เข้าสู่ระบบ“Pak Jeffry, akhirnya Anda datang sendiri.”Perkataan itu terdengar mengandung maksud lain, seolah-olah Shelly yang dikirim Jeffry ke sini adalah orang yang sangat tidak bisa diandalkan.Kelopak mata Jeffry yang sedikit terpejam perlahan terbuka. Tatapan penuh wibawa jatuh pada Wesley.Ini adalah pertama kalinya Wesley bertemu Jeffry.Dia merasa seluruh darah di tubuhnya seperti membeku dan tubuhnya mati rasa.“Bu Shelly.”Jeffry membuka bibir tipisnya dan melontarkan dua kata itu.Shelly langsung memahami maksudnya dan menurunkan kaca mobil.“Setengah jam lagi kita rapat. Sebelum itu, jangan mengganggu Pak Jeffry.”Wajah Wesley tampak canggung.Dia tahu Jeffry datang untuk mendukung Shelly.Namun, dia tidak menyangka Jeffry akan bersikap begitu tegas dan sama sekali tidak menghargainya.Wesley menutup pintu mobil, lalu mundur dua langkah untuk memberi jalan.Shelly pun mengendarai mobil menuju tempat parkir bawah tanah.Setelah turun, Shelly hendak membukakan pintu untuk Jeffry, tetap
“Dasar gila.”Joycelin bingung melihat Harrison tiba-tiba berbalik dan pergi begitu saja.Dia juga tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Harrison. Alhasil, dia pun berbalik dan melanjutkan belanja untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Kota Sentara.…Pukul enam pagi, Shelly terbangun karena suara alarm.Dia segera mematikan alarm ponsel, bangun, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Baru sampai setengah, bel pintu tiba-tiba berbunyi berkali-kali dengan cepat dan mendesak.Shelly menyelesaikan sikat giginya. Bahkan belum sempat mencuci wajah, dia langsung berlari membuka pintu.“Sarapan.”Saryna membawa piring porselen putih kecil. Roti lapis di atasnya terlihat cantik dan menggugah selera. Dia membuatnya sendiri.“Baik.”Shelly mengulurkan tangan untuk mengambil piring.Namun, sebelum tangannya menyentuh piring, Saryna sudah menepisnya.“Kamu lanjut bersih-bersih saja. Biar aku yang bawa masuk. Kebetulan kamu bisa jelaskan kepadaku sebenarnya ada apa dengan Jeffry.”S
Joycelin menggaruk kepalanya. “Orang yang seharusnya pergi ke Kota Sentara malah nggak pergi. Orang yang nggak seharusnya pergi justru pergi secepat itu.”“Siapa yang seharusnya pergi?” Nenek Mina menurunkan sedikit kacamata bacanya dan menatap Joycelin. “Kamu mau pergi?”“Bukan aku, tapi Harrison.” Joycelin berkata dengan penuh keyakinan, “Nenek mungkin belum tahu. Belakangan ini, Harrison pergi kencan buta setiap hari. Hampir semua wanita muda di Tavira sudah ditemuinya!”Kalau hubungan Keluarga Anderson dan Keluarga Wijaya tidak sedingin yang terlihat di permukaan, mungkin Joycelin sendiri juga sudah dijodohkan untuk kencan buta dengan Harrison.“Kamu masih belum mengerti?” Nenek Mina menghela napas. “Keluarga Wijaya pasti nggak setuju Lyly masuk ke keluarga mereka.”“Aku akan mencari karung, menculik Harrison, lalu menghajarnya habis-habisan. Dasar bajingan!”Joycelin begitu marah sampai menggertakkan gigi.Menurutnya, pria berengsek seperti Harrison sama sekali tidak pantas untuk
Gerakan Shelly mengangkat tangan untuk membuka pintu mobil membuat gaunnya menempel mengikuti bentuk tubuhnya.Perutnya yang sedikit membuncit terlihat sangat jelas.Tatapan Jeffry bergerak turun dan berhenti pada perutnya.Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan perlahan menyebar di dalam hatinya.“Bisa berdiri sendiri? Aku bantu.”Shelly membungkuk dan memasukkan setengah tubuhnya ke dalam mobil, mencoba menopang Jeffry.Lengan Jeffry sedikit bergerak untuk menghindari tangannya.“Aku bisa sendiri.”Mendengar itu, Shelly pun berdiri tegak dan memberi jalan.Jeffry turun dari mobil. Langkahnya sedikit lemah saat berjalan menuju rumah Shelly.Shelly menutup pintu mobil, mengeluarkan kunci, lalu berjalan cepat menuju rumah. Dia mendahului Jeffry untuk membuka pintu.“Di sini ada sandal ….”Dia membungkuk hendak mengambil sandal dari dalam lemari.Namun, pergelangan tangannya tiba-tiba terasa erat karena digenggam tangan Jeffry yang memiliki ruas jari tegas.Jeffry berjongkok, membuka lema
Raut muka Shelly terlihat kurang senang.Mungkin karena dia merasa Jeffry merepotkan.Alis Jeffry mengerut. “Aku nggak akan merepotkan Bu Shelly lagi.”Dia sengaja menekankan kata merepotkan.Kondisi tubuh Jeffry selalu sangat baik. Selama beberapa tahun Shelly bekerja dengannya, jumlah Jeffry jatuh sakit bisa dihitung dengan jari.Apalagi demam, sama sekali belum pernah.Shelly selalu merasa Jeffry sedang keras kepala. Entah dia sengaja mempersulit Shelly atau justru mempersulit dirinya sendiri.Shelly mengingatkannya, “Kalau demammu terus nggak turun, otakmu bisa rusak dan jadi idiot.”Jeffry meliriknya. Dari nada bicara itu, sepertinya Shelly sudah menganggapnya idiot.“Panggil Herman ke sini.”“Kalau Dokter Herman datang, aku ….”Aku tidak akan datang lagi.Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah Shelly, tetapi dia segera mengubahnya.“Aku sudah datang. Nggak perlu merepotkan Dokter Herman lagi.”Jeffry begitu pintar. Bagaimana mungkin dia tidak tahu lanjutan dari kalimat yang sebe
“Dokter Herman, obat memang bisa salah diberikan, tapi kata-kata tidak boleh sembarangan diucapkan.”Nada suara Shelly serius.Herman terdiam.“Aku akan pergi melihat keadaan Pak Jeffry sekarang.”Lampu merah berubah hijau. Shelly langsung menginjak pedal gas, memutar balik mobil di persimpangan, lalu menuju Easton Residence.Setengah jam kemudian, Shelly turun dari mobil sambil menerima telepon Saryna.“Aku hanya datang untuk melihatnya sebagai bawahan. Bagaimanapun, kalau terjadi sesuatu kepadanya, itu juga tidak menguntungkanku. Iya, iya, kamu benar. Dia memang merepotkan ….”Saryna sudah mengetahui Jeffry datang dan langsung mengeluh panjang lebar.Dia merasa Shelly sengaja menyembunyikan hal itu darinya karena memiliki pikiran lain.Shelly hanya bisa menjelaskan dengan tidak berdaya dan terus mengiyakan perkataannya.“Cepat pulang. Tidak boleh menginap di sana.”Saryna mengatakan dua kalimat itu dengan galak, lalu menutup telepon.Cahaya redup dari layar ponsel menerangi wajah kec
Napas Shelly seketika tertahan. Dia segera menjelaskan, “Saya merasa urusan pernikahan Anda dengan Nona Elora jauh lebih penting.”Sebagai sekretaris Jeffry, dia memang memiliki wewenang untuk menyesuaikan jadwal kerja secara wajar.Selama ini Jeffry tidak pernah mempermasalahkannya.Namun kali ini
“Karena kamu yang pandai mengungkapkan perasaan, urusan itu biar kamu saja yang mengurusnya.”Melihat dirinya tidak berhasil membujuk Melly, Nenek Mina pun berbalik sambil memanggil Kakek Yanto.“Ayo, kita naik dan tidur.”Kakek Yanto merapikan satu per satu bidak gomoku di papan, lalu bangkit mengi
Jeffry berdiri tegak di sana.Meski tinggi badan hampir sama, aura kuat yang dipancarkan Jeffry menekan Kevin habis-habisan.“Asal Pak Hartono mau, aku nggak keberatan.”Mereka pun masuk ke ruang VIP yang sudah Jeffry pesan.Meja persegi untuk enam orang.Shelly duduk di sebelah Jeffry, sementara Ke
“Baiklah.” Suara Harrison kembali santai. “Kali ini, aku benar-benar percaya padamu.”Shelly tertegun. “Maksudmu?”Harrison terkekeh ringan. “Maksudku, aku nggak akan membayarkan 4 miliar untuk penalti kontrakmu, tapi ….”Klik.Shelly langsung menutup telepon dan melempar ponselnya ke samping.Di wa







