แชร์

Bab 3: Pertemuan Tak Terduga

ผู้เขียน: Za_dibah
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-09-10 20:09:16

Seminggu setelah keluar dari rumah sakit, Amara kembali ke apartemen mungilnya. Hari-hari yang seharusnya diisi dengan istirahat, kini terasa penuh bayangan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi apartemennya yang sederhana. Perban di dahi dan beberapa memar di lengan dan kakinya menjadi saksi bisu kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Wajahnya masih terlihat pucat dan lelah, jauh dari gambaran Amara yang biasa, yang selalu berusaha tersenyum meski batinnya dipenuhi cemoohan.

Ia menghela napas, bayangan Darian Lancaster kembali terlintas. Senyum sinisnya, tatapan mata abu-abunya yang dingin, dan kata-kata tajam yang menembus pertahanan dirinya. "Kamu bahkan tidak takut bicara begitu padaku?" dan "Kamu bahkan tahu apa yang baru saja kamu minta dariku?"

​Amara memejamkan mata, memegang erat pinggiran wastafel. Ia tahu permintaannya gila, tapi bukan itu yang membuatnya terusik. Pikirannya dipenuhi pertanyaan lain: mengapa Darian menolaknya seolah permintaan itu menyinggung egonya sebagai pria? Mengapa ia berkata seolah-olah ia sendiri tidak mampu memenuhi permintaan itu, padahal semua orang tahu ia adalah pria sempurna.

​"Sialan," gumam Amara pelan. Perkataan Darian seolah menantangnya, membuatnya semakin penasaran. Ia harus membuang pikiran itu. Hidupnya harus terus berjalan. Ia harus kembali bekerja, meskipun tubuhnya masih terasa sakit.

Sesampainya, di kantor. Ia jadi sorot perhatian karena masih banyak perban menyelimuti tubuhnya.

"Sudah keluar dari rumah sakit, rupanya. Aku pikir kamu akan mengambil cuti panjang dan menuntut ganti rugi.” ucap Andhika, kepala devisi tempat ia bekerja.

​Amara terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. "Saya... saya baik-baik saja, Pak. Saya hanya ingin kembali bekerja," jawabnya pelan.

Baru saja ia duduk dimeja kerjanya. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Darian Lancaster muncul di layar. Suara dinginnya terdengar begitu saja di telinga Amara.

"Hallo Pak..."

​"Kalau aku memenuhi permintaanmu," kata Darian diujung telpon, suaranya lebih dalam dan serius. "Apa kau siap menanggung konsekuensinya?"

​Amara membeku. Jantungnya berhenti berdetak. Ia tidak pernah mengira Darian akan benar-benar mempertimbangkannya.

​"Apakah kau... siap menanggung semuanya, Amara?" tanya Darian lagi, kali ini dengan menekankan nama Amara. "Bukan hanya menjadi ibu, tapi juga menjadi milikku, sesuai dengan aturanku?"

​Amara tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa terdiam dengan mata membelalak, pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan yang lebih besar. Konsekuensi apa yang harus ia bayar untuk menjadi seorang ibu? Dan apakah ia benar-benar siap untuk membayarnya?

“Ke ruanganku sekarang,” perintah Darian tanpa basa-basi, lalu sambungan terputus.

Amara menarik napas panjang, berusaha mengendalikan degup jantungnya. Dari seberang meja, Lina, rekan satu divisi meliriknya dengan alis terangkat.

“Kenapa wajahmu tiba-tiba berat begitu?” tanya Lina pelan.

Amara menggeleng cepat. “Tidak ada apa-apa,” sahutnya, memaksakan senyum. Ia lalu berdiri, merapikan blazernya, dan melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas, ke ruangan CEO yang selalu terasa seperti medan perang baginya.

Ting

Menandai pintu lift terbuka. Amara melangkah keluar dengan langkah yang sedikit ragu. Lantai ini berbeda dengan lantai tempatnya bekerja; karpet tebal meredam suara sepatu, dinding kaca memantulkan bayangan dirinya yang tampak pucat. Udara di sini lebih dingin, lebih kaku, seolah ikut menegangkan suasana.

​Tidak ada orang di sana kecuali Marco, asisten Darian, yang mengangguk padanya. Marco mempersilakan Amara masuk ke ruangan Darian.

Pintu berat itu menutup pelan di belakangnya. Aroma kayu mahal dan kopi yang baru diseduh menyambut Amara, bercampur dengan udara dingin dari AC. Darian berdiri di dekat jendela besar dengan punggung menghadapnya, siluetnya tegap dengan jas gelap sempurna.

“Duduk,” suaranya terdengar datar, nyaris tanpa intonasi.

Amara menuruti tanpa banyak kata. Ia meletakkan map di pangkuannya, berusaha menjaga ekspresi tetap netral meskipun jantungnya berdebar cepat.

Darian berbalik, matanya tajam. “Jadi,” ia memulai, langkahnya tenang menuju meja. “Aku sudah memikirkan permintaanmu.”

Ia membuka laci, mengeluarkan sebuah map tebal berwarna krem, lalu meletakkannya di depan Amara. “Ini. Perjanjian yang akan mengikat kita.”

​Amara terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada beberapa lembar dokumen legal. Ia melihat judulnya.

Kontrak Pernikahan.

Amara mengerutkan keningnya, "Apakah ini pernikahan rahasia?" batin Amara, ia menatap Darian, merasa aneh dengan kontrak pernikahan yang sebelumnya tak ia harapkan..

​"Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan," kata Darian, suaranya kini terdengar seperti seorang hakim yang menjatuhkan vonis. "Aku akan memberikanmu anak. Tapi dengan syarat-syarat tertentu."

​Amara terdiam, matanya dipenuhi pertanyaan. "Syarat apa?"

Darian menyandarkan kedua tangannya di tepi meja, tubuhnya condong ke depan. Sorot matanya menusuk. "Seperti yang sudah tertulis. Pertama, tidak ada keterikatan emosional. Aku akan memberikan spermaku."

​Amara menelan ludah. Bagian ini ia sudah duga. Tapi mendengar Darian mengatakannya secara langsung, tanpa emosi, terasa menyakitkan.

​"Kedua, semua akan berjalan sesuai aturanku. Jika proses pembuahan tidak berhasil maka akan ada cara vegetatif. Kamu akan menyerahkan dirimu sepenuhnya padaku selama proses ini."

​"Menyerahkan diri?" Amara mengulang, suaranya bergetar. "Maksud Anda, saya akan menjadi... milik Anda?"

​"Untuk sementara," Darian tersenyum miring. "Hanya sampai kamu hamil. Setelah itu, kamu bebas. Tapi sampai saat itu, kamu harus melakukan semua yang aku minta. Tanpa pertanyaan."

​"Ketiga, tidak ada klaim kepemilikan. Setelah anak itu lahir, aku tidak akan pernah mengklaimnya sebagai anakku, dan kamu tidak akan pernah membiarkan orang tahu bahwa aku adalah ayahnya. Dan satu lagi... pernikahan ini rahasia, tak boleh ada publik yang tahu mengenai ini. Ingat kau masih bawahanku, tak lebih."

​Amara memejamkan mata, memproses semua kata-kata Darian. Ia merasakan gelombang kengerian, seolah Darian sedang membuat kontrak dengan jiwanya. Ini lebih buruk dari yang ia bayangkan. Kontrak ini bukan hanya tentang memiliki anak. Ini tentang menjual dirinya, tubuhnya, dan haknya untuk sementara waktu, untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Amara merasa terpukul, seolah dihantam oleh kenyataan yang kejam.

​"Kenapa..." Amara mencoba bertanya, "Kenapa Anda melakukan ini?"

​"Karena aku bisa," jawab Darian, matanya dingin. "Ini adalah caraku membayar ganti rugi, Amara. Aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi, tapi caraku berbeda. Aku tidak memberimu uang atau barang, aku memberimu apa yang kamu inginkan. Tapi kamu harus bayar harganya."

​Amara membuka lembar pertama. Matanya membaca cepat, jantungnya berdegup lebih kencang.

“Ini… ini seperti yang dia katakan di rumah sakit,” batinnya. Tiga syarat utama itu tertulis jelas, hanya sekarang berbentuk kalimat hukum yang dingin. Di bawahnya ada tambahan pasal-pasal baru: larangan menggunakan nama Darian dan perusahaan untuk keuntungan pribadi, prosedur medis yang harus ia jalani sesuai jadwal Darian, dan klausul pernikahan rahasia.

​"Saya... mengerti," bisik Amara, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Darian dengan tatapan yang penuh tekad, meskipun matanya berkaca-kaca.

​"Kalau begitu," kata Darian, "tanda tangani."

​Amara menatap kontrak itu, lalu menatap Darian. Ia tahu ini gila, tetapi ia juga tahu ini adalah satu-satunya cara baginya untuk meninggalkan jejak di dunia ini. Ia mengambil pulpen, menarik napas dalam, dan menandatangani nama Amara Aurelia di bawah garis yang disediakan, menjual dirinya demi sebuah kehidupan yang akan datang.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 156: Julia Rose.

    ​"Rose? Julia Rose?" tanya Darian dengan nada suara yang terdengar antara terkejut namun juga mengenali dengan sangat jelas. ​Wanita yang dipanggil Rose itu tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat merdu dan elegan, selaras dengan penampilannya yang memukau di bawah cahaya senja. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menyingkap sepasang mata yang indah dengan riasan sempurna yang membingkai wajahnya yang sangat proporsional layaknya seorang model papan atas. Rose melangkah maju, memberikan pelukan singkat di bahu Darian yang segera dibalas oleh Darian dengan tepukan sopan di punggung wanita itu. ​"Sudah berapa lama kita tidak bertemu, Darian? Sejak kelulusan kita di Harvard, kau benar-benar menghilang seperti ditelan bumi," ujar Rose dengan nada akrab yang sangat kental. ​Amara terpaku di tempatnya berdiri, merasa seolah oksigen di sekitarnya tiba-tiba menipis saat mendengar nama universitas ternama itu disebutkan oleh Rose. Ia tahu Darian adalah lulusan terbaik dari fakultas

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 155: Wanita cantik dengan gaun merah.

    "Mas, lihat itu! Ada penjual camilan khas Maladewa dan minuman segar di sana!" seru Amara sambil menunjuk ke arah kerumunan yang sangat ramai. Mereka membeli berkotak-kotak Addu Bondi, manisan kelapa tradisional, dan teh herbal khas Maladewa yang aromanya sangat harum dan menenangkan jiwa."Ini oleh-oleh untuk keluarga di Solterra, semoga mereka menyukainya, Mas," ucap Amara senang."Tentu, sayang. Sekarang kita lanjut ke tempat selanjutnya, kau siap!" Amara mengangguk cepat, "Sangat siap, Mas! Lets go!" serunya, sambil berjalan mengapit lengan suaminya.Setelah lelah berputar-putar di pasar, Darian mengajak Amara menuju ke sebuah area terbuka di mana banyak warga lokal sedang bermain. Di sana terdapat sebuah permainan tradisional yang menggunakan papan kayu dan biji-bijian, mirip dengan congklak namun dengan aturan yang berbeda. Amara tertantang untuk mencobanya, ia duduk berhadapan dengan Darian di depan sebuah meja kayu yang sudah disediakan untuk para

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 154: Belanja di negeri karang.

    Kapal cepat itu membelah ombak biru toska dengan anggun sebelum akhirnya merapat di dermaga kayu yang sangat sibuk. Amara terpaku melihat pemandangan di depannya; bukan lagi kesunyian pulau pribadi, melainkan hiruk-pikuk manusia yang berwarna-warni. Aroma rempah-rempah yang tajam berpadu dengan wangi laut dan kayu manis langsung menyerbu indra penciumannya begitu ia melangkah turun. ​Namun, perhatian Amara seketika teralih pada empat pria berbadan tegap dengan setelan safari rapi yang sudah berdiri berjajar di dermaga.Mereka mengenakan kacamata hitam dan memiliki aura yang sangat tegas, seolah sedang bersiap untuk sebuah misi rahasia yang sangat besar. Amara menghentikan langkahnya, menatap Darian dengan dahi berkerut dan rasa heran yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. ​"Mas... siapa mereka? Kenapa mereka terlihat seperti sedang menunggumu?" tanya Amara sambil menunjuk ke arah empat pria yang kini membungkuk hormat. ​Darian hanya tersenyum tipis, ia menarik pinggul Amara agar le

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 153: Menuju pasar tradisional di Maladewa

    Darian akhirnya bangkit dari ranjang, memperlihatkan tubuh atletisnya yang hanya tertutup celana pendek santai tanpa memedulikan rasa malu Amara. "Cepatlah mandi, Sayang. Aku akan menyiapkan air hangat untuk merendam otot-ototmu yang kaku itu," perintah Darian lembut. ​Amara hanya mengangguk patuh, ia memang merasa sangat butuh berendam setelah maraton gairah yang mereka lakukan semalam. Ia memperhatikan punggung Darian yang lebar, merasa sangat bersyukur pria itu kini benar-benar menjadi miliknya seutuhnya. ​"Terima kasih, Mas," gumam Amara pelan sebelum ia beranjak dari ranjang dengan langkah yang masih sedikit gemetar. ​Setelah membersihkan diri selama hampir satu jam, Amara keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun cendana yang menenangkan. Ia menemukan Darian sudah menunggunya di meja makan dengan berbagai hidangan sarapan yang sudah sangat terlambat untuk ukuran waktu. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, namun suasana di pulau pribadi itu tetap terasa sangat tenang da

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 152: Empat ronde...

    Cahaya matahari Maladewa sudah meninggi, menembus celah gorden sutra yang berkibar malas diterpa angin laut. Amara mengerjap perlahan, merasakan silau yang menusuk kelopak matanya sebelum ia benar-benar terbangun sepenuhnya. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun seketika sebuah ringisan kecil lolos dari bibir ranumnya yang sedikit bengkak."Sshhh... sakit sekali!" ​Rasa kaku dan pegal yang luar biasa menjalar dari pinggang hingga ke pangkal pahanya yang terasa sangat sensitif. Amara menyentuh pinggangnya dengan satu tangan, memijatnya pelan sambil mencoba mengingat rentetan peristiwa gila semalam. Ingatannya kembali berputar pada momen di dek luar vila, saat mereka bercumbu di bawah taburan bintang. ​Namun, permainan itu ternyata hanyalah permulaan dari badai nafsu yang tidak kunjung reda hingga fajar menyingsing. Dari dek luar, Darian yang haus akan gairah membawa tubuh polosnya menuju ruang tengah yang luas. Di atas sofa kulit yang dingin, suaminya menghantamnya dengan keberin

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 151: Adegan klimaks mencapai titik didihnya 🔥🔞

    Di balik selimut kasmir yang tebal, udara terasa begitu panas dan menyesakkan oleh gairah yang meledak. Darian telah menanggalkan seluruh pakaian mereka, membiarkan kulit mereka yang polos bersentuhan langsung di atas tumpukan bantal empuk. Di layar besar, suara musik orkestra dari film klasik itu membumbung tinggi, menyamarkan suara gesekan kulit dan napas yang memburu di atas dek kayu. ​Darian memposisikan dirinya di atas Amara, menumpu tubuhnya agar tidak menghimpit istrinya sepenuhnya. Cahaya dari proyektor yang sesekali berubah warna menjadi biru laut dan jingga memberikan efek dramatis pada tubuh atletis Darian yang berotot. ​"Mas... ahh, pelan-pelan," bisik Amara, jemarinya meraba otot punggung Darian yang menegang saat pria itu mulai memberikan tanda kepemilikan di lehernya. ​"Aku sudah menahannya sejak kita makan siang tadi, Sayang. Tidak ada lagi kata pelan," geram Darian serak. ​Darian mengarahkan miliknya yang sudah menegang keras dan berdenyut panas menuju pintu masu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status