共有

Bab 93

作者: Kharamiza
last update 公開日: 2026-05-31 09:17:59

Melihat wajah Eca yang tampak benar-benar ketakutan dan nada suaranya yang bergetar halus membuat Ihsan hampir saja tersenyum. Untungnya, ia masih cukup mampu menahan diri.

Dua ekor angsa putih milik warga berdiri di pinggir jalan sambil menatap ke arah mereka.

Sebenarnya hewan-hewan itu hanya diam di tempat. Tidak mendesis. Tidak mengepakkan sayap. Tak juga melakukan apa pun yang membahayakan.

Tetapi, entah kenapa, Eca langsung merasa tidak tenang.

Refleks, ia meraih ujung jaket Ihsan, seolah
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
sok atuh rada maju ah ceritanya..tong jalan di tempat.. minimal neng Eca dan akan Ihsan saling buka diri. bahwa mereka sebetulnya sudah saling menyayangi..BISI Aya pihak ka 3 .asih Atawa juragan Dasim.. diantos nya . hatur nuhun ...
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 119

    Tanpa menunggu lama, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya. Maju mundur dengan ritme yang lambat namun menghujam dalam. Setiap kali ihsan menghantam ke dalam, Eca hanya bisa mendesah hebat, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menikmati rasa penuh yang menjalar di perut bawahnya. “Ahhh ... ahh ... Kang Ihsan … pelanghh!”Namun, Eca merasa Ihsan seperti tak lagi benar-benar mendengarkan. Gerakannya kian tak terkontrol, seolah menahan sesuatu yang sudah di ambang batas.Tempo unggahannya semakin cepat. Suara decakan basah akibat penyatuan keduanya sampai terdengar memenuhi ruangan.Eca hanya bisa menggigit bibirnya, napasnya tersengal ketika kulit keduanya terus beradu, menciptakan suara tamparan daging yang makin cepat dan liar.Eca kelabakan, tubuhnya seolah kehilangan pijakan, mengikuti setiap tarikan dan gerakan Ihsan yang tak memberinya ruang untuknya benar-benar berpikir jernih.Tangannya memeluk leher ihsan semakin erat ketika bagian bawahnya terus dihantam sensasi panas

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 118

    Mature Content (21+)Ihsan tidak menjawab.Namun, tatapan pria itu yang mulai menggelap sudah cukup membuat jantung Eca berdebar kencang.Padahal tadi, ia hanya berniat mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya.Tetapi, memang sejak semalam, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.Kini, setiap kali Ihsan memandangnya seperti itu, Eca tidak lagi merasa ingin menghindar.Sebaliknya, ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya saat menyadari betapa diinginkannya dirinya oleh sang suami.Detik berikutnya, bibir hangat Ihsan sudah mendarat di atas bibirnya yang sedikit terbuka.Kali ini Eca tidak lagi terkejut seperti semalam.Ia bahkan mendongak sedikit, membiarkan Ihsan memperdalam ciuman itu sambil memejamkan mata perlahan.Kehangatan yang mengalir di antara mereka rasanya begitu akrab sekarang.Eca merasa seluruh tubuhnya perlahan ikut melunak.Di tengah ciuman yang semakin dalam itu, tangan Ihsan mulai bergerak menyentuhnya.“Emh ….”Desahan tertahan lolos dari bibir Eca saat ciu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 117

    Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru yang sedang ramai dibicarakan orang. Namun, entah kenapa, ia mulai merasa bosan. Sambil menghela napas panjang, Eca menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas meja. Matanya beralih ke belakang. Ihsan masih berbaring santai di sofa panjang sambil menatap ponselnya dengan ekspresi serius. Dari suara yang samar terdengar, sepertinya pria itu sedang menonton sesuatu tentang politik lagi. Eca mengangkat bahunya santai, sambil menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir, nonton politik seperti itu jauh lebih membosankan daripada drama yang baru saja ia tinggalkan. Dasar pria. Setelah beberapa saat berlalu, entah dapat keberanian dari mana, Eca akhirnya bangkit dari tempatnya duduk. Ia m

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 116

    Cahaya matahari sudah menyusup dari sela-sela gorden saat Eca membuka matanya keesokan pagi. Ia berkedip beberapa kali. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, ketika ingatan itu datang begitu saja. Eca spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Astaga. Rasanya ia ingin segera menghilang saja ke balik bantal. Pada akhirnya, selimut itu malah ia tarik sampai menutupi sebagian wajahnya sendiri. Tak lama kemudian, matanya melirik ke sisi ranjang. Kosong. Ihsan sudah tidak ada di sana. Eca mengerjap pelan. Pagi-pagi sekali pria itu pergi ke mana? Namun, ia tak terlalu memikirkannya. Cuma mengembuskan napas pendek sebelum akhirnya memaksa dirinya bangun dari ranjang. Hanya saja, baru saja kedua telapak kakinya menyentuh lantai, Eca langsung meringis tipis. Apa yang terjadi semalam rupanya masih meninggalkan bekas di tubuhnya. Tidak terlalu sakit, tetapi cukup membuat langkah pertamanya terasa sedikit aneh. Eca berdiri b

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 115

    Tanpa menunggu lebih lama, Ihsan langsung membopong tubuh Eca dan membawanya ke dalam kamar tidur mereka. Kasur di bawah punggungnya berayun pelan saat Ihsan membaringkannya dengan sangat hati-hati, membuat Eca sesaat lupa pada rasa gugup yang sejak tadi mengikat dadanya.Ihsan segera menyusul, merengkuh tubuh Eca dalam pelukan yang hangat. Cara Ihsan memandangnya membuat Eca sulit menahan gemetar yang perlahan menjalari tubuhnya.Entah sejak kapan, pakaian yang semula melekat di tubuh keduanya kini telah terlepas sepenuhnya, menyisakan kulit yang saling bersentuhan tanpa pembatas.Eca bisa mendengar napas mereka yang semakin tidak teratur di antara sunyinya kamar.Meski sudah hampir dua bulan menikah, ini tetap yang pertama bagi mereka.Gerakan Ihsan terasa lambat dan hati-hati, seolah pria itu sengaja memberinya waktu untuk menyesuaikan diri. Eca sempat menggigit bibirnya menahan pe

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 114

    Menyebalkan sekali memang suaminya itu.“Gaya banget main rahasia-rahasiaan segala,” cibir Eca sambil melirik tajam ke arah suaminya.Sayangnya, pria di sebelahnya tampak sama sekali tidak merasa bersalah.Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah tadi ia tidak baru saja membuat kepala Eca penuh pertanyaan.Eca memalingkan wajah kembali ke layar televisi.Acara kuis malam itu masih berjalan. Pembawa acaranya berceloteh riang, diselingi tawa penonton yang sesekali terdengar dari televisi.Namun, pikiran Eca sudah telanjur ke mana-mana.Paling menyebalkannya lagi, ia sendiri tidak mengerti kenapa sampai sepenasaran ini pada perasaan Ihsan.Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, perempuan itu jelas ada di masa lalu suaminya.Yang namanya masa lalu, harusnya tidak usah diungkit lagi, kan.Sayangnya, logika tidak selalu bisa mengalahkan perasaan.Sungguh ia masih tak suka membayangkan kalau perempuan yang pernah disukai Ihsan itu benar-benar Asih.Bagaimana kalau Ihsan sebenarnya masih menyukain

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 73

    Eca masih melongo beberapa detik. Otaknya benar-benar tidak sampai untuk mencerna ucapan ibu mertuanya barusan.Ia bahkan sempat mendongak ke arah Ihsan, berharap pria itu memberi penjelasan atau minimal bilang kalau ibunya hanya bercanda.Hanya saja, suaminya itu juga terdiam.Tangan Ihsan yang ta

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 71

    “Neng ….”Eca refleks membuka mata, meski posisinya masih membelakangi Ihsan. Tubuhnya diam di balik selimut, tetapi isi dadanya sama sekali tidak bisa tenang.Tadi, ia yang bertanya, tetapi sekarang tiba-tiba saja ia merasa takut.Takut kalau jawaban Ihsan justru membuat hatinya semakin sesak sete

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 70

    Sentuhan itu membuat Eca refleks mengangkat wajah.Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.Untuk beberapa saat, Ihsan tidak langsung melepaskan tangannya. Rahangnya tampak sedikit mengeras, bahkan jakunnya bergerak samar seperti sedang menahan sesuatu.“A—akang

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 68

    Untungnya, acara dimulai tak lama setelah itu, sehingga ibu-ibu yang tadi sibuk menggoda Eca perlahan mulai mengalihkan perhatian.Satu per satu warga duduk rapi di atas karpet yang sudah digelar di ruang tengah. Para pria yang tadi masih mengobrol di teras juga mulai masuk mengisi tempat kosong ya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status