LOGIN😏😏 senyumnya gini ya Bang?
“Aku tidak terlalu ahli dalam mesin, tapi aku rasa jika mesinnya tidak merespon sama sekali, kerusakannya berarti parah.” Ra memberikan pendapatnya dengan nada prihatin yang cukup. Tidak berlebihan, tapi tetap terlihat peduli.Lea mengerang frustasi, sambil menutup wajahnya dengan tangan. “Apa kau ingin aku memanggil tukang servis ke sini?” Ra menegakkan tubuh, memandang Lea yang beridiri di sebelahnya.Lea mengangguk pasrah, sementara pikirannya melayang pada sisa uang tabungannya. Uang pengembalian sewa apartemennya, sudah jelas akan habis untuk apa.Tapi hanya ini jalan agar dia bisa tetap berangkat bekerja. Rumah ini jauh dari jalan raya, maupun halte. Lea tak bisa naik kendaraan umum ke kota.Ra meraih jas, mengambil ponsel di kantongnya, lalu menyentuh nama Marin dengan telunjuk. Lea masih memandang mesinnya dengan wajah galau, jelas tidak melihat apa yang Ra lakukan.“Hai Bob!” Ra menyapa dengan menyebut sembarang nama, bernada terlalu ramah, begitu Marin menjawab.“Hah?!” Mar
“Lea bisa meninggal, dan nasibnya akan menjadi tidak jauh berbeda dari Nae saat Eshe membalik kutukannya.”Tidak ada celaan apapun, karena Ra sangat benar. Tentu saja dia tak bisa memprediksi bagaimana nasib dan masa depan Lea, jika Ra tidak ikut campur saat itu.“Well…. Yang jelas inilah pilihanmu, kau mengundang Seth untuk menemukan dirimu.” Osiris ikut membalas dengan bahasa kuno itu.“Ingat saja untuk selalu waspada! Aku sudah membuat perlindungan di sekitar rumah ini, tapi untuk lebih aman…” Osiris merogoh kantong, lalu meletakkan dua buah bros keemasan seperti yang dulu diberikan oleh Bast.Tapi tidak berbentuk bunga. Bros itu berbentuk apa yang dulu Ra sebut sebagai kunci, sebelum berubah menjadi tongkat yang biasa Osiris bawa.“Aku orang yang cukup bertanggung jawab. Ini perlindungan dariku. Jangan mengatakan aku mengabaikanmu!” kata Osiris. Menyombongkan kebaikan.“Melindungiku dan Lea adalah kewajibanmu, hutang budi yang harus kau balas setelah aku mengembalikan mata itu. Ja
Ra berjam-jam duduk di ruang tengah, hanya diam, memandang pintu kamar Lea. Dia bahkan tak peduli saat suasana sudah berubah gelap. Untung saja beberapa lampu di ruang utama dilengkapi sensor cahaya, jadi rumah itu tidak gelap gulita, meski Ra tidak bergerak sama sekali sejak sore tadi.Makan malam telah lewat dan tidak ada yang peduli. Ra juga tidak ingin makan, dan dia juga tidak berani bertanya kepada Lea soal makan malam. Takut membuat dia kembali menangis lebih parah.Ra setengah mati ingin tahu kenapa Lea menangis. Tebakan terbaiknya, karena masalah dari ayah atau ibunya. Ra tentu paham jika saat ini mereka berdua masih menjadi ‘beban’ bagi Lea.Kurang lebih sama seperti Edrice dan juga Sudi.Tapi berbeda dari mereka berdua, Ra tidak tahu apapun soal Daisy dan Mark secara mendalam. Dulu Nae dan dirinya berteman, jadi dia cukup tahu apa yang terjadi dalam rumah mereka.Untuk Daisy dan Mark, Ra hanya tahu apa yang tertera di atas kertas. Dia hanya tahu kehidupan mereka minus, aki
“Apa botanist sebelum aku berhenti bekerja karena keracunan?” tanya Lea, curiga.Ra tertawa terbahak. “Tidak, Lea. Dia pindah.”Ra yang memaksanya pindah sebenarnya. Dia tidak memecat, hanya dipindahkan.Lea secepatnya berpaling. Tawa renyah itu kurang lebih berefek sama dengan senyuman Ra. Lea merasakan gelitik hangat di tubuhnya saat mendengar itu.“Hmm, jadi taman ini ada semenjak lama?” tanya Lea.Penilaian yang muncul karena mendengar pemilik sebelumnya adalah Duchess. “Ya. Lalu pemilik rumah ini membelinya begitu saja. Dia merombak sebagian besar rumah tapi bagian luar semuanya kurang lebih sama. Ah.. dia menambahkan kebun lavender itu, lalu...”Ra menjelaskan sambil berjalan meninggalkan area kebun beracun itu, menuju taman yang lebih normal. Taman bunga musim semi yang ada di tepi kolam renang.Tidak ada yang harus dijelaskan di sana, jadi mereka terus berjalan kembali ke rumah, melalui pintu belakang yang tembus ke dapur.“Kau sepertinya tahu banyak tentang pemilik rumah ini
Ra tersenyum. Tidak terlalu terkejut. Meski ceroboh, Lea tidak bodoh. “Aku boleh mencoba, asal bisa membelinya. Itu berarti aku hanya bisa mentraktir dari deret yang ini. Bukan di sebelah sana.”Ra menunjuk deretan wine berusia muda. Meski bisa, tentu saja Ra tidak dengan bodoh menawarkan wine mahal. Dia tetap berakting sebagai pegawai. Lea akan kembali curiga jika dia menawarkan wine mahal.“Anggap saja ucapan selamat datang. Aku senang akhirnya tidak harus tinggal di sini sendiri lagi.”Lea ingin menangis, tapi kali ini sebabnya jelas. Ra tersenyum padanya, membujuk. Lea tahu benar kepalanya tak akan menggeleng. Tapi karena hatinya merasa tidak seharusnya dia menerima penawaran itu, kepala Lea juga tidak mengangguk.Namun Ra tetap menerjemahkan sikap diam itu sebagai iya.Dia bangkit, mengambil salah satu botol yang menurutnya cukup lumayan. Tidak terlalu murah, tapi tidak mahal luar biasa. Dengan gerakan tangan yang cekatan, Ra mengambil pembuka botol dan dua buah gelas.“Warnanya
“Apa kau baik-baik saja? Kenapa kedua telingamu merah sekali?” tanya Ra, sambil mengerutkan kening.Tangannya terangkat, ingin menyentuh telinga Lea, dan memeriksa apa yang salah, tapi tangan itu berhenti di udara lalu mengepal. Ra sadar betapa buruknya ide untuk menyentuh Lea saat ini.Lea tidak melihat gerakan canggung itu, karena dia sibuk menggeleng. Mengumpulkan akal sehat.“Aku baik.” Lea menggosok telinganya yang sangat hangat, sambil menunduk. Kali ini Lea sama sekali tidak berani memandang Ra. Dia mungkin tidak menangis lagi, tapi telinga memerah juga bukan hal yang pantas untuk ditunjukkan di hadapan pria manapun.“Mmm… Apa kau mau berkeliling sekarang atau nanti saja? Kau masih lelah?” Ra mengutarakan maksud panggilannya tadi.“Oh... Sekarang saja. Aku tidak lelah!” Lea setuju dengan sangat cepat. Dia siap mengisi kepalanya dengan tugas dan tanggung jawab. Agar pikiran kotor dan nakal itu lekas hilang dari otaknya.“Kalau begitu, mari.” Ra mendahului Lea melangkah untuk m







