แชร์

Bab 231

ผู้เขียน: Ratih Larasati
Aura tegas yang terpancar dari tulang wajahnya kini terlihat semakin jelas.

Marina menarik Elora berdiri. “Urusan anak muda, biar kalian selesaikan sendiri.”

Sambil memberi isyarat, dia menyuruh Elora mengatakan beberapa kata yang menyenangkan kepada Jeffry.

Dengan setengah didorong dan setengah disuruh, Elora pun berjalan menghampiri Jeffry.

Jeffry duduk di sana menghadap lurus ke depan, tatapannya sama sekali tidak tertuju padanya.

Elora menundukkan kepala, memandangi rambut pendek pria itu ya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 252

    “Kamu turun dulu. Di pusat perbelanjaan sebelah ada toko es krim. Aku belikan yang baru untukmu, tapi cuma boleh yang ukuran kecil ….”Saryna berjalan mendekat, menghalangi pandangan Shelly sambil mengetuk dua kali kaca mobil.Melihat Shelly tidak turun, Saryna langsung membuka pintu dan menariknya keluar.Shelly yang tidak siaga pun langsung ikut tertarik turun.Tatapannya melewati bahu Saryna dan masih mengarah ke tempat tadi.Di bawah pohon besar di sudut kompleks apartemen, bayangan Jeffry yang berdiri di sana beberapa saat lalu masih terasa begitu jelas.Pemandangan itu membuatnya teringat suatu hari ketika Jeffry pernah datang menjemputnya di tempat ini.Saat itu musim dingin. Ranting-ranting pohon yang kering dipenuhi salju dan embun beku.Jeffry mengenakan mantel hitam panjang dan berdiri diam menunggunya turun.Kenangan itu seolah bertumpuk dengan pemandangan sekarang.Hanya saja, sosok di bawah pohon sudah menghilang.Daun-daun yang rimbun menutupi cahaya matahari, membentuk

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 251

    Shelly tidak melihat siapa pun di luar. Dengan hati-hati, dia membuka sedikit celah.“Taraaa!”Saryna menyembulkan kepala sambil mengangkat dua es krim di tangannya. “Mau makan?”“Kenapa kamu datang?”Shelly membuka pintu sepenuhnya, menerima es krim itu, lalu berkata, “Bukannya kamu bilang aku nggak boleh makan yang beginian?”“Nggak boleh terlalu banyak. Sesekali nggak masalah.”Saryna masuk ke dalam rumah dan langsung menarik koper Shelly. “Kamu sedang hamil. Mana mungkin aku tega membiarkanmu beres-beres sendirian? Ayo, aku jemput kamu pulang.”Dia memberi isyarat agar Shelly segera mengganti sepatu.Setelah berganti sepatu, Shelly membawa es krimnya dan mengikuti Saryna turun.Dia menggigit sedikit demi sedikit. Rasa dingin dan manis perlahan meleleh di dalam mulutnya.Matanya tanpa sadar menyipit penuh kepuasan.“Tadi aku menemani Nana tidur sebentar, jadi sekarang tenagaku penuh lagi. Nanti kita cari tempat makan, ya?”Saryna memasukkan koper Shelly ke bagasi mobil.Shelly membu

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 250

    Garis rahang Jeffry tampak tegas. Urat-urat di tangan yang bertumpu di tepi meja terlihat menonjol, sementara ujung jarinya masih sedikit basah oleh teh yang tumpah.“Siapa orang yang baru saja kamu temui?”Herman duduk di hadapannya. “Oh, aku sampai lupa. Itu sekretarismu. Seharusnya tadi aku memanggilnya masuk untuk menyapamu.”Napas Jeffry seketika tertahan.Alisnya yang semula hanya sedikit berkerut kini mengatup rapat.Shelly?Hamil 22 minggu?Perkembangan janin lebih kecil dari seharusnya?Trimester akhir sama sekali tidak boleh melakukan hubungan suami istri?Soal pengetahuan kehamilan, Jeffry tidak tahu apa pun.Dari percakapan yang barusan didengarnya, satu-satunya hal yang terasa akrab hanyalah suara Shelly.Semua yang lain terdengar asing. Begitu asing hingga dia merasa wanita itu bukan Shelly, melainkan hanya seseorang yang memiliki suara serupa.Namun ….Bagaimana mungkin dia salah mengenali suara yang begitu dikenalnya?“Aku dengar dia akan dipindahkan ke luar kota karena

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 249

    Ruang VIP itu terbagi menjadi dua bagian. Pintu ruangan di bagian dalam terbuka setengah.Herman duduk di depan meja berbentuk persegi. Tangannya menyeduh teh dengan gerakan terampil.“Dokter Herman.” Shelly melangkah masuk.“Maaf sudah merepotkan Nona Shelly datang sejauh ini.”Herman mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Shelly duduk.Shelly tidak melihat berkas rekam medisnya. Dengan sopan dia berkata, “Aku nggak ingin mengganggu waktu Anda. Tolong berikan berkasnya saja.”“Maaf, berkasnya ada di mobil. Aku sudah meminta pelayan untuk mengambilnya.”Herman mendorong kacamatanya ke atas pangkal hidung, lalu menuangkan teh hingga memenuhi cangkir di depan Shelly.“Mohon tunggu sebentar. Tenang saja, teh ini aman untuk ibu hamil. Kebetulan ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan.”Dari ruangan di balik pintu yang terbuka setengah itu terdengar suara pelan.Sepertinya ada seseorang di dalam. Mungkin tamu yang sebelumnya diundang Herman.Shelly tanpa sadar mengernyitkan al

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 248

    Jeffry tidak menghentikan gerakannya yang mendorong pintu.“Sesama pria, kenapa banyak sekali drama? Kalau kamu berani membohongiku, aku habisi nyawamu.”Nada bicaranya terdengar santai. Ini menunjukkan keyakinannya terhadap persahabatan mereka, sekaligus kepercayaannya kepada Herman.Herman kembali duduk di kursinya.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit.Setelah lama terdiam, sorot matanya perlahan berubah semakin dalam dan suram.Elora, tunggu saja!…Sehari sebelum akhir pekan, Shelly menerima pesan dari Herman yang mengajaknya bertemu di sebuah kafe di pinggiran kota keesokan harinya.“Dia mengajakmu bertemu?”Begitu mendengar cerita itu, Saryna hampir meloncat dari tempat tidur. “Dia tertarik padamu? Aku yang sudah punya anak saja sudah terdengar nggak masuk akal, apalagi kamu yang sedang hamil!”Shelly mematikan layar ponselnya, lalu menepuk pelan kepala Saryna.“Dia hanya ingin memberikan berkas rekam medisku.”Saryna mengusap dahinya. “Oh ….” Lalu kembali menjatuhkan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 247

    Elora menarik napas dalam-dalam. Jangan-jangan … dia benar-benar dipermainkan oleh Herman?“Silakan berbaring. Jangan tegang. Ini hanya pemeriksaan biasa.”Dokter asing itu mendorong kacamatanya ke atas pangkal hidung.Elora tetap berdiri di tempat.Secara refleks dia meraba kantong bajunya, tetapi kantong itu kosong.Tasnya berada di tangan Jeffry dan ponselnya ada di dalam tas itu.Dia ingin menelepon Herman untuk memastikan semuanya, tetapi .…“Nona Elora, tidak perlu terlalu gugup.” Melihat Elora tetap tidak bergerak, dokter asing itu menepuk pelan ranjang pemeriksaan. “Silakan berbaring dulu, ya? Masih ada pasien lain yang sedang menunggu di luar.”Elora menarik napas panjang.Dengan susah payah dia menahan keinginan untuk berlari keluar dari ruangan, lalu perlahan berbaring di atas ranjang.“Tolong angkat bajunya.”Dokter asing itu menyiapkan alat pemeriksaan.Melihat Elora masih diam, dia kembali mengingatkan.Elora menggenggam ujung bajunya erat-erat.“Dokter … tiba-tiba saya t

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 90

    Mendengar suara tarikan napas tajam itu, Shelly refleks mengambil kembali handuknya.Namun karena tergesa, tanpa sengaja dia menjatuhkan cangkir kopi dari tangan Jeffry.Cairan berwarna cokelat itu menyebar di air jernih, mengotori kolam, sekaligus mengotori jubah mandi putih yang dikenakan Jeffry.

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 89

    Melihat sikap Shelly yang seolah sudah pasrah, Harrison mendecak pelan. “Aku janji nggak akan bilang ke siapa pun. Aku cuma akan menikmati pertunjukan ini!”Dalam hati, dia yakin betul rahasia ini tidak mungkin bisa disembunyikan selamanya.Namun dia berharap, setidaknya sampai anak itu lahir nanti,

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 88

    Di bawah cahaya redup, tatapan Shelly tampak goyah, tapi suaranya tetap tegas.“Pak Harrison, Anda salah dengar. Tadi Bu Irene membicarakan program kehamilannya dengan suaminya.”Seberkas cahaya jatuh tepat di matanya. Jernih seolah tak menyembunyikan apa pun.Jika Harrison tidak mendengarnya sendir

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 87

    Shelly bahkan tak berani bernapas terlalu dalam. Tatapannya pada Irene penuh kewaspadaan, seolah menghadapi musuh besar.Namun, profesionalisme yang terlatih bertahun-tahun membuat ekspresinya tetap terjaga nyaris tanpa celah.Kata-kata penyangkalan yang sempat ingin diucapkannya seketika tertelan k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status