Home / Romansa / Pak Ceo, Aku Ingin Anak / Bab 104: Lancaster Group

Share

Bab 104: Lancaster Group

Author: Za_dibah
last update Last Updated: 2025-12-29 18:29:55

​Pagi itu, Penthouse kembali terasa lebih hidup. Bi Ana, asisten rumah tangga setia yang sudah seperti keluarga sendiri, akhirnya kembali dari desanya di pinggiran wilayah utara yang sejuk setelah menghadiri pernikahan keponakannya. Kepulangannya membawa aroma pedesaan yang segar ke dalam hunian mewah Darian.

​Amara, yang sudah bisa berjalan dengan lebih stabil meskipun tetap dalam pengawasan perawat, menyambut Bi Ana dengan senyum lebar di ruang makan.

​"Bi Ana! Akhirnya Bibi pulang," sapa Amara hangat.

​Bi Ana meletakkan beberapa keranjang anyaman besar di atas meja dapur marmer. "Nona Amara! Oh, syukurlah Nona sudah sehat. Bibi sangat khawatir saat mendengar kabar dari Tuan Darian. Lihat, Bibi membawakan banyak oleh-oleh dari desa."

​Bi Ana mulai mengeluarkan isi keranjangnya satu per satu. Ada telur ayam kampung yang masih bersih, keranjang penuh buah anggur ungu yang besar, apel merah yang renyah, dan jeruk Sunkist segar yang baru dipetik dari kebun kakaknya di desa. Tak lupa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 113: Bertemu Maximilian

    "Aku ingin mampir ke Fresh Market Royale, Maya. Stok sayur dan lauk di kulkas menipis," ajak Amara saat mereka kembali ke mobil. "Ok, let's go," ucap Maya bersemangat. ​Sesampainya di supermarket besar tersebut, Maya yang sudah kebelet langsung berlari keluar. "Aku ke toilet dulu ya! Setelah selesai, aku akan menyusul di lorong buah!" ​Amara tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya. Namun, saat ia hendak melangkah menuju lift, ia meraba tasnya. "Sial, ponselku tertinggal di laci mobil." ​Amara berbalik arah menuju basement parkir, diikuti oleh dua pengawalnya yang setia mengekor di belakang menjaga jarak aman. Setelah mengambil ponselnya, Amara berjalan keluar dari barisan mobil. Langkah kakinya menggema di lantai beton basement yang agak sepi. Namun, tiba-tiba, matanya menangkap sosok seorang pria yang berdiri di dekat pilar besar. ​Pria itu mengenakan kemeja rapi, sedang berbicara di ponsel dengan nada yang sangat fokus namun lembut. "Ya, Ma... aku sudah di basement. Cepatlah,

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 112: Mengunjungi pemakaman.

    Suasana di ruang makan penthouse Lancaster seketika membeku. Maya, dengan mata tajamnya, masih berdiri mematung menatap Inara yang duduk dengan kruk di sampingnya. Amara menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sempat memuncak akibat konfrontasi dengan Inara barusan. Amara berjalan mendekati sahabatnya, lalu merangkul lengan Maya dengan tenang. "sudahlah, Maya. Dia memang penyelamat masa kecil Mas Darian. Dia sedang terluka dan butuh tempat tinggal sementara untuk alasan keamanan." ​Maya mendengus sinis, matanya tidak lepas dari wajah Inara yang kini kembali memasang raut menyedihkan. "Penyelamat? Oh, heroik sekali." Inara menunduk dalam, jari-jarinya meremas ujung gaun tidurnya. "Maaf jika kehadiranku membuat temanmu tidak nyaman, Amara. Aku... aku akan masuk ke kamar sekarang." Dengan gerakan yang lambat dan tampak payah, Inara menyeret kruknya, meninggalkan ruang makan tanpa berani menatap Maya. "Wanita itu... aromanya tidak enak, Amara," gumam Maya sam

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 111: Memainkan peran sebagai istri

    ​Malam merayap lambat di Penthouse Lancaster. Setelah insiden berdarah di dapur mereda, keheningan yang menyesakkan menyelimuti kamar utama. Amara berbaring miring, memunggungi sisi kosong tempat tidur. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Solterra. ​Terdengar suara pintu terbuka pelan. Aroma maskulin yang familiar, campuran kayu cendana dan sisa uap air hangat, masuk ke dalam ruangan. Darian baru saja selesai mandi, hanya mengenakan jubah mandi sutra hitam. Ia menatap siluet punggung istrinya yang tampak begitu rapuh namun sekaligus membentengi diri. ​Darian menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat akan kelelahan mental. Ia menaiki ranjang dengan sangat hati-hati, seolah takut getaran sekecil apa pun akan membuat Amara semakin menjauh. Perlahan, ia merapatkan tubuhnya, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Amara. Ia menarik tubuh istrinya hingga punggung Amara menempel pada dadanya yang bidang. D

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 110: Perhatian yang terbagi

    Malam pun tiba, menyelimuti Penthouse dengan kesunyian yang mencekam. Amara terbangun dengan kerongkongan yang terasa kering dan terbakar. Ia melirik sisi tempat tidurnya; kosong. Darian kemungkinan masih di ruang kerja atau mungkin... Amara menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk itu. ​Ia memutuskan turun ke dapur. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer di lorong dapur, suara pecahan kaca yang tajam membelah keheningan malam. ​PRANG! ​Amara mempercepat langkahnya dengan jantung berdebar. Namun, langkahnya terhenti seketika di ambang pintu saat melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak. ​"Aww!" Inara memekik kecil, terduduk di lantai sambil memegangi tumitnya. Darah merah segar merembes di antara jari-jarinya yang pucat, kontras dengan lantai putih bersih itu. Darian, yang sepertinya baru saja pulang kerja, sudah berada di sana. Ia berjongkok di lantai dapur tanpa memedulikan setelan jas mahalnya yang mungkin terkena noda. Tangannya memegang pergelan

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 109: Menjadi orang asing

    ​Sore itu, suasana di perpustakaan pribadi Penthouse terasa begitu mencekam bagi Amara. Cahaya matahari yang mulai jingga menembus jendela besar, namun hangatnya tak mampu mencairkan kedinginan di hatinya. Amara mencoba membenamkan diri dalam buku di pangkuannya, tetapi setiap kali ia membalik halaman, telinganya seolah mencari-cari suara di luar sana. ​Suara gesekan sandal rumah yang halus terdengar mendekat. Inara muncul dengan sebuah nampan kayu. Ia mengenakan gaun rumah berwarna pastel yang membuatnya terlihat sangat muda dan tak berdaya. ​"Amara? Boleh aku masuk?" Inara bertanya dengan suara yang sangat rendah, seolah takut mengganggu kesunyian. ​Amara menutup bukunya, berusaha memasang wajah netral. "Masuklah, Inara. Ada apa?" ​Inara meletakkan nampan berisi teh kamomil dan kue gandum di meja kecil samping Amara. "Bi Ana sedang sibuk di dapur, jadi aku berinisiatif membawakanmu ini. Wajahmu terlihat sangat pucat sejak pagi tadi. Apa kau masih merasa pusing?" ​"Aku baik-bai

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 108: Berusaha menahan.

    Beberapa jam kemudian, Penthouse sudah sunyi. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, menyisakan lampu tidur yang temaram. Di dalam kamar utama, Darian baru saja selesai mandi. Ia keluar dengan hanya mengenakan celana training hitam, rambutnya masih basah dan handuk tersampir di bahunya. ​Ia melihat Amara sudah berada di atas ranjang, namun istrinya itu tidur membelakanginya, meringkuk di bawah selimut tebal. Darian tahu Amara tidak sedang tidur; napasnya terlalu tidak teratur untuk seseorang yang sudah terlelap. ​Darian mematikan lampu nakas, lalu perlahan naik ke ranjang. Ia mendekati Amara dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping istrinya, menarik tubuh Amara agar merapat ke dadanya yang hangat. ​"Aku tahu kau belum tidur," bisik Darian tepat di telinga Amara. ​Amara tetap diam, namun ia tidak menepis tangan Darian. ​"Maafkan aku untuk hari ini," bisik Darian lagi, suaranya terdengar tulus dan penuh sesal. Ia mengecup pucuk rambut Amara berkali-kali. "Inara tidak akan mengga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status