LOGIN😏😏 tanya ja lah
“Apa kau waras?! Mereka semua akan membunuhmu jika kau membunuhku!” Pria tambun menunjuk anak buahnya“Oh.. benar juga. Bagaimana kalau kita coba? Aku akan membunuhmu, lalu kita lihat apakah mereka akan membunuhku. Sayangnya kau tak mungkin melihat bagaimana mereka membunuhku, karena kau sudah mati.”Pria tambun itu mendesis. “Baiklah! Lepaskan dia!” Wajahnya marah, karena harus melepaskan harta karun yang begitu mahal. Tapi dia tak punya pilihan lain.Nef melihat pria itu memberi tanda dengan matanya, agar dirinya bergerak bersamanya. Nef memperbaiki tudung kepala dan juga cadar yang menutupi wajahnya, lalu bergegas berlari ke sampingnya.Beriringan, mereka berjalan menuju keluar Asad. Pria tambun itu, terpaksa mengikuti, karena dia adalah jaminan agar mereka bisa keluar dengan selamat dari situ.Mereka sampai di luar area Asad beberapa saat kemudian tanpa ada yang mengikuti.Banyak yang memperhatikan, tapi banyak juga yang tidak peduli. Pertengkaran selalu terjadi di Asad. Pemanda
“PENCURI SIAL!”Nef memaki sekuat tenaga. Seolah harinya belum cukup buruk, kenyataan pahit kembali mendatangi Nef. Maer hilang!Pohon tempatnya menambatkan Maer kini kosong, sementara kuda lain di samping Maer masih utuh berdiri.Maer adalah kuda paling gagah di antara semua kuda itu, apalagi warnanya yang putih bersih sangat mencolok. Wajar jika menjadi incaran pencuri.Nef meremas tudung kepalanya dengan kalut. Dia mungkin bisa merayu ayahnya untuk tidak marah jika tahu soal pelariannya ini, tapi Maer adalah hadiah dari ayahnya! Dia tak mau kehilangan Maer. Nilai hadiah itu lebih membuat Nef tak rela.Nef keluar dari area perayaan, lalu dengan nekat berlari ke arah luar kota. Hanya ada satu area yang kemungkinan menjadi tempat menjual Maer. Asad, pasar barang curian yang ada di luar kota. Ayahnya sudah berulang kali mencoba menutup pasar itu, tapi beberapa saat akan muncul kembali. Dan akhirnya membiarkan, karena dengan begitu lebih mudah untuk mencari barang hasil curian. Mengi
"Tuan Putri!""Tuan Putri Nef?"Lima budak berlarian sambil berteriak bingung. Mencari junjungan mereka yang menghilang entah kemana."Bagaimana ini? Pharaoh akan murka jika tahu Putri menghilang. Kita yang akan sengsara nanti."Salah satu pelayan mengeluh dengan suara mendekati tangis. Mereka sudah menghafal sifat tuan mereka yang gampang naik darah. Apalagi Tuan Putri Nef adalah satu-satunya putri kesayangannya."Jangan terlalu keras memanggil! Sebisa mungkin rahasiakan kejadian ini!"Budak yang paling senior, memperingatkan mereka, dan keempat lainnya mengangguk patuh. Mereka kembali mencari, tapi tidak dengan panggilan keras. Mereka mencari dengan cara berpencar.Sosok bertudung, mengamati mereka dari balik sebuah guci tanah penghias taman. Melihat kebingungan para budak itu, sambil senyum geli. Nef, gadis yang mereka cari, dengan sangat perlahan beringsut mundur, melewati semak, berlari meninggalkan bangunan utama istana.Dia sudah merencanakan ini sejak lama. Setiap detail rut
“Lea? Kau baik-baik saja?” tanya Ra, sambil meletakkan gelas berisi minuman dingin yang baru saja diantar oleh layanan kamar.Ra adalah radar emosi Lea yang paling sensitif, tentu dia bisa merasakan perubahan suasana hati Lea dalam sekali pandang.Lea tidak menjawab, dia hanya menyambar minuman yang dibawa Ra, menghabiskan separuh teh dingin pesanannya seketika. Udara Mesir cerah sekali hari ini. Lea merasa seperti tanah kekurangan air sejak tadi.“Bagaimana mungkin selama di Yamu, aku justru tidak pernah sekalipun mengendarai unta? Padahal aku pernah naik gajah?” tanya Lea.Memilih membahas hal ringan, saat Ra menyusup ke belakangnya, memenuhi kursi malas empuk --yang seharusnya hanya untuk satu orang itu--dengan tubuhnya.“Karena kau tidak pernah melakukan perjalanan jarak melintasi gurun saat itu. Unta hanya dipakai untuk perjalanan jarak jauh yang sulit. Karena itu kau hanya lebih sering naik kuda bersamaku.”Lea tersenyum mendengar itu, teringat perjalanan panjang pertamanya bers
Ra menatap ke atas langit cerah di atasnya, lalu meletakkan gelas yang ada di tangannya, pada tembok pembatas balkon.Keningnya terus berkerut, sampai merasakan tangan menyusup diantara lengan, dan tubuh lembut memeluknya dari belakang.Kerutan pada keningnya mengendur, dan senyum tersungging, saat merasakan tubuh yang memeluknya itu sama sekali tidak tertutup kain. Lebih tidak sopan dari dirinya yang hanya mengenakan handuk.“Kau baru bangun?” Ra ingin berbalik, tapi Lea melarang dengan mempererat pelukannya.“Kau mengkhawatirkannya?” Lea tentu menyadari Ra mempunyai kebiasaan baru.Dia selalu memandang langit selama beberapa saat, ketika mereka berada di luar ruangan. Tidak sekali dua kali, tapi hampir setiap kali. Ra selalu memandang kejauhan dalam diam.“Aku benci padanya!” keluh Ra.”You love him.” Lea mengoreksi penyangkalan yang baru saja diucapkan Ra. (kau menyayanginya)“Cukup sekali, sekali saja dia menurunkan hujan! Dengan begitu aku tahu dia baik-baik saja. Tapi tentu saja
Lila memoles Ra menjadi lebih sempurna lagi, Lea kembali tak menyesal telah menurutinya. Rambutnya sedikit terserak karena angin, tapi tidak masalah, menurut Lea tetap indah. Namun, semua yang sempurna padanya, kalah oleh senyum yang saat ini dibentuk oleh bibirnya. Senyum yang dulu membuat Lea meleleh seperti es krim, dan tahu dia tidak bisa lari darinya karena senyum itu.Dan kini sama, kaki Lea lemas begitu saja begitu senyum itu merekah. Lea merasakan tangan Ed mempererat genggaman, karena sadar Lea sedikit goyah.Langkah mereka menjadi lebih pelan, tapi akhirnya mereka sampai di depan altar. Ra mengulurkan tangan, dan Ed menyerahkan tangan Lea kepadanya.Dan setelah itu Lea tenggelam ke dalam mata abu-abu yang tidak sedetikpun melepaskan pandangan darinya. Jika setelah hari ini ada yang bertanya apakah pendeta yang menikahkan mereka tua atau muda, sudah pasti jawabannya adalah tidak tahu.Mereka berdua terus berpandangan, berdiri saling berpegangan tangan, hanya bersuara saat me







