarang!"

Mbak Siska mengungkapkan kekesalannya dengan menggebu- gebu membuatku mengerutkan alis karena setengah tak terima.

"Mbak... udah ya marahnya. Ayu memang bodoh gak dengerin Ayah sama Mbak Siska," kataku memelas.

"Hhhh...," mbak Siska menghela napas berat.

Kami diam beberapa saat meredam emosi masing- masing. Aku masih gak nyangka Angga akan setega itu. Bukan maksud menghitung kebaikanku, tapi tabungan yang kukirim untuknya lumayan banyak selama empat tahun kami LDR.

"Trus sekarang kamu mau gimana? Pulang ke kampung?" tanya mbak Siska.

Aku menggeleng, "Enggak Mbak, aku mau cari kerjaan lagi besok. Ada lowongan kerja di pabrik garmen."

"Baguslah. Emang kurang ajar itu si Angga, berapa sih gajinya sampai- sampai bikin anak orang dipecat?!"

"Udah lah Mbak. Biarin aja, mungkin rejeki Ayu emang bukan disana."

"Kamu ini ya, Yu, terlalu lembek jadi orang. Kalau aku jadi kamu kusiram itu buaya buntung pakai air comberan!"

"Kalau kena air comberan bukan buaya buntung lagi dong Mbak, ntar jadi bebek," kataku nyeleneh berusaha ngelawak untuk mengurai ketegangan.

Sepersekian detik kemudian kami tertawa bersama.

"Ha ha ha ha...."

"Udah ya Mbak, ceramahnya, Ayu ngantuk ini," kataku sambil menguap.

"Ok. Tapi jangan galau- galau lagi!"

"Iya Mbak. Lagian besok aku mau melamar kerja lagi, takut mataku bengkak."

"Besok istirahat dulu aja. Tenangin diri, melamar kerjanya besok lusa aja."

Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Dan disinilah aku sekarang, bersama beberapa orang yang sama sepertiku, tengah mencari kerja harus bersaing dengan sekian banyak pelamar dan hanya sedikit yang akan diterima.

Mungkin keberuntungan berada dipihakku, singkat cerita aku diterima kerja setelah melalui proses rekruitmen yang begitu panjang.

"Mbak... aku diterima kerja!" teriakku girang saat memasuki kamar kost.

"Serius?!" mbak Siska yang tengah berbaring terlonjak mendengar teriakanku.

Aku mengangguk mantap sambil tersenyum lebar.

"Selamat kalau gitu. Rejekimu emang bagus, Yu," kata mbak Siska tersenyum simpul.

Kuperhatikan mbak Siska yang tidak seperti biasanya. Wajahnya kuyu, mata sedikit merah dan bengkak.

"Mbak sakit?" tanyaku kemudian kusentuh keningnya dengan punggung tangan.

"Enggak. Embak baik- baik aja, cuma kecapekan," mbak Siska menepis tanganku lembut.

"Beneran?"

Mbak Siska hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian kembali rebahan di tempat tidur.

"Hari ini Mbak gak kerja?" tanyaku.

"Enggak, aku ijin. Capek banget rasanya."

"Ok deh. Hari ini aku yang masak buat makan malam kita," aku bergegas ganti baju kemudian berjalan ke dapur untuk mulai memasak.

***

Hari pertama sebagai anak training bisa kulalui dengan baik dan aku berkenalan dengan beberapa anak training yang merantau sama sepertiku. Aku juga minta tolong pada mereka kalau- kalau ada kamar kost yang kosong. Aku harus segera pindah agar tidak merepotkan mbak Siska terus.

"Kayaknya akhir bulan ini kamar kost sebelahku kosong deh, Yu," kata Nisa teman baruku.

"Oh ya? Aku mau deh, tolong bilangin sama ibu kost-mu ya," pintaku.

"Coba deh nanti aku pastikan dulu. Tapi kemarin sih ibu kost bilang gitu," balas Nisa setelah menelan makanan di mulutnya.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku masih ada sedikit uang, kiranya cukup untuk bayar kos 1 bulan dan biaya makan selama nunggu gajian, ya, meskipun harus diirit- irit. Setidaknya aku tidak akan merepotkan mbak Siska lagi.

Aku pulang jam 3 sore karena masih masa training. Aku memilih jalan- jalan sebentar di sekitar pabrik bersama Nisa.

"Mampir ke kost-anku sebentar yuk!" ajak Nisa.

"Emang boleh, ada orang luar masuk?" tanyaku.

"Boleh. Ibu kost-ku orangnya baik banget kok, " jawab Nisa sambil menarik tanganku.

Saat memasuki pagar, kulihat seorang ibu paruh baya sedang menyiram bunga di pot- pot yang berjajar rapi depan kamar kost yang berderet. Kamar kost-nya kecil tapi bersih kata Nisa.

"Sore Bu Hasna!" sapa Nisa pada ibu kost.

"Sore Nisa!" balasnya sambil tersenyum membuatmu teringat ibu di kampung. "Eh, ini temanmu?" tanyanya masih sambil tersenyum saat menatapku.

"Iya Bu, selamat sore, saya Ayu temannya Nisa, " jawabku sambil mengulurkan tanganku ke arah beliau. Saat beliau menyambut uluran tanganku aku refleks mencium tangan beliau seperti saat aku bertemu orang tuaku.

"Ehhh, tangan Ibu kotor, jangan dicium!" Bu Hasna menarik tangan.

"Aduh maaf Bu, saya refleks," aku pun kaget dan melepaskan tangan beliau.

"Ah, tidak apa- apa. Saya tahu perasaan anak rantau seperti kalian yang pasti rindu rumah dan orang tua. Sebenarnya tidak apa- apa kalau kalian menganggap Ibu seperti orang tua sendiri, cuma tangan Ibu sekarang kotor habis ngurus tanaman," jelasnya sambil tersenyum ramah.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Oh ya, Bu. Kamar yang paling ujung katanya akhir bulan ini kosong, ya?" tanya Nisa.

"Iya. Dewi katanya mau nikah terus tinggal sama suaminya."

"Jadi, Ayu ini sebenarnya mau ngisi kamar itu, Bu. Kalau belum ada yang ngisi," jelas Nisa.

"Oh, belum ada yang ngisi. Kamu boleh masuk akhir bulan ini. Nanti kamu minta nomor ponsel Ibu ke Nisa untuk konfirmasi."

"Baik Bu, terimakasih banyak."

Setelah maghrib aku pulang ke rumah kost Mbak Siska dengan hati riang sambil membawa martabak manis coklat keju kesukaan Mbak Siska. Seolah aku tidak pernah patah hati, entah perasaan sakit hati karena Angga beberapa waktu lalu sudah sirna. Aku tidak mau meratapi masalah percintaan lagi. Bukankah jodoh kita sudah diatur oleh Tuhan? Jadi apalagi yang perlu kukhawatirkan? Awal kedatanganku memang karena Angga, tapi mulai sekarang aku bertekat mengubah tujuan, 'aku disini untuk diriku sendiri'.

Saat memasuki gerbang aku melihat orang ramai- ramai berkerumun. Bahkan aku mendengar suara teriakan yang saling bersahutan dari beberapa orang. Aku berusaha menerobos kerumunan yang ternyata tepat berada di depan pintu kamar kost Mbak Siska. Saat aku berhasil menerobos aku sangat kaget melihat kondisinya yang memprihatinkan.

"Mbak Siska?!" teriakku sambil berlari meraihnya.

TBC

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pak Boss, Galakk!   Tujuan Baru

    Cukup sehari semalam aku terpuruk karena patah hati. Pulang kerja kemarin lusa aku diceramahi habis- habisan sama mbak Siska karena melihatku yang terus murung. "Sudah Mbak bilang kan kemarin, Yu, kalau mau ikut Mbak kamu harus mengubah tujuanmu supaya kamu gak terpuruk seperti ini kalau Angga mengecewakanmu." "Apalagi Angga yang ibunya aja kayak gitu. Kalaupun Angga mau menikah sama kamu, seumur hidup kamu akan makan hati tahu! Bisa- bisanya kamu jatuh cinta sama lelaki model kayak gitu, untungnya Angga memperlihatkan kebusukannya jadi kamu bisa buka mata sekarang!" Mbak Siska mengungkapkan kekesalannya dengan menggebu- gebu membuatku mengerutkan alis karena setengah tak terima. "Mbak... udah ya marahnya. Ayu memang bodoh gak dengerin Ayah sama Mbak Siska," kataku memelas. "Hhhh...," mbak Siska menghela napas berat. Kami diam beberapa saat meredam emosi masing- masing. Aku masih gak nyangka Angga akan setega itu. Bukan maksud menghitung kebaikanku, tapi tabungan yang kukirim un

  • Pak Boss, Galakk!   Dipecat

    Aku terbangun jam 2 siang tapi belum ada tanda- tanda mbak Siska pulang. Suasana kost juga sepi, mungkin mereka sibuk bekerja. Aku mulai mencari- cari lowongan kerja di media sosial tapi nihil, aku tidak memenuhi kriteria yang dicari, minimal pendidikan D3.Tiba- tiba ada notifikasi pesan berlogo hijau. Buru- buru kubuka, berharap Angga yang membalas pesanku karena tadi pagi aku sempat mengirim pesan padanya. Ternyata aku masih harus kecewa karena bukan Angga melainkan mbak Siska. Tapi sedetik kemudian aku berteriak heboh karena mbak Siska mengabarkan ada lowongan kerja di restoran temannya. Sungguh aku girang bukan kepalang, mbak Siska emang malaikat yang dikirim untukku. Pagi hari berikutnya aku diantar mbak Siska ke restoran milik temannya. Aku diterima tanpa melalui proses rekruitmen atas rekomendasi mbak Siska."Kerja yang bener ya, Yu. Ingat tujuanmu kesini. Kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri," nasehat mbak Siska."Siap Mbak. Aku gak akan ngecewain mbak Siska," jawa

  • Pak Boss, Galakk!   Membulatkan Tekat

    "Masuk dulu yuk, Mbak!" ajakku pada mbak Siska yang datang untuk ukur badan.Mbak Siska mengangguk dengan senyum merekah. Tepat saat baru turun dari motor, bu Surti, ibu Angga melintas depan rumahku."Eh ini Siska kan? Kapan pulang Nduk? Uayu tenan dirimu sekarang," pujinya pada mbak Siska tanpa memperdulikan aku."Iya Bulek, saya Siska. Bulek apa kabar?" balas mbak Siska sopan."Baik. Bulek baik banget kabarnya. Kamu udah sukses ya di kota, udah bisa beli mobil juga. Angga juga sekarang di kota, udah kerja di perusahaan gede. Kamu gak pernah ketemu sama dia?" bu Surti masih terus nyerocos membuatku jengah."Enggak Bulek, saya gak pernah ketemu Angga," mbak Siska memberi kode mata padaku dan aku hanya mengangkat bahu."Ya ampun, nanti deh Bulek kasih nomer HP-nya Angga. Soalnya Angga ganti nomer kemarin."DEG. Perkataan bu Surti mengusikku kali ini."Jadi anak muda jaman sekarang memang harus kerja keras. Harus berani keluar dari desa biar sukses. Kalau cuma di desa ya ujung- ujungnya

  • Pak Boss, Galakk!   Nasehat Mbak Siska

    Tok tok tok. Kuketuk pintu rumah mbak Siska yang terlihat habis direnovasi. Gentengnya terlihat baru, dindingnya yang dulu masih semen sekarang sudah dicat warna hijau dan lantainya sudah dikeramik. Aku tersenyum ikut bangga, sepertinya mbak Siska beneran sudah sukses di kota. Di halaman juga terparkir mobil. Bukan mobil yang wow memang tapi untuk ukuran orang desa punya mobil itu sudah cukup membuktikan kekayaan seseorang.Saat pintu dibuka, keluarlah seorang wanita cantik, putih dan wangi membuat Ayu melongo melihatnya. Sesaat wanita itu juga terdiam, seperti mengingat- ingat sesuatu."Mbak Siska?!" pekik Ayu kegirangan."Iya...?Kamu...?" "Aku Ayu, Mbak. Masa lupa?" Mbak Siska terlihat mengerutkan kening, mungkin sedang menggali ingatannya."Ya ampun Ayu?!" sekarang gantian mbak Siska yang memekik kegirangan setelah berhasil mengembalikan memorinya."Mbak sekarang cantik banget ih...," aku menoel pipi mbak Siska."Kamu bisa aja. Ayo masuk dulu!" ajak mbak Siska merangkul bahuku.A

  • Pak Boss, Galakk!   Gosip Miring

    Meski kemarin aku sempat kecewa karena tidak bisa ikut mengantar Angga ke terminal bersama keluarganya tapi hari ini kekecewaanku terobati karena Angga baru saja mengabariku bahwa ia telah sampai di Jakarta. Walaupun kami hanya berbicara sebentar itu sudah cukup bagiku karena aku tahu dia juga butuh istirahat setelah perjalanan jauh."Istirahat dulu Nak, jangan terlalu diforsir," tegur ayah."Iya Yah," balasku sambil tersenyum. Aku beranjak meninggalkan mesin jahit dengan senyum manis terukir di bibirku. Aku sudah minta maaf pada ayah kemarin mengenai kekesalanku pada ayah tempo hari dan tentu saja ayah memaafkan."Ayah sudah makan siang?" tanyaku sambil bergelayut di lengan ayah. Manja memang tapi beginilah aku. "Belum, nungguin putri ayah yang cerewet," jawab ayah sambil tersenyum jahil.Aku tak marah karena itu memang kenyataan. Tak hanya manja aku juga cerewet hanya saja saat bersama Angga aku harus menekan itu semua karena Angga tak menyukai gadis cerewet apalagi manja.Begitula

  • Pak Boss, Galakk!   Janji

    "Maaf aku harus pergi. Tapi ini semua demi masa depan kita. Pada saatnya nanti aku akan kembali dengan keadaan yang sudah siap mempersuntingmu," kata Angga sambil menggenggam jemariku. Aku terdiam sejenak, berusaha menenangkan hatiku yang sesak. Pada akhirnya perpisahan ini harus terjadi. Jauh sebelum hari ini, Angga memang sudah pernah menceritakan padaku tentang mimpinya untuk melanjutkan pendidikan ke kota. Namun aku tak menyangka hari itu akan datang secepat ini. "Kamu akan kembali kan?" tanyaku terdengar meragukannya. Angga tersenyum, "Tentu. Rumahku kan disini." "Maksudku... kamu akan kembali padaku kan? Kamu akan setia meskipun di kota banyak cewek cantik?" tanyaku penuh harap -harap cemas. "Ha ha ha...," Angga tertawa lebar membuat Ayu cemberut."Ayu... Ayu... Kamu tidak paham maksudku ya?" Aku mengernyitkan kening tidak paham dengan apa yang dia bicarakan. "Aku sudah bilang kan kalau aku pasti pulang ke rumah?" "Iya, aku tahu. Kamu pasti pulang ke rumah karena disana

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status