/ Rumah Tangga / Panasnya Ranjang Kakak Ipar / Menangislah Lebih Keras!

공유

Menangislah Lebih Keras!

작가: Dre LA
last update 게시일: 2026-07-29 21:36:55

Sementara di ruang kerja Harun atmosfernya dipenuhi luapan amarah Rekha, suasana di penthouse mewah milik pria itu justru terasa sedingin es mati.

Di dalam ruangan berpenerangan remang-remang itu, Marco—pria berwajah parut yang memegang pisau di leher Naya—menatap layar ponselnya yang menyiarkan langsung kepanikan Rekha di seberang sana. Seringai keji terkembang di wajahnya yang kasar.

"Dengar itu, Nona? Singa jantanmu sedang melolong putus asa," bisik Marco tepat di dekat telinga Naya. Ujung
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Menangislah Lebih Keras!

    Sementara di ruang kerja Harun atmosfernya dipenuhi luapan amarah Rekha, suasana di penthouse mewah milik pria itu justru terasa sedingin es mati. Di dalam ruangan berpenerangan remang-remang itu, Marco—pria berwajah parut yang memegang pisau di leher Naya—menatap layar ponselnya yang menyiarkan langsung kepanikan Rekha di seberang sana. Seringai keji terkembang di wajahnya yang kasar. "Dengar itu, Nona? Singa jantanmu sedang melolong putus asa," bisik Marco tepat di dekat telinga Naya. Ujung pisau berburunya sengaja digesekkan perlahan di kulit leher Naya, membuat setitik darah kembali merembes. "Sayang sekali. Padahal dia terkenal tak punya hati di dunia bawah." Naya memejamkan matanya rapat-rapat, menahan ringisan perih. Tubuhnya bergetar hebat, bukan hanya karena ketakutan, melainkan karena rasa bersalah yang amat besar. Ia bisa mendengar suara teriakan Rekha yang begitu hancur dari *speaker* ponsel Marco. Pria sedingin gletser itu, pria yang tidak pernah tunduk pada siapa pun,

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Naya Terancam!

    "Kamu mungkin menang di atas kertas, Rekha. Kau mungkin berhasil membeli perusahaanku dengan uang bayanganmu. Tapi kamu melupakan satu pelajaran paling mendasar dalam peperangan!" Rekha memutar tubuhnya sepenuhnya, memasukkan satu tangan ke dalam saku. "Dan apa itu?" Harun menekan sebuah tombol tersembunyi di bawah meja kerjanya. Sebuah layar monitor besar yang menempel di dinding ruangan perlahan menyala. "Pelajaran pertama: Selalu amankan aset terlemah lawanmu, sebelum kamu menyerang jantung pertahanannya!" desis Harun dengan seringai lebar. Mata kelam Rekha sontak menajam saat melihat apa yang tertampil di layar monitor tersebut. Itu adalah tayangan langsung dari sebuah kamera ponsel. Di dalam sebuah ruangan berpenerangan remang yang sangat Rekha kenali, penthouse mewahnya sendiri yang dijaga ketat, terlihat sosok Naya. Wanita itu terikat di sebuah kursi kayu, wajahnya seputih kapas dengan air mata yang membasahi pipinya. Di belakang Naya, berdiri dua orang pria berbad

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Serangan Balik!

    Harun menatap ponsel itu dengan ragu. Dengan napas yang memburu, ia menyambarnya. Matanya yang mulai rabun menyipit, membaca baris demi baris dokumen legalitas korporasi, risalah rapat umum pemegang saham darurat yang baru saja disahkan secara digital, serta grafik kepemilikan modal yang telah berubah warna. Di sana, tertera nama sebuah konsorsium raksasa: Ares Capital Holdings, Ltd. yang berbasis di Singapura. Dan di kolom pemilik manfaat akhir (Ultimate Beneficial Owner), nama tunggal yang tertulis dengan huruf kapital tebal adalah: REKHA ADHIJAYA. Persentase kepemilikan: 51,2%. "T-tidak... ini... ini pasti manipulasi! Dokumen palsu!" Harun berteriak, namun suaranya pecah, kehilangan taringnya. Tangannya bergetar begitu hebat hingga ponsel itu nyaris terlepas dari cengkeramannya. "Bagaimana bisa Ares Capital... perusahaan yang meruntuhkan pasar saham Eropa tahun lalu itu... milikmu?!" Sebelum Harun sempat mencerna syoknya, telepon rumah di atas meja kerjanya berdering ny

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Jangan Meremehkan Aku.

    Mendengar nama Naya dihina, suhu ruangan seolah merosot drastis. Namun Rekha tidak meledak. Ia melangkah maju satu tindak, memangkas jarak dengan aura predator yang perlahan menelan seluruh oksigen di ruangan. "Kalau begitu, Anda yang harus mengabari mereka," ucap Rekha teramat dingin. "Bahwa pertunangan itu batal. Saya tidak butuh Bianca, apalagi dana recehan dari keluarganya." "Tutup mulutmu!" teriak Harun, urat lehernya menonjol liar. "Kau tidak punya hak menolak! Tugasmu di sini hanya satu: menjadi anjing penurut yang menguntungkan perusahaanku!" Harun menggebrak meja kerjanya dengan kedua tangan, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan raut wajah penuh ancaman absolut. "Dengar baik-baik. Aku memberimu waktu dua kali dua puluh empat jam! Temui keluarga Adhitama hari ini juga. Jilat kaki Bianca jika perlu, dan pastikan dia tetap mau menikah denganmu! Setelah itu, perbaiki harga saham yang anjlok itu dengan cara apa pun!" Rekha terdiam sejenak. Sorot matanya kelam, tak te

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    DITAMPAR!

    "Tahan!" Naya hampir menangis. Sensasi di perutnya sudah begitu intens, gelombang kenikmatan berdesak-desakan ingin keluar. Tapi ia berusaha, menggigit bibirnya sampai hampir berdarah, menahan pelepasan yang begitu dekat. Rekha terus bergerak, lebih cepat, lebih dalam, lebih brutal. Napasnya berubah menjadi erangan rendah yang bergetar di dadanya. Ia tahu batasnya sudah dekat—dan ia ingin Naya mencapai puncak bersamanya. "Sekarang," geram Rekha. "Sekarang, Sayang. Lepaskan." Izin itu cukup. Tubuh Naya meledak. Puncak yang menghantamnya kali ini terasa sepuluh kali lebih intens daripada sebelumnya. Seluruh tubuhnya menegang, punggungnya melengkung indah, dan ia berteriak—bukan desahan, bukan jeritan pelan—tetapi pekikan panjang yang keluar dari dadanya, melepaskan segala sesuatu yang ia pendam. Nama Rekha keluar dari bibirnya berulang kali, seperti mantra yang mengikat mereka bersama. Rekha mengikutinya seketika. Dengan tiga dorongan terakhir yang dalam dan gemetar, ia menc

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Sayang, Belum Selesai

    Napas mereka masih tersengal saat Rekha menarik diri dari pelukan Naya. Matanya yang kelam menelusuri tubuh wanita di bawahnya, kulit mulus yang kini dipenuhi tanda-tanda kemerahan, gaun zamrud yang melorot tak sempurna di pinggang, dan ekspresi lelah namun penuh kepuasan di wajah Naya. Namun, sesuatu di tatapan Rekha berubah. Api yang tadinya mulai meredam kini menyala kembali, lebih buas dari sebelumnya. "Belum selesai," bisik Rekha dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Naya merinding. Tanpa memberi kesempatan Naya untuk merespons, Rekha mengangkat tubuh mungil itu dengan mudah. Satu lengan mengait di bawah punggung Naya, satu lagi di lekuk lututnya. Langkah lebar Rekha membawa mereka menjauh dari sofa beludru, menuju hamparan karpet Persia tebal berwarna merah marun yang membentang luas di tengah ruangan. Naya terpekur saat punggungnya menyentuh serat karpet yang lembut. Udara dingin dari lantai marmer di bawah karpet menembus kulitnya, membuat tubuhnya menggigil kontras de

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status