공유

Bekas Merah Di dada

작가: Dre LA
last update 게시일: 2026-08-13 19:36:24

Ia mengambil sabun, mengusapkannya ke seluruh tubuh Naya dengan gerakan melingkar. Tangannya bergerak lambat, menikmati setiap detil tubuh wanita itu. Dari pundak, ke dada, ke perut, ke paha. Setiap sentuhan adalah pernyataan ulang atas kepemilikan.

"Waktu Mas di penjara, Mas sering mimpiin ini," ujar Arga dengan suara sayu. "Mandiin kamu. Ngerawat kamu. Kayak dulu waktu kamu kecil dan demam, Mas yang duduk di samping kasur kamu seharian. Ingat nggak, Naya? Waktu itu kamu bilang, 'Mas Arga, a
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Aku Yang Menyembuhkanmu, Naya.

    "Kita terisolasi di gunung ini, Naya! Enggak ada dokter, enggak ada obat penurun panas!" potong Arga cepat, menjatuhkan dirinya berlutut di sisi ranjang sambil memegangi kepalanya yang seolah sangat pusing. "Mas panik setengah mati lihat kamu mau mati semalam! Mas cuma ingat cara almarhumah ibu dulu buang racun dan angin kotor di badan. Tapi tangan kanan Mas kaku, tulang Mas retak gara-gara dipukuli Rekha! Mas enggak bisa ngerokin punggung kamu pakai koin!" Arga mendongak, menatap Naya dengan air mata buaya yang akhirnya menetes jatuh ke pipinya. "Jadi Mas terpaksa pakai mulut Mas, Dek! Mas harus gigit dan isap titik-titik meridian di leher, dada, sama perut kamu kuat-kuat buat narik paksa angin kotor itu keluar dari aliran darahmu!" Arga menyentuh bibirnya sendiri yang memang sedikit lecet akibat terlalu beringas semalam. "Bibir Mas sampai kebas dan berdarah ngisap racun dari badan kamu semalaman penuh tanpa tidur sedetik pun! Dan ini balasan kamu?! Nuduh Mas jadi penjahat kela

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Bekas Merah Di dada

    Ia mengambil sabun, mengusapkannya ke seluruh tubuh Naya dengan gerakan melingkar. Tangannya bergerak lambat, menikmati setiap detil tubuh wanita itu. Dari pundak, ke dada, ke perut, ke paha. Setiap sentuhan adalah pernyataan ulang atas kepemilikan. "Waktu Mas di penjara, Mas sering mimpiin ini," ujar Arga dengan suara sayu. "Mandiin kamu. Ngerawat kamu. Kayak dulu waktu kamu kecil dan demam, Mas yang duduk di samping kasur kamu seharian. Ingat nggak, Naya? Waktu itu kamu bilang, 'Mas Arga, aku takut mati.' Tapi Mas bilang, 'Nggak bakal, Sayang. Mas jagain kamu.' Dan sekarang... Mas masih jagain kamu. Cuma caranya yang beda." Air sabun mengalir di tubuh Naya, membasuh keringat dan bekas-bekas tadi. Arga membilasnya dengan air hangat, lalu mengangkat Naya dari bak mandi, membungkusnya dengan handuk tebal. Ia membawa wanita itu kembali ke ranjang, meletakkannya dengan sangat hati-hati. Arga mengeringkan tubuh Naya dengan handuk, gerakannya kini lembut. Setelah selesai, ia membalut

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Maaf, Kebablasan.

    Arga mengusap cairan kental yang menempel di wajah Naya, menyebarkannya merata di pipi dan bibir wanita itu seperti mengoleskan krim mahal. Tawa pelan keluar dari tenggorokannya—tawa serak yang bergema di ruang bawah tanah yang dingin itu. "Hadiah buat kamu, Sayang," bisik Arga dengan nada mesra yang berubah menjadi mengerikan. "Kamu tidur terlalu pulas, sampai tak tahu caranya Mas menghujani wajah cantikmu malam ini. Besok... kamu bakal mencium bau Mas setiap kali kamu bernapas." Pria itu menggeser tubuhnya, membaringkan Naya dengan posisi miring menghadapnya. Matanya menyusuri setiap lekukan tubuh adik tirinya dengan tatapan seorang seniman yang mengagumi karya sendiri. Bercak-bercak merah keunguan di kulit putih Naya tampak seperti lukisan abstrak yang memekikkan kepemilikan. "Kamu tahu, Naya?" Arga mulai bicara pada wanita yang tak sadar, seolah bercerita pada boneka porselennya. "Lima tahun Mas di penjara, satu hal yang bikin Mas bertahan cuma bayangan kamu. Waktu Mas dud

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dimainkan Saat Tidur (21+++++)

    Bibir pria itu berpindah ke leher jenjang Naya, mengisap kulit sensitif di sana dengan sangat kuat hingga meninggalkan bercak ungu pekat. Arga tidak berhenti di situ. Ia terus turun, memberikan gigitan-gigitan posesif di sepanjang tulang selangka, dada, hingga ke perut datar Naya. Ia mengklaim setiap inci kulit itu seperti anjing gila yang menandai wilayahnya. "Setiap tanda merah yang Mas buat malam ini... itu bukti kalau kamu cuma milik Mas," racau Arga dengan napas tersengal, mengusap lelehan air liurnya di perut Naya. "Biar besok pagi waktu kamu buka mata dan lihat ke cermin, kamu sadar kalau tubuh kamu udah habis dimakan sama kakak tirimu sendiri." Tangan Arga yang kasar mulai merayap liar. Mengabaikan status mereka, mengabaikan tangisan Naya sebelumnya. Ia membelai paha bagian dalam Naya dengan sentuhan panas yang membuat tubuh wanita yang sedang tertidur itu bereaksi tanpa sadar, melengkungkan punggungnya dengan rintihan halus. "A-ah... Mas..." gumam Naya, napasnya mulai

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    S-sakit, Mas.

    "Kalau Mas paksa aku sekarang, apa bedanya Mas sama Dewa?!" teriak Naya dengan suara melengking dan bergetar hebat. Ia memeluk lututnya sendiri, menyembunyikan wajahnya yang bersimbah air mata. "Katanya Mas sayang sama aku! Katanya Mas mau ngelindungin aku! Dulu Dewa juga bilang gitu sebelum dia siksa dan perkosa aku setiap malam! Kalau Mas lakuin ini secara paksa, Mas sama jahatnya kayak iblis itu! Mas bunuh aja aku sekarang, Mas! Bunuh!" Tubuh Arga mendadak kaku. Gerakannya terhenti total di udara. Nama 'Dewa' dan kata 'perkosa' menampar kewarasan Arga dengan sangat keras. Ia melihat Naya meringkuk gemetar ketakutan layaknya burung kecil yang sekarat, napas wanita itu tersengal-sengal karena serangan panik yang sangat parah. Rantai di kakinya berbunyi menyedihkan setiap kali Naya menggigil. Sisi psikopat Arga meronta ingin menerkam dan mengklaim Naya detik itu juga, namun sisi obsesifnya yang lain—sisi yang mendambakan pemujaan dan kepatuhan mutlak dari Naya—menahannya dengan

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kamu Jijik Sama Aku?

    "Tatap mata Mas, Naya. Jangan berani-berani kamu tutup matamu waktu Mas lagi nyentuh kamu!" bisik Arga dengan napas memburu, menahan kedua rahang Naya yang terus berusaha memalingkan wajah. "Mas, tolong... aku malu... jangan dilihatin terus..." rintih Naya dengan suara bergetar. Air mata sudah membanjiri pelupuk matanya. Tangannya yang mungil meremas seprai putih di bawahnya dengan sangat kuat saat merasakan embusan napas panas Arga menyapu kulit dadanya yang kini terekspos sempurna. "Malu? Atau kamu nutup mata karena jijik lihat wajah hancur Mas dari jarak sedekat ini, hah?!" bentak Arga tiba-tiba. Urat-urat di lehernya menonjol, kilat amarah yang gelap terpancar jelas dari manik matanya. "Kamu ngebayangin wajah Rekha yang mulus itu ada di atas tubuhmu sekarang?! Iya?!" "Enggak, Mas! Ya Tuhan, sumpah demi apa pun enggak!" tangis Naya pecah seketika, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia terlalu takut menyakiti perasaan rapuh kakak tirinya. "Aku enggak pernah mikir gitu! Aku cum

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status