Share

Bab 2

Author: Roro
Aku ingat hari itu juga aku sudah meminta satpam menggantinya dengan yang baru.

Langkahku terhenti di depan pintu kantin.

Angin malam berembus, terasa agak dingin. Aku tidak masuk, lalu berbalik dan pergi.

Sesampainya di kantor, aku duduk di kursi dan terdiam cukup lama.

Aku mengeluarkan semua kontrak sewa para penghuni. Di bagian belakang setiap kontrak, selalu terlampir “Surat Pemberitahuan Keselamatan” yang kutandatangani sendiri.

Di dalamnya tertulis dengan jelas ….

[Sebagian kamar di apartemen ini telah mengalami renovasi setelah pembangunan awal. Penyewa telah mengetahui kondisi tersebut sepenuhnya dan secara sukarela memilih untuk tinggal di sini.]

Setiap orang telah membubuhkan tanda tangan.

Keesokan harinya, grup WhatsApp apartemen langsung ramai.

Fendy mengirimkan sebuah dokumen berjudul “Seruan untuk Meningkatkan Lingkungan Hunian dan Standar Keselamatan Rumah Tetangga Harmonis”.

Panjangnya sekitar 3 ribu kata. Isinya membahas berbagai hal, mulai dari keselamatan kebakaran, kebersihan makanan, hingga ketentuan dalam kontrak.

Setiap poin dilengkapi dengan rujukan hukum, bahkan disertai tangkapan layar pasal-pasal terkait.

Pada akhirnya, dia mengajukan beberapa “seruan”.

Pertama, dia meminta agar semua sekat dibongkar dan bangunan dikembalikan ke struktur aslinya ….

Kedua, dia meminta agar pusat kebugaran dan kantin didaftarkan secara resmi sebagai usaha, serta mengurus izin sanitasi dan izin usaha yang sesuai ….

Ketiga, dia meminta agar kontrak sewa dibuat ulang sesuai ketentuan hukum, dengan mencantumkan secara jelas bahwa pusat kebugaran dan kantin merupakan fasilitas tambahan yang disediakan secara gratis ….

Grup itu langsung dipenuhi dukungan.

[Dukung Kak Hawk! Dia sudah menyuarakan isi hati kami!]

[Perjuangkan keadilan tempat tinggal! Kami bukan ingin mengambil keuntungan, tetapi hanya ingin kejelasan!]

[Sejujurnya, dari dulu aku sudah merasa kebersihan kantin agak bermasalah ….]

[Benar. Jika sampai ada yang sakit gara-gara makanan, siapa yang bertanggung jawab?]

Aku menatap ID orang yang mengatakan kebersihan kantin bermasalah. Itu Peter yang tinggal di lantai ke-2.

Padahal kemarin siang, dia membeli 4 porsi makanan sekaligus dan mengatakan ingin membawakan untuk pacarnya.

Aku mematikan ponsel dan memijat pelipisku.

Sore harinya, aku memanggil Fendy ke kantor.

Dia masih dengan penampilan yang sama … kacamata berbingkai emas, kemeja putih, tenang dan sopan.

“Kak Vers, Anda memanggil saya?”

Aku meletakkan cetakan “Seruan” yang ditulisnya di atas meja.

“Fendy, sebelum menulis ini, kenapa kamu tidak datang dan membicarakannya denganku terlebih dulu?”

Dia membetulkan kacamatanya.

“Kak Vers, ini bukan pendapat pribadi saya. Ini mewakili tuntutan bersama dari sebagian besar penyewa. Menurut saya, membuka pembahasan di platform bersama akan lebih efektif, sekaligus lebih terbuka dan transparan daripada membicarakannya secara pribadi.”

“Terbuka dan transparan?”

Aku mengangkat dokumen itu, “Kamu meminta semua sekat dibongkar dan bangunan dikembalikan seperti semula. Lalu, lebih dari 50 penyewa yang sekarang tinggal di kamar-kamar bersekat itu harus tinggal di mana? Pernahkah kamu memikirkan hal itu?”

“Itu adalah masalah yang perlu Anda selesaikan sebagai pihak penyewa. Anda bisa memilih untuk mengembalikan uang sewa mereka sekaligus memberikan kompensasi, atau mencarikan tempat tinggal baru untuk mereka.”

Jawabannya begitu sempurna hingga sulit dicari celahnya.

“Pusat kebugaran dan kantin ini kubangun dengan uangku sendiri dan disediakan gratis sebagai fasilitas untuk semua orang. Sekarang kamu memintaku mengurus izin usaha. Kamu tahu apa artinya? Artinya aku harus membayar pajak dalam jumlah besar dan menerima pengawasan menyeluruh dari instansi usaha, pemadam kebakaran, dan kesehatan. Pernahkah kamu memikirkan berapa besar biaya tambahannya?”

“Kak Vers, ini bukan fasilitas.”

Dia memotong perkataanku, nadanya mengeras.

“Ketika fasilitas-fasilitas ini terikat dengan kegiatan penyewaan Anda, semuanya menjadi bagian dari layanan komersial. Terlepas dari apakah layanan itu berbayar atau gratis, semuanya tetap harus berada di bawah pengawasan hukum. Ini untuk melindungi hak kita semua sebagai konsumen.”

Konsumen. Itulah kata yang dia gunakan.

Aku sampai tertawa karena kesal.

“Jadi, kalian menikmati harga sewa yang jauh lebih murah daripada harga pasar, menikmati pusat kebugaran dan kantin yang kuberikan secara gratis, lalu sekarang masih menggunakan status sebagai “konsumen” untuk menuntut agar aku sebagai “pelaku usaha” menanggung semua risiko hukum dan biaya operasional?”

“Di hadapan hukum, semua orang setara.”

Dia menatapku. Tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tatapannya.

“Perasaan dan pertimbangan manusia tidak boleh mengesampingkan hukum. Sejak awal merenovasi gedung ini, seharusnya Anda sudah memperkirakan semua masalah tersebut. Sekarang, kami hanya sedang mengembalikan semuanya ke jalur yang semestinya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Para Penyewa yang Akhirnya Menangis   Bab 10

    “Siapa namanya?”“Katanya namanya Fendy.”Tanganku terhenti, “Suruh dia naik.”Beberapa menit kemudian, Fendy muncul di depan pintu kantorku.Dia bukan lagi mahasiswa berprestasi dari Fakultas Hukum yang dulu sangat percaya diri itu ….Dia mengenakan kaus lama yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya berantakan, tatapannya redup, dan janggut tipis memenuhi wajahnya.Kacamata berbingkai emasnya juga sudah tidak ada. Di batang hidungnya masih terlihat bekas tekanan yang samar.Dia jauh lebih kurus. Seluruh dirinya memancarkan kepasrahan lesu, seolah kehidupan telah mengikis habis ketegasan dalam dirinya.“Kak Vers.”Suaranya serak ketika dia membuka mulut.Aku menunjuk sofa di seberangnya, “Duduk.”Dia duduk dengan canggung, kedua tangannya diletakkan di atas lutut … seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu vonis.Keheningan panjang terbentang di antara kami. Pada akhirnya, dia yang lebih dulu membuka suara.“Aku ... aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan.”

  • Para Penyewa yang Akhirnya Menangis   Bab 9

    Malam itu, aku mengundang semua pihak yang telah membantuku mengurus berbagai relasi dan proses perizinan untuk makan malam bersama.Tempatnya berada di Hotel Rumah Tetangga Harmonis, tepatnya di restoran berputar di lantai paling atas.Dulu, tempat itu adalah rooftop yang ingin kusediakan untuk para penyewa mengadakan pesta. Sekarang, tempat itu hanya dibuka untuk mereka yang melakukan pengeluaran paling besar.Hotel resmi dibuka.Berkat persidangan yang sebelumnya menjadi perhatian seluruh internet, Hotel Rumah Tetangga Harmonis langsung terkenal. Banyak orang datang untuk menginap karena penasaran.Mereka ingin melihat seperti apa hotel milik “pemilik apartemen kejam” yang telah “mengusir lebih dari 100 lulusan dari rumah mereka” itu.Hasilnya, mereka justru sangat puas.Fasilitas hotel serba baru, pelayanannya kelas satu, dan makanannya berkualitas tinggi.Dengan harga 2 juta per malam … untuk lokasi di pusat kota seperti ini, hotel tersebut justru terasa sangat sepadan dengan harg

  • Para Penyewa yang Akhirnya Menangis   Bab 8

    “Jika menunggu sampai proses bandingmu selesai, kami semua sudah kelaparan hingga mati di luar!”Aku menatap dingin drama konyol itu lalu berbalik dan berjalan kembali ke gedung kantor, tanpa menoleh lagi kepada mereka.Asistenku mengikuti dari belakang dan bertanya dengan suara pelan, “Nona Vers, apa kita benar-benar akan mengosongkan tempat ini pukul 6? Mereka sebanyak ini. Jika sampai terjadi keributan ....”“Kosongkan.”Aku hanya mengucapkan satu kata.“Tambah dua kali lipat jika jumlah petugas keamanannya tidak cukup. Hubungi kantor polisi terdekat dan pastikan seluruh proses direkam. Siapa pun yang menolak pergi atau merusak properti hotel, langsung laporkan pada polisi.”“Baik, saya segera mengaturnya.”Aku kembali ke kantorku. Ruangan ini sudah direnovasi dan kini menjadi ruang kerja manajer umum hotel.Aku duduk di balik meja kerja yang luas sambil memandang ke luar jendela. Wajah-wajah muda yang dulu pernah membuatku merasa hangat … kini semuanya tampak penuh kemarahan, ketak

  • Para Penyewa yang Akhirnya Menangis   Bab 7

    “Shanny! Ini pembalasan yang kejam! Kamu sengaja mengusir kami secara terselubung! Aku akan melaporkanmu! Kami bisa mengajukan eksekusi paksa dan menuntutmu untuk tetap menjalankan kontrak sewa yang sebelumnya!”Pengacara baruku maju selangkah dan berdiri di hadapanku. Dia mengeluarkan sebuah dokumen dan menyodorkannya tepat di depan Fendy.“Tuan Hawk, baca baik-baik. Ini adalah putusan pengadilan. Dalam putusan tersebut dinyatakan bahwa kontrak sewa sebelumnya tidak berlaku karena bertentangan dengan ketentuan wajib yang ditetapkan negara.”“Klausul-klausul utamanya dinyatakan tidak sah, sehingga tujuan dari kontrak tersebut tidak lagi dapat diwujudkan. Dengan demikian, sejak putusan ini berkekuatan hukum tetap, kontrak tersebut telah dinyatakan tidak berlaku.”“Dengan kata lain, hubungan sewa-menyewa antara kalian dan Nona Vers telah diakhiri oleh pengadilan. Sekarang, kalian hanyalah warga biasa yang masih berada di sini dan secara ilegal menempati properti komersial milik orang lai

  • Para Penyewa yang Akhirnya Menangis   Bab 6

    Seminggu kemudian, sebuah pemberitahuan baru ditempel di papan pengumuman Rumah Tetangga Harmonis.“Pemberitahuan Mengenai Pengosongan Apartemen Rumah Tetangga Harmonis dan Penjelasan Mengenai Peningkatan Jenis Usaha”Waktu rapatnya pukul 3 sore hari itu. Tempatnya di halaman apartemen. Seluruh penyewa diwajibkan hadir tepat waktu.Tercantum namaku di bagian bawah pemberitahuan tersebut.Begitu pemberitahuan itu muncul, grup penyewa langsung ramai.[Rapat pengosongan? Apa maksudnya? Dia mau mengusir kita?][Mustahil! Pengadilan sudah memutuskan kita menang! Atas dasar apa dia mengusir kita?][Jangan-jangan dia mau mengingkari putusan? Sudah kuduga dia tidak beres!][Kak Hawk, bagaimana ini?]Fendy mengirim pesan suara ke grup. Suaranya tetap tenang seperti biasa.[Semuanya tenang dulu. Dia tidak berhak mengusir kita secara sepihak. Meskipun beberapa klausul dalam kontrak sewa dinyatakan tidak sah, hubungan sewa-menyewa tetap berlaku ….][Jika dia memaksa mengusir kita, justru dia yang

  • Para Penyewa yang Akhirnya Menangis   Bab 5

    Ekspresi hakim semakin serius. Tatapannya padaku pun semakin dingin.Aku tahu … aku kalah.Sejak awal, aku memang sudah kalah.Persidangan ini … dari awal hingga akhir, hanyalah sebuah pertunjukan yang dirancang dan disutradarai dengan cermat oleh Fendy.Sebuah perburuan sempurna yang menjadikan “hukum” sebagai senjata dan “keadilan” sebagai dalih.Saat jeda persidangan, aku merokok di ujung lorong.Fendy menghampiriku. Dia berdiri di hadapanku, membelakangi cahaya.“Kak Vers, masih belum terlambat jika sekarang mengakui kekalahan. Selama Anda menyetujui syarat kami, kami bisa langsung mencabut gugatan. Ini akan lebih baik bagi Anda maupun semua orang.”Aku menatapnya, “Kalau aku tidak mau?”Dia tersenyum, “Kalau begitu, kami akan menang. Dan setelah itu Anda akan kehilangan segalanya.”“Bangunan ini akan disita, dan Anda akan menghadapi denda dalam jumlah besar. Yang paling penting, citra Anda sebagai “pemilik apartemen idaman” akan benar-benar hancur dan menjadi “pemilik apartemen ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status