MasukAmara mengamati Darian mengambil map berisi kontrak itu. Pria itu menyimpannya di laci dengan gerakan cepat, seolah itu hanya selembar kertas tak berarti. "Sudah selesai," kata Darian, suaranya dingin dan lugas. "Kembali bekerja."
Amara tidak menoleh, ia hanya mengangguk pelan dan berjalan keluar dari ruangan itu. Di luar ruangan, tatapan karyawan seolah mengikuti langkahnya. Beberapa berbisik. “Dia lagi…” “Bahkan setelah kecelakaan, dia masih bisa bekerja.” "Apa dia dimarahi lagi?" "Mungkin..." Amara pura-pura tak mendengar. Ia sudah terbiasa. Di mejanya, tumpukan berkas menunggu. Ia menarik napas panjang, lalu duduk. Lina, rekan satu divisi, mendekat. “Kau baik-baik saja? Mukamu pucat.” “Aku baik. Cuma kurang tidur,” jawab Amara pendek. “Masih sempat analisis data tender yang kemarin?” “Sudah aku kerjakan, tinggal validasi,” kata Amara. Lina tersenyum kecil. “Kau memang mesin.” Amara tidak menanggapi, matanya sudah fokus pada tabel angka dan grafik. Jarum jam terus bergerak. Ia membenahi laporan, mengecek ulang riset pasar yang diminta kepala divisi. Sesekali matanya terasa panas, tapi ia bertahan. Menjelang siang, ia bangkit menuju pantry, mengambil cappuccino dan roti isi. Di koridor, ia bertabrakan dengan seseorang. Minumannya tumpah, menodai jas abu-abu mahal Darian yang baru keluar dari ruang meeting. “Maaf, Pak!” Amara langsung menunduk. Marco, asisten Darian, bereaksi lebih cepat. “Lihat jalanmu, Amara!” bentaknya. Darian berhenti. Tatapannya dingin, tapi ia tidak bicara. Hanya mendengus, melepas jasnya, dan menyerahkannya ke Marco. “Buang,” katanya singkat. Lalu berjalan pergi tanpa melihat lagi ke arah Amara. Amara berdiri kaku, wajahnya tetap datar. “Dasar pria sombong…” gumamnya, Ia melihat Darian dan Marco sudah menghilang dibalik tembok. Lina yang kebetulan lewat mendekat. “Kau gila? Itu Pak Darian!" “Aku sudah minta maaf.” “Kau nggak takut dipecat?” Amara hanya mengangkat bahu. “Aku masih punya laporan yang harus selesai.” Ia kembali ke mejanya, melanjutkan pekerjaannya. Tak berapa lama ponselnya tiba-tiba berbunyi, pesan dari Darian. > Lusa ke rumah sakit jam 8. Cek kesehatanmu. Jangan terlambat. RS Premier, Jl. Wijaya Kusuma No. 18. Amara mengetik balasan singkat: Baik, Pak. Lina melirik penasaran. “Siapa?” “Bukan urusanmu.” Amara menutup ponselnya. Ia kembali menatap layar penuh data. Sisa siang itu ia habiskan tenggelam dalam grafik, angka, dan analisis, seolah hanya pekerjaan yang membuatnya tetap berdiri. Dua hari kemudian, Amara tiba di RS Premier. Ini bukan rumah sakit umum tempatnya dirawat, melainkan klinik khusus yang terlihat seperti hotel mewah. Ruangan serba putih, sunyi, dan berbau antiseptik lembut. Darian sudah menunggunya di sana, duduk di sofa dengan kaki menyilang, matanya dingin menusuk. "Tak tepat waktu," katanya tanpa basa-basi. Amara hanya mengangguk. "Maaf, Pak. Sedikit terlambat. Tadi macet." Darian mendengus. "Tiga menit tidak membuat perbedaan. Masuk." Ia menunjuk ke pintu di belakangnya. Di dalam, dr. Anton sudah menunggu. Amara tahu, pria ini adalah dokter yang ditunjuk Darian dalam pemeriksaannya. "Nona Amara, Bapak Darian sudah menjelaskan semuanya," kata dr. Anton dengan nada profesional. "Saya sudah membaca catatan medis Anda. Kita akan melakukan beberapa pemeriksaan awal." Amara duduk, sementara Darian berdiri di dekat jendela, seperti patung. "Seperti yang Anda tahu," dr. Anton memulai, "kondisi rahim Anda akibat kecelakaan itu cukup parah. Saya mendiagnosis Anda dengan Sindrom Asherman. Dinding rahim Anda mengalami perlengketan yang menyulitkan implantasi embrio." Amara menelan ludah. "Jadi, saya tidak bisa hamil secara normal?" "Peluangnya sangat, sangat kecil," jawab dr. Anton. "Karena itu, kita akan mencoba prosedur IVF (In Vitro Fertilization). Kita akan mengambil sel telur Anda, dan menyatukannya dengan sperma Bapak Lancaster di laboratorium. Setelah itu, embrio akan kita tanam di rahim Anda." Amara menatapnya penuh tanya. “Apakah itu akan berhasil?” “Kesempatannya ada,” kata dr. Anton hati-hati. “Dan jika itu gagal?” tanya Amara. "Kita akan coba lagi," kata dr. Anton, "atau kita bisa mencoba inseminasi buatan. Prosedur yang lebih sederhana, tapi dengan peluang sukses yang sama." Darian tiba-tiba berbalik dari jendela. Ia menatap tajam ke arah dokter. "Apa ada cara lain? Prosedur medis yang lebih cepat dan efisien?" Dr. Anton mengangguk. Ia menatap Darian, lalu kembali menatap Amara. "Secara medis, jika kedua prosedur ini terus gagal karena perlekatan yang parah, ada satu jalan terakhir untuk memastikan keturunan berhasil." "Apa itu...?" tanya Amara cepat. "Sewa rahim."Amara masih terpaku di tempatnya berdiri, bahkan setelah mobil hitam mewah milik Maximilian melesat pergi meninggalkan area basement Fresh Market Royale. Di tangannya, tas yang tadi dilemparkannya terasa dingin, seolah masih menyisakan sisa sentuhan pria misterius itu. "Amara! Kau mendengarku tidak?" Maya mengguncang bahu Amara dengan wajah yang masih pucat pasi. "Siapa pria itu? Dan kenapa ada orang yang mau membunuhnya? Astaga, jantungku hampir copot!" Amara mengerjapkan mata, mencoba mengembalikan kesadarannya. "Aku tidak tahu, Maya. Dia bilang namanya Max. Dia hampir ditusuk dari belakang, dan aku hanya refleks bertindak." Dua pengawal Arcus yang dikirim Darian mendekat dengan wajah penuh penyesalan. Mereka menunduk dalam. "Maafkan kami, Nona. Kami lalai memantau pergerakan penyerang itu di balik pilar. Kami akan segera melaporkan kejadian ini pada Tuan Darian." "Jangan!" Amara memotong cepat, namun ia segera sadar itu mustahil. "Maksudku... Mas Darian pasti akan sangat kh
"Aku ingin mampir ke Fresh Market Royale, Maya. Stok sayur dan lauk di kulkas menipis," ajak Amara saat mereka kembali ke mobil. "Ok, let's go," ucap Maya bersemangat. Sesampainya di supermarket besar tersebut, Maya yang sudah kebelet langsung berlari keluar. "Aku ke toilet dulu ya! Setelah selesai, aku akan menyusul di lorong buah!" Amara tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya. Namun, saat ia hendak melangkah menuju lift, ia meraba tasnya. "Sial, ponselku tertinggal di laci mobil." Amara berbalik arah menuju basement parkir, diikuti oleh dua pengawalnya yang setia mengekor di belakang menjaga jarak aman. Setelah mengambil ponselnya, Amara berjalan keluar dari barisan mobil. Langkah kakinya menggema di lantai beton basement yang agak sepi. Namun, tiba-tiba, matanya menangkap sosok seorang pria yang berdiri di dekat pilar besar. Pria itu mengenakan kemeja rapi, sedang berbicara di ponsel dengan nada yang sangat fokus namun lembut. "Ya, Ma... aku sudah di basement. Cepatlah,
Suasana di ruang makan penthouse Lancaster seketika membeku. Maya, dengan mata tajamnya, masih berdiri mematung menatap Inara yang duduk dengan kruk di sampingnya. Amara menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sempat memuncak akibat konfrontasi dengan Inara barusan. Amara berjalan mendekati sahabatnya, lalu merangkul lengan Maya dengan tenang. "sudahlah, Maya. Dia memang penyelamat masa kecil Mas Darian. Dia sedang terluka dan butuh tempat tinggal sementara untuk alasan keamanan." Maya mendengus sinis, matanya tidak lepas dari wajah Inara yang kini kembali memasang raut menyedihkan. "Penyelamat? Oh, heroik sekali." Inara menunduk dalam, jari-jarinya meremas ujung gaun tidurnya. "Maaf jika kehadiranku membuat temanmu tidak nyaman, Amara. Aku... aku akan masuk ke kamar sekarang." Dengan gerakan yang lambat dan tampak payah, Inara menyeret kruknya, meninggalkan ruang makan tanpa berani menatap Maya. "Wanita itu... aromanya tidak enak, Amara," gumam Maya sam
Malam merayap lambat di Penthouse Lancaster. Setelah insiden berdarah di dapur mereda, keheningan yang menyesakkan menyelimuti kamar utama. Amara berbaring miring, memunggungi sisi kosong tempat tidur. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Solterra. Terdengar suara pintu terbuka pelan. Aroma maskulin yang familiar, campuran kayu cendana dan sisa uap air hangat, masuk ke dalam ruangan. Darian baru saja selesai mandi, hanya mengenakan jubah mandi sutra hitam. Ia menatap siluet punggung istrinya yang tampak begitu rapuh namun sekaligus membentengi diri. Darian menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat akan kelelahan mental. Ia menaiki ranjang dengan sangat hati-hati, seolah takut getaran sekecil apa pun akan membuat Amara semakin menjauh. Perlahan, ia merapatkan tubuhnya, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Amara. Ia menarik tubuh istrinya hingga punggung Amara menempel pada dadanya yang bidang. D
Malam pun tiba, menyelimuti Penthouse dengan kesunyian yang mencekam. Amara terbangun dengan kerongkongan yang terasa kering dan terbakar. Ia melirik sisi tempat tidurnya; kosong. Darian kemungkinan masih di ruang kerja atau mungkin... Amara menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk itu. Ia memutuskan turun ke dapur. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer di lorong dapur, suara pecahan kaca yang tajam membelah keheningan malam. PRANG! Amara mempercepat langkahnya dengan jantung berdebar. Namun, langkahnya terhenti seketika di ambang pintu saat melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak. "Aww!" Inara memekik kecil, terduduk di lantai sambil memegangi tumitnya. Darah merah segar merembes di antara jari-jarinya yang pucat, kontras dengan lantai putih bersih itu. Darian, yang sepertinya baru saja pulang kerja, sudah berada di sana. Ia berjongkok di lantai dapur tanpa memedulikan setelan jas mahalnya yang mungkin terkena noda. Tangannya memegang pergelan
Sore itu, suasana di perpustakaan pribadi Penthouse terasa begitu mencekam bagi Amara. Cahaya matahari yang mulai jingga menembus jendela besar, namun hangatnya tak mampu mencairkan kedinginan di hatinya. Amara mencoba membenamkan diri dalam buku di pangkuannya, tetapi setiap kali ia membalik halaman, telinganya seolah mencari-cari suara di luar sana. Suara gesekan sandal rumah yang halus terdengar mendekat. Inara muncul dengan sebuah nampan kayu. Ia mengenakan gaun rumah berwarna pastel yang membuatnya terlihat sangat muda dan tak berdaya. "Amara? Boleh aku masuk?" Inara bertanya dengan suara yang sangat rendah, seolah takut mengganggu kesunyian. Amara menutup bukunya, berusaha memasang wajah netral. "Masuklah, Inara. Ada apa?" Inara meletakkan nampan berisi teh kamomil dan kue gandum di meja kecil samping Amara. "Bi Ana sedang sibuk di dapur, jadi aku berinisiatif membawakanmu ini. Wajahmu terlihat sangat pucat sejak pagi tadi. Apa kau masih merasa pusing?" "Aku baik-bai







