LOGIN🙂🙂 pah ga usah aneh2 ya
Lea memutuskan mengejek sedetik kemudian, karena melihat pirang panjang, terlihat menahan tawa dari balik gelasnya, tapi pirang pendek bertanya dengan meyakinkan, seakan dia memang benar-benar tidak tahu.“Botanist memang ahli tanaman, tapi kami memiliki pemahaman lebih pada tanaman.” Lea masih berbaik hati, memandang pirang pendek dengan mata ramah. Berharap dia tidak seperti temannya.Tapi harapan Lea hanya sia-sia, pirang pendek hanya mengejek, karena sekarang dia tersenyum miring. Dia sudah berharap Lea membalas dengan kalimat seperti itu, dan menyiapkan balasan.“Ah.. Berarti botanist adalah tukang kebun yang hebat sekali. Jika senggang apa kau bersedia datang ke rumahku? Aku punya kebun luas yang tidak terawat. Aku ingin menyewa jasa...”“Joy!” Mary menegur dari sebelah Lea.Nama pirang pendek ternyata Joy (kegembiraan), sayang sekali sosoknya hanya membawa amarah, berlawanan dengan namanya.Tentu saja menawarkan pekerjaan kepada Lea bertujuan untuk merendahkan, Mary menegur kare
“Edwardo.” Suara Ed rendah dan berat seperti Ra.Lea mengulurkan tangan. “Senang bertemu anda, Mr. Navaro. Dan selamat ulang tahun.” Suara Lea sedikit bergetar, tapi lancar mengucapkannya.“Lea? Jangan memanggilnya Mr. Navaro. Panggil saja Ed. Bukan begitu Ed? Dia kekasih Raffael, jadi harus memangilmu Ed.” Lila menyahut, sambil menyikut lengan Lea.Ed mengangguk pelan, menurut pada keceriaan istrinya. “Ah... dan panggilannya adalah Lea.” Lila menambahkan, untuk suaminya yang masih diam mengamati Lea.Lea sebisa mungkin mempertahankan wajah ramah, diantara kegugupannya. Menyusup sedikit lega, karena tidak ada reaksi negatif dari Ed. Hanya terlihat heran.“Aku tidak tahu kau punya kekasih,” kata Ed. Memandang Ra.“Karena memang aku belum memberitahu siapa pun. Jadi wajar. Baru ibu saja yang tahu.” Ra menjawab tidak kalah datar dengan pertanyaan Ed.“Bagaimana menurutmu? Lea cantik bukan?” Lila adalah dunia lain. Dia tetap ceria seperti musim panas, meski kedua pria itu terasa bagaikan
“Bukan aku yang membelikan, jadi aku tidak tahu berapa harganya. Yang aku tahu, kau lebih cantik dari perhiasan itu," kata Ra sambil menahan tawa, ini karena ia merasakan dejavu yang lain.Saat di Yamu, ia mendengar laporan dari Heba bagaimana Lea selalu mengeluh saat memakai perhiasan mahal, seperti tidak nyaman. Ra melihatnya lagi sekarang."Kau sama sekali tidak berubah, Lea," bisik Ra.“Huh? Apa lagi?" Lea tentulah bingung.Ra tersenyum melihat Lea masih pucat. Make up yang dia pakai masih menampakkan wajah pucat itu. Ra kembali teringat saat Lea harus menemui ayahnya--Pharaoh, untuk pertama kali. Wajah yang menunjukkan ketegangan berbeda, tapi Ra bisa melihat kalau dua tubuh itu adalah jiwa yang sama.“Kita pakai lagi nasehat Oz, kau hanya harus menempel padaku semalaman, dan semuanya akan beres.”Ra menenangkan sambil menarik Lea agar semakin merapat ke tubuhnya, saat mereka mulai masuk ke area pesta. Cuaca sudah mulai hangat, jadi Lila memusatkan pesta di kebun area samping ruma
“Apa kau sengaja memilih warna itu? Kau sekarang benar-benar terlihat seperti bunga Azalea yang cantik.”Lea mencibir, menerima pujian itu dengan malu-malu, tapi sekaligus tegang.“Kau yakin? Aku tidak terlihat aneh?” tanya Lea. Menunduk menatap gaun off shoulder ungu lembut yang dia pilih. Bagian bawah gaun itu sekilas memang terlihat seperti kelopak bunga Azalea yang panjang melambai, sementara bagian atasnya menampakkan kulit pucat bahu Lea.“Jika kau aneh maka semua orang di dunia ini adalah kentang.” Ra menyahut enteng, sambil membantu Lea menaiki mobil.Dia memastikan ujung gaun Lea tidak terjepit pintu.Lea menahan tawa, sambil melambai kepada dua pegawai salon yang tadi membantunya merias wajah.Lila sepertinya tahu benar apa kelemahan Lea. Selain mengirim gaun dan sepatu, diantara tumpukan hadiah yang Lea terima, ada satu amplop yang berisi jadwal untuk merawat tubuh dan merias wajahnya di salah satu salon yang hanya pernah Lea dengar namanya saja.Sore tadi adalah pertama ka
“Hello?” Lea menjawab setengah hati, berharap panggilan itu bukan sales yang menawarkan pinjaman dari bank.“Lea? Apa kau sudah berbaikan dengan Raffael?”Lea awalnya tidak mengenali suara yang bertanya tanpa repot menyapa itu. Tapi konteks pertanyaan membuat Lea paham siapa yang meneleponnya. “Lila?”“Benar. Oh, iya! Aku lupa belum memberikan nomorku padamu. Maaf, ya. Kau pasti bingung.”Lea ingin bertanya bagaimana dia bisa tahu nomor ponselnya, tapi wanita itu bahkan tahu nama aslinya. Lea membatalkan rasa herannya. Tebakan Lea, dia tahu melalui nomor ponselnya dari sumber yang sama.“Bagaimana? Apa kau sudah berbaikan dengan Ra?” Lila kini terdengar mendesak.“Mmm… ya. Sudah. Kami sudah berbaikan.” Belum sempurna tapi sudah lumayan.Lea menatap Ra yang mengangkat alis bertanya. Penasaran kenapa ibunya menghubungi Lea.“Bagus! Kalau begitu jangan lupa datang besok ya? Aku sudah mengirim semuanya. Bye!”Dan Lea ditinggalkan dalam keadaan heran luar biasa, sambil mendengarkan nada pan
“Lalu bagaimana dengan dirimu? Kau menerimaku dengan alasan apa?” Ra bertanya balik. Ingin tahu bagaimana Lea menimbang masalah ini. Lea meletakkan gelas kopi yang sudah setengah kosong itu di tepi pagar dengan terlalu bersemangat. Percikan kopi berwarna krem itu muncrat melalui ujung sedotan. Pertanyaan Ra membuatnya jengkel.“Aku tidak tahu!” Lea mengusap wajah dengan kedua tangan, karena seperti jawabannya, Lea tak mengerti kenapa dirinya menjadi aneh seperti ini, dan perubahan ini menakutkan baginya.Lea tahu dia ceroboh, tapi belum pernah dia merasa begitu salah mengambil keputusan dibanding saat dia menerima Ra.Akal sehat seolah terus menampar bagian belakang kepalanya, mengatakan ini terlalu indah untuk menjadi nyata, terlalu manis, terlalu sempurna, dan banyak lagi peringatan yang menyuruhnya untuk berhati-hati.Tapi tidak begitu dengan perasaannya. Lea tak mungkin mengingkari kehangatan yang muncul setiap kali melihat wajah Ra, rasa ringan yang mengikuti setiap kali melihat







