LOGINReon membuka matanya sedikit, sembari menghisap kulit leher Ellena, lelaki itu melirik kelopak mata Ellena yang dipoles eyeshadow nude. Irisnya juga menyaksikan bagaimana Ellena larut dalam permainan tangan Reon.
Suara-suara pria di luar bilik dengan kegiatan mereka benar-benar diabaikan oleh Reon.Selanjutnya, setelah puas menebar jejak di leher Ellena, Reon memutar badan mungil mantan kekasihnya itu agar menghadapnya. Wajah mereka sama-sama panas dan memerah, napas keduaEllena masih membelakangi Reon. Air matanya jatuh tanpa suara. Dia cepat-cepat mengangkat tangan, mengusap pipinya sebelum tetes berikutnya menyusul. Bibirnya terkatup rapat, giginya menekan pelan agar tak ada isak yang lolos.Di belakangnya, Reon melihat bahu Ellena bergetar tipis. Dia hendak meraih lengan Ellena untuk kedua kalinya, tapi istrinya itu menghindar lagi. Tanpa berpikir panjang, Reon maju dan memeluk Ellena dari belakang, kedua lengannya mengunci di sekitar tubuh istrinya."Lepas!" suara Ellena pecah, dia memberontak, mendorong lengan Reon, berusaha melepaskan diri. Reon tidak menyerah, dia mempertahankan tubuh Ellena dalam pelukannya. "Aku gak bakalan lepas, sayang." Suaranya rendah, serak, menempel dekat di telinga Ellena. Sementara itu, Ellena terus berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Reon sangat kuat. Tangisan yang tadi ditahan akhirnya pecah. Isak kecil keluar tak terkendali. Tubuhnya melemah perlahan di dalam pel
Ellena tiba di apartemen ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam lewat dua menit. Dia masuk ke kamar dengan wajah berseri, namun rona itu perlahan memudar ketika menangkap sosok suaminya. Reon berdiri bersandar di depan meja kerja sambil menyilangkan tangan. Kemeja hitamnya masih terpasang rapi, namun dua kancing teratas terbuka. Lengan tergulung sampai siku, memperlihatkan urat halus yang menegang di pergelangan tangannya. Jas Reon tergeletak sembarangan di kursi, tidak seperti biasanya.Tatapan mereka bertemu di tengah ruangan. Tidak ada sapaan, godaan ataupun senyuman, hanya ada benturan mata mereka yang sama-sama keras. Ellena berjalan melewati Reon begitu saja, seolah suaminya itu tidak ada di sana. Dia kemudian melepas tas dari bahu dan meletakkannya di meja kerja dengan bunyi pelan. Papan sketsanya menyusul diletakkan. Sementara itu, Rahang Reon mengeras melihat Ellena yang tidak acuh padanya. Saat Ellena melewatinya lagi,
Ellena turun ke lantai bawah untuk mengambil makan malam Sharron. Mansion keluarga Ravindra sangat luas dengan dinding berbelit. Ellena harus bertanya arah pada beberapa pelayan yang lewat untuk sampai ke dapur. Begitu tiba di tujuan, Ellena mendongak ke langit-langit tinggi di mana sebuah lampu kristal tergantung indah. Ellena menganga tipis saat, menurunkan pandangan dan mendapati pemandangan yang tidak biasa baginya—marmer putih yang membentang panjang, deretan oven baja mengilap berdiri rapi, alat masak dengan teknologi terbaru dan sejumlah staf dapur bergerak nyaris tanpa suara.Gadis itu pikir dapur di mansion keluarga Adinata sudah paling megah, tapi ternyata memasuki dapur di mansion keluarga Ravindra membuatnya menyaksikan kemegahan yang jauh lebih tinggi. Ellena berdiri canggung di dekat island table, menerima baki perak berisi makan malam untuk Sharron. Ada sup krim hangat, salad segar dan hidangan utama yang ditata seperti karya seni.
Ada yang bilang jika wanita jatuh hati, maka tingkatan cintanya akan berjalan dari angka nol ke seratus. Ellena merasa sudah sangat mengerti makna di balik kata-kata itu. Dulu, saat SMA banyak cewek yang mengejar Reon, ada yang terang-terangan mengatakan suka dan mendekati Reon dengan berbagai cara. Ellena awalnya tidak merasakan apa-apa, tapi semakin lama hatinya perih dan paham rasa cemburu seperti apa.Saat bertemu lagi setelah putus, Ellena pun kerap kali cemburu, meski sempat menyangkal. Dari semua kecemburuannya selama ini, Ellena masih bisa mengontrol perasaannya. Tapi, kali ini dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kata hatinya yang cemburu dan kecewa berat. Sejak tadi malam sampai sekarang dia berada di meja kerjanya di kantor, Ellena mengabaikan telepon dan pesan Reon. Total ada 31 panggilan tak terjawab dan 72 pesan tak terbaca dari suaminya. Ellena fokus mengisi halaman putih kosong dengan desain cincin yang pewar
Beberapa saat yang lalu, di kantor Reon, tepatnya di ruangan meeting yang masih terang benderang. Layar besar menampilkan dashboard aplikasi finansial yang dikembangkan Reon dan timnya. Beberapa laptop terbuka, kabel charger berserakan dan gelas kopi kosong berjajar jadi saksi kelelahan mereka. Reon berdiri di ujung meja, jasnya sudah dilepas dan hanya menyisakan kemeja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tetap fokus meski sorot matanya mulai lelah.Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Reon menatap timnya yang mulai terlihat kehabisan tenaga. Beberapa memijat pelipis, yang lain menatap layar dengan mata sayu.Reon mengambil hapenya yang baterainya sisa dua persen. Dia mengecek makanan yang sudah dia order sebelumnya di aplikasi delivery food. "Oke, kita istrahat dulu," ujar Reon, suaranya melunak. "Sebentar lagi makanannya sampai."Beberapa kepala langsung terangkat."Serius, Pak?
Ellena berdiri di tepi balkon, membiarkan angin menerpa wajahnya. Matanya naik memandang langit luas dan di sela cahaya matahari yang hampir tenggelam, ada semburat sinar keemasan menembus celah awan. Hangat. Seperti tangan tak terlihat yang menenangkan bahu Ellena."Apa aku yang terlalu sensitif?" tanya Ellena pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar. Tangannya terangkat membawa helai rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya disusul matanya yang terpejam beberapa lama. Dia harus bicara langsung dengan Reon mengenai foto-foto yang dia terima itu. Ellena harus mengkonfirmasi sendiri. Apalagi foto yang dia kira Reon berciuman dengan Sherine itu tidak menunjukkan bibir suaminya disentuh oleh bibir Sherine. Ellena membuka matanya perlahan. Bisa saja memang mereka tidak ciuman dan sudut pengambilan fotonya yang memperlihatkan Reon dan Sherine berciuman. Setelah perasaannya sedikit







