LOGINGimana Neng? 😂😂
Ra menatap ke atas langit cerah di atasnya, lalu meletakkan gelas yang ada di tangannya, pada tembok pembatas balkon.Keningnya terus berkerut, sampai merasakan tangan menyusup diantara lengan, dan tubuh lembut memeluknya dari belakang.Kerutan pada keningnya mengendur, dan senyum tersungging, saat merasakan tubuh yang memeluknya itu sama sekali tidak tertutup kain. Lebih tidak sopan dari dirinya yang hanya mengenakan handuk.“Kau baru bangun?” Ra ingin berbalik, tapi Lea melarang dengan mempererat pelukannya.“Kau mengkhawatirkannya?” Lea tentu menyadari Ra mempunyai kebiasaan baru.Dia selalu memandang langit selama beberapa saat, ketika mereka berada di luar ruangan. Tidak sekali dua kali, tapi hampir setiap kali. Ra selalu memandang kejauhan dalam diam.“Aku benci padanya!” keluh Ra.”You love him.” Lea mengoreksi penyangkalan yang baru saja diucapkan Ra. (kau menyayanginya)“Cukup sekali, sekali saja dia menurunkan hujan! Dengan begitu aku tahu dia baik-baik saja. Tapi tentu saja
Lila memoles Ra menjadi lebih sempurna lagi, Lea kembali tak menyesal telah menurutinya. Rambutnya sedikit terserak karena angin, tapi tidak masalah, menurut Lea tetap indah. Namun, semua yang sempurna padanya, kalah oleh senyum yang saat ini dibentuk oleh bibirnya. Senyum yang dulu membuat Lea meleleh seperti es krim, dan tahu dia tidak bisa lari darinya karena senyum itu.Dan kini sama, kaki Lea lemas begitu saja begitu senyum itu merekah. Lea merasakan tangan Ed mempererat genggaman, karena sadar Lea sedikit goyah.Langkah mereka menjadi lebih pelan, tapi akhirnya mereka sampai di depan altar. Ra mengulurkan tangan, dan Ed menyerahkan tangan Lea kepadanya.Dan setelah itu Lea tenggelam ke dalam mata abu-abu yang tidak sedetikpun melepaskan pandangan darinya. Jika setelah hari ini ada yang bertanya apakah pendeta yang menikahkan mereka tua atau muda, sudah pasti jawabannya adalah tidak tahu.Mereka berdua terus berpandangan, berdiri saling berpegangan tangan, hanya bersuara saat me
“Lea, apa kau yakin? Apa ini tidak terlalu cepat?” Daisy terlihat sama gugupnya dengan Lea, yang sedang merapikan veil penutup kepalanya.“Tidak, Mom. Kami sudah saling mengenal jauh sebelum aku koma. Jadi pernikahan ini tidak terlalu cepat dan aku yakin. Aku gugup hanya karena itu.”Lea menunjuk area pesta yang ada di halaman. Tidak jauh dari balkon dari tempatnya berdiri saat ini. Lea sedang menunggu waktu upacara dimulai.Area pesta pernikahan ada di halaman rumah yang kemarin dipakai untuk menggelar pesta ayah Ra, dan Lea tidak keberatan dengan lokasi itu. Yang membuat Lea gugup adalah skala pesta yang telah dipersiapkan oleh Lila.Lea mengira lima hari akan membuat Lila mempersiapkan pesta sederhana saja, dan tidak akan berlebihan, tapi Lea terlalu meremehkan Lila dan juga niatnya untuk menikahkan Ra.Halaman depan rumah bak istana itu, kini seakan berubah menjadi padang bunga Azalea dalam aneka rupa dan warna.Jika biasanya pernikahan identik dengan mawar, maka tidak satupun bun
“Pastinya begitu. Mengingat cuaca tadi malam, seharusnya tidak akan ada badai.” Osiris membenarkan tebakan Ra yang penuh horor itu.Berita itu bukan hanya menampilkan tanah bergerak, tapi juga bagaimana badai besar telah memporak-porandakan pelabuhan. Banyak kapal yang terdampar rusak, karena angin yang kalau kencang.“Dia marah karena aku kabur. Jadi aku harus kesana dan membereskannya. Dengan tidak akan ada lagi yang mengganggu kalian. Ini pertama kalinya aku menantangnya terlebih dahulu.” Osiris tertawa kecil.Ra bangkit dan berdiri mengambil kaos yang sejak tadi malam masih tersampir di sofa.“Kau mau kemana?” tanya Osiris, saat melihat Ra memakai kaos itu sambil mengernyit menahan sakit.“Kau akan bertarung melawan Seth bukan?” Osiris mengangguk.“Lalu kenapa kau masih bertanya? Aku akan memban…”“Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Aku akan menghadapinya sendiri. Seperti yang seharusnya.” Osiris memotong kalimat Ra.“Saat ini kau adalah manusia lemah. Maaf saja, kau tidak mungkin
“Tapi aku ingin…”“Tunggu! Kau belum menjawabku, bagaimana kau bisa ada di sini?! Bagaimana dengan Nef dan Yamu? Kau meninggalkan semuanya?!”Lea menemukan bahasan penting yang akan mengalihkan Ra dari mocca. Penjelasan atas banyak hal!Dalam hati Ra bersyukur saat mendengar pertanyaan itu. Ia lega rencana menyusul Lea dengan terburu-buru, tidak benar-benar terjadi. Dari nada pertanyaan itu saja, Ra bisa merasakan Lea akan marah jika benar-benar meninggalkan Nef sendiri saja saat bayi.“Aku tidak meninggalkan semuanya, aku datang kesini setelah meninggal karena sakit.”Kening Lea berkerut.“Aku akan jelaskan, tapi aku harus berbaring.” Ra merebahkan diri perlahan. Sejak tadi Lea memeluk bagian dadanya terluka.“Astaga!” Lea baru melihat perban besar yang menutup tubuh Ra saat itu.“Kau terluka tadi malam! Bagaimana lukamu?” Kepanikan Lea sangat amat terlambat. Lea mengusap wajah dan leher, tempat darah mengotori tubuhnya.Sudah tidak ada tentunya. Stefan yang membersihkan dengan alkoh
“Itu… Aku tertidur tadi. Aku… aku baru saja bangun.”Ra menjelaskan dengan gugup dan gagap. Teringat jika sebelum semua kejadian itu, Lea sedang marah padanya. Amat sangat marah.Dia bahkan menyatakan hubungan mereka telah berakhir. Dia jelas akan marah melihat Ra ada di dalam kamarnya. “Lea.. Mmm….”“Kenapa kau ada di sini?” Lea mengulang untuk ketiga kalinya, tapi perlahan wajahnya memerah, dan bulir air mata perlahan menuruni pipinya.“Aku mohon jangan marah, Lea. Akh…” Ra ingin melangkah, tapi gerakannya terlalu cepat. Nyeri menyerang dadanya.“Bagaimana bisa kau ada di sini?!” Isakan Lea semakin kencang, sementara Ra mulai merasa aneh. Pertanyaan Lea tidak lagi sesuai dengan skenario bayangannya. Ini karena Lea seharusnya marah, tapi kenapa malah mendekatinya? Lea berdiri di depan Ra, lalu mengulurkan kedua tangan menyentuh pipi Ra. Tangan Lea terasa lembab saat menyentuh pipi Ra akibat dari usahanya menghapus air mata dan gagal. Air mata Lea malah mengalir semakin deras.Lea







