Startseite / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Jurus Pengendali dan Pedang Lotus

Teilen

Jurus Pengendali dan Pedang Lotus

last update Veröffentlichungsdatum: 02.09.2026 23:20:59

Borise memperbaiki jawabannya.

"Aku yang membuat suara."

"Nah!"

Wu Keming puas.

Zhushu hendak menjewer telinganya lebih keras.

Namun...

Tang!

Suara dua pedang kembali beradu.

Zhushu spontan menoleh.

Matanya langsung membesar.

Li Huatang berputar lembut di udara.

Jubah biru putihnya mengembang seperti bunga lotus yang baru mekar.

Sementara Wu Keming meluncur rendah di bawahnya, tubuhnya hampir sejajar dengan tanah sebelum tiba-tiba berubah arah tanpa kehilangan keseimbangan sedikit p
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Lawan yang Malah Diberi Minum

    Pertarungan di Shuanghe semakin kacau.Di halaman rumah kecil di lereng, Borise masih berdiri dengan kedua tangan kosong.Di sekelilingnya, puluhan orang telah bergelimpangan.Sebagian duduk sambil memegangi perut.Sebagian terbaring kelelahan.Beberapa bahkan tertidur.Namun anehnya, tidak seorang pun mengalami luka serius.Zhushu berjalan di antara mereka sambil membawa keranjang obat.Ia memeriksa satu per satu.“Yang ini hanya kelelahan.”Ia pindah ke orang berikutnya.“Yang ini terlalu banyak memaksakan tenaga.”Kemudian ia mengangkat kepala.“Borise, yang tadi kau dorong terlalu keras.”Borise mengangguk.“Maaf.”Qiu Hui yang sedang bertarung tidak jauh dari sana tiba-tiba menoleh.“Apa yang kalian lakukan?!”Borise menjawab santai.“Mereka kelelahan.”“Memangnya aku peduli?!”Borise memandang orang-orang yang tergeletak.“Mereka mungkin haus.”Ia mengambil beberapa wadah air dan mulai membagikannya.“Minumlah.”Salah seorang prajurit kerajaan memandangnya dengan bingung.“Kau…

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Pria Besar yang Tidak Berkeringat

    Malam di Shuanghe berubah menjadi medan pertempuran.Puluhan bayangan hitam menerobos dari berbagai arah. Tidak ada lambang perguruan pada pakaian mereka. Wajah mereka tertutup kain hitam sehingga tidak seorang pun dapat mengetahui siapa mereka sebenarnya.Sebagian adalah murid Sekte Bangau Hijau.Sebagian lainnya merupakan orang-orang yang didatangkan dari luar.Bahkan beberapa di antara mereka menggunakan perlengkapan militer yang menunjukkan bahwa ada tangan lain yang ikut bermain dalam serangan ini.Namun bagi Borise, semuanya sama saja.Musuh.Pria besar itu berdiri di tengah halaman dengan tangan kosong.Tidak ada pedang.Tidak ada tombak.Tidak ada kecapi.Hanya kedua telapak tangannya.Seorang penyerang mengayunkan pedang.Borise menggeser tubuh.Tangannya menangkap pergelangan lawan.Putar.Bruk!Orang itu jatuh ke tanah.Dua orang lainnya datang bersamaan.Borise menunduk.Satu pukulan melewati kepalanya.Ia kemudian mendorong dada orang pertama dengan telapak tangan.Buk!T

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Angin Sebelum Badai

    Hari-hari berlalu, dan Pegunungan Dua Sungai perlahan berubah. Rumah-rumah penduduk yang sebelumnya rusak mulai diperbaiki. Ladang kembali ditanami. Jalan setapak dibersihkan dari semak dan perangkap. Anak-anak yang dahulu hanya berani mengintip dari balik pintu kini berlarian bebas di antara rumah-rumah. Orang-orang mulai menyebut tempat itu dengan nama Shuanghe. Keempat orang yang awalnya datang hanya untuk menjalankan tugas dari Ketua Perguruan Pedang Li, Li Dihua, kini hampir seperti bagian dari kehidupan penduduk. Borise membantu membuat pagar, gerbang, gudang, bahkan mengajari para pemuda berburu dan mengenali jejak binatang. Zhushu membuat kebun obat dan mengajari penduduk tumbuhan mana yang dapat digunakan sebagai obat. Wu Keming lebih sering terlihat bermain bersama anak-anak. Sedangkan Li Huatang membantu hampir semua pekerjaan yang bisa dilakukannya. Sore itu, Li Huatang duduk di depan rumah sambil menulis surat. Ia melaporkan kepada Li Dihua mengenai keadaan Shuan

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Rumah Kecil di Lereng Dua Sungai

    Beberapa hari setelah para bandit di lereng Pegunungan Dua Sungai dilumpuhkan oleh ramuan Zhushu, keadaan perlahan berubah.Bandit-bandit yang masih bersembunyi di gunung satu demi satu ditangkap, diusir, atau melarikan diri setelah mendengar bahwa sekelompok pendekar telah mengambil alih wilayah itu.Namun keempat orang itu tidak segera pergi.Mereka justru membangun rumah.Rumah itu sederhana. Dindingnya dari papan kayu, atapnya dari bambu dan jerami, sementara bagian depannya menghadap ke lembah tempat dua sungai bertemu.Wu Keming tentu saja mengaku sebagai tukang bangunan.Sayangnya, Li Huatang tidak percaya.“Itu miring.”Wu Keming memandangi tiang yang baru dipasangnya.“Sedikit.”“Bukan sedikit.”Wu Keming mencabutnya.“Kalau begitu kita pasang lagi.”Tidak jauh dari sana, Borise sedang membawa sebatang kayu besar yang bahkan harus diangkat dua orang penduduk.“Ke kanan!” teriak Zhushu.Borise berjalan ke kiri.“Bukan! Kanan!”Borise berhenti.“Ini kananku.”Zhushu memijat dah

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Racun di Tengah Malam

    Malam semakin dalam.Api unggun di tengah lereng Pegunungan Dua Sungai tinggal menyisakan bara merah. Angin gunung berembus pelan, membawa suara gemericik dua sungai yang mengalir jauh di bawah sana.Wu Keming duduk bersandar pada sebatang pohon sambil memegang kecapi.Di hadapannya, Li Huatang masih menggambar sesuatu di atas tanah menggunakan ranting.“Kalau formasi pedang Li dibuat seperti perangkap Borise,” katanya perlahan, “maka lawan tidak perlu dipaksa masuk. Kita justru membuat mereka merasa menemukan jalan keluar.”Wu Keming mengangguk.“Benar.”“Lalu ketika mereka mengejar jalan itu…”“Mereka masuk lebih dalam.”Li Huatang menatap gambar di tanah.Matanya perlahan berbinar.“Menarik.”Wu Keming tersenyum.“Perguruan Pedang Wu juga punya formasi yang membuat lawan terus bergerak mengikuti arah pedang. Tapi formasi Borise berbeda. Ia membuat lawan percaya bahwa mereka sedang mengejar kita.”Li Huatang mengangguk.“Kalau begitu, mungkin aku bisa menggabungkan keduanya.”Dari s

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Ramuan Tabib Tua Aneh yang Sakti

    Zhushu tersenyum. "Aku mau bermain." Ia mulai mencampurkan sedikit racun milik bandit dengan ramuan penawarnya. Lalu mencampurnya lagi dengan bahan lain. "Kalau dia bisa membuat racun seperti ini..." "...aku ingin tahu seberapa jauh dia mengerti." Borise menatapnya. "Shushu." "Hm?" "Jangan terlalu senang." Zhushu tersenyum lebar. "Justru aku senang." "Sudah lama tidak menemukan orang yang suka bermain racun." Wu Keming menatap Borise. "Menurutmu siapa yang lebih berbahaya?" Borise berpikir sejenak. Lalu menunjuk Zhushu. "Dia." Wu Keming langsung mengangguk. "Aku setuju." Zhushu mendengar itu. Plak! Dua jitakan mendarat hampir bersamaan. "Aduh!" "Aduh!" Li Huatang yang melihatnya hanya bisa tertawa. Di tengah pegunungan yang penuh misteri... mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada harta karun. Sebuah perangkap. Sebuah prinsip baru. Dan seorang pembuat racun yang entah siapa... yang ternyata cukup berani untuk menantang seorang tabib Miao

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status