แชร์

#397 Ini Semua Beracun!

ผู้เขียน: aisakurachan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-17 06:51:41

Ra tersenyum. Tidak terlalu terkejut. Meski ceroboh, Lea tidak bodoh.

“Aku boleh mencoba, asal bisa membelinya. Itu berarti aku hanya bisa mentraktir dari deret yang ini. Bukan di sebelah sana.”

Ra menunjuk deretan wine berusia muda. Meski bisa, tentu saja Ra tidak dengan bodoh menawarkan wine mahal. Dia tetap berakting sebagai pegawai. Lea akan kembali curiga jika dia menawarkan wine mahal.

“Anggap saja ucapan selamat datang. Aku senang akhirnya tidak harus tinggal di sini sendiri lagi.”

Lea
aisakurachan

😏😏

| 3
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
seperfect itu rencana ra..
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #397 Ini Semua Beracun!

    Ra tersenyum. Tidak terlalu terkejut. Meski ceroboh, Lea tidak bodoh. “Aku boleh mencoba, asal bisa membelinya. Itu berarti aku hanya bisa mentraktir dari deret yang ini. Bukan di sebelah sana.”Ra menunjuk deretan wine berusia muda. Meski bisa, tentu saja Ra tidak dengan bodoh menawarkan wine mahal. Dia tetap berakting sebagai pegawai. Lea akan kembali curiga jika dia menawarkan wine mahal.“Anggap saja ucapan selamat datang. Aku senang akhirnya tidak harus tinggal di sini sendiri lagi.”Lea ingin menangis, tapi kali ini sebabnya jelas. Ra tersenyum padanya, membujuk. Lea tahu benar kepalanya tak akan menggeleng. Tapi karena hatinya merasa tidak seharusnya dia menerima penawaran itu, kepala Lea juga tidak mengangguk.Namun Ra tetap menerjemahkan sikap diam itu sebagai iya.Dia bangkit, mengambil salah satu botol yang menurutnya cukup lumayan. Tidak terlalu murah, tapi tidak mahal luar biasa. Dengan gerakan tangan yang cekatan, Ra mengambil pembuka botol dan dua buah gelas.“Warnanya

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #396 Selamat Datang

    “Apa kau baik-baik saja? Kenapa kedua telingamu merah sekali?” tanya Ra, sambil mengerutkan kening.Tangannya terangkat, ingin menyentuh telinga Lea, dan memeriksa apa yang salah, tapi tangan itu berhenti di udara lalu mengepal. Ra sadar betapa buruknya ide untuk menyentuh Lea saat ini.Lea tidak melihat gerakan canggung itu, karena dia sibuk menggeleng. Mengumpulkan akal sehat.“Aku baik.” Lea menggosok telinganya yang sangat hangat, sambil menunduk. Kali ini Lea sama sekali tidak berani memandang Ra. Dia mungkin tidak menangis lagi, tapi telinga memerah juga bukan hal yang pantas untuk ditunjukkan di hadapan pria manapun.“Mmm… Apa kau mau berkeliling sekarang atau nanti saja? Kau masih lelah?” Ra mengutarakan maksud panggilannya tadi.“Oh... Sekarang saja. Aku tidak lelah!” Lea setuju dengan sangat cepat. Dia siap mengisi kepalanya dengan tugas dan tanggung jawab. Agar pikiran kotor dan nakal itu lekas hilang dari otaknya.“Kalau begitu, mari.” Ra mendahului Lea melangkah untuk m

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #395 Aku Tidak Mengerti!

    “Benar. Rumah ini kosong sebenarnya, jadi siapa saja boleh menempati kamar mana saja.”Bantahan yang telah Ra siapkan sejak kemarin, mengantisipasi jika Lea curiga. Dan memang benar dia curiga.“Oh... Apa tidak ada kamar khusus pegawai atau apa?” Meski bebas menempatinya, Lea merasa tidak nyaman.Dia merasa aneh jika harus menempati kamar semewah ini, dan masih dibayar. Lea merasa wajib membayar, jika menempati kamar semewah ini.Ra menggeleng. “Semua kamar di rumah ini seperti ini.”Tentu saja ada kamar tamu yang lebih sederhana, tapi untuk apa mengatakannya pada Lea sekarang? Dia hanya harus membiasakan Lea tinggal di kamar ini. “Apa kau ingin aku membantu membereskan barang?” tanya Ra.Lea yang masih bingung melihat keadaan kamarnya yang terlalu mewah, menggeleng seketika.“Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Dan terima kasih atas bantuannya.” Lea mengangguk dan tersenyum.Ra membalas senyuman itu hampir seketika. Lea menelan ludah. Senyum itu pastilah tidak menyehatkan, karena jantung

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #394 Aku Ingat!

    “Kamarmu akan ada di sebelah sana.”Ra menunjuk pintu kamar kayu, yang ada di sebelah ruang duduk. Kamar yang memang sudah disiapkan untuk Lea. Kamar yang memiliki pemandangan paling bagus di rumah ini. Dan tentu saja paling luas.Tapi tentu kenyataan itu tidak perlu dikatakan, karena sudah pasti Lea justru akan menolak kamar itu jika tahu kamar itu istimewa.Lea mengangguk, dan kini mengamati Ra, yang sedang menjelaskan detail rumah, soal dapur dan lain sebagianya.Melihat wajahnya dengan lebih normal, saat kabut pesona tak lagi mengganggu otaknya. Lea menyadari sesuatu, wajah Ra terlihat akrab. Ini bukan pertama kali dia bertemu dengannya.“Apa kita pernah bertemu sebelum ini?” tanya Lea.Ra terdiam saat itu juga, dan berpaling memandangnya. “Kau mengenaliku?”Ra mencoba menekan antusias yang muncul dalam hatinya, karena hal ini akan terlalu indah untuk menjadi nyata. Lea mengenalinya adalah hal mustahil yang terus dia harapkan akan menjadi nyata, setiap harinya.“Aku ingat! Aku t

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #393 Tinggal Bersamanya!

    “Terima kasih.”Lea mengucapkan sekali lagi, kepada dua orang yang membantu dan juga mengantar barangnya sampai ke rumah itu.Lea tadi sempat menolak angkutan truk mereka, karena barangnya sangat minim. Kursi belakang dan bagasi mobilnya sudah cukup untuk menampung barangnya. Barang Lea hanya berwujud dua kardus dengan besaran sedang dan satu koper. Lea merasa mengangkut dengan truk sedikit berlebihan.Tapi mereka bersikeras, karena itu adalah pekerjaan yang harus mereka lakukan, dan mereka sudah dibayar untuk itu. Lea mengalah. Sekarang Lea merasa jika tawaran itu ternyata sangat berguna, karena meski hanya dua buah kardus, keduanya sangat berat. Kardus itu berisi buku novel koleksi Lea. Tak mungkin Lea bisa mengangkatnya sendiri. Kopernya sendiri bukan masalah, karena hanya berisi baju.Untuk laptop, dan juga barang-barang kecil lainnya, dengan mudah Lea bisa memasukkannya pada tas tangan, yang saat ini dia tenteng.Saat melihat betapa minimnya barang yang dia bawa, Lea yang menyad

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #392 Selamat Datang!

    Lea menurunkan kaca mobilnya, karena sopir truk yang ada di depannya turun. "Ya?""Katanya Anda punya kuncinya.""OH! Iya!" Wajah Lea langsung memerah, malu. Ia benar-benar lupa.Lea bergegas turun, mengambil kunci yang kemarin diserahkan padanya begitu menandatangani kontrak pekerjaan tambahan ini. Ada dua kunci, yaitu kunci terbang dan kunci pintu utama rumah. Seharusnya sejak tadi Lea turun dan membuka gerbang, bukan malah ikut menunggu gerbang terbuka.Lea memasukkan kunci besi itu, lalu membuka gerbang yang sedikit berat, tapi dia berhasil mendorongnya sendiri.“Holy fu---molly!”Lea tidak sengaja menggumamkan umpatan, saat melihat bentuk rumah yang ada di depannya. Rumah itu sesuai dengan apa yang ada di deskripsi, tapi melebihi dari apa yang Lea bayangkan. Pertama rumah itu lebih besar daripada yang Lea bayangkan. Kedua, Lea tadinya mengira akan menemukan keadaan rumah yang terlihat seperti rumah hantu yang ditelantarkan.Tapi ternyata jauh dari itu.Rumah itu atapnya berwarna m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status