Share

115. Perdebatan WO

Author: Dewi masitoh
last update Last Updated: 2025-11-07 17:01:14

“Pak berhenti!” Reno meminta supir berhenti.

Supir langsung menghentikan mobilnya. Yasmine menurunkan kaca mobil. Mata Venya terpukau melihat mobil mewah. Varian spek tertinggi untuk Toyota Alphard adalah Alphard 2.5L HEV CVT tersedia dengan harga Rp 1,733 Milyar. Varian lain dari Toyota Alphard.

“Kalian ada apa?” tanya Yasmine.

“Maaf, ya! Ini untukmu.” Venya mendekati Yasmine.

Yasmine keluar dari dalam mobil. Ia memeluk Venya lalu mengambil pemberiannya.

“Makasih, Ve! Selamat berjuang.” Yasmine melambaikan tangan.

Mobil berwarna hitam itu melaju kencang. Minto yang membawa motor hanya menatap kepergiannya. Venya berjalan kaki meninggalkan Minto yang masih menatap mobil itu.

“Ayo, naik!” Minto datar.

“Nggak usah,” tolak Venya sambil tersenyum. “Sepertinya memang harus berhenti berjuang,” batin Venya yang kembali berjalan.

Pria itu menggunakan motor CB klasik adalah motor legendaris dari Honda yang identik dengan desain klasik, mesin tangguh, dan performa yang andal, terutama
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   195. Tumbler Tuku

    “Ini Tumbler Tuku, warna biru! Lucu ‘kan?” ucap Sesil.“Wah! Kami dapat satu per satu?” tanya salah satu dari mereka.“Tentu saja, kecuali Risa! Kamu dapat Tumbler Lion Star! Nggak cocok dapat tumbler ini.” Sesil menyilangkan kedua tangannya di dada.Reno mengajak Sesil untuk masuk ke dalam ruangannya. Kini Yasmine hanya menahan tawa saja. Risa terlihat emosi sekali. Teman-teman lain juga menahan tawa.“Apa yang lucu! Diam kalian!” Risa pergi ke tempat duduknya.Kubikel kantor modelnya memanjang saja. Di ujung adalah tempat duduk Risa. Risa mampu melihat Yasmine sedang mengerjakan tugas.“Sayang, ini untukmu.” Reno memberikan buah-buahan untuk Yasmine makan.“Makasih, Kak.” Yasmine tersenyum.Reno pun pergi dari sana. Para wanita yang melihat pun iri.“Beruntung ya, kamu!” ucap Nina—teman kerja.“Semoga kamu dapat lebih dari Kak Reno,” jawab Yasmine yang kembali bekerja.“Alah, gitu aja bangga,” gumam Risa dengan suara yang keras, mampu didengar beberapa orang.Yasmine seringai sambil

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   194. Drama Kantor

    Ceklek …Saat pintu terbuka, tubuh Risa membeku sesaat. Leo masuk dengan wajah yang garang. Risa langsung berdiri lalu menghampiri Leo.“T-tuan!” Suara Risa yang bergetar.“Duduk.” Leo duduk di kursi.Risa pun duduk di singgasananya. Leo pun menyampaikan apa yang diinginkan oleh Yasmine. Wajah Risa langsung berubah.“Kamu maunya gimana?” tanya Leo.“Saya akan meminta maaf di depan karya, Pak.” Risa menundukkan kepalanya.“Akh! Satu lagi. Kamu akan turun jabatan.” Leo berdiri. “Tunggu sekretarisku ke sini membuat surat perjanjian.” Leo pergi.Risa mengepalkan tangannya. Wanita itu terbakar emosi. Sampai-sampai tidak sadar di tangan satunya menggenggam pulpen.Pletak …Pulpen itu patah sampai tangan Risa berdarah. Dendam telah merasuki wanita itu.“Lihat saja nanti.” Risa seringai.***Keesokan harinya, di pagi itu Leo dan Venya akan kembali ke Prancis. Satu bulan lagi di sana, tugas Venya selesai menjadi peracik parfum.“Hati-hati di jalan, ya!” ucap Yasmine sambil memeluk Venya di ban

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   193. Sudah Diujung

    “Tante sakit ya,” ucap Lino merasa bersalah.“Nggak pa-pa kok Sayang.” Yasmine tersenyum.Risa tidak merasa bersalah di hadapan Reno. Ia malah mengadu ke pria itu soal kelancangan Yasmine.“Tuan! Lihat dia itu! Tidak sopan.” Risa berakting seolah Yasmine salah.“Bohong!” Lino dengan berani.Plak …Reno menampar pipi Risa. Ia berjalan menghampiri Yasmine.“Tuan!” Risa bingung sambil menahan sakit.“Diam kamu!” bentak Reno.“Sayang, kita ke rumah sakit ya!” Reno langsung membopong tubuh Yasmine.Deg …Semua karyawan termasuk Risa dan Farel tercengang. Ucapan Reno begitu jelas membuat mereka tidak percaya.“Nggak usah, ini diobatin salep aja sembuh,” tolak Yasmine yang menenangkan hati Reno.“Ya, sudah. Ayo, ke ruanganku.” Reno meninggalkan departemen itu.Risa membeku, Leo dan Farel meninggalkan ruangan itu juga. Namun, sampai di lift ternyata Reno dan Yasmine sudah pergi terlebih dahulu.“Astaga! Dari tadi yang urus Anakmu ini si Yasmine.” Leo menggelengkan kepala.“Aku tidak tahu Yasm

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   192. Gara-Gara Secangkir Cokelat

    Yasmine dan Lino berpisah dengan Farel. Yasmine masuk ke departemen yang mempekerjakannya. Lino anteng sekali mengikuti Yasmine.“Hei kamu anak baru?!” tanya manajer departemen itu.Yasmine melihat wanita itu terlihat garang sekali. Lino bersembunyi di belakang tubuh Yasmine.“Iya, Ibu.” Yasmine tersenyum.“Kamu bawa anak saat kerja?! Hari pertama sudah membuat masalah saja!” omel wanita itu.“Memangnya ada larangan?” tanya Yasmine.“Baca! Surat kontrak tidak kamu itu!” bentak wanita itu.“Maaf, Bu. Saya jamin tidak akan berbuat masalah. Hari ini saja.” Yasmine memohon.“Apa katamu!” Wanita itu marah.“Satu jam saja Bu! Saya mohon.” Yasmine memelas.Ekspresi wajah itu membuat manajer itu luluh. Akhirnya, wanita itu memberi tahu tempat duduk Yasmine.***“Hai!” Leo menyapa Farel sambil memeluk.“Lama tidak bertemu!” Farel membalas pelukan Leo.Mereka melepaskan pelukannya lalu duduk di sofa. Lama tidak bertemu membuat mereka saling merindu. Persahabatan membuat mereka masih saling berh

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   191. Pertemuan Tak Terduga

    Deg …Reno baru mengerti Sesil meminta pergi dari rumah. Kini Reno pergi dari sana mencari keberadaan Yasmine. Sampai di kamar ia melihat sang istri tertidur pulas.“Aku kira dia kenapa-kenapa, untung saja tidur,” batin Reno yang menutup pintu dengan hati-hati.Setelah Reno menutup pintu, Yasmine membuka matanya. Ia menangis merasa sesak di dada.***“Sayang, kita sampai rumah—” Leo belum selesai melanjutkan ucapannya.“Kita packing, lusa kita pulang ke Prancis,” sela Venya sudah tahu otak mesum sang suami.“Jadi malam ini nggak jadi?” Leo sedih.Venya berpikir harus membahas apa agar Leo tidak memikirkan hal lain. Wanita itu meraih tangan sang suami.“Foto-foto kamu sama Ranti bisa disimpan?” tanya Venya dengan hati-hati.Leo menghentikan mobilnya, Venya takut sekali. Ia langsung berpikir jika suaminya itu marah atas permintaan Venya.“Maaf.” Venya melihat ekspresi Leo yang sulit diprediksi.“Kenapa harus minta maaf, harusnya aku yang peka.” Leo meraih tangan Venya. “Nanti di rumah k

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   190. Renggang

    “Siapa namanya?” tanya Reno penuh selidik.“Farel.” Leo singkat.“Jangan bilang jika dia itu—” Wajah Reno memerah. “Ya, Sintia sudah tidak ada karena sakit.” Leo menjawab santai.“Kamu tidak bercerita ini?!” Reno terkejut mendengar wanita yang pernah ia suka telah tiada.“Buat apa? ‘Kan nggak penting.” Leo memperjelas.“Memang iya sih.” Reno melanjutkan makan.“Sintia siapa?” tanya Yasmine yang kebingungan.“Nggak penting.” Reno dan Leo bersamaan saat menjawab.Sesil menahan tawa membuat Yasmine sakit hati. Ibu hamil pasti sensitif sekali. Yasmine memilih diam ia berpikir cerdas.Setelah makan siang, Yasmine mengajak Sesil ke ruang perpustakaan di rumah itu. Venya mengikuti mereka berdua.Ceklek …“Tutup!” Yasmine menatap tajam ke arah Venya.Deg …Venya dengan cepat menutup pintu lalu menuju lemari buku. Wanita itu berpura-pura mencari buku. Sedangkan, Sesil duduk dengan santai.“Kenapa? Mau tanya tentang Sintia ‘kan?” tebak Sesil telak.“Dia siapa?” tanya Yasmine sedikit gengsi.“D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status