MasukJ'ai été élevé par un père singulier; un homme pauvre et accro à l'alcool. Ma vie n'a jamais été facile. Après mon diplôme du baccalauréat, je suis arrivée en ville pour l'université de l'état grâce à une bourse d'étude de trois ans. Après ma licence, j'avais envie de poursuivre mes études pour le compte du cycle de Master mais là, il fallait que je sponsorise mes études moi-même. Je m'appelle Thérésa, voici comment je suis passée d'une bonne étudiante à une prostituée et que j'ai fini par devenir maman sans connaître l'identité du père de mon bébé. Qui demandé quand l'homme avec qui j'ai été intime m'avait recommandé de garder mes yeux fermés. Vais-je découvrir qui c'était ? ma fille connaîtra t'elle l' identité de son vrai père un jour?
Lihat lebih banyak“Tapi kenapa harus aku bun, aku masih ingin kerja” nada keras keluar dari mulut Nayla Anita Sari. Dia menatap marah bundanya yang baru saja bicara tak masuk akal.
“Nayla, jangan bicara begitu dengan bundamu” seorang pria paruh baya balik memarahi Nayla. “Bagaimana aku nggak marah yah, ucapan bunda barusan nggak masuk akal. Kenapa? Kenapa harus aku yang menikah dengan kenalan Pakde Toni. Kenapa bukan anaknya aja yang dinikahin, aku bukan anaknya kenapa harus aku” protes Nayla lalu menatap ayahnya, Tama Haidar. “Nayla, kamu tahu sendiri pakde kamu nggak punya anak Perempuan. Dan kamu juga sudah di anggap anaknya kan, jadi tolong bantu pakde kamu. Orang yang di jodohkan dengan kamu juga bukan orang sembarang” Anita mendekati putrinya, dia memegang lembuh bahu putrinya itu tapi Nayla langsung bergeser menjauh. “Tapi aku belum pengen nikah bun, aku..aku masih pengen kerja” Nayla menatap bundanya yang terlihat memohon padanya. “Kamu menikah nanti juga masih bisa kerja Nay, sudahlah turuti pakde kamu. Kita banyak hutang budi dengan pakdemu” Timpal Tama, dia terkesan memaksa tak memikirkan perasaan putrinya sendiri. Mata Nayla berkaca-kaca, ia tak bisa menerima ini. Tapi orang tuanya terus menuntut dan terus mengingatkan hutang budi mereka pada pakdenya, yang merupakan kakak dari ibunya. “terserah kalian kalau begitu, hidupku kan memang selama ini kalian atur” Nayla hanya bisa pasrah, ia merasa kecewa dengan kedua orang tuanya. Karena selama ini mereka terlalu banyak mengatur dirinya dan tak pernah membiarkan nya mengambil Keputusan sendiri. “Sudah jangan sedih Nay, bunda jamin kamu bakal Bahagia sama suami kamu nanti. Hidup kamu nggak bakal kekurangan Nay, calon suami kamu Mayor TNI. Dia komandan Batlyon Nay, jadi bayangkan hidupmu pasti bahagis” Anita memegang Pundak putrinya. “persetan dengan itu semua bun,” Nayla menepis tangan bundanya lalu dia langsung pergi dari situ. Tama mendekat pada istrinya, dia melihat sekilas anaknya yang berjalan keluar rumah. “kamu yakin calon suami Nayla orang baik, aku nggak mau putriku menikah dengan orang yang tidak memperlakukannya dengan baik” ucap Tama, meskipun ia setuju dengan keinginan istrinya dan juga kakak iparnya untuk menjodohkan Nayla putri bungsunya tapi ia juga merasa takut, kalau putrinya tidak akan baik-baik saja. Ia takut putrinya mendapatkan pria yang tidak baik. “Aku jamin mas, dia orang baik. Toh kakak ku sendiri yang ngajuin perjodohan, kamu tahu sendiri kakakku milihin orang nggak pernah salah. Contohnya milihin kamu, keluarga kita langgeng sampai sekarang kan, sampai punya anak dua” ucap Anita menatap kearah suaminya. “Iya sih, tapi aku takut kalau..” “Udah mas, nggak usah takut. Katanya kamu mau lihat mobilnya Bayu, ya sudah sana soal Nayla biar aku yang urus” ucap Anita meyakinkan suaminya. “ya sudah, aku pergi dulu. Nanti kalau ada apa-apa dengan Nayla kabari aku” ucap Tama, mereka berdua berjalan kedepan. Anita mengantar suaminya hingga depan rumah, Setelah suaminya pergi Anita masuk kembali kedalam rumah tapi ia di kagetkan dengan Nayla yang berjalan membawa kopernya. “Nay, Nayla mau kemana kamu nak?” buru-buru Anita menghampiri Nayla. “Aku mau pergi aja dari sini bun, aku nggak mau lagi tinggal sama kalian.” Ucapnya dan akan melewati bundanya. Tapi Anita langsung menahan tangan Nayla, “Nay, kamu nggak bisa pergi begitu aja dari rumah sayang.” “Bagaimana aku nggak pergi bun, aku tinggal dirumah tapi hidupku selalu kalian atur. Aku nggak mau menuruti ucapan kalian lagi. Kenapa kalian nggak adil sama aku bun, mas Bayu kalian bebasin tapi kenapa aku nggak bun. .” tangis Nayla pecah, tatapan penuh permohonan ia berikan pada bundanya. “Ya karena kamu Perempuan Nay, kalau kamu kenapa-kenapa yang tanggung jawab pasti orang tua kamu. Tolong jangan begini, kamu mau bunda kamu mati..kalau kamu mau silahkan pergi aja Nay.” Kata Anita, nada mengancam keluar dari mulutnya. Nayla melebarkan matanya, dia terkejut mendengar ucapan bundanya barusan. Bisa-bisanya bundanya bilang begitu. “Maksud bunda apa? Bunda pengen ngancem aku? Bunda pengen bunuh diri?” Anita diam saja, memalingkan wajahnya. “Karena buat apa bunda hidup, anak bunda saja nggak nurut sama bunda. Kamu pengen lihat bunda kamu yang bakal dikatain bude kamu. Kamu tahu sendiri bude kamu nggak suka sama bunda, apalagi nanti kalau dia dengar kamu nolak. Pasti dia bakal ngatain bunda yang nggak tahu terima kasih” “kenapa bunda harus takut, kenapa juga takut dengan omongannya. Bunda nggak tahu terimakasih darimana coba” bingung Nayla, dia menatap heran bundanya. “Pakde..pakde kamu ada hutang budi sama keluarga pria yang di jodohkan denganmu Nay, dan..dan pakde kamu..” “udah nggak usah di jelasin, aku tahu. Intinya karena hutang budikan oke, kalau itu maksunya. Aku balas hutang budi itu semua meskipun mengorbankan kebahagianku” Nayla menitikan air matanya tanpa suara. Wajahnya tetap dingin dengan sorot mata yang kosong. “bunda mohon, kamu jangan nangis. Bunda jamin kamu bakal Bahagia Nay, suami kamu orang baik.” Ucap Anita memegang lembut wajah putrinya, menghapus air mata sang putri. Nayla sendiri hanya diam dengan air mata yang masih menetes, “beginikah hidup di penjara itu, selalu di larang melakukan apapun atas kehedak sendiri” batinnya menangis menerima ini semua. …………….. “Adyan, ini keponakanku Nayla Anita Sari. Dia keponakan yang sudah ku anggap sebagai anakku sendiri, jadi aku harap kamu memperlakukan dia dengan baik nantinya” ucap Toni memperkenalkan Nayla yang duduk di sebelahnya. Pria yang Bernama Adyan Prastya Dirgantara, seorang Mayor muda yang baru berusia tiga puluh tiga tahun dan menjabat sebagai Danyon muda di salah satu Batalyon. Adyan mengangguk pelan sambil terus memperhatikan Perempuan di depannya yang hanya menunduk tak menatap padanya. “bagaimana cantikkan ponakan saya,” Toni terlihat bangga memperkenalkan keponakannya pada mantan anak buahnya itu. Toni seorang purnawirawan TNI AD yang sudah hampir lima tahun ini pengsiun. “Iya ndan” jawab Adyan lirih sambil tersenyum tipis. “Jadi bagaimana, mau menikah dengan ponakan saya kan? Tapi ya itu kamu harus baik dengannya, jangan menyakiti ponakan saya. Saya sudah menganggap Nayla putri saya sendiri” ucap Toni memperingatkan Adyan. “Siap ndan, isyaallah saya akan menjaganya dan tidak menyakitinya” Adyan sesekali melihat Perempuan di depannya yang kini melihat kearahnya. Mereka saling lihat dengan wajah datar mereka, entah saling memikirkan apa dalam kepala keduanya. “Mohon ijin ndan,..” ucap Adyan ragu, “Iya kenapa?” tanya Toni menatap penasaran wajah Adyan yang berubah gelisah. “Emm, soal pernikahan. Bagaimana kalau di lakukan besok?” ucap Adyan serius, “Apa?” ucap Nayla dan Toni bersamaan, ***Chapitre 4 : Papa, reste s’il te plaîtDaniel Kenneth était heureux d’aider une personne dans le besoin.Mais parfois, il en faisait un peu trop.Lorsqu’il fit une offre jugée extravagante à sa collègue et à sa fille, Thérèsa Lum n’hésita pas à le reprendre.— Daniel, cette maison est à toi, dit-elle.— Oui, oui, je sais, t’inquiète pas, répondit-il en relâchant doucement ses épaules.Un silence s’installa dans la chambre.Les deux collègues se regardèrent sans dire un mot.Puis, rompant la tension, Daniel effleura le manteau de Thérèsa.— Laisse-moi prendre ça, dit-il. Toi, tu vas te coucher. Demain, on parlera de cette histoire de propriétaire.Il fit glisser le manteau de ses épaules avec une douceur surprenante.Thérèsa, étonnée, le laissa faire.— Voilà, souffla Daniel en rangeant le vêtement.Elle le suivit du regard tandis qu’il marchait jusqu’au dressing, ouvrait une porte vide et suspendait soigneusement le manteau sur un cintre.Jamais Kingsley Wilson n’avait eu un geste aus
Chapitre 3— Un cœur en orLa chambre était plongée dans une obscurité presque sacrée, alourdie par un silence monstrueux.Daniel observait Thérèsa depuis de longues minutes avant de reformuler calmement sa phrase :— Ton ex…, dit-il enfin.Thérèsa baissa le regard. Daniel poursuivit, d’une voix posée :— Ce que cet homme t’a fait prouve qu’il n’était pas à ta hauteur, Thérèsa. Il ne te méritait tout simplement pas.— Tu as raison, Daniel, approuva-t-elle d’une voix éteinte. Kingsley ne m’a jamais méritée. C’est moi qui forçais cette relation.Combien de fois ai-je su qu’il me trompait… et pourtant, je lui trouvais toujours des excuses, vois-tu ? Quand il s’absentait, je me disais :“Bah, peut-être qu’il est au bureau ou dans un bar avec des amis…”Et lorsqu’il rentrait, je ne posais jamais de questions. J’étais soumise. Je lui prenais sa veste, je lui préparais son bain, puis je dressais la table avec mille attentions… comme s’il était un roi à un festin.— Tu ne faisais que ton devoi
Daniel Kenneth est un excellent chirurgien : jeune, séduisant, à la peau noire et aux cheveux courts. Il parle avec douceur, calculant ses mots comme s’il pesait chaque syllabe.Ce n’est pas un homme nonchalant : c’est quelqu’un de responsable, qui respecte profondément ceux qui l’entourent — surtout les femmes et les enfants.Célibataire, il a perdu son père très tôt. Après ce drame, il a travaillé sans relâche pour construire son empire et soutenir sa mère et sa petite sœur, Brigitte. Tout ce qu’il possède est le fruit d’un labeur acharné : jamais personne ne lui a tendu la main pour lui dire « tiens, prends ça ».Son passé l’a forgé en un homme solide et généreux, capable d’aimer et d’écouter la détresse des autres. Il sait tendre la main à ceux qui en ont besoin.Thérèsa et Vénus n’avaient rien à craindre de lui : il les traiterait comme sa propre famille. Lorsqu’il ouvrit la porte, Thérèsa entra, légèrement nerveuse. Elle observa la maison d’un pas mesuré, ses yeux marron foncé
« Comment as-tu osé, Kingsley ? » Granda t'elle la gorge serrée.— « Comment as-tu pu ramener ta maîtresse et son fils dans cette maison :En plus le jour de l'anniversaire de notre fille !!! Hurla t'elle sur son mari.Toi, tu n'as pas de cœur ! Comment as-tu pu faire une chose pareille bon sang ? Kingsley, tu est un monstre ! »Avait crié Thérèsa en brûlant de douleur par cette trahison de la part de son époux. Ses yeux se remplissent de larmes amères qui brûlèrent ses joues de dégoût.L'homme qu'elle attendait avec impatience venait de la trahir. Et sans se soucier de sa douleur, Kingsley Wilson resta froid comme toujours sa décision était prise et Thérèsa devrait la respecter sans songer de le contredire. Peut-être ignorait-il que cette époque avait changé ?Après ces mots, Thérèsa osa le tourner le dos même s'il l'interdit de partir avec leur enfant. Elle quitta son foyer en emmenant loin de ce monstre égoïste, son adorable fillette de 4 ans.Sept heures plus tard ...Dans la n
( Le point de vue de Thérèsa Lum)J'étais tristement abandonnée à moi-même. Je pleurais.Ma belle-mère, cette femme que j'admirais venait de me montrer qu'il ne fallait pas trop faire confiance à sa belle-mère :Elle sera toujours du côté de son fils quoiqu'il se passe.Ma colère augmenta d'une ava
( Le point de vue de Kingsley Wilson )J'avais promis à Gabriel qu'il aura une sœur.C'était Vénus cette sœur.Theresa ne pourra pas me faire échouer à ma parole.Depuis le miroir de notre dressing doré, je l'observe alors qu'elle respire la rage, dégage de la frustration.Je sais qu'elle pourra su
POINT DE VUE DE THÉRÈSA LUM Ma vie n'avait jamais été aussi chamboulée !quatre années de mariage avec un homme qui ne m'a jamais fait l'amour.Dire que sur le plan sentimental, il n'a jamais été là.Mais j'avais beaucoup supporter par amour pour ma fille.Si j'avais accepté d'épouser un inconnu,
( PDV Thérésa )J'en avais marre de vivre dans une telle position. Il me prenait pour qui à la fin ? J'en pouvais plus de cette torture._ Je quitte cette maison. Dis-je. Oui, je veux ma liberté. J'exige un divorce dans les brefs délais !!!_ Quoi ? Pourquoi ? Demanda mon beau-père._ On en a déjà






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.